
Geen rozen zonder doornen
—and he left, again | Jjin/You - post Frozen Landscape
Sepandai-pandainya Jeong Jin Yeol menghadapi orang, sosok di depannya ini sama sekali tak terbaca. Meski kedua matanya telah ditajamkan dan telinganya telah bersiaga, ia tetap tak bisa menerka jalan pikiran pemuda itu.
Pemuda itu terlalu—random. Atau mungkin bisa dibilang ‘absurd’. Pola berpikirnya melompat-lompat tak tentu. Terlalu impulsif, tapi tak seimpulsif kakaknya.
Contoh konkritnya adalah hari ini. Yah, semua orang tahu tanggal 24 Desember adalah tanggal ulang tahun Jeong Joo Rin; sebagai adik, tentu saja Jeong Jin harus meluangkan waktunya untuk hari spesial ini. Ditambah lagi, Jeong Jin memang sedang tidak ada acara apa pun dengan teman-temannya. Yoon Hee sedang liburan ke Macau, si kembar Mi Kwang dan Min Joo bersenang-senang di rumah nenek mereka, Hong Woo sibuk pacaran dengan pacarnya. Otomatis dirinya punya waktu luang yang sangat memadai.
Ya dia senang-senang saja sih kalau merayakan ulang tahun Joo, sekalian meluangkan waktu bersama kakak tersayang, ya kan?
Masalah bermula ketika dia sedang membantu Joo Rin mempercantik diri dan Takashima You ngotot minta ditemani belanja—DAN NGOMONGNYA DI TWITTER, padahal Jeong Jin sendiri sedang punya banyak haters pasca insiden hamil-hamilan gak jelas waktu itu. Tapi, ya sudahlah, kebetulan sekali para haters itu gak komentar apa-apa mengenai mereka pergi bareng. Toh perginya juga demi teman kencan You hari ini: Cha Mi Yoo-nya Blossom. Oke, YouYoo kencan, tidak ada salahnya. Hmmm.
Jeong Jin pikir, semuanya akan selesai setelah ia membantu You memilih hadiah—cincin, pada akhirnya; magnae itu sudah buntu ide dan menyuruh bungsu Jeong yang memilih. Pulang ke rumah, kegiatan membantu Joo Rin bersiap diri untuk kencan hari ini berlanjut.
.
.
.
Ponselnya berdering kala ia sedang bermalas-malasan di kasur. Dicarinya ponsel menggunakan kaki—seingatnya tadi diletakkan di sekitar kaki ranjang. Oh, bukan. Sekarang ia tidur dalam posisi terbalik; kaki di kepala, kepala di kaki, jadi ponselnya pasti berada di dekat kepala.
Ketika ponsel merah itu tergenggam oleh tangan kirinya, Jeong Jin Yeol hanya menatap layarnya dalam kebisuan. Kantuk melanda di saat-saat sepi seperti ini, makanya gadis itu lebih senang berada dalam suasana ramai. Ini sekitar pukul sembilan malam, kan? Masih ada yang berani telepon? Huh, ternyata si ksatria masih belum boleh beristirahat?
“Yeobosaeyo?” sapanya dengan nada malas. “Nugu ya?”
“Jengkol...” suara yang balik menyapanya terdengar lesu, membuat Jeong Jin mengangkat sebelah alis.
Panggilan itu sudah khas sekali, hanya ada satu orang yang memanggilnya ‘Jengkol’. Takashima You. Meh, kenapa suaranya lesu sekali? Bukannya seharusnya terdengar antusias karena dia—hentikan konklusi sepihak ini. Lebih baik ia mendengar langsung dari si subjek.
“Ada apa? Ada yang gak beres?” tanyanya pelan-pelan. Biar liar, dia masih punya simpati, kok. Mana ada ksatria yang gak punya simpati?
“Sibuk?” You malah tidak menjawab pertanyaannya, membuat keningnya terlipat. “Bisa temui aku di taman dekat apartemenku?”
Ah, Jeong Jin ingat kalau si magnae punya apartemen pribadi di daerah Gangnam. Memang belum malam sekali, pula. Jadi sama sekali bukan masalah kalau diminta ke sana. Biasanya dia juga berkeliaran entah ke mana. Kenapa yang saat ini harus jadi pengecualian?
“Oke, oke. Aku ke sana. Tapi bawakan minuman hangat, please?” Pandangannya beralih ke luar jendela yang belum terhalangi gorden. “Kayaknya bakalan dingin.”
.
.
.
“Ada apa?”
Jeong Jin Yeol mengibaskan salju yang menempel pada permukaan luar jaketnya. Ia mengambil tempat duduk berseberangan dengan You. Diamatinya muka pemuda itu dengan seksama. Garis-garis antusiasme yang tadi pagi meletup-letup kini sudah menguap. Ada sesuatu yang salah—tapi apa?
“Ekspektasi yang terlalu tinggi,” gumam You tidak jelas. Pemuda itu lalu menyodorkan gelas kertas berisi cokelat dengan uap putih mengepul. “Pesananmu. Gak usah bayar. Kutraktir.”
Jeong Jin berkedip. Tidak biasanya You sekalem ini. Mungkinkah karena—apa itu tadi—ekspektasi yang kelewat tinggi?
Gadis itu berspekulasi sendiri, ikutan berdiam diri pada akhirnya. Kedua tangannya melingkari gelas kertas yang diberikan You, menyesap kehangatan lewat pori-pori kulitnya. Aroma manis terhirup, berbaur dengan bau salju yang bersih.
“Bagaimana kencanmu tadi?” selidik dara Jeong. Dia memang kepo, ingin tahu segala sesuatunya, terutama yang mengandalkan bantuannya tepat sebelum acara dimulai.
Pemuda Takashima itu membisu, membuat Jeong Jin mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
“Tadi cincinnya berhasil kau—” kata-katanya terhenti saat Takashima You mengeluarkan kotak beludru yang tadi pagi mereka beli sama-sama. Jeong Jin tertegun melihat kotak yang sama ada di hadapannya saat ini. Kalau kotaknya adalah kotak yang sama dengan yang dibawa You sesorean ini, maka... “Ini... maksudnya apa?”
“Tidak jadi kuberikan.” You angkat bahu, berlagak sok cuek. “Daripada nganggur, buatmu saja. Ucapan terima kasih karena seharian ini kurepotkan.”
Yang ada, ia malah melongo. Sama sekali tidak menangkap maksud kata-kata You. Sesuatu yang jarang sekali terjadi pada seorang Jeong Jin Yeol.
“Ini kan cincin yang kupilih supaya kau kasih ke Cha Mi Yoo!” gerutunya kesal. “Bagaimana mungkin pada akhirnya malah aku yang—”
“Cerewet, Jengkol.” You membuka kotak itu. “Ukuran jari kalian kan sama.” —dan pemuda itu memasangkan cincin perak itu di jari manis Jjin. “Nah, cukup kan? Kelihatan kayak cincin tunangan, padahal bukan.”
“Memang bukan cincin tunangan.” Kini bibir Jeong Jin mengerucut. “Masa aku tunangan sama kau, Youjelek. Kau baru kupertimbangkan kalau gak ada pemuda lain di dunia ini. Itu juga aku bakalan milih T.K daripada kau.”
Pemuda itu mengibaskan tangannya, seolah-olah bosan. “Terserah,” katanya. Ia mengambil gelas kertas di tangan Jeong Jin dan meneguk isinya. “Sudah ya, aku harus mengejar penerbangan jam dua belas. Belom beli tiket.”
“Itu kan cokelatku—HEI!” Jeong Jin batal merepet karena si magnae sudah berlari meninggalkannya sendirian. Punggung itu menghilang di balik kegelapan malam.
“Baboyaaa!” Gadis itu mendengus kesal. Aaahhh, You memang seenaknya! Apa-apaan ini, seenaknya memasangkan cincin pada orang yang—aaahhh, tau ah! Sudah begitu, sembarangan pergi, pula!
Diseruputnya sisa cokelat yang mulai mendingin itu sampai tandas hingga tetes terakhirnya. Jeong Jin mengerucutkan bibirnya, melempar gelas itu ke tong sampah terdekat.
.
.
.
Kalau ada orang yang sulit dimengerti, sudah jelas Takashima You-lah orangnya. Hingga saat ini, Jeong Jin Yeol masih tidak dapat menguraikan isi kepalanya.
~fin








0 komentar:
Posting Komentar