RSS

[RP fic] Vergangenheitsbewaltigung


Vergangenheitsbewaltigung

"—you know that I'm the knight, not the Sleeping Beauty nor the Snow White." | Jeong Jin Yeol


JEONG JIN YEOL bukannya menginginkan hal-hal yang muluk. Setiap kali dia mengatupkan tangan dan membisikkan doa, bukannya permintaan seperti kecantikan, kekayaan, atau sejenisnya yang ia luncurkan lewat bibirnya. Bukan gaun gemerlap atau sepatu hak tinggi yang membuat sepasang tungkainya terlihat jenjang. Bukan pangeran tampan berkuda putih yang menjemputnya untuk diboyong ke istana setelah sepatu kacanya ditemukan.

Ah, buat apa hal-hal semacam itu—terlalu kekanak-kanakan, bukan? Terlalu imajinatif, tak akan pernah terkabul dalam realita.



Jeong Jin tak berharap banyak dalam kehidupan, ia jalani apa adanya saja. Tidak menuntut banyak hal, asalkan ia bisa menikmatinya tanpa rasa tertekan.

Yah, dia hanya berharap dirinya bisa terlepas dari bayang-bayang Jeong Joo Rin.

Enam belas tahun menginjakkan kedua kaki di dunia, enam belas tahun yang dipenuhi dengan pujian bagi Joo Rin dan celaan bagi Jeong Jin. Bungsu Jeong tidak mengerti kenapa, dia juga tak pernah mempermasalahkannya hingga ada satu titik kulminasi dimana ia merasa jenuh dengan segala perbandingan yang ada.

Kedua orangtuanya begitu membanggakan sang kakak—kecantikannya, suaranya yang tinggi dan jernih, prestasinya semasa sekolah, dan tingkahnya yang penurut. Walau Joo Rin menghamburkan banyak uang untuk detil-detil kecil yang tak perlu—misalnya alat pengeriting rambut atau pita atau cropped jacket model terbaru—mereka tidak memusingkannya. Yang selalu menjadi bahan perbandingan Joo Rin adalah Jeong Jin, yang—omong-omong—tak sesempurna Joo Rin.

Jeong Jin bukan tipikal gadis manis yang patuh pada kata-kata orangtua. Dia tak bisa jadi pendiam, tak bisa membiarkan dirinya terkurung di kamar dan membaca majalah atau hanya mendengarkan musik. Ia suka membiarkan dirinya berkeliaran di ruas-ruas jalan walau tidak tahu arah dan tidak tahu akan sampai ke mana.

Ia hanya ingin... bebas.
.
.
.

"Sampai kapan kau mau menjadi seperti ini?"

Tegukan limunnya berhenti. Jeong Jin mengalihkan fokus kedua netranya pada sosok Lee di depannya. Satu kerjapan dan dia mengerti ke arah mana sang ibu menuntunnya berdialog.

"Kami sangat cemas semalam—jam dua pagi, Jin-ah! Dan kau masih berkeliaran di Myeongdong?"

Bibirnya membentuk linear lurus, Jeong Jin menggigit bibirnya kuat-kuat dan menelan ludah. Gelas minumannya kini diletakkan tanpa suara di permukaan meja kaca. "Yang penting aku pulang dengan selamat."

Tarikan napas panjang. "Khawatirkan Joo Rin saja, Eomma. Aku gak apa-apa. Tenang."

Gerakan yang begitu cepat dan Jeong Jin merasakan sengatan panas di pipinya. Saking cepatnya sampai ia tak menyadari detik tangan sang ibu melecut di pipnya.

Tamparan cepat yang merobek pertahanan air matanya hingga kedua matanya lebih basah dari biasanya. Kerjapan, satu, dua; ditahannya agar tidak mengalir. Dia tak boleh terlihat lemah, tidak.
.
.
.

"Kau pergi lagi hari ini?"

Jeong Jin menalikan tali sepatu botnya dengan cepat—mendengarkan Joo Rin mengucapkan kalimat interogatif itu dalam diam. Salah satu tali panjang itu tersangkut—sial. Ditariknya simpul yang nyaris rapi itu, mengulang dari awal.

"Jyong..." Suara Joo Rin terdengar putus asa.

"Jangan pedulikan aku." Bungsu Jeong bangkit setelah selesai berurusan dengan sepatunya. Senyum tipis membayang di wajahnya. "Hanya karaoke dengan beberapa anak di kelasku. Paling hanya sampai jam tiga pagi. Biar saja tua bangka itu berceloteh, aku bosan."

Kedua mata Joo Rin melebar. "Jeong Jin Yeol! Yang kausebut tua bangka itu... ibu kita."

Jeong Jin menelengkan kepala. Bibir dicebikkan dalam bentuk senyum mengejek. "Hahaha, tenang Joo, tenang. Aku baik-baik saja, oke?"

Lalu ia mengecup pipi sang kakak sebelum menghilang di balik pintu.
.
.
.

"Berhentilah menjadi trainee."

Percakapan ringan yang semula terjalin di antara dentingan perangkat makan perak dan piring keramik kini membisu seolah-olah tak pernah terjadi sebelumnya. Jeong Jin Yeol mengunyah makanannya dalam diam. Kedua binernya menatap sang pembicara dengan tatapan datar, tak beremosi.

Lee Seung Hye tengah memfokuskan kedua maniknya pada sosok si bungsu. Tangan kanannya yang memegang sendok berhenti di tengah jalan.

"Apa kau bi—maaf?" Kata-kata yang semula hendak ia semburkan diralatnya dengan fonem yang lebih beretika kala kedua mata sang ibu menyipit.

"Kau. Jeong Jin Yeol. Berhenti." Kata-kata itu diselingi jeda yang menegaskan makna kalimat pendek itu.

"Eomma." Joo Rin yang sedari tadi diam saja kini angkat bicara. "Kau tidak bisa—"

Jeong Goon Jo tidak memberikan reaksi apa-apa.

"Kenapa?" Intonasi Jeong Jin naik—diusahakan agar tidak terdengar sarkastik dan sejenisnya. "Karena aku jauh dari sempurna?"

Sorot mata itu mengiyakan segalanya.

Kini senyuman sinis mengambang dari bibir si bungsu. "Sudah kuduga."

"Kau tak berbakat."

Hantaman palu godam. Seumur-umur tidak ada yang berkata seperti itu kepadanya kecuali wanita yang melahirkannya itu. Mungkin pelatih vokalnya bilang suara Jeong Jin hanya sebatas mezzosopran, itu pun terkadang melakukan falseto sehingga ia harus berusaha lebih keras lagi.

Tapi tidak seperti ini. Tidak mengempaskannya jauh ke dalam tanah sehingga ia berharap dirinya terbakar di inti bumi.

"Sesukamulah." Satu gerakan—TRANG!—sendok dan garpu itu ia banting ke lantai sekeras ia bisa. Kemudian ia menghambur ke pintu utama, menyeruak keluar menembus dinginnya udara malam.
.
.
.

Sepatutnya, ia menangis tersedu-sedu dan meraung. Mengutuk orang-orang yang meretakkan perasaannya hingga rapuh dan siap pecah bila disentuh. Atau mungkin menolak kenyataan bahwa ia dan Seung Hye adalah dua orang yang berikatan darah.

Nyatanya, tidak.

Terduduk di tepi trotoar, sebelah lutut memangku gitar pinjaman dari pemusik jalanan di ujung sana. Jemari tangan kiri membentuk pola chord kacau yang bila dipetik akan menciptakan melodi sumbang. Kepalanya menengadah; berharap dengan gestur itu ia akan mampu mencegah air matanya menetes.

Hei, dia tak akan menangis. Bulir air matanya terlalu berharga untuk diteteskan. Terlebih lagi, menangis akan membuktikan bahwa dia lemah, menguatkan kenyataan bahwa ia tidak—

—bebas.

Hatinya menolak untuk pulang. Jiwanya menolak untuk menuruti perintah ibunya. Tidak. Tidak akan. Walaupun kualitasnya kalah jauh dengan Joo Rin, dia punya tekad yang kuat.

Masalahnya, tekad itu harus seribu kali lebih besar agar mampu mengejar mereka yang memang berbakat. Butuh kerja keras.

Lampu jalan bersinar temaram di wajahnya, menciptakan bias tergradasi. Jejak air mata itu nihil, hanya terlihat menggenang di sudut-sudut mata.

Jeong Jin Yeol tidak akan menangis. Karena ia kuat. Karena ia tangguh.
.
.
.

—dia bahkan tidak bisa membenci Jeong Joo Rin.

Yoon Hee bilang, seharusnya pada suatu titik Jeong Jin akan berbalik membenci Joo Rin, karena tanpa sadar eksistensi si kakak mengakibatkan dirinya menjadi rasio. Katanya, akan tiba waktunya perasaan Jeong Jin berkembang menjadi sebuah kegelapan yang buta.

Mungkin, mungkin saja terjadi.

Tapi dia memang tak bisa membenci Joo Rin.

Saat ini, dia sedang berdiri di depan celah pintu yang menampilkan kamar Joo Rin dalam keadaan gelap. Lampu-lampu sudah dipadamkan. Waktu telah beranjak menuju jam satu dini hari. Jeong Joo Rin jelas sudah terlelap. Tuan puteri keluarga Jeong memang tak pernah tidur lewat dari jam sepuluh.

Dalam hening, diamatinya wajah si kakak. Polos dan bening, tertidur dalam damai. Di sana sama sekali tak ada niatan untuk memperburuk suasana keluarga. Wajah yang selalu tersenyum cerah dan memberikan dukungan tulus padanya.

Benar, dia memang tak akan bisa membenci Joo Rin.

Si sulung adalah satu-satunya orang yang memberikan dukungan total baginya. Menyayanginya dan mengkhawatirkannya lebih dari siapa pun. Berusaha sebisanya menolong dengan keterbatasan pola pikirnya yang entah kenapa tak pernah berkembang lebih jauh.

Hati-hati, Jeong Jin masuk ke dalam kamar itu, memperbaikin selimut Joo Rin. Mengusap keningnya yang bebas dari rambut.

Benar. Pada waktu-waktu tertentu, Jeong Jin-lah yang harus melindungi Joo. Karena kakaknya terlalu lugu—terlalu dikuasai oleh sang ibu. Joo Rin begitu rapuh sampai-sampai melindungi dirinya sendiri pun dia tak mampu.

Bertahun-tahun lamanya, hal yang sama selalu terulang. Jeong Jin akan berdiri di sebelahnya, menjadi bayangannya. Berusaha tampak setegar batu karang. Menjadi perisai. Berjuang.

Dikecupnya kening sang kakak—mengungkapkan rasa terima kasih karena tanpa sadar, Joo Rin-lah yang menjadi motivasinya masuk ke dunia entertainment.

Sampai kapan pun, dia tak akan bisa membenci.

Karena seorang ksatria tak akan pernah sanggup membenci orang yang ia lindungi.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems