Euh, pertama-tama, halo! Lama sekali saya tidak posting di blog ini! :D
Kemungkinan besar sih, tidak akan ada yang peduli pada saya maupun entry di blog ini, tapi saya tetap ingin membagikan sedikit pandangan saya tentang kejadian yang... cukup panas ini.
Oh ya, pertama-tama, jangan men-judge saya cuma asal rambling di sini. Posting-an ini masih berkaitan dengan judul blog saya, kok. Masih seputar kerajaan fiksi. :D
Seperti yang kalian ketahui, saya tergabung dalam sebuah situs yang dispesialisasikan untuk para penulis. Saya tidak akan pasang nama merek, cukuplah untuk konsumsi pribadi. Jadi, seperti yang saya bilang, saya menulis di sebuah situs, dan situs tersebut memiliki peraturan sendiri mengenai apa saja yang boleh di-publish di sana. Salah satunya mengenai larangan adanya real-person fanfiction—fanfiksi yang ditulis dengan orang-orang nyata sebagai karakternya.
Larangan itu dilanggar dalam skala besar-besaran oleh sebuah—katakanlah—section dalam situs itu. Bukannya munafik, saya juga pernah melanggar dan mem-posting beberapa cerita RPF itu. Hingga baru-baru ini, seorang penulis mengingatkan saya bahwa hal yang saya kerjakan melanggar aturan dan bersedia memberitahukan tempat lain untuk mempublikasi cerita saya tanpa melanggar aturan.
Jadi, saya pun pindah.
Nah, bukan itu masalahnya. Saya mencoba memberitahukan hal yang sama pada penulis lain yang bernaung di section yang sama dengan saya, tetapi mereka menolak. Tanpa kenal menyerah, saya berusaha menyadarkan mereka, tetapi mereka tetap ngotot.
Apa alasan mereka tidak mau pindah?
Karena mereka tidak mau kehilangan pembaca.
Sebenarnya... apa alasan mereka menulis? Mereka bilang, mereka menulis untuk pembaca, juga untuk berbagi kepada para peminat.
Dan mereka tidak mau pindah karena mereka merasa mempunyai ikatan di section itu.
Ah, saya ingin tertawa.
Bukankah 'ikatan' itu tidak berdasar pada 'tempat'? Bukankah 'ikatan' itu lebih mengacu pada individunya?
Bukankah kalau pindah bersama-sama akan tetap menjaga 'ikatan' itu?
Jadi, apa salah bila saya bilang mereka menulis agar mendapatkan 'komentar'? Popularitas? Hell.
Dan mereka marah karena saya menyimpulkan demikian. Lho, bukannya sudah jelas? Haha, mereka pasti menyadarinya walau tidak mau mengaku. Mana ada maling mengaku? Ups, maksud saya, kalau tidak merasa menulis untuk mendapatkan komentar, ya tidak usah marah. Kalau menulis untuk 'dibaca', di mana saja boleh, kan?
Pfft, menggelikan.
Yang paling lucu adalah: mereka mengata-ngatai saya. Salah satunya bahkan memfitnah saya. Wow, sebegitu takutkah saya mengetahui kebenaran yang sesungguhnya?
Kalian membuat saya tertawa! :D
Kalian mengatakan bahwa 'peraturan ada untuk dilanggar'. Whoa, bukankah peraturan ada untuk menjaga semuanya dalam keselarasan? Yang melanggar peraturan adalah idiot.
Dan yang membicarakan orang lain di belakang adalah pengecut. Jelas, saya sendirian melawan enam orang. Hahaha.
Menyebar fitnah itu dosa besar. Untuk salah seorang di antara mereka... halo? Apa Anda masih mempunyai agama? Tidakkah Anda diajarkan mengenai 'dosa'? Dan... mengapa Anda merasa saya 'memerintah' Anda? Toh Anda tidak pernah menjalankan tugas di 'grup' dengan baik. Anda merasa saya tidak mau mengomentari tulisan teman Anda karena saya tidak suka karakternya? Menggelikan. Justru karakternya adalah favorit saya. Anda pura-pura polos dan membumbui kebohongan Anda. Lihat, siapa yang mengomentari—saya atau Anda yang pengecut itu?
Saya.
Hahaha. Cukup tertawanya. :)
Salam manis,
mysticahime
Langganan:
Komentar (Atom)







