RSS

[RP fic] 나는 결코 울지 않는다


Posted Image

I will never cry...


Pyeongchang-dong, 10.14 p.m


Nah, selamat malam. Sudah pukul sepuluh lewat, people. Seharusnya semua mata sudah terpejam. Ya, SEHARUSNYA. Jam sepuluh itu berarti waktu sudah menanjak pada puncaknya: tengah malam. Sudah saatnya bomaca---bobo mayem cantiks---seperti yang dilakukan Jeong Joo Rin di kamar sebelah sana. Lagipula, orang-orang normal pun pastinya sudah menguap dan enggan keluar kamar masing-masing.

Ya kalau tokoh utama kita kali ini senormal orang lain. Nyatanya?



Ahhh, Jeong Jin Yeol sudah berkali-kali absen dari tidur malamnya. Tidur sih, tapi biasanya jam dua pagi. Lalu bablas sampai jam tujuh. Lari-lari ke sekolah, terlambat. Sudahlah, sudah siklus. Tapi karena kali ini masih masa libur... so let it be. Pergi sampai pagi---kalau bisa pulangnya nanti-nanti saja, saat orang tuanya sedang pergi entah ke mana.

Hmm, memang sih kemarin dia sudah tidur di luar rumah. Betul, berkeliaran gak tentu arah sampai tiba di Apgujeong---yang sebenarnya terhitung jauh dari rumahnya---ikut lomba karaoke sampai frustrasi sendiri karena nilainya turun terus, dan berakhir di Starbucks yang dia lupa ada di mana (dan ternyata masih di Apgujeong). Tidur sih, tiduuur; di kantor setelah dijemput sama Go Young Jin di Starbucks. Dia sendiri masih gak ngerti kenapa pemuda Go itu bela-belain datang tengah malam demi..............menginap.---bukan dalam artian lain.

Absen batang hidung di rumah sorenya malah bikin dia disemprot habis-habisan---dan ujungnya sang ibu kembali membanding-bandingkan dia dengan Joo Rin. Mulai dari kebiasaan sang kakak yang jarang ngeluyur malam-malam sampai... kemampuan.

And that old story begin again.

Jeong Jin memastikan jaketnya sudah terpasang dengan benar, resletingnya terkait sempurna, lalu menyisiri rambutnya dengan jari. Malas banget harus pakai sisir hanya untuk jalan-jalan tanpa arah. Siapa juga yang peduli sama rambutnya, hih.

Mengendap-endap tanpa suara, ia mematikan saklar lampu kamar---KLIK!---lalu beringsut mendekati jendela. Jalan keluarnya, pintu menuju kebebasannya.

Ponsel sudah aman berada di saku celana, sedari tadi terus bergetar menandakan adanya mention twitter yang masuk. Palingan antara T.K dan Seunghyun lagi, kayak tadi. Oke, balasnya nanti. Sekarang yang penting keluar dulu.

Derit engsel jendela terdengar saat ia membuka jendela. Jendelanya model yang diangkat ke atas, jadinya pasti menghasilkan bunyi logam tergesek yang bikin bibirnya mendesis, "Sssshhhh!"---padahal desisan itu sama sekali tidak membuat jendelanya bakalan diam.

Matanya menatap awas ke bawah, memastikan satpam yang bertugas sedang tidak ada di pos jaga. Oke, Eomma dan Appa boleh meletakkan kamarnya di paling depan rumah, tapi itu pun gak bakal menghalangi dia menyelundup keluar.

Area bebas penjaga! Yakin, barulah Jeong Jin menyusupkan tubuhnya lewat jendela dengan posisi memunggungi luar kamar. Kaki duluan, yak yak yak!--oke, pijakan pertama sudah terinjak.

Ponselnya bergetar lagi. Uh, oh-kay. Dia gak suka bikin teman-temannya cemas hanya karena numpang curhat di twitter. Tao Li dan Yoon Hee tadi sudah membombardir twitter-nya tanpa ia balas satu pun. Jangan sampai T.K ikutan cemas juga.

Jadilah dia merogoh saku, mengambil ponsel layar sentuh dan membuka aplikasi twitter. Benar saja, itu T.K.

@FongTK dearest. kamu belum pulang? @jjinyeol


Hohe. Bukan reply, sih, tapi sepertinya karena melihat dia bikin status mau pergi keluar rumah lagi. Serius, hari ini mendingan tidur di halte bis. Lagian hari ini gak akan ada Go Young Jin yang maksa dia pulang ke rumah.

Jeong Jin mengetik balasan singkat sambil terus bergerak di pijakannya. Semacam balkon super mini tanpa pembatas---

@jjinyeol @FongTK baru mau per_


--"HUWA!" Dia salah menginjak udara kosong dan terjungkal ke tanah. Masuk menembus semak-semak dan tenggelam. Tanpa sadar dia menekan tombol 'enter' dan terkirimlah twit itu pada T.K.

Yang ada di pikiran Jeong Jin pertama kalinya adalah... tanahnya sangat dingin. Dan ada salju. Ada bau pinus entah dari mana. Lalu susul-menyusul kesadarannya kembali.

Dia mau pergi keluar.

Dia tadi menyelinap keluar sambil ngetik twitter.

Dan sekarang pinggiran celana pendeknya sobek.

Drrtt drrrt drrt...

@FongTK @jjinyeol per.... per... PER?! diPERkosa????!!!


Ngok.

"GEMBEEEEEELLLLLLLLL---eh ups." Jeong Jin buru-buru menutup mulutnya yang tanpa sadar berteriak. Oh My, sepertinya dia harus belajar banyak untuk mengunci mulut supaya gak lepas kontrol.

Mengintip dari balik semak-semak yang membeku. Oh, fiuh. Gak ada satpam satu pun. Tanpa banyak buang waktu, Jeong Jin segera memanjat pagar dan... kabur.

.
.
.

So, this is Starbucks, again.

Jeong Jin Yeol tidak mengerti mengapa akhir-akhir ini pelariannya berakhir pada kedai kopi tersebut. Sebelum-sebelumnya, ia tidak terlalu menyukai kopi dan tidak menikmati setiap sesapnya.

Tapi,

sekarang ia menyukainya.

Aroma manis dan pahit yang melingkupinya terasa menyenangkan. Jeong Jin membiarkan dirinya terbenam dalam atmosfir yang begitu menenangkan. Mungkin ini sebabnya ia menyukai bagaimana titik akhir dari pelariannya adalah Starbucks.

Karena di sini jiwanya merasa damai.

Karena di sini ada kebebasan yang begitu hangat.

Ibarat adanya efek hipnotis, sekarang pikirannya sudah kosong. Tidak ada sekelebatan ingatan tentang tekanan di rumah, penjatuhan mental yang digumamkan sang ibu berkali-kali. Tidak ada, "Oh, Jeong Jin Yeol, adiknya Joo Rin ya?" atau sejenisnya.

Hanya ada dia, dan segelas frappuccino di tangannya.

Satu sesapan lagi, kemudian bibirnya menggumamkan kata-kata tanpa suara.

Aku kuat. Aku adalah diriku. Aku bukan orang lain. Tak ada orang sekuat aku.

Aku kuat. Aku tidak menangis. Aku tidak cengeng.

Aku bukan bayi.


Bunyi kosong dihasilkan oleh sedotannya yang menghisap udara. Jeong Jin melirik gelas plastiknya dengan sebelah alis terangkat. Habis? Tapi dia masih enggan pulang dan tidur.

Gadis itu mendorong bekas minumannya menjauh, kemudian melipat kedua lengan di atas meja. Membiarkan lengan-lengan kurusnya menjadi tumpuan bagi kepala. Kini kedua matanya terpejam.

Hmmh, selama dia tidak menangis, segalanya akan baik-baik saja. Selama ia menjadi gadis yang kuat, ia bisa menghadapi apa pun.

Jeong Jin Yeol tersenyum.

~fin

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems