"Fine! Ternyata aku
hanya mainan selama ini untukmu, hah?! Kalau memang itu yang kau mau
harusnya kau bilang dari awal aku menembakmu! Shit! Puas kau
mempermainkanku?! Mentang-mentang aku sudah lama menyukaimu, hah?! FINE
FINE FINE! AKU PERGI! Tidak usah coba menghubungiku lagi! Lupakan janji
yang lalu lalu! Janji bullshit! Fine. Aku titip salam jotos pada
satpammu."
.
.
.
.
Jeong Joo Rin merasakan
denyutan hebat di kepalanya. Meremas dan seolah meremukkan. Konstan
setiap detiknya, membuat kedua tangannya memegang sisi pelipis. Semakin
lama ia berpikir, semakin kuat pula rasa sakit itu merongrongnya.
Semakin lama ia berpikir, semakin ia tidak menemukan jawabannya.
Joo
Rin tidak terlahir untuk berpikir. Dia seperti boneka—tanpa perasaan,
hanya menampilkan sosok kaca yang dikagumi banyak orang. Mereka bilang
ia cantik, mengagumkan, memesona. Kecerobohannya dianggap lucu,
kepolosannya dianggap menggemaskan. Ia sempurna secara kulit, namun
mentalnya goyah.
Selama ini ia tak pernah mencintai orang lain
selain keluarganya. Setiap laki-laki yang dikencaninya hanya sebatas
status saja. Tak ada afeksi. Hanya ada keraguan untuk menolak. Hanya ada
sedikit tekad untuk mencoba menyayangi.
Yang pada akhirnya gagal.
Joo Rin membenamkan kepalanya pada lutut yang ditekuk, berusaha membatasi dirinya dengan dunia.
Ia pikir segalanya akan baik-baik saja. Ia pikir Ji Seok tidak akan mengiriminya voice notes yang sarat akan kemarahan itu.
Dan ia pikir ia tak akan sesedih ini.
Dugaannya
salah. Keping-keping ekspektasi itu menyerbuk dan terhembus angin,
menghilang tanpa jejak. Dalam waktu lima belas detik, dunianya berubah
menjadi hitam, dimana hanya ada dia sendiri di sana, terjebak dalam
pusaran konfusional.
Helaan napasnya memberat diiringi alur panas yang bergulir terus di pipinya.
Apa yang kaupikirkan?—ia mendengar dirinya sendiri bertanya. Apa yang membuatmu menangis? It's your choice, after all.
Kamu yang bilang 'putus', tapi setelahnya kamu yang menangis. Lalu
tangismu berhenti dan kau mendengar kata-katanya. Dan kau kembali
menangis.
(What do you want?)
Dia bahkan tidak
tahu apa yang ia inginkan saat ini. Bahkan saat Jeong Jin Yeol muncul di
ambang pintu kamarnya—dengan jaket dan tas selempang yang masih
tersampir di bahu—Joo Rin hanya menghambur ke arah adiknya.
Dan terus menangis.
Ia
tidak mengerti mengapa air matanya terus keluar. Ia tidak mencoba
mencari tahu, karena semakin lama ia berpikir, kepalanya serasa akan
meledak. Ia lelah berpikir. Ia lelah tenggelam dalam rasa sesak ini. Ia
ingin menyelam naik dan muncul di permukaan, lalu bernapas dengan lega
dan tanpa beban.
Tapi pada kenyataannya, Jeong Joo Rin tidak sanggup.
Terbata-bata,
ia mulai mengungkapkan sepatah demi sepatah kata, merangkainya secara
kronologis agar sang adik mengerti. Bibirnya gemetar, air matanya tak
mau berhenti.
Segalanya dimulai ketika Joo Rin tanpa sengaja menemukan mention
antara Ji Seok dan Ri Young. Tadinya iseng saja melihat, mereka
membahas sesuatu yang... entahlah, Joo Rin kurang mengerti. Lalu ia
mengamati nama keduanya—sama-sama bermarga Park. Lalu ia mencari lebih
banyak soal keduanya.
Dan ia tertegun.
Ji Seok tidak pernah seceria itu kalau bersamanya. Tidak... lepas. Tidak seiseng itu. Tidak sesenang itu.
Di
hadapannya, Park Ji Seok adalah sosok yang mengayomi. Menjaga.
Memastikan dia berada di tempat yang aman. —yang sayangnya, malah
terlihat seperti orang lain.
Detik itu juga, ada sesuatu yang
robek jauh di dalam dirinya. Sesuatu runtuh dan pecah berkeping-keping,
berserakan tanpa bisa dikenali lagi yang mana merupakan bagian dari yang
mana. Tangannya gemetar di detik yang bersamaan, nyaris membuat
ponselnya tergelincir jatuh.
"Oppa gak salah, Jyong. Oppa gak
salah." Joo Rin masih terisak. Dibenamkannya wajah pada lekuk leher
Jeong Jin, membiarkan air matanya membanjir. "Aku yang... yang...
Entahlah. Aku gak ngerti. Hanya saja rasanya di sini—ada yang mencelos.
Ada yang kosong. Ada yang terbakar."
Hembusan napas terdengar di
atas puncak kepalanya. "Aku gak pernah lihat kau seperti ini sebelumnya,
Joo. Selama melihat deretan pacarmu yang lain, kau gak pernah sekacau
ini. Tolol, kalau kubilang."
Joo Rin mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Tenggorokannya kering kerontang.
"Mungkin ini balasan karena aku memaksa diri untuk menganggapnya lebih dari seorang kakak," jawabnya pelan, nyaris berbisik.
"Kau masih menganggap Jippa sebagai kakak? Serius?"
"Ne,
atau mungkin bukan kakak. Kalau kakakmu marah, memangnya kau akan
sekacau ini?" Joo Rin menyeka air matanya menggunakan pundak jaket Jeong
Jin yang sudah basah, merasakan bahu sang adik sedikit bergidik.
Cukup
lama Jeong Jin terdiam, membiarkan keduanya terlarut dalam keheningan.
Detik jam adalah satu-satunya simfoni yang mengalun di udara.
"Mungkin saja." Jeong Jin berkata dengan nada datar. "...kalau kau menganggapnya lebih dari seorang kakak."
Dan
tubuh itu menegang dalam pelukan adiknya. Rasa dingin menjalar di
tengkuk Joo Rin, tanpa sebab yang jelas. Mendadak ia merasa merinding,
seolah-olah baru saja disentak bangun dari tidur panjang dan mandapati
dirinya akan dihukum mati.
Takut.
Kata pertama yang terlintas dalam benaknya adalah itu. Takut, ya, dia takut.
Dua
puluh tahun bernapas di dunia, Jeong Joo Rin tidak pernah mencintai
orang lain selain keluarganya. Tidak pernah berpikir laki-laki patut
dihujani afeksi, karena dia berharap yang akan meminangnya nanti adalah
pangeran tampan seperti dari dongeng-dongeng Disney.
"Joo, kau mencintainya, kan?"
Kata-kata
itu menampar pipinya dan meninggalkan jejak perih seperti baru saja
dilecut cambuk. Joo Rin memejamkan kedua matanya erat-erat, berharap
sebentar lagi ia akan bangun dari mimpi ini. Tapi ia bisa merasakan
debaran jantungnya yang kian cepat, merasakan nyeri hebat melanda
kepalanya.
Ia takut.
Ia takut kalau ia betul-betul jatuh cinta pada Park Ji Seok.
Joo
Rin menggigit bibirnya, merasakan lapisan plasma bening kembali
meliputi bola matanya, mengaburkan pandangannya. Diusahakannya agar
fokus memandang pada sprei yang diduduki Jeong Jin, namun sia-sia. Air
matanya meleleh dan menitik pada permukaan sprei.
"Joo...?"
"Ah,
biarkanlah berlalu, Jyong." Kebohongan kedua yang menyedihkan. Yang
kali ini tak sebaik kebohongan pertama. "Oppa begitu marah padaku. Aku
bersalah. Aku membuatnya marah."
Jeong Jin Yeol tidak bereaksi.
"Oppa
tidak bahagia bersamaku," cetusnya, memejamkan mata. Diingat-ingatnya
kembali bagaimana Ji Seok dan Ri Young berinteraksi. Begitu bebas.
Begitu lepas. Begitu penuh tawa. Joo Rin ingin bisa seperti itu, namun
yang selama ini ia temui hanyalah Ji Seok tersenyum, bukan Ji Seok
tertawa. Ada batas yang menggarisi keduanya sehingga tak bisa membuka
diri satu sama lain.
Joo Rin memang seperti ini, sebetulnya. Tidak ada kepura-puraan selama bersama Ji Seok. Hanya barusan saja, kebohongan di voice notes
yang dibuatnya sebagai balasan terhadap kiriman si pemuda. Ia
berpura-pura menjadi orang jahat, yang memang mempermainkan perasaan
Park Ji Seok.
Jeong Joo Rin adalah orang paling menyedihkan di dunia, ia tahu itu.
"Jadi, sekarang kau mau bagaimana, Joo?" Suara Jeong Jin memecah pikirannya. Ia sudah terhanyut ke dalam angan-angannya sendiri.
Dia mau apa sekarang?
Ah, tidak muluk.
Joo
Rin hanya ingin melihat Ji Seok tertawa lebar, tanpa membatasi diri
dengan dinding tebal yang terlihat kaku. Joo Rin tidak ingin melihat Ji
Seok menjadi orang lain ketika bersamanya.
Kalau boleh jujur, Joo Rin ingin menjadi Park Ri Young agar bisa melihat Ji Seok bersikap apa adanya.
Namun, Joo Rin hanya menggeleng.
"Aku
mau tidur, Jyong. Kepalaku rasanya berat." Dilepaskannya pelukan Jeong
Jin dan buru-buru disembunyikannya dua mata bengkak yang rasanya sulit
sekali dibuka.
Dan sang adik hanya bisa angkat bahu. Membiarkan kakaknya menyusup ke balik selimut dan menariknya sampai batas dagu.
"Well then,"
gumamnya. Jeong Jin merayap ke sebelah Joo Rin, kemudian mengecup
keningnya. "Selamat tidur, Joo. Jangan nangis lagi. Aku ngerti bagaimana
rasanya."
Kelopak mata Joo Rin sudah terpejam. "Mm, maksudnya kamu juga jatuh cinta, Jyong?"
Pertanyaan sederhana sebenarnya, tapi di sana tersirat makna bahwa Joo Rin mengakui kalau dia memang jatuh cinta.
Tapi dia tak akan bergerak. Cukup di sini saja. Diam. Mengamati.
Melihat Ji Seok tertawa dan bukannya membatasi diri.
Sekaligus
berdoa agar pemuda itu akan berbahagia nantinya, walau Joo Rin sudah
menyakitinya sedalam ini—yang sebenarnya semata-mata ia lakukan karena
ingin melihat Ji Seok tidak terbebani.
Dibenci pun tidak apa,
memang salahnya. Karena telat menyadari. Karena banyak persilangan
takdir yang menghambat. Karena semula ia banyak menyangkal, dan ketika
sadar, segalanya sudah sia-sia.
Karena dia adalah Jeong Joo Rin, dan dia memang tak bisa berpikir panjang dan dalam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar