Covered in dirt, in an unfamiliar city I didn't smile like usual
------------------
I just walked hanging my head To all the people hurrying quickly past me "Have your dreams come true?" I'm still struggling
------------------
9,995,300.
Krik.
Yoo InHo melongo membaca hasil print
buku tabungannya. Kaget. SIAPA YANG MEMAKAI EMPAT RIBU TUJUH RATUS
WON-NYA?! Tidak sopan. Sudah tahu dia tidak punya uang, masih saja ada
yang berani sembarangan pakai---
"Fine! Ternyata aku
hanya mainan selama ini untukmu, hah?! Kalau memang itu yang kau mau
harusnya kau bilang dari awal aku menembakmu! Shit! Puas kau
mempermainkanku?! Mentang-mentang aku sudah lama menyukaimu, hah?! FINE
FINE FINE! AKU PERGI! Tidak usah coba menghubungiku lagi! Lupakan janji
yang lalu lalu! Janji bullshit! Fine. Aku titip salam jotos pada
satpammu."
.
.
.
.
Jeong Joo Rin merasakan
denyutan hebat di kepalanya. Meremas dan seolah meremukkan. Konstan
setiap detiknya, membuat kedua tangannya memegang sisi pelipis. Semakin
lama ia berpikir, semakin kuat pula rasa sakit itu merongrongnya.
Semakin lama ia berpikir, semakin ia tidak menemukan jawabannya.
credit(s):pict tumblr. Kata-kata bahasa inggris dari lagu First Love oleh Nikka Costa. Jeong Jin Yeol dan tokoh-tokoh imajiner serta keseluruhan RP fic ini milik saya. Just for fun only, bukan untuk komersil.
. . ...I'm not the same kid I used to be .
.
.
Jeong
Jin Yeol sama sekali tidak pernah berpikir akan melakukan tindakan
konyol seperti ini. Terduduk di undakan trotoar, kedua tungkai sesekali
mengentak jalanan untuk melampiaskan kekesalan. Seorang diri.
Ia
hanyalah bocah berusia delapan tahun yang terlalu marah pada kedua orang
tuanya—lebih tepat lagi pada ibunya. Ibunya terus-menerus memaksa dia
untuk menyanyikan nada-nada di oktaf empat; hal yang Joo Rin bisa dan
dia tidak. Pada akhirnya Jin Yeol mengerucutkan bibir dan bilang ia
tidak mau menyanyi lagi, dan berakhir dengan adu argumen antara orang
dewasa dan anak kecil mengenai penyitaan konsol playstation dan jatah uang saku dua bulan ke depan menguap.
Nah, selamat malam. Sudah pukul sepuluh lewat, people.
Seharusnya semua mata sudah terpejam. Ya, SEHARUSNYA. Jam sepuluh itu
berarti waktu sudah menanjak pada puncaknya: tengah malam. Sudah saatnya
bomaca---bobo mayem cantiks---seperti yang dilakukan
Jeong Joo Rin di kamar sebelah sana. Lagipula, orang-orang normal pun
pastinya sudah menguap dan enggan keluar kamar masing-masing.
Ya kalau tokoh utama kita kali ini senormal orang lain. Nyatanya?
on some days, he sat down, then started to write...
231212
- Semalaman gak bisa tidur--ini sudah jam dua belas lewat. Oh, harusnya
tanggal dua empat, ya--ah, bodo amat. Ini jurnalku, gak akan ada yang
peduli.
Sepandai-pandainya
Jeong Jin Yeol menghadapi orang, sosok di depannya ini sama sekali tak
terbaca. Meski kedua matanya telah ditajamkan dan telinganya telah
bersiaga, ia tetap tak bisa menerka jalan pikiran pemuda itu.
Pemuda
itu terlalu—random. Atau mungkin bisa dibilang ‘absurd’. Pola
berpikirnya melompat-lompat tak tentu. Terlalu impulsif, tapi tak
seimpulsif kakaknya.
"—you know that I'm the knight, not the Sleeping Beauty nor the Snow White." | Jeong Jin Yeol
JEONG JIN YEOL bukannya menginginkan hal-hal yang muluk. Setiap kali dia
mengatupkan tangan dan membisikkan doa, bukannya permintaan seperti
kecantikan, kekayaan, atau sejenisnya yang ia luncurkan lewat bibirnya.
Bukan gaun gemerlap atau sepatu hak tinggi yang membuat sepasang
tungkainya terlihat jenjang. Bukan pangeran tampan berkuda putih yang
menjemputnya untuk diboyong ke istana setelah sepatu kacanya ditemukan.
Ah, buat apa hal-hal semacam itu—terlalu kekanak-kanakan, bukan? Terlalu imajinatif, tak akan pernah terkabul dalam realita.
Terkadang, Takashima You membenci kenyataan bahwa dia adalah seorang public figure.
Pertama,
dia benci karena terkadang jadwalnya penuh akan hal-hal yang menurutnya
tidak penting. Misalnya, pemotretan model pakaian dengan sesama model
pria (sori deh, dia bukan pecinta kaum Adam). Atau diskusi mengenai MV
Winter terbaru, dimana dia disuruh merancang koreografi sesuai
permintaan produser. YA MANA DIA MAU. Dia kan menari untuk menyalurkan
rasa cinta—semacam perwakilan afeksi dari Winter untuk fans, bukan untuk
memuaskan ego produser. Kalau fans senang, bukannya si produser bisa
mengeruk uang lebih banyak lagi, ya?
Kedua, dia benci karena
segala hal tentang dirinya disorot publik. You memang orang
extrovert—tapi terkadang dia perlu spasi khusus bagi dirinya sendiri.
Persetan dengan orang-orang di luar sana; urusi kesibukan masing-masing
bisa, kan?
Jeong Jin Yeol bukannya membenci basket. Permainan satu itu seru kok;
oper-operan bola, rebutan, adu badan atau sikutan dalam zona aman,
menghalau musuh, pamer teknik, mencetak angka. Belum lagi kalau yang
main anak cowok. Banyak pemandangan indah di depan mata, khas
testosteron banget.
Ya sebut saja ini sejenis rasa iri---kayak
waktu lihat cewek super cantik bikin pujaan hatimu menoleh dan
menitikkan liur padahal cewek itu gak ngapa-ngapain sementara kau udah
melukai empat jari tanganmu demi masak makanan kesukaan kecengan
tersayangmu. Iri tanda tak mampu, betul? Hei, tapi ini masalah suka dan
gak suka, gak ada koneksinya dengan kemampuan.
Dihadapkan pada dua opsi, Takashima You jelas bingung. Konfusional yang
muncul secara mendadak jelas bukan kesukaannya. Dia bukan tipe orang
introvert yang cenderung memikirkan segala sesuatunya secara
berlarut-larut. You adalah tipe easy-going yang membiarkan suatu masalah
mengalir sebagaimana ia datang.
Problematikanya, yang kali ini
bukan masalah yang bisa dia biarkan datang dan pergi dengan sesuka hati.
Kasus kali ini perlu pemecahan dan diagnosa tindakan selanjutnya.
Takashima
You suka internet. Baginya internet adalah hal esensial dalam
kehidupannya, tempat dia bersenang-senang, mencari ketenaran dirinya,
berkomunikasi dengan fans, mengunggah fotonya yang tampan, dan sebagainya. Bahkan, si magnae punya beragam gadget yang digunakannya untuk internetan. Yang terbaru adalah Galaxy Note keluaran Samsung---hadiah karena dia jadi spoke person merek itu. Jeong Jin pasti iri berat.
Little Spark That He Doesn't Want to Miss, Even A Blink
.
.
Kau
bisa menganggap ini gila, sinting, semu, atau apalah; suka-suka dirimu
saja, tidak ada yang akan membantah maupun memukulimu kalau kau bilang
secara blak-blakan. Mungkin kau akan melongo hingga rahangmu melorot
hingga menyentuh lantai, mungkin juga kau langsung pingsan karena syok
berkepanjangan. Mungkin saja, mungkin, kau langsung menjerit histeris
dan mengabarkan pada dunia hal yang kau ketahui saat ini lewat media
sosial dan sejenisnya, dan detik berikutnya kau menonton televisi atau
berselancar di dunia maya, kau akan menemukan headlines besar:
Langit
mengeruh, menyingkirkan warna hitam gelap menjadi kelabu.
Menyembunyikan kerlip bintang yang seharusnya bermain-main di tengah
galaksi. Gumpalan pekat ganti memenuhi udara, bergesekan ritmis,
menimbulkan gelegar yang samar-sama bersahutan.
Hari-hari terasa pendek dan kelabu. Udara terasa menyesakkan dan matahari meranggas.
Ada
sesuatu yang kosong, ada kehampaan yang jelas terpeta pada keluarga
Takashima. Rongga kasatmata yang menebal seiring menarinya detik-detik
jarum jam yang berlomba dengan poros bumi. Hollow—kalau
orang-orang bilang. Ada keheningan dalam tawa yang dipaksakan. Ada air
mata yang selalu tertumpah sebelum tidur menjelang.
Akhir-akhir ini saya lagi ketagihan main roleplay, hahaha. Oke, mungkin RP yang saya mainkan ini bukan di forum yang memang dispesifikasikan buat RP, butI enjoy playing this so much. Meski awal-awalnya agak bingung (secara saya bukan tipe penjelajah forum) dan buta soal RP, pada akhirnya ya... begini.
Nah, pertama-tama, saya mau menjelaskan dulu apa itu roleplay.
Roleplay adalah suatu permainan dimana kita memerankan sebuah karakter. Contohnya Harvest Moon, sebuah game RPG dimana kita memerankan tokoh petani.
Nah, roleplay yang saya mainin akhir-akhir itu bukan yang sejenis Harvest Moon. Saya mainnya roleplay berbasis teks di sebuah forum (yang aslinya fanbase SasuSaku Indonesia) yang bernama WinterblossomEntertaiment Roleplay.
A writer without interest or sympathy for the foibles of his fellow
man
is not conceivable as a writer.
- Joseph Conrad
Pernah saya mengenal seorang rekan sesama penulis di Fanfiction.net sekian waktu silam, sebut saja penname-nya X. X memalsukan identitasnya dan membuat sejenis 'orang-orang palsu' untuk mendukungnya mendongkrak popularitas. Mungkin sebagai sesama penulis di situs yang sama, kita mengenal istilah flame dan flamer; nah, X membuat beberapa account flamer yang ujung-ujungnya hanya memuji dirinya sendiri. Suatu waktu, identitas X terbongkar—ID palsu dan semua 'pendukung palsu'-nya—dan ia memilih untuk menghilang. Yang membuat saya terkejut adalah baru saja saya menemukan 'jejak' baru dari X. Sebuah pengakuan, dan pengakuan itu disambut hangat oleh mereka yang benar-benar menunggunya....
Saya tidak akan membahas X terlalu mendetail. Perihal mengenai dia sudah banyak tersebar di internet, bahkan ada page yang telah dibuat khusus untuk menilik banyak persoalan tentang X. Yang ingin saya bahas adalah ... penulis.
Katakan saya masih awam dalam dunia ini, untuk saat ini saya memang baru menulis di kancah internet. Masih banyak yang tidak saya ketahui soal menulis. Jadi, saya hanya ingin berbagi sedikit pikiran.
Menulis—bagi mereka yang menjadikannya bukan sebagai sumber mata pencaharian—pada dasarnya adalah media pemuas batin. Kita menulis karena "suka", bukan karena ingin mendapatkan royalti sebesar-besarnya. Fanfiksi, khususnya, adalah tulisan yang dibuat untuk menyalurkan rasa suka pada karya terdahulu yang dibuat oleh penulis/mangaka aslinya; untuk menuangkan ide yang terpendam mengenai hints atau adegan tertentu.
Lirik situs yang sudah saya sebutkan di atas, sebagian besar penulis di sana menulis karena memang menyukai menulis apa adanya. Mereka menggunakan penname sebagai identitas di situs tersebut. Memang ada yang menggunakan nama asli mereka, tetapi kebanyakan mereka memilih nama lain untuk menelurkan karya-karya mereka.
“Pen names are masks that allow us to unmask ourselves.” —C Astrid Weber
Tidak ada yang salah dengan identitas seorang penulis, toh yang terpenting adalah karya-karyanya yang bisa dinikmati oleh pembacanya. Tetapi bila berteman, ... itu persoalan lain.
Pada akhirnya, yang dilihat dari seorang penulis bukanlah kepiawaiannya menyusun cerita dengan kata-kata indah maupun ejaan yang sempurna, melainkan kelihaiannya menyeret pembaca mengikuti arus cerita yang ia paparkan. Percuma saja ada cerita yang sedemikian rapi dan apik bila idenya terlalu pasaran dan si penulis tidak mampu mengemasnya dengan menarik, apalagi kalau membawakannya tanpa penjiwaan sama sekali.
Basically, it starts from idea, then it continues to plotting, characterization, then to aura. Diction takes the last sequence.
Unleash your imagination, not your diction. Unleash your imagination, not your readers.—mysticahime
Tidak perlu mencari banyak pembaca saat menulis. Kalau tulisan kita bagus, pasti akan ada yang membacanya.