RSS

[RP fic] First Love...?


credit(s): pict tumblr.
Kata-kata bahasa inggris dari lagu First Love oleh Nikka Costa. Jeong Jin Yeol dan tokoh-tokoh imajiner serta keseluruhan RP fic ini milik saya. Just for fun only, bukan untuk komersil.




Posted Image
.
.
...I'm not the same kid I used to be
.


.
.
Jeong Jin Yeol sama sekali tidak pernah berpikir akan melakukan tindakan konyol seperti ini. Terduduk di undakan trotoar, kedua tungkai sesekali mengentak jalanan untuk melampiaskan kekesalan. Seorang diri.

Ia hanyalah bocah berusia delapan tahun yang terlalu marah pada kedua orang tuanya—lebih tepat lagi pada ibunya. Ibunya terus-menerus memaksa dia untuk menyanyikan nada-nada di oktaf empat; hal yang Joo Rin bisa dan dia tidak. Pada akhirnya Jin Yeol mengerucutkan bibir dan bilang ia tidak mau menyanyi lagi, dan berakhir dengan adu argumen antara orang dewasa dan anak kecil mengenai penyitaan konsol playstation dan jatah uang saku dua bulan ke depan menguap.



Entah apa yang dipikirkannya waktu itu. Dia hanya mengikuti ke mana kedua kaki kecilnya melangkah. Dan bisa ditebak, hasilnya...

...tersesat.

Kedua sikunya ditegakkan di atas lutut, menumpu kedua pipinya yang memerah. Panas matahari sudah memanggangnya berjam-jam selama dia duduk di sini. Tapi tak sedikit pun dia beranjak meski hanya mencari tempat berteduh.

Jin Yeol menggosok hidungnya saat merasakan sesuatu merayap di dalam rongganya. Kedua matanya membelalak saat melihat noda lengket berwarna merah melekat di telapak tangannya yang lembab oleh keringat.

Kelamaan berjemur bisa membuat hidung mimisan, huh? Dia bukannya tidak tahu. Kemarin lusa, salah satu anak keluarga Kim dibawa ke ruang guru karena hidungnya berdarah. Chu Lien bilang Kim Ah Joong itu mimisan.

O, jadi sekarang dia yang mimisan?

Gadis itu keras kepala, masih tidak mau berpindah posisi. Hanya menjepit hidungnya dengan ibu jari dan jari telunjuk; hanya saja usahanya tidak cukup berhasil. Cairan merah itu masih mengalir—beberapa tetes mengenai bibirnya, dan ketika dia kecap, rasanya asin bercampur pahit.

Kesal, ia lepaskan dua jarinya. Jeong Jin Yeol memutuskan untuk menunduk saja, membiarkan darahnya menciptakan bercak-bercak di jalanan, mempersilakan matahari berkobar membakar ubun-ubunnya. Toh tidak ada yang memedulikannya. Paling nanti juga berhent—

"Hei, kau nggak apa-apa?" Bayang-bayang mendadak memblokir panas yang semula mengerjap. Sekitarnya berubah menjadi abu-abu. Dan sebelum Jin Yeol sempat mendongak, si Bayang-bayang sudah berjongkok, menyejajarkan tinggi mereka.

Ah, seorang anak laki-laki. Mungkin sedikit lebih tua darinya.

"Hidungmu berdarah," anak laki-laki itu kembali berucap.

"Bukan urusanmu."

Kedua matanya mengerjap-ngerjap, pandangannya mengabur. Panas matahari telah membuat kepalanya pusing. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk berkata sedemikian ketus pada anak laki-laki ini.

Si Bayang-bayang tertawa. "Memang, tapi aku senang mengurusi urusan orang." Tangan anak itu mengulurkan kain yang entah mengapa terasa lembab, mengusap-usapkannya pada hidung, bibir, dan pipi Jin Yeol.

Anak gadis itu sendiri hanya bisa duduk dengan punggung tegak, diam saat wajahnya dibersihkan. Hanya mengedip setiap beberapa detik dan menahan napas setiap kain itu lewat di depan hidungnya. Sepertinya mimisannya sudah berhenti dan ia tidak perlu repot-repot kembali ke rumah.

"Sudah bersih!" Suara si Bayang-bayang menyadarkannya. Laki-laki itu tersenyum lebar. "Ayo dong senyum, anak perempuan nggak boleh cemberuuuut. Mimisannya sudah berhenti, kok. Nggak perlu cemas lagi."

Mungkin karena Jin Yeol kelewat membeku, si Bayang-bayang mencondongkan tubuhnya. Dengan kedua tangannya ia menarik pipi gadis kecil itu hingga wajahnya berubah aneh.

"Hahaha! Wajahmu aneh!"

—dan anehnya, Jeong Jin Yeol ikut tertawa.
.
.
...what's wrong with me?
.
.
Tangan-tangan itu bergandengan dengan riang, berayun-ayun di udara. Para pemiliknya berjalan sambil melompat-lompat. Tawa riang mengudara di antara sinar matahari yang menyengat.

"Ayo, kau harus berkenalan dengan teman-temanku!" Si Bayang-bayang berkata dengan antusiasme yang membuncah. "Sudah lama kami nggak dapat teman baru, mereka pasti senang."

Jin Yeol mengangguk bersemangat. Sudah lama ia tidak mendapat kawan baru. Selama ini teman-teman yang dikenalnya adalah anak-anak dari relasi kedua orang tuanya—anak-anak sombong dengan sepatu pantofel mengilap dengan baju-baju licin disetrika. Mereka... membosankan. Terlalu pamer harta, terlalu pemilih, terlalu egois, terlalu... kaku. Tidak menyenangkan.

"Teman-temanku bukan anak orang kaya seperti—eh—kau," si Bayang-bayang terdengar agak ragu saat mengucapkannya. "Eh, maksudku, pakaianmu terlihat bagus dan mahal, berbeda jauh dengan—"

"Bukan masalah," potong Jin Yeol cepat, sebelum si Bayang-bayang membahas lebih jauh mengenai penampilannya. Dia tidak suka kalau penampilannya dijadikan patokan untuk suatu pergaulan. "Mau kaya atau tidak, yang penting rasa senangnya."

Dia sendiri tidak tahu dari mana kata-kata itu berasal. Hanya asal bicara? Atau alam bawah sadarnya yang bilang begitu?

"Kau benar." Si Bayang-bayang tersenyum, lalu kembali menggandeng gadis cilik itu. "Yang penting senang. Yang penting menikmati hidup."

Beberapa menit kemudian, Jin Yeol sudah diperkenalkan pada sekitar enam orang anak. Mereka adalah anak-anak jalanan, terbiasa tinggal di gang-gang buntu, berlindung seadanya dari sisa atap toko. Semuanya laki-laki, usia mereka beragam. Yang paling tua berusia empat belas dan sedang keluar—untuk apa, Jin Yeol juga tidak tahu. Rata-rata mereka dibuang orang tua mereka saat bayi, atau yatim-piatu yang begitu miskin sehingga tidak ada panti asuhan yang mau menampung.

Dia sudah terbiasa mendengarkan kata-kata gurunya soal anak-anak yang tidak seberuntung dirinya, namun untuk pertama kalinya ia melihat secara nyata dengan mata kepala sendiri.

Namun, tidak seperti yang dikatakan gurunya, anak-anak itu tampak ceria dan bebas.

Untuk pertama kalinya juga, terbersit rasa berharap agar dia bisa hidup sebebas itu.
.
.
everyone can see there's a change in me...
.
.
"Kau nggak mau pergi ke rumah Hae Rim? Dia punya boneka Barbie baru, asli dari London."

Jeong Jin Yeol menelengkan kepala, menampilkan wajah datar yang bosan. Lagi-lagi masalah boneka impor—memangnya Chu Lien dan yang lainnya nggak bisa dibilangin kalau dia nggak suka main boneka seperti itu?

"Malas, ah," jawabnya sambil menelungkupkan kepala ke lipatan lengan yang sedari tadi berada di atas meja. "Kau saja yang main."

Sepasang alis Wo Chu Lien terangkat tinggi. Tidak biasanya Jin Yeol menolak ajakan main dari 'anak-anak elit' di sekolah mereka. Biasanya gadis itu akan ikut-ikut saja dan memeriahkan suasana. Dan anak lelaki yang ditaksirnya dari kelas sebelah—Ok Yoon Jae—pasti akan ikutan main ke rumah Hae Rim karena ada Jin Yeol, bukan karena dia suka main boneka juga.

Namun Chu Lien yang notabene terdidik sebagai nona kaya tidak mau mengusik lebih jauh. Gadis berambut ikal itu hanya mendengus lalu balik badan. Dan Jin Yeol tahu pasti Chu Lien tidak akan mengajaknya bicara lagi.

Pulang sekolah adalah saat yang dia tunggu-tunggu. Jin Yeol melarikan kedua kakinya secepat mungkin agar bisa sampai di tempat 'teman-teman'nya berada. Tak terasa sudah seminggu ini dia bermain dengan orang-orang yang tingkat perekonomiannya beda jauh. Jin Yeol sama sekali tidak peduli. Baginya, berteman dengan orang-orang seperti mereka lebih menyenangkan karena dia bisa bersikap apa adanya. Jin Yeol tidak harus berpura-pura dia menyukai Barbie atau warna pink. Dia tidak harus... berada di belakang Joo Rin.

Kemarin si Bayang-bayang bilang dia akan mengenalkan Jin Yeol pada 'pemimpin' mereka. Tentu saja Jin Yeol berharap mereka dapat berteman dengan baik, sebagaimana dia berteman dengan 'adik-adik'nya.

Namanya Gok Min. Dia bilang dia tidak mau menyebutkan nama keluarganya—percuma, karena dia bahkan tidak tahu siapa orang tuanya. Gok Min dua puluh sentimeter lebih tinggi dari Jin Yeol. Wajahnya terbilang dewasa untuk anak-anak seumurannya. Kedua matanya sipit dan hidungnya sedikit bengkok. Rambutnya terpangkas asal-asalan dan panjangnya mencapai tengkuk. Sebuah topi bisbol lusuh dipasang terbalik menutupi sebagian rambutnya.

"Ini Jeong Jin Yeol." Si Bayang-bayang memperkenalkan Jin Yeol pada 'kakak'nya.

Gok Min mengangguk satu kali, kemudian menyunggingkan senyum.

"Ah, Jeong. Siapanya Jeong Goon Jo?"

Kening Jin Yeol berkerut. "Kau kenal appa-ku?"

"Tentu saja." Gok Min terbahak. "Siapa yang tidak kenal dengan pengusaha kaya yang punya rumah paling bagus di Pyeongchang-dong?"

Dia tidak suka mendengar status keluarganya dibawa-bawa. Bahkan oleh orang yang dianggap sebagai 'orang dewasa' oleh teman-temannya.

Tawa Gok Min berhenti. "Selamat bergabung dengan kami."—lalu tersenyum.

Senyuman ganjil.
.
.
...tell me, Teddy Bear, why life is so unfair?
.
.
"Kurasa aku mau mengubah namaku."

"Eh? Kenapa?"

"Jin Yeol itu terlalu... perempuan."

Saat itu, mereka—si Bayang-bayang dan Jin Yeol—bertiga Gok Min, sedang dalam perjalanan menuju mini market yang berada cukup jauh dari 'tempat tinggal' mereka. Langit tak lagi biru cerah, kini dengan sedikit rona jingga lembayung pertanda senja nyaris menjelang. Masih terang karena musim panas masih menggantung di udara. Gok Min berjalan terlebih dulu di depan sementara Jin Yeol dan si Bayang-bayang mengekor dari belakang.

"Kau memang perempuan." Sebelah alis si Bayang-bayang terungkit, membuat Jin Yeol berjanji dalam hati kalau ia akan berlatih mengangkat alis dengan cara seperti itu.

"Tapi aku merasa tidak cocok memakai nama itu. Terlalu—yah, terlalu perempuan!"

Bola mata si Bayang-bayang berputar. "Urusan mengganti nama itu sulit, tahu. Mungkin kau bisa mengganti nama panggilan. Itu bisa membantu."

Kedua mata Jin Yeol berbinar. "Benar? Lalu kuganti panggilanku jadi apa?"

"Eh, itu, eee—"

"Dari namaku saja, Jeong Jin Yeol. Kau bisa bantu aku?"

"Hmmm."

Selama beberapa menit, keduanya berjalan dalam diam. Masing-masing menyelami pikiran mereka yang masih terlampau dangkal. Tangan mereka berayun-ayun di sisi tubuh, terkadang saling menyentuh.

"Jeong Jin?"

Mata gadis itu berkedip. "Apa?"

"Nama panggilan barumu, Jeong Jin." Si Bayang-bayang mengulangi dua kata itu. Dua suku kata yang asing bagi telinga Jin Yeol... tapi gadis itu menyukainya.

"Ah, kamsahamnida."

Beberapa belas menit berlalu, tibalah mereka di depan tempat tujuan. Keduanya memandang Gok Min dengan bingung—tidak mengerti mau melakukan apa.

"Masuk saja, lihat-lihat atau apa gitu," begitu kata Gok Min. "Aku mau cari sesuatu. Kalau sudah selesai, kukasih kalian isyarat terus kita keluar bareng-bareng."

Menurut saja, mereka berdua masuk dan melihat-lihat di sana. Bisa dibilang ini kali pertama Jin Yeol masuk ke toko kecil semacam ini. Biasanya ibunya membawa dia ke toko-toko besar yang membuatnya tersesat kalau berjalan terpisah. Sepuluh menit berlalu tanpa ada tanda-tanda apa pun dari Gok Min.

"Gok Min-oppa ke mana?" tanya Jin Yeol sambil menolehkan kepalanya ke segala arah, berusaha menemukan sosok Gok Min di antara rak-rak yang menjulang tinggi.

Si Bayang-bayang angkat bahu. "Molla. Biasanya Hyung pergi sendiri tanpa mengajak siapa pun. Baru kali ini aku pergi dengannya." Kemudian anak laki-laki itu menyandarkan punggungnya pada salah satu rak.

Mulut Jin Yeol membulat membentuk 'o'. Mengangguk-angguk mengerti. Diikutinya posisi si Bayang-bayang—bersandar.

Jin Yeol tidak mengerti. Ada rasa nyaman yang menyelusup ke relung hatinya tatkala berada di sisi anak lelaki itu. Perasaan seolah dilindungi. Sesuatu tak kasatmata yang seolah menjanjikan dia akan bahagia dan aman bersama anak itu.

"Kenapa memandangiku seperti itu... Jeong Jin?"

Gadis kecil itu menggeleng.

Tak lama, Gok Min datang menghampiri mereka, tapi menjaga jarak beberapa langkah. Pemuda itu mengangguk, seolah-olah bilang sudah waktunya mereka keluar. Wajahnya datar, seperti biasa.

"Nih." Dilepasnya topi tua yang selama ini bertengger di kepalanya, dipasangkan dalam posisi yang identik pada kepala Jin Yeol. Gadis itu memandang dengan bingung, terlebih lagi saat Gok Min memberinya sebuah dompet.

"Ini ap—"

"PENCURI!" Bagaikan aba-aba, teriakan itu membuat Gok Min langsung melesat menjauh tanpa bicara apa-apa. Jin Yeol ternganga melihat pemuda yang pergi itu. ...melarikan diri?

Topi yang berada di kepalanya tiba-tiba diambil, dan saat Jin Yeol menoleh untuk melihat siapa yang merebut topi milik Gok Min, ia melihat si Bayang-bayang sudah memakai topi itu dan merenggut dompet itu dari tangan Jin Yeol.

"Lari Jin Yeol, LARI!" Anak laki-laki itu berseru keras dan mendorong punggungnya sampai dia kehilangan keseimbangan. Jin Yeol masih mematung, masih tidak mengerti. Si Bayang-bayang langsung menarik tangannya dan membawanya lari secepat kilat.

"JANGAN KABUR KAMU! PENCURI! PENCURI!" Seruan-seruan marah itu masih bergaung di belakang sana.

Selama kedua kakinya menderap, Jin Yeol berusaha menyatukan potongan-potongan kejadian barusan. Berusaha mencerna. Berusaha—

"Ah!"

Gadis itu menoleh, tersadar bahwa genggaman tangannya sudah lama terlepas. Kakinya masih terus berlari, tapi kecepatannya melambat. Kedua matanya terpaku pada satu titik.

...si Bayang-bayang.

Anak lelaki itu sepertinya tersandung dan jatuh, masih mencengkram dompet tersebut erat-erat.

"LARIIIIII...!" teriak anak itu putus asa sementara beberapa orang yang mengejar sambil meneriakkan kata 'pencuri' berulang-ulang telah mencapai tempatnya.

Jeong Jin Yeol berjarak hampir dua puluh meter jauhnya. Menyaksikan anak itu dipukuli oleh sejumlah orang dewasa berwajah marah. Ditendangi sedemikian rupa.

"Anak jalanan sialan! Beraninya mencuri dompet orang!"

"Dasar sampah!"

"Mati saja kau!"

Si Bayang-bayang tidak bersuara. Tidak menjerit. Tidak protes.

Bukan. Ini bukan kesalahan si Bayang-bayang—Jin Yeol meneguk ludahnya yang entah mengapa terasa pahit. Ini salah Gok Min! Ini perbuatan Gok Min! Matanya mulai terasa pedas, hatinya mendorong agar ia kembali dan menolong si Bayang-bayang.

Di antara perjuangannya melawan rasa sakit, Jin Yeol melihat anak lelaki itu menoleh kepadanya. Tersenyum. Seolah mengucapkan sesuatu tanpa suara. Lalu ia kembali ditelan amukan massa.

"Itu temannya!" Salah seorang di antara mereka menunjuk kepadanya, membuat tubuhnya tersentak. Tanpa pikir panjang, Jin Yeol berlari sekencang-kencangnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Itu adalah kali terakhirnya dia melihat si Bayang-bayang.
.
.
.
"Jangan pedulikan aku..."
.
.
.
.
.
"...Jjin."

.
.
.
.
"Mau ke mana?"

Jeong Jin Yeol mengedikkan bahu acuh tak acuh, membuat perempuan separuh baya di belakangnya bersedekap.

"Jawab aku, Jeong Jin Yeol!"

"Sama sekali bukan urusanmu," —kedua matanya menatap sinis— "Eomma."

"Masalahnya, aku suka mengurusi urusan orang lain..."

Jeong Jin berbalik dan melangkah melewati pintu sebelum membanting papan tebal itu keras-keras di belakangnya. Peduli amat nanti dia bakalan semakin dianaktirikan atau bagaimana. Dia sudah terbiasa dengan hal itu.

Delapan tahun berlalu dengan cepat seperti angin yang berhembus. Selama satu windu itu, tak sekali pun ia bertemu dengan si Bayang-bayang. Tapi selama itu pula, ia tak pernah melupakan tentang anak laki-laki itu. Matanya, hidungnya, lesung pipinya, kata-katanya...

"Masalahnya, aku suka mengurusi urusan orang lain..."

...nama panggilan yang ia berikan.

"Jeong Jin..."
.
.
.
"...Jjin."

.
.
.
.
.
.
Jeong Jin sudah tidak pernah menemui anak-anak jalanan itu—terutama Gok Min. Dia tidak sudi menemui begundal sialan itu. Karena ulahnya, Jeong Jin tidak pernah bertemu dengan si Bayang-bayang lagi. Meski ia masih sering berkeliaran di luar rumah, kini ia lebih selektif untuk berbicara dengan orang asing.

Apa yang sudah berlalu biarlah berlalu. Kenangannya akan si Bayang-bayang yang membersihkan noda darah dari wajahnya akan tetap membekas dalam pikirannya, selama apa pun waktu berlari.

Tapi kalau diizinkan, dia ingin bertemu lagi dengan anak lelaki itu. Mengucapkan terima kasih atas banyak hal. Karena ia begitu menyenangkan. Karena ia memperlihatkan sisi dunia yang lain.

Karena ia adalah cinta pertama Jeong Jin Yeol.

(Walau sekarang dia sudah bisa memandang orang lain.)
.
.
Wish that I could show him what I'm feeling
'cause I'm feeling my first love...

---------------------
f i n
---------------------

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems