RSS

[RP fic] Denial


"Fine! Ternyata aku hanya mainan selama ini untukmu, hah?! Kalau memang itu yang kau mau harusnya kau bilang dari awal aku menembakmu! Shit! Puas kau mempermainkanku?! Mentang-mentang aku sudah lama menyukaimu, hah?! FINE FINE FINE! AKU PERGI! Tidak usah coba menghubungiku lagi! Lupakan janji yang lalu lalu! Janji bullshit! Fine. Aku titip salam jotos pada satpammu."
.
.
.
.
Jeong Joo Rin merasakan denyutan hebat di kepalanya. Meremas dan seolah meremukkan. Konstan setiap detiknya, membuat kedua tangannya memegang sisi pelipis. Semakin lama ia berpikir, semakin kuat pula rasa sakit itu merongrongnya. Semakin lama ia berpikir, semakin ia tidak menemukan jawabannya.



Joo Rin tidak terlahir untuk berpikir. Dia seperti boneka—tanpa perasaan, hanya menampilkan sosok kaca yang dikagumi banyak orang. Mereka bilang ia cantik, mengagumkan, memesona. Kecerobohannya dianggap lucu, kepolosannya dianggap menggemaskan. Ia sempurna secara kulit, namun mentalnya goyah.

Selama ini ia tak pernah mencintai orang lain selain keluarganya. Setiap laki-laki yang dikencaninya hanya sebatas status saja. Tak ada afeksi. Hanya ada keraguan untuk menolak. Hanya ada sedikit tekad untuk mencoba menyayangi.

Yang pada akhirnya gagal.

Joo Rin membenamkan kepalanya pada lutut yang ditekuk, berusaha membatasi dirinya dengan dunia.

Ia pikir segalanya akan baik-baik saja. Ia pikir Ji Seok tidak akan mengiriminya voice notes yang sarat akan kemarahan itu.

Dan ia pikir ia tak akan sesedih ini.

Dugaannya salah. Keping-keping ekspektasi itu menyerbuk dan terhembus angin, menghilang tanpa jejak. Dalam waktu lima belas detik, dunianya berubah menjadi hitam, dimana hanya ada dia sendiri di sana, terjebak dalam pusaran konfusional.

Helaan napasnya memberat diiringi alur panas yang bergulir terus di pipinya.

Apa yang kaupikirkan?—ia mendengar dirinya sendiri bertanya. Apa yang membuatmu menangis? It's your choice, after all. Kamu yang bilang 'putus', tapi setelahnya kamu yang menangis. Lalu tangismu berhenti dan kau mendengar kata-katanya. Dan kau kembali menangis.

(What do you want?)

Dia bahkan tidak tahu apa yang ia inginkan saat ini. Bahkan saat Jeong Jin Yeol muncul di ambang pintu kamarnya—dengan jaket dan tas selempang yang masih tersampir di bahu—Joo Rin hanya menghambur ke arah adiknya.

Dan terus menangis.

Ia tidak mengerti mengapa air matanya terus keluar. Ia tidak mencoba mencari tahu, karena semakin lama ia berpikir, kepalanya serasa akan meledak. Ia lelah berpikir. Ia lelah tenggelam dalam rasa sesak ini. Ia ingin menyelam naik dan muncul di permukaan, lalu bernapas dengan lega dan tanpa beban.

Tapi pada kenyataannya, Jeong Joo Rin tidak sanggup.

Terbata-bata, ia mulai mengungkapkan sepatah demi sepatah kata, merangkainya secara kronologis agar sang adik mengerti. Bibirnya gemetar, air matanya tak mau berhenti.

Segalanya dimulai ketika Joo Rin tanpa sengaja menemukan mention antara Ji Seok dan Ri Young. Tadinya iseng saja melihat, mereka membahas sesuatu yang... entahlah, Joo Rin kurang mengerti. Lalu ia mengamati nama keduanya—sama-sama bermarga Park. Lalu ia mencari lebih banyak soal keduanya.

Dan ia tertegun.

Ji Seok tidak pernah seceria itu kalau bersamanya. Tidak... lepas. Tidak seiseng itu. Tidak sesenang itu.

Di hadapannya, Park Ji Seok adalah sosok yang mengayomi. Menjaga. Memastikan dia berada di tempat yang aman. —yang sayangnya, malah terlihat seperti orang lain.

Detik itu juga, ada sesuatu yang robek jauh di dalam dirinya. Sesuatu runtuh dan pecah berkeping-keping, berserakan tanpa bisa dikenali lagi yang mana merupakan bagian dari yang mana. Tangannya gemetar di detik yang bersamaan, nyaris membuat ponselnya tergelincir jatuh.

"Oppa gak salah, Jyong. Oppa gak salah." Joo Rin masih terisak. Dibenamkannya wajah pada lekuk leher Jeong Jin, membiarkan air matanya membanjir. "Aku yang... yang... Entahlah. Aku gak ngerti. Hanya saja rasanya di sini—ada yang mencelos. Ada yang kosong. Ada yang terbakar."

Hembusan napas terdengar di atas puncak kepalanya. "Aku gak pernah lihat kau seperti ini sebelumnya, Joo. Selama melihat deretan pacarmu yang lain, kau gak pernah sekacau ini. Tolol, kalau kubilang."

Joo Rin mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Tenggorokannya kering kerontang.

"Mungkin ini balasan karena aku memaksa diri untuk menganggapnya lebih dari seorang kakak," jawabnya pelan, nyaris berbisik.

"Kau masih menganggap Jippa sebagai kakak? Serius?"

"Ne, atau mungkin bukan kakak. Kalau kakakmu marah, memangnya kau akan sekacau ini?" Joo Rin menyeka air matanya menggunakan pundak jaket Jeong Jin yang sudah basah, merasakan bahu sang adik sedikit bergidik.

Cukup lama Jeong Jin terdiam, membiarkan keduanya terlarut dalam keheningan. Detik jam adalah satu-satunya simfoni yang mengalun di udara.

"Mungkin saja." Jeong Jin berkata dengan nada datar. "...kalau kau menganggapnya lebih dari seorang kakak."

Dan tubuh itu menegang dalam pelukan adiknya. Rasa dingin menjalar di tengkuk Joo Rin, tanpa sebab yang jelas. Mendadak ia merasa merinding, seolah-olah baru saja disentak bangun dari tidur panjang dan mandapati dirinya akan dihukum mati.

Takut.

Kata pertama yang terlintas dalam benaknya adalah itu. Takut, ya, dia takut.

Dua puluh tahun bernapas di dunia, Jeong Joo Rin tidak pernah mencintai orang lain selain keluarganya. Tidak pernah berpikir laki-laki patut dihujani afeksi, karena dia berharap yang akan meminangnya nanti adalah pangeran tampan seperti dari dongeng-dongeng Disney.

"Joo, kau mencintainya, kan?"

Kata-kata itu menampar pipinya dan meninggalkan jejak perih seperti baru saja dilecut cambuk. Joo Rin memejamkan kedua matanya erat-erat, berharap sebentar lagi ia akan bangun dari mimpi ini. Tapi ia bisa merasakan debaran jantungnya yang kian cepat, merasakan nyeri hebat melanda kepalanya.

Ia takut.

Ia takut kalau ia betul-betul jatuh cinta pada Park Ji Seok.

Joo Rin menggigit bibirnya, merasakan lapisan plasma bening kembali meliputi bola matanya, mengaburkan pandangannya. Diusahakannya agar fokus memandang pada sprei yang diduduki Jeong Jin, namun sia-sia. Air matanya meleleh dan menitik pada permukaan sprei.

"Joo...?"

"Ah, biarkanlah berlalu, Jyong." Kebohongan kedua yang menyedihkan. Yang kali ini tak sebaik kebohongan pertama. "Oppa begitu marah padaku. Aku bersalah. Aku membuatnya marah."

Jeong Jin Yeol tidak bereaksi.

"Oppa tidak bahagia bersamaku," cetusnya, memejamkan mata. Diingat-ingatnya kembali bagaimana Ji Seok dan Ri Young berinteraksi. Begitu bebas. Begitu lepas. Begitu penuh tawa. Joo Rin ingin bisa seperti itu, namun yang selama ini ia temui hanyalah Ji Seok tersenyum, bukan Ji Seok tertawa. Ada batas yang menggarisi keduanya sehingga tak bisa membuka diri satu sama lain.

Joo Rin memang seperti ini, sebetulnya. Tidak ada kepura-puraan selama bersama Ji Seok. Hanya barusan saja, kebohongan di voice notes yang dibuatnya sebagai balasan terhadap kiriman si pemuda. Ia berpura-pura menjadi orang jahat, yang memang mempermainkan perasaan Park Ji Seok.

Jeong Joo Rin adalah orang paling menyedihkan di dunia, ia tahu itu.

"Jadi, sekarang kau mau bagaimana, Joo?" Suara Jeong Jin memecah pikirannya. Ia sudah terhanyut ke dalam angan-angannya sendiri.

Dia mau apa sekarang?

Ah, tidak muluk.

Joo Rin hanya ingin melihat Ji Seok tertawa lebar, tanpa membatasi diri dengan dinding tebal yang terlihat kaku. Joo Rin tidak ingin melihat Ji Seok menjadi orang lain ketika bersamanya.

Kalau boleh jujur, Joo Rin ingin menjadi Park Ri Young agar bisa melihat Ji Seok bersikap apa adanya.

Namun, Joo Rin hanya menggeleng.

"Aku mau tidur, Jyong. Kepalaku rasanya berat." Dilepaskannya pelukan Jeong Jin dan buru-buru disembunyikannya dua mata bengkak yang rasanya sulit sekali dibuka.

Dan sang adik hanya bisa angkat bahu. Membiarkan kakaknya menyusup ke balik selimut dan menariknya sampai batas dagu.

"Well then," gumamnya. Jeong Jin merayap ke sebelah Joo Rin, kemudian mengecup keningnya. "Selamat tidur, Joo. Jangan nangis lagi. Aku ngerti bagaimana rasanya."

Kelopak mata Joo Rin sudah terpejam. "Mm, maksudnya kamu juga jatuh cinta, Jyong?"

Pertanyaan sederhana sebenarnya, tapi di sana tersirat makna bahwa Joo Rin mengakui kalau dia memang jatuh cinta.

Tapi dia tak akan bergerak. Cukup di sini saja. Diam. Mengamati.

Melihat Ji Seok tertawa dan bukannya membatasi diri.

Sekaligus berdoa agar pemuda itu akan berbahagia nantinya, walau Joo Rin sudah menyakitinya sedalam ini—yang sebenarnya semata-mata ia lakukan karena ingin melihat Ji Seok tidak terbebani.

Dibenci pun tidak apa, memang salahnya. Karena telat menyadari. Karena banyak persilangan takdir yang menghambat. Karena semula ia banyak menyangkal, dan ketika sadar, segalanya sudah sia-sia.

Karena dia adalah Jeong Joo Rin, dan dia memang tak bisa berpikir panjang dan dalam.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems