829 Kilometres is NOT That Far

—h i m, h e r, and the d i s t a n c e
.
.
.
Hidup itu dinamis, hidup selalu berotasi.
Hari-hari terasa pendek dan kelabu. Udara terasa menyesakkan dan matahari meranggas.
Ada sesuatu yang kosong, ada kehampaan yang jelas terpeta pada keluarga Takashima. Rongga kasatmata yang menebal seiring menarinya detik-detik jarum jam yang berlomba dengan poros bumi. Hollow—kalau orang-orang bilang. Ada keheningan dalam tawa yang dipaksakan. Ada air mata yang selalu tertumpah sebelum tidur menjelang.
—dan ada deru mesin kala pesawat siap mendarat.
Incheon airport, 07.51 a.m
Sepasang tungkai berjalan santai melewati kerumunan manusia yang sibuk membawa raga masing-masing keluar dari rangka rigid pesawat. Sepasang netra cokelat tua menatap sekelilingnya dengan perasaan gamblang. Ada wanita yang menggandeng anak kecilnya, sepasang muda-mudi yang terlihat antusias dengan suasana bandara, ada kakek renta dan istrinya yang berjalan pelan-pelan melewati pintu lobi bandara.
Dan dia sendirian, dengan tangan kosong dan jaket jeans membungkus tubuhnya.
Dan—oh, kacamata hitam bertengger di hidungnya.
Getar ponsel yang baru saja dinyalakannya membuat sang pemuda mengalihkan pandangan. Layar benda elektronik itu bersinar, menampilkan sebaris nomor dan... nama.
Takashima Airi
Udara berhembus pelan sebelum percakapan itu dimulai. "Ya?"
"Onii-chan..." Suara itu menyapa dengan lirih, seolah-olah rasa takut menyelimutinya.
"Ya?" Apa lagi yang mau You jawab?
"Onii-chan... kenapa kembali ke Korea?" Terdengar isak tangis bergulung, menghantam kesadaran You. Bertalu-talu. "Kenapa... gak di Jepang aja?"
You terdiam sesaat. "Karena aku ada kerj—"
"Kenapa gak ajak aku?!" Tangis itu pecah. Meledak. Melebur bersama jeris histerisnya. "Kenapa Onii pergi ninggalin kami semua?!"
"Airi—"
"Aku—aku... aku takut! Aku udah gak punya papa, aku gak punya orang yang bimbing aku!"
"—aku..."
"Di rumah gak ada laki-laki dewasa yang bisa ngejaga aku, Sagara, dan Kaachan!"
Dia mengerti, sangat mengerti. Bagi kedua adiknya yang masih kecil, sosok seorang ayah memang tak akan pernah bisa tergantikan. Ayah adalah tempat bermanja, bermain, bergurau di kala sosok ibu terlalu sibuk dengan urusan rumah tangga—atau sedang marah.
Bagi Airi dan Sagara—yang telah menyandang status yatim di usia dini—You adalah pengganti sosok ayah.
"Dan—hiks—Korea itu jauuuuhhh...!"
Kalau saja Airi ada di hadapannya saat ini, You pasti sudah merengkuh gadis cilik itu dan memeluknya erat-erat, meyakinkan bahwa dunia terus berputar, kehidupan terus berlanjut—dengan atau tanpa sang ayah. Sayangnya, hal itu tidak bisa terjadi. Ia di sini, di negeri ginseng, berpijak dengan kedua kakinya, mati-matian menahan air mata.
"...aku selalu menyayangimu. Ingat itu." Suaranya terdengar lemah—bukan You yang biasanya. Sisi lain dirinya membuncah keluar, menuangkan tangis dan pilu.
"...."
"Bukan berarti jarak jauh memisahkan kita." Gemetar, tetapi ia harus terus bicara. Setidaknya ia harus... menenangkan. "829 kilometer tidak sejauh itu. Masih ada telepon, internet, bahkan mungkin... pos...?" Ia mencoba tersenyum.
"—tapi..."
"Aku selalu sayang Kaa, Airi, dan Sagara. Jangan biarkan jarak memutuskan rasa sayang ini, oke?" Bibirnya tersenyum samar, tapi ia yakin lengkungan busur itu semakin mantap dan tegas.
"Aku juga sayang Onii."
"Aku juga." Kedua kaki itu kembali melangkah, kali ini rasanya ringan. "Sangat sayang. Lebih dari apa pun juga."
"Hmmmh. Jangan lupa sering pulang, Onii."
Apa lagi yang bisa You janjikan?
"—tentu saja. Aku janji."
Hidup bergerak maju, melangkah tertatih-tatih. Terus, dan tanpa henti.
~ f i n








0 komentar:
Posting Komentar