RSS
Tampilkan postingan dengan label multichapter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label multichapter. Tampilkan semua postingan

[Last Chapter] Ugly Girl Under The Raindrops



Kala aku masih kanak-kanak, berlarian dengan lutut rapuh dan wajah bercoreng krim dari tart yang kucolek diam-diam, aku berpikir bahwa kehidupanku akan terus begini: mendendangkan tawa ceria di bawah paparan sang surya, menjejaki rerumputan yang menari bersama embusan angin yang melompat-lompat ringan, akan bahagia dan menjerit lepas sepuasnya.

Kala aku remaja, aku belajar bahwa ketika mencintai seseorang, kita harus menyatakan bahwa kita menyayangi orang itu selagi kita mampu mengatakannya. Aku juga belajar bahwa suatu saat kita harus merelakan orang itu, karena cinta bukan berarti memiliki.

Ketika aku dewasa, aku mengenal takdir—sebuah alur dimana hidup kita akan berjalan mengikutinya...
.
.
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.

“Do you believe in happy ending?”

“Depends. Anything with happy beginning would have a happy ending.”

“Do you believe in your fate?”

“I do.”

...

“So you believe your fate will have a happy ending?”

—silence.

.
.
.
mysticahime™
© 2012
.
Presents...

.
.

UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
 The Final Chapter
.
.
.

Please take notes: Timeline setelah side story 4
.
.
.
ENJOY! :)
.
.

Satu anual telah berlalu semenjak Uchiha Sasuke melepas statusnya sebagai mahasiswa. Hari-hari yang semula dipenuhi dengan lembaran diktat dan textbook kini telah tergantikan oleh kesibukan meniti tangga karier cemerlang di salah satu anak perusahaan Uchiha Corp., bisnis milik keluarga Uchiha.

Satu anual telah berlalu, dan kini Haruno Sakura-lah yang akan segera melemparkan topi wisuda ke udara.

Suatu kebetulan yang kurang menyenangkan ketika hari yang ditunggu-tunggu ternyata jatuh pada suatu hari kelabu yang siap menjatuhkan tangisannya kapan saja. Untung saja sidang terbuka tersebut digelar di dalam ruangan sehingga para calon alumnus tidak perlu merayakan kelulusan dengan toga lembab dan wajah tercoreng tetes-tetes hujan.

Haruno Sakura mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, masih merasa janggal dengan adanya bulu mata palsu menempel pada tepian kelopak matanya. Berdandan sama sekali bukan gayanya, tetapi Yamanaka Ino berhasil menjadikannya sebagai objek rias tadi pagi-pagi buta sekali. Sebagai akibatnya, kini gadis pink itu harus duduk diam tanpa boleh terlalu banyak bergerak. “Nanti make-up-mu luntur,”—begitu alasan Ino setelah selesai memoleskan lipstik merah muda pucat di bibir Sakura—“dan tentu saja kau tak mau duduk dua jam lagi untuk merapikan riasan, kan?”

Jadilah sekarang Sakura menghabiskan detik demi detik memandangi teman-temannya yang mulai mengisi kursi-kursi yang tersedia di dalam auditorium. Warna oranye yang menjadi perlambang seni memenuhi lingkup pandangan—gadis itu tak habis pikir mengapa toga kelulusan harus sesuai dengan warna jurusan; mengingat Suna University of Arts adalah kampus tunggal.

Embusan angin terasa di sebelahnya, Sakura mendapati bahwa Ino sudah duduk di sebelahnya. Si pirang itu sudah kembali dari toilet, selesai memperbaiki eyeliner-nya yang sempat tercoreng tadi.

“Oi, Forehead,” sapanya sambil menyenggol Sakura. “Deg-degan?”

Sakura memutar kedua bola matanya, “Tidak pernah lebih dari ini. Terutama karena kau mempermak mukaku sampai jadi mirip tante-tante—”

Ino menoyor kepala sahabatnya dengan gaya main-main. “Hari ini hari wisudamu, Forehead! Dan lagi si lovey-dovey-Uchiha Sasuke akan datang, kan? Masak kau mau tampil seperti akan kuliah fotografi?—kucel, belum mandi, rambut seperti sarang laba-laba—”

“Aku selalu mandi!” Sakura mencubit lengan Ino yang tertutup toga oranye. Dialihkannya pandangan untuk menyapu seisi ruangan. “Kapan acaranya dimulai? Aku ingin cepat-cepat mencuci bersih semua dempul ini.”

“Tidak akan lama lagi.” Gadis pirang itu menyandarkan dorsumnya pada punggung kursi, menciptakan posisi senyaman mungkin sebelum bersiap menghadapi fase kehidupan selanjutnya. Ia mengedarkan visualisasinya ke seisi ruangan, tersenyum mendapati sebagian besar angkatannya ada di sana—terbalut toga oranye dan bertabur senyum. “Sakura... rasanya seperti mimpi!”

Sakura menaikkan sebelah alisnya. Tumben sekali Ino memanggilnya dengan nama asli, bukan dengan sebutan ‘forehead’ dan semacamnya. “Apanya yang seperti mimpi?” tanyanya keheranan. Namun sarkasme yang nyaris ia luncurkan tertahan begitu saja di tenggorokan ketika menangkap genangan transparan di pelupuk mata sahabatnya. “I—no...?”

Detik selanjutnya, kedua lengan Ino segera melingkari pundak Haruno Sakura, sementara sang empunya terisak-isak di baliknya.

.
.
.
.

Bukan sekali-dua kali Uchiha Sasuke menjejakkan kaki di kampus yang bukan tempatnya menuntut ilmu. Sebagai mantan ketua senat di Konoha International University, secara berkala ia berkunjung ke universitas-universitas tetangga; mengurusi acara kolaborasi, misalnya. Atau sekadar menemani delegasi KIU untuk mengikuti lomba. Seperti itulah.

Meninggalkan bangku kuliah sempat membuat Sasuke merasa kehilangan hal-hal semacam itu, seolah-olah kehidupannya sebagai mahasiswa sudah mendarah daging padanya semenjak ia menginjak dunia. Ada sesuatu yang hampa ketika ia menyerahkan tampuk kepemimpinan pada adik kelas yang dipercaya oleh seluruh jajaran senat untuk menyatukan mereka di tahun selanjutnya.

Sesuatu yang akan amat dirindukannya kemudian hari.

Di sinilah kini Sasuke berdiri, di pelataran Suna University of Arts, seorang diri. Naruto menolak keras menemaninya karena hari ini si jabrik itu mau mengikuti acara kencan buta di daerah Kabukicho—dasar makhluk tidak berkeperitemanan. Kalau urusan senang-senang saja, dia pasti ditinggalkan.

“Yaaa, kau juga kan mau bersenang-senang dengan Sakura, Teme!” begitu kata Naruto kemarin sore; perkataan yang membuat Sasuke tertawa melalui hidungnya. Bilang saja pemilik mata safir itu ogah mengikuti acara wisuda untuk ketiga kalinya seumur hidup. Yah, upacara pelepasan mahasiswa itu memang konsepnya begitu-begitu saja, penyerahan ijazah dan sebagainya.

Sasuke melangkahkan kedua tungkainya yang terbalut celana jeans hitam dengan malas, menyusuri petak luas menuju auditorium tempat wisuda akan diadakan. Sebenarnya pemuda itu tidak yakin apakah sopan mengenakan jeans untuk menghadiri wisuda, tetapi mengingat seluruh celana panjangnya dimasukkan ke laundry oleh Itachi, ia hanya bisa angkat bahu. Daripada mengenakan boxer atau celana tiga perempat, kan?

Sosok Sasuke yang asing di kawasan Suna jelas menarik perhatian orang-orang, terutama beberapa mahasiswi junior yang kebagian mengurusi acara wisuda dan (mungkin) berencana memberikan karangan bunga kepada senior mereka yang lulus hari ini. Memang, tidak ada teriakan “kya kya kyaaa! Dia ganteng banget!” seperti yang biasa dipekikkan oleh anak-anak SMA, namun tatapan-tatapan memuja tertangkap oleh radar Uchiha muda.

Diabaikannya seluruh serangan itu dan Sasuke menuju meja penerima tamu. Setelah memperlihatkan undangan wisuda kepada panitia yang berjaga, Sasuke menemukan dirinya terbawa arus entitas-entitas yang menyebar ke seluruh ruangan untuk menempati kursi masing-masing. Ia sendiri memilih kursi di barisang belakang, karena toh ada layar LCD besar yang akan menyorot jalannya acara itu. Lagipula, Sasuke enggan duduk bersama-sama dengan para orangtua yang  hadir.

Dikeluarkannya ponsel dari saku celana, kemudian ia mengirim pesan singkat kepada Sakura; menyatakan bahwa ia sudah berada di lokasi wisuda, kemudian Sasuke bersandar dan memejamkan mata. Menunggu jarum jam berlarian menuju waktu yang telah ditentukan.

Menunggu hal lain yang sudah direncanakannya.

.
.
.
.

Haruno Sakura menggeram, menyandarkan punggungnya yang mulai terasa pegal pada dinding di belakangnya. Kedua emerald-nya tak lepas memandangi Ino yang tengah merapikan riasannya di cermin wastafel. Selepas menangis tiba-tiba tadi, gadis itu buru-buru menyeret Sakura ke toilet terdekat. Tentu saja Sakura menurut—maskara, eyeliner, dan blush on yang luntur akibat air mata membuat Ino terlihat seperti pembunuh bayaran kejam yang siap mencekik gadis Haruno itu bila dia tak mengikuti kata-katanya.

Jadi, setelah menitipkan clutch dan kursi mereka pada Shion dan kawan-kawan, keduanya segera melesat menuju kamar kecil di sisi luar auditorium.

“Sudah selesai belum, Pig?” Jemu, itulah yang bisa ditangkap dari nada bicara Sakura. Sudah setengah jam berlalu semenjak Ino mencuci muka dan mengulang pemakaian alat-alat rias itu. Berulang kali Sakura mengecek arloji perak yang melingkari pergelangan tangannya. Upacara perarakan pasti sudah dimulai.

“Sebentaaaarrr...!” Tangan Ino dengan terampil menggambar garis-garis halus pada alisnya, membentuk lengkung sempurna. “Satu lagi!”

“Kita pasti ketinggalan Hymne Mahasiswa!” gerutu Sakura kesal. Bibirnya mencebik dan ia mulai memainkan kuku palsu yang ditempel paksa oleh Ino. Sial, lem perekatnya terlalu kuat.

“Ya sudahlah, yang penting kan kita dapat ijazah nantinya.” Santai sekali si pirang itu menjawab. Padahal setengah jam yang lalu ia menangis tersedu-sedu dan bilang kalau hari ini adalah hari bersejarahnya sebelum menjadi eksekutif muda yang cantik di perusahaan ternama.

Cepat sekali manusia berubah.

Sakura menengadahkan kepalanya dan memandang gulungan warna kelabu dari celah yang berada di atas dinding toilet. Cuaca mendung memang tak bisa dihindari kala musim gugur datang bertandang. Beruntung sekali pihak Suna tidak gila dengan mengadakan acara outdoor. Kan lucu kalau tiba-tiba hujan turun saat pembagian ijazah. Sakura dapat membayangkan Ino kalang kabut karena tata riasnya lumer terkena guyuran hujan.

“Oi, Forehead, sedang apa kau?” Suara temannya menarik Sakura dari alam khayalnya. Mata hijau itu bertumbukan dengan aquamarine yang terbingkai celak mata berwarna gelap. “Aku sudah selesai, nih. Katanya mau cepat-cepat ke auditorium lagi?”

Lengkungan sabit tercipta di bibir Sakura yang terwarnai rapi dengan lipstik. “Ya, ya, Pig.”

.
.
.
.

Rona hujan semakin jelas melintas di cakrawala, mengguratkan warna-warna kelabu redup pertanda rintik hujan sebentar lagi akan memerciki permukaan bumi. Semilir angin menari di udara, meniupkan hawa dingin bagi jutaan entitas yang sedang berada di luar ruangan, membuat mereka mengeratkan jas luaran yang tebal dan mempercepat langkah kaki seolah-olah tak mau keduluan oleh butiran air yang terkondensasi.

“Oi!”

Uchiha Sasuke—dengan ponsel di telinga—menoleh dan menemukan sosok seorang gadis keluar dari bilik toilet. Toga dan gaun yang semula dikenakannya kini telah berganti menjadi kaus putih, jaket abu-abu bertudung, dan celana pendek di atas lutut berwarna broken white. Sepatu hak tingginya pun telah disubtitusi oleh sepatu kets bertali warna-warni. Seluruh riasan wajah dan rambutnya telah dihapus, menyisakan wajah polos tanpa sapuan warna sintetis dan rambut merah muda sebahu yang tergerai bebas.

“Lama,” kata Sasuke datar sambil membuang muka. Ia memasukkan benda elektronik mahalnya ke dalam saku, memandang langit yang mendung. “Sudah hampir hujan.”

“Memang.” Gadis itu berceloteh ceria. Ia menyejajari Sasuke yang sudah berjalan terlebih dahulu. “Tapi udaranya jadi sejuk.”

“Bodo.” Gerakan ringan, dan tas besar berisi barang-barang Sakura sudah berpindah ke tangan Sasuke tanpa banyak frase terucap.

Tersenyum menyaksikan tindakan Sasuke yang tak terduga, Sakura melompat-lompat kecil mengikuti pemuda jangkung itu menuju tempat parkir mobilnya. Khas Sasuke sekali: irit bicara, namun tindakannya tak terduga.

Pemuda itu meletakkan tas Sakura di dalam bagasi, kemudian masuk ke dalam mobil merahnya setelah memastikan sang gadis duduk dengan nyaman di kursi sebelah pengemudi. Ia mencolokkan kunci dan men-starter mobil kesayangannya—hadiah spesial dari Fugaku sebagai ucapan selamat atas kelulusannya tahun lalu. Deru halus mesin terdengar selama beberapa detik, dan keduanya melaju keluar dari parkiran Suna University of Arts, menembus jalanan Shinjuku yang dipadati oleh kendaraan yang merayap.

“Kita mau ke mana?” Sakura memberanikan diri bertanya setelah menyadari bahwa selama bermenit-menit Sasuke hanya membawa mobil berputar-putar di jalur yang sama.

“Jalan-jalan,” adalah kata yang dijadikan Sasuke sebagai jawaban.

Kening Sakura mengernyit, kemudian gadis bersurai bubble gum itu memandang keluar jendela. “Tapi kita sudah melewati kedai ramen itu sebanyak tiga kali,” tunjuknya pada kios berspanduk dengan tulisan katakana tercetak di sana.

Sasuke mendengus. “Sebenarnya aku mau membawamu kembali ke Tokyo Bay, hanya saja aku baru ingat jalanan ke sana sedang ditutup karena—”

—yah, itulah kenyataannya. Sebenarnya Sasuke sudah merancang kejutan untuk seorang Haruno Sakura di Teluk Tokyo, namun sialnya, ketika Sakura sedang berbenah diri di toilet, Itachi menelepon adik sematawayangnya dan mengabarkan berita buruk bahwa Teluk Tokyo ditutup karena satu dan hal lainnya.

“Ngapain jauh-jauh ke Tokyo Bay?” tanya Sakura tanpa tedeng aling-aling. Gadis itu memainkan tali jaketnya dengan jari telunjuk, memelintirnya berkali-kali dan melepaskannya.

Kalau saja Sasuke belum mengenal Sakura, ia pasti akan terkejut dengan sikap santai dan lugas gadis itu. Sakura memang seperti itu, tidak pernah berusaha menunjukkan maksudnya secara implisit. Selalu terus terang dan apa adanya.

“Merayakan wisudamu.” Dengan pandangan yang tidak beralih dari jalur yang sedang dilaluinya, Uchiha Sasuke tersenyum kecil. “Begitulah.”

Sakura mengibaskan tangannya sambil tertawa. “Niat yang mulia, Tuan Uchiha. Sayang sekali takdir tidak merestuimu hari ini.”

“Sepertinya.”

Laju mobil mulai melambat—ada kemacetan di depan sana. Sasuke sedikit menyesal karena menghabiskan waktu nyaris setengah jam hanya berputar-putar di daerah itu sambil berpikir; kalau saja tadi ia langsung berpacu ke distrik lain, tentunya ia tidak akan terjebak dalam arus wisudawan yang juga keluar dari Suna Academy of Arts saat ini.

“Aku tidak keberatan kalau kita merayakan wisudaku di dekat-dekat sini, kok.” Sakura menunduk dan memainkan ponsel putihnya. Jemarinya menari lincah di atas tuts. “Ino pergi bersama Sai untuk makan malam di Roppongi, hahaha.”

Aku kan ingin merayakannya secara istimewa, bukan makan malam picisan seperti mereka—kata-kata itu hanya tertahan di ujung lidah Sasuke. Hari ini dia tidak ingin mengacaukan segalanya. Satu kesalahan saja, maka ia akan menyesal seumur hidupnya, iya kan?

Otaknya bermanuver dengan cepat, memikirkan tempat selain Tokyo Bay yang bisa menjanjikan kenangan manis bagi mereka berdua. Tokyo Bay jelas sudah menjadi sebuah tempat yang sarat akan kenangan—kencan pertama mereka kan di sana. Sebenarnya Sasuke berniat mengajak Sakura bernostalgia dulu sejenak di sana sebelum masuk ke puncak acaranya.

Mellow sekali.

Mmm, sebenarnya tempat yang bisa dipakai bernostalgia dengan Sakura ada banyak—Sasuke memainkan jemarinya di atas setir, mengamati lampu belakang mobil di depannya. Misalnya tempat waktu mereka bertemu dulu, di dekat stasiun. Atau di café waktu malam-malam itu. Di KIU, yang pertemuan sekejap mata.

Pijaran cahaya muncul di otak Sasuke.

Ya, dan satu tempat lagi, yaitu—

.
.
.
.

“Central Park?”

Sakura mengernyitkan dahi ketika melangkah turun dari mobil setelah Sasuke selesai memarkir kendaraannya di spot parkir sebelah utara taman. Gadis itu menghirup dalam-dalam aroma alam yang sudah lama tak dirasakannya.

“Hn.” Sasuke menyusul keluar seusai memasang kunci ganda untuk alasan keamanan. “Kita pernah bertemu di sini.”

Wajah gadis itu berubah cerah mendengarnya. “Hahaha, tentu aku masih ingat. Kau merebut bangku kesayanganku, lalu kita akhirnya duduk bersama sambil ngobrol. Padahal jarang-jarang aku mengizinkan orang menempati area kekuasaanku kalau aku berada di sana.”

Sasuke diam saja dan mulai melangkah masuk ke dalam sirkumstansi taman sementara Sakura berlari-lari kecil mengikutinya sambil mengomel kenapa tiba-tiba Sasuke meninggalkannya. Jelas, Sakura tidak tahu apa yang ada di pikiran pemuda itu saat ini. Meninggalkan seorang perempuan bukan hal yang baik, kan?

Kalau saja Sakura bisa mengorek isi benak Sasuke saat ini, sudah dapat dipastikan gadis itu akan tertawa terbahak-bahak. Pasalnya, sesungguhnya Sasuke sedang berusaha mengendalikan degup jantungnya yang mendadak meningkat frekuensinya. Detak-detak yang semula teratur itu kini berubah menjadi aritmik, ditambah lagi kedua tangannya yang memang jarang terasa hangat menjadi semakin rendah lagi suhunya. Dan berkeringat.

Ia tak ingin pleno yang susah payah disusunnya semalam (dengan diiringi ejekan-ejekan Itachi) berakhir sia-sia karena ketahuan oleh Sakura.

Karena sedari tadi...

...Uchiha Sasuke tidak bisa mengalihkan pandangannya dari siluet Haruno Sakura.

Cara gadis itu nyengir dengan sebelah mata yang terlihat lebih sipit saat melakukannya. Dendang tawanya yang bagaikan lonceng yang menggema. Gestur tangannya yang lepas saat bercerita. Garis-garis wajahnya yang melembut saat tersenyum...

Karena itu mati-matian sang pemuda menahan dirinya untuk tidak terlalu lepas saat bersamanya. Sisi lepas Sasuke akan membongkar semua niatnya, karena seorang Haruno Sakura mampu menggali dirinya hingga ke titik terdalam.

Karena Sakura berbeda.

Dia gadis yang spesial.

Tarikan di lengan kiri Sasuke menyadarkan pemuda itu dari semua hal yang melanglangbuana di otaknya. Ketika menoleh, ia mendapati Sakura sedang menggembungkan pipinya.

“Hn?” Satu suku kata itu mampu mewakili seluruh kata tanya yang ada di dunia.

“Bangkunya terlewat, Sasuke!” Sakura menuding distansi beberapa meter yang tertinggal di posterior mereka. Bahasa tubuhnya seolah mengatakan, ‘kita harus duduk di sana atau kutendang kau sampai Jupiter, dan tendanganku mengarah ke poin nol koma nol’.

Rotasi bola mata obsidian, dan Sasuke membiarkan diseret oleh tubuh Sakura yang lebih mungil dari raganya. Tak sampai satu menit berlalu ketika akhirnya mereka mengempaskan bokong masing-masing pada permukaan bangku yang terdiri dari batangan kayu yang dirangkai dengan rapi.

Tak ada yang bicara, keduanya terlarut dalam pergumulan hati masing-masing. Sasuke—dengan rencana dan pengendalian dirinya. Sakura—dengan apa pun yang sedang menari dalam batinnya.

“Oi, Sasuke.” Sepertinya sapaan ‘oi’ merupakan ciri khas Haruno Sakura untuk memanggil orang-orang yang ingin diajaknya bicara. Rupanya gadis itu tak tahan juga untuk terpaku dalam keheningan.

“Hn.” Sepasang netra Sasuke yang gelap melirik melalui ekor matanya.

Sesaat, gadis Haruno itu tampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Ibu jari dan jari telunjuknya malah memuntir-muntir ujung rambut yang jatuh dekat dengan dagunya. Matanya mengerjap beberapa kali dan ia menarik napas panjang.

“Ada yang ingin kutanyakan...” gumamnya pelan, namun cukup jelas untuk didengar oleh sepasang telinga milik Sasuke.

Sebelah alis Sasuke menanjak. “Apa?”

“Mmm,” ragu lagi, “setelah tiga tahun ini,” helaan napas, “...sebenarnya hubungan kita seperti apa?” Kini sepasang giok itu menatap lurus kepada Sasuke, memaksa pemuda itu balas menatapnya. “Seperti apa perasaanmu kepadaku?”

“Kau...” Sasuke kebingungan mencari kata-kata yang tepat. Jangan gombal, tapi jangan menyebalkan juga. Jangan sesuatu yang picisan. “...berbeda.”

Senyuman terulas di bibir mungil itu. “Bagaimana kalau kau memberitahuku perasaanmu—secara seni?”

.
.
.
.

“Bagaimana kalau kau memberitahuku perasaanmu—secara seni?”

“Secara seni?” Sakura bisa melihat tanda tanya besar di wajah Uchiha Sasuke. Pemuda itu kaget—dan bingung, tentu saja. Sepertinya seumur hidup Sasuke tak pernah diminta melakukan hal seperti ini.

Namun, Haruno Sakura adalah seniman, dan seniman adalah manusia yang selalu dipenuhi ide-ide gila untuk menciptakan hal-hal yang brilian. Karenanya ia ingin memastikan hubungannya dengan Sasuke dengan cara yang tak biasa; khas seniman.

“Ya,” angguknya tanpa melepas senyum. “Karena aku berkecimpung di dunia seni—tepatnya desain komunikasi visual—bagaimana kalau kau menyampaikan perasaanmu dalam bentuk gambar?” Ia nyengir lagi saat Sasuke melebarkan matanya. “Ayolaaahhh, satu gambar menceritakan lebih dari seribu kata.”

Sasuke memutar bola matanya mendengar kata-kata sang gadis. “Aku tidak bisa menggambar.”

“Kalau gitu kau harus mengganti satu gambar itu dengan seribu kata.” Ditatapnya pemuda berambut hitam itu dengan kedua mata membulat penuh permohonan. Sebenarnya Sakura sudah ingin tertawa menyaksikan reaksi Sasuke yang jelas terlihat sedang menyembunyikan perasaan kesalnya.

“Perasaanku hanya sepanjang satu kata.” Pemuda itu mengernyit.

“Ya ucapkanlah seribu kali.” Sakura tidak mau menyerah. “Aku mau kau mengungkapkan perasaanmu sebanyak seribu kata.” Sasuke pasti tidak mau mengucapkan kata yang sama sebanyak seribu kali. Dia harus mencoba taktik lain. “Atau kau panjang-panjangkan saja menjadi seribu kata.”

“Cih.” Sasuke membuang wajah sambil merengut. “Aku bukan penggombal yang menggelikan seperti itu.”

“Jadi...?” Sakura sengaja menggantung kalimatnya. Dalam hati, ia tahu Sasuke tidak akan menolak permintaannya. Tapi probabilitas terbesar adalah pemuda bermata jelaga ini akan menawar habis-habisan dengan caranya sendiri.

“Ah,” Sasuke berbalik dan bersedekap. Kedua matanya menunjukkan penolakan eksplisit. “Ya, ya. Dengarkan.”

Gadis itu mengikuti pose Sasuke; melipat kedua lengan, namun matanya mengajukan pengharapan disertai binar-binar cerah.

Tarikan napas panjang sebelum pemuda itu memulai, “Suka. Suka. Suka. Suka—”

—dan tawa Sakura meledak.

“Kau benar-benar akan mengulang kata ‘suka’ itu sampai seribu kali, Sasuke?” tanyanya, berusaha keras menahan tawa karena Sasuke sudah melemparkan death glare-nya. “Aku hanya bercandaaaa.”

Pemuda itu mendengus, tetapi tetap melanjutkan kata-katanya. “Suka. Suka. Suka. Suka melebihi apa pun—”

Tawa Sakura akhirnya berhenti.

“—suka sampai kapan pun. Suka tak terbendung. Suka tanpa alasan—”

Rinai hujan mulai menari, setitik demi setitik berjatuhan di sekeliling mereka berdua.

“—kurangkum semua kata ‘suka’ itu menjadi ‘cinta’.” Sasuke menghentikan monolognya meski sebenarnya verbal itu belum mencapai jumlah seribu kata. Rintik hujan mengaburkan pandangannya, namun ia tak peduli. Hanya satu fokus di matanya: Haruno Sakura.

...gadis yang sedang tersenyum itu.

Tak ada tanda-tanda protes dari si pinky yang memenuhi  isi kepalanya selama beberapa tahun ini. Mungkin sebenarnya ia tak perlu repot-repot mengucapkan banyak kata ‘suka’ itu. Mungkin sebenarnya yang diinginkan Sakura adalah—

“Giliranku.” Tiba-tiba saja, gadis itu melepaskan jaket abu-abu yang semula melindungi tubuhnya. Kedua emerald itu menatap Sasuke dengan intens saat tangan-tangan putihnya menelungkupkan jaket di atas kepala Sasuke hingga tetesan hujan tak lagi membasahi rambut pemuda itu.

“Aku menerapkan lima pola dasar pemasaran,” gadis itu memejamkan mata selama sedetik. Butir-butir air menganaksungai di wajahnya, menetes menuruni dagunya. “Pertama, konsentrasi pasar; aku hanya berkonsentrasi padamu.”

“Kedua, spesialisasi kebutuhan; aku hanya memerlukan kebutuhan tunggal, yaitu cintamu.”

“Ketiga, spesialis pasar; kau adalah spesialis pasar, segala hal mengenai dirimu memenuhi kebutuhan jiwaku.”

“Keempat, spesialis selektif; tidak semua orang kuberikan perhatikan sebesar ini, hanya kau, Uchiha Sasuke.”

“Kelima,” Sakura menarik napas, “liputan penuh; kau memenuhi duniaku. Sekarang. Selalu. Selamanya.”

Sebelum Sasuke sempat bicara, gadis itu sudah membungkam mulutnya dengan satu jari menempel di bibirnya. Senyuman cerah yang tak pernah bisa lepas dari benak Sasuke mengembang dengan tulus. “Target pasarku adalah kau, Uchiha Sasuke.”

Dan Sasuke hanya bisa tertawa mendengar kata-kata Sakura. Dilepaskannya jaket yang meneduhinya dari terpaan hujan dan dipakaikannya pada Sakura yang sudah basah kuyup. “Dari mana kau menyontek bahan seminarku dulu, hn?”

“Mmm, perpustakaan,” jawabnya malu-malu. Teringat olehnya hari-hari memusingkan dimana otaknya berseteru dengan buku manajemen pemasaran yang ia cari dengan susah payah di perpustakaan kota—bahkan hampir rebutan dengan seorang pemuda berkulit tan dengan rambut pirang jabrik. Rasa dingin menembus kulit Sakura, namun ia tidak memedulikannya. Di balik hawa menusuk itu, ia merasakan kehangatan.

“Aku kalah,” ujar Sasuke tiba-tiba, membuat gadis yang sesaat menundukkan kepalanya mendongak dan melayangkan tatapan heran. Sudut bibir Sasuke tertarik ke atas. “Aku kalah romantis. Padahal rencananya hari ini aku ingin melamarmu...”

—lalu pemuda itu menarik tangan kanan Sakura dan menyelipkan lingkaran cincin keperakan pada jari manis gadis itu.

Pertama-tama, Sakura tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Sasuke hingga ia merasakan sensasi sejuk logam mengelilingi jemarinya. Ketika dapat dilihat dengan baik, gadis itu memekik; antara senang dan terkejut.

“Pas?” Sasuke menatap tangan yang menari-nari di tengah rintik hujan.

Sakura merengut dan mengepalkan tangannya, sejurus kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menempelkan keningnya pada pipi Sasuke.

Rasa hangat menjalar di antara keduanya, mengabaikan sisa-sisa air hujan yang melekat di kulit mereka. Sasuke dapat merasakan napas Sakura di lehernya; ia gunakan kedua lengannya untuk melingkari tubuh gadis itu. Kulit yang dingin saling bertemu, menimbulkan konduksi kalor yang menyebar secara bertahap.

“Menyebalkan,” gerutu Sakura  sambil menarik tangannya yang terjepit di antara dirinya dan Sasuke, mengamati lekuk halus cincin yang sudah menjadi miliknya.

“Kenapa?” ia dapat merasakan gerakan dagu Sasuke di pelipisnya.

“Kau melamarku, tapi sama sekali tidak romantis, Baka-Sasuke!”

Sasuke dapat membayangkan ekspresi Sakura saat mengucapkan kalimat itu. Pasti pemilik mata hijau itu sedang memajukan bibir bawahnya sambil menggembungkan kedua pipinya yang basah. Yang bisa dilakukan si pemuda hanya tertawa sambil mengeratkan pelukannya.

“Tapi kau menerima, kan?” guraunya ringan.

Ada kebisuan singkat sebelum Sakura menjawab lirih, “Tidak mungkin aku menolak. Bodoh.”

“Kau memang gadis menyebalkan yang kutemui di bawah hujan,” gumamnya pelan sambil merengkuh bahu Sakura yang terbungkus t-shirt lembab. “Saking menyebalkannya sampai tak bisa tidak kupikirkan.”

Di dalam dekapan Sasuke, Sakura hanya bisa tersenyum. “Aku juga.”

Hujan membungkus keduanya dalam derai lambat yang terasa bagai curahan partikel-partikel tak kasatmata. Langit pucat tidak berniat menyingkirkan hamparan awan kumulonimbus dari permukaannya, membiarkan sepasang insan tertutup oleh guyuran takdir.

Segalanya bagaikan alur cerita yang ditulis dengan sengaja, dengan hujan sebagai latar utamanya. Sang pemuda dan sang gadis bertemu dan akhirnya saling jatuh cinta diiringi parsial cuaca basah sebagai pertanda dari goresan takdir.

Segala sesuatu dalam kehidupan ini diatur oleh goresan takdir. Siapa pun yang berjalan sejalur dengan takdir pasti akan menemukan sesuatu yang telah direncanakan semenjak dia menjeritkan tangis kala terlahir ke dunia. Sekeras apa pun berusaha, tidak ada yang bisa lari dari takdir yang telah tersurat ketika kau mengembuskan napas kehidupan di jagad ini.

Ada yang menyebutnya kebetulan kosmos, ada yang menyebutnya kuasa Dewi Fortuna—sebenarnya semua itu sama saja.

Mungkin ada kalanya kita bisa tertawa dan berkata, “Ah! Takdir itu takhayul!” tapi sebenarnya bahan olok-olok itu lebih dari sekadar yang kaubayangkan. Takdir bisa merampas dan memberi apa pun dari dan pada kehidupanmu, tidak ada yang pernah tahu.

Mungkin ada kalanya kau menjerit dan menyalahkan takdir, tapi kau tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa jadi di balik semua itu, ada hal-hal lain yang tak pernah kau duga, hal-hal yang membuat kehidupanmu berbalik seratus delapan puluh derajat.

Tidak ada yang mustahil bagi takdir—bahkan happy ending yang selalu diucapkan di akhir dongeng-dongen pengantar tidur.

Bila takdir terpeta, maka alur kehidupan pun akan bergerak.

Dan, beginilah takdir menciptakan konklusi dari afeksi Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura.

-FIN-

.
.
.
.

Cerita Tambahan

Beberapa bulan sebelumnya...

Begitu mendengar pintu dibanting, Uchiha Sasuke langsung mendongak dari pekerjaan di laptopnya. Kedua netranya menemukan sosok Uzumaki Naruto yang berjalan masuk ke ruang kerjanya dengan wajah berlipat.

“Cih,” dengus pemuda pirang itu. Kekesalan tergurat jelas di wajahnya yang terbakar matahari. “Aku gagal mendapatkan buku itu!”

“Buku apa?” Sasuke mengembalikan konsentrasinya pada proyek yang sedang digarapnya. Hibah tengah tahun dari Itachi, kakaknya, sekaligus proyek besar perdana baginya selama bekerja di Uchiha Corp.

“Yang tentang pemasaran itu!” gerutu Naruto. Ia mencampakkan dirinya di salah satu sofa yang tersedia di dekat pintu. Sofa itu untuk klien, sebenarnya, namun Sasuke tidak berusaha mengusir Naruto dari sana. Kalau sedang mengamuk, Naruto hanya cukup didiamkan, nanti dia akan segera membaik.

“Hn,” hanya itu respons yang diberikan Sasuke. Ia terlalu sibuk membuka file dan membuat perhitungan.

“Aku terpaksa mengalah karena sainganku cewek.” Suara Naruto kembali terdengar. “Kalau cowok sih sudah kuajak berkelahi di luar perpustakaan.”

Sasuke tidak menyahuti amarah Naruto. Menurutnya, kejengkelan sahabatnya hari ini terasa menggelikan. Mengomel karena tidak berhasil memenangkan buku pinjaman? Setahunya, Uzumaki Naruto tidak pernah berminat membaca buku.

Kedua mata biru Naruto beralih pada jam dinding yang tergantung di atas kabinet. “Hah! Ini sudah jam empat! Gawaaaattt, aku terlambat janjian dengan pacarku!”

Ia merangsek bangkit dari sofa dan segera memburu menuju pintu. Bunyi dentum kayu beradu terdengar bersama seruan, “Daahh, Teme!”

Setelah kepergian Naruto, Uchiha Sasuke hanya bisa menghela napas dan meregangkan tubuhnya yang mulai terasa kaku.

Ada-ada saja, pikir Sasuke, meneguk kopi yang sudah mendingin karena dibiarkan sedari tadi. Sepanjang ia mengenal Naruto, temannya yang satu itu memang tidak berubah.

Tidak akan pernah.

.
.
.
.

Author’s Bacot Area

Banyak-banyak terima kasih kuucapkan pada kalian yang selama dua tahun ini setia menunggu kelanjutan ‘Ugly Girl Under The Raindrops’. Yang rajin nagih update juga makasih ya :)

Fanfic ini bermula dari ide yang tiba-tiba pop out dari kepalaku, dan pas banget ada yang request SasuSaku. Ya udah deh sekalian dibikin. Hehehe :P

Banyak hal yang terjadi selama pembuatan cerita ini; naik-turunnya diksi, perubahan plot berkali-kali, karakterisasi yang kacau, dan sebagainya, dan seterusnya, dan lain-lain—tapi pada akhirnya berhasil mencapai titik akhir!

YEAAAAAYYYY!

Buat kali ini, boleh dong aku minta semua yang pernah baca fic ini (silent maupun review) buat ninggalin komentar? Permintaan khusus chapter terakhir nih :)

I love you more than I’ve ever imagined :*

Me ke aloha,
mysticahime™
14082012

[Chapter 7] Ugly Girl Under The Raindrops




UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto

mysticahime™
© 2011
.
.
.
Sekadar perhatian: ini chapter yang panjaaaaaaanggg. Ditotal 22 pages, 8073 words (termasuk ABA)
Silakan mundur kalau tidak kuat men-scroll page yang panjang ini, atau bila sayang pulsa Anda :)
.
.
.

Do not ever give up to your destiny!
Hey, maybe it’s just fooling you around!
Keep walking, keep standing—keep moving on!
Who knows what’s there in the end? —mysticahime

.
.
.

From: Haruno Sakura
Sasuke-kun, hai! Hanya ingin memastikan jadwal besok.
.
.

To: Haruno Sakura
Oh. Ya, tentu saja. pukul 10 tepat.
.
.

Trrtt...

1 pesan baru diterima...
.
.
.

“Sedang apa kau, Teme?”

Deg!

Jantung Sasuke seolah hendak meloncat keluar dari kerongkongannya. Sapaan Naruto benar-benar membuatnya kaget, tersentak dari kegiatan yang sedang dilakukannya saat ini. Hell, sejak kapan seorang Uchiha Sasuke tersentak kaget?

Di ruang rapat senat pula.

Oh, oke. Garisbawahi ini: sangat. Tidak. Mungkin.

Pertama-tama, keberadaan Sasuke di ruang senat bukannya tanpa alasan. Ya, Sasuke adalah ketua dari organisasi resmi Konoha International University, yang—tentu saja—mewajibkannya memimpin evaluasi pertandingan persahabatan yang diadakan universitasnya. Evaluasi sudah hampir selesai, hanya tinggal membahas pengaturan personel panitia untuk hari Selasa nanti. Hari Senin adalah hari libur nasional—tentu saja anggota senat tidak bodoh untuk mengorbankan hari libur mereka demi lomba yang diperintahkan rektorat. Libur adalah libur, tak bisa diganggu gugat. Ha!

Karena evaluasi tinggal satu tahap lagi, Sabaku Gaara—dengan wajah stoic nan innocent-nya, lengkap dengan sepasang mata jade berbinar-binar—mengusulkan agar semuanya istirahat dulu, makan malam, karena waktu telah menunjukkan pukul setengah enam. —membuat Sasuke tak berkutik dan memberikan izin sedini mungkin.

Bukannya Sasuke lemah pada ekspresi Gaara—wajah Gaara kan cenderung cool, bukan cute, walau memasang wajah sepolos mungkin—tapi karena... ia penasaran pada isi pesan yang dikirimkan Sakura—mungkin sekitar dua jam yang lalu ponselnya bergetar. Demi solideritas pada anggota senat, sang ketua menunda kegiatannya membaca pesan itu.

Dan ketika tiba waktunya untuk melihat isi pesan dari ‘calon teman kencan’nya besok, tebak apa yang terjadi?

Si rambut durian ini mengganggunya!

Kalau saja ia tidak menyandang nama Uchiha yang seolah mematenkan ekspresi-batu-keren-dengan-tatapan-membunuh, ia pasti sudah berkomat-kamit. Bukan latah—itu sama sekali tidak keren. Sasuke akan menyumpahi Naruto agar melajang seumur hidup!

Pemuda berambut hitam ini menatap lawan bicaranya—pemilik mata sewarna samudra—dan memberinya death glare gratis tis tis. Wajahnya tetap datar, semakin mematenkan ekspresi-batu-keren-dengan-tatapan-membunuh warisan turun-temurun keluarga Uchiha.

“Bukan urusanmu,” jawabnya singkat, kemudian ia mengibas-ibaskan sebelah tangannya—mengusir Naruto.

Sialnya, pemuda berambut pirang itu tetap setia berdiri pada tempatnya. Statis. Hell.

“Tentu saja urusanku!” celotehnya riang. “Bagaimanapun juga, kau temanku, Teme! Aku kan harus menjaga temanku, melindungi ketua senat tercinta dari serangan fans-nya! Siapa tahu, kau menerima SMS berisi peneroran, pernyataan cinta sepihak dengan ancaman bunuh diri lompat dari gedung berlantai 100 bila ditolak, tagihan utang satu milyar yen dari Yakuza, rayuan gombal dari para yankee—”

Oke, oke. Sasuke jadi kesal sendiri. Naruto sering sekali berpidato panjang-lebar-tinggi-rendah-pendek-sempit mengenai ‘Aku, Temanku, dan Kami’, menjunjung tinggi nilai persahabatan, membela teman yang dirundung teror (dan yeah, apa pun yang tadi bocah itu racaukan), dan blablabla yang memiliki inti: urusanmu ya urusanku juga, urusanku ya urusan kita bersama. Titik.

Dan apa-apaan pula tadi, pernyataan cinta sepihak dengan ancaman bunuh diri bila ditolak? Go to hell!

Tagihan utang dari Yakuza? Go to deeper hell!

Rayuan gombal para yankee?

—memangnya apa yang ada di pikiran si Dobe ini, hah?

Sasuke menghela napas, terdengar sangat lelah. “Dobe, temanku...”

Mata safir Naruto langsung berbinar-binar, menyangka Sasuke akan memberitahukan apa yang menjadi fokus dari si raven ini.

Bibir Sasuke bergerak. “Urus. Urusanmu. Sendiri.”

Lalu pemilik mata onyx itu kembali menatap layar ponselnya, memencet-mencet beberapa tombol. Kedua matanya kembali serius.

—dan ponselnya lenyap dari tangannya.

Eh?

Naruto memamerkan cengiran puas. Sebelah tangannya menggenggam ponsel lipat Sasuke, melambai-lambaikannya di depan wajah si empunya.

Ctak!

Kesabaran Sasuke menipis diiringi urat bertonjolan di area keningnya. Persis adegan mengamuk di anime: empat siku, mata yang berubah menjadi seperti iblis, dan kobaran api massal di sekitarnya.

Kini Naruto menatap layar—menatap SMS yang dibuka Sasuke tadi. Dengan riang ia membacanya. “Baiklah, kuusahakan agar tepat waktu. Kau sendiri tahu bahwa aku ini tipe yang suka terlambat. Kita bertemu di—oh, WADUH! Teme, lepaskan! Aku mau tahu kelanjutannya!” Suara Naruto berubah melengking saat Sasuke memitingnya untuk merebut kembali ponselnya itu.

Bletak!

“Tidak ada yang perlu kau ketahui.” Dengan nada dingin yang terpeta jelas pada kata-katanya, Sasuke berjalan keluar ruangan, meninggalkan Naruto yang meringis karena baru berkenalan dengan buku-buku jarinya.

Ya, cukup keras untuk ukuran jitakan yang bisa menciptakan benjol setinggi lima sentimeter di kepala bocah iseng yang sering muncul di ruang senat meski ia bukan anggota dari jajaran itu.

.
.
.
.

Brak! Bruk!

Pria yang sedang membaca koran itu mengernyitkan keningnya, bingung. Apa yang sedang terjadi? pikirnya bingung.

Srak! Srek! Bruk!

Huruf-huruf di koran yang sedang di bacanya mendadak berhamburan, seolah-olah hendak lari dari pupil yang sedang berusaha menangkapnya. Suara-suara aneh itu mengusik konsentrasinya...

Hening.

Ah, sudah selesai semua chaos itu. Saatnya kembali membaca. Oo, jadi sekarang negara sedikit mengalami defisit. Hmm, bidang finansial memang sedang bergerak ke kurva negatif setelah krisis di Amerika—

Brak!

Thump! Thump! Thump!

“ITACHI-NIIIII!

Srak!

Dalam satu gerakan cepat, Itachi menutup korannya—menghasilkan lembaran kertas abu-abu lecek yang dilipat paksa. Untuk pertama kalinya, ia terkejut. Ya, terkejut karena dipanggil seperti tadi.

Sasuke berteriak? Sangat OOC. Tentu saja Itachi kaget. Selama ini, Sasuke dikenal dengan image pemuda cool yang irit bicara.

Perlu dicatat dalam sejarah: kali pertama Uchiha Sasuke berteriak.

—sayang sekali, Uchiha Itachi tidak akan tercatat sebagai Uchiha pertama yang terkejut.

“Ada apa?” tanya Itachi ketika kepala berambut hitam mencuat itu muncul dari bibir tangga. Wajah yang gusar, menurut Itachi. Entah apa yang dipikirkannya.

Tanpa ba-bi-bu, Sasuke mendekati kakak satu-satunya itu. Bibirnya mencebik.

“Kalau pergi dengan seorang gadis... apa yang akan kau kenakan?” tanyanya dengan nada datar.

Tik.

Tik.

Tik.

Itachi melongo mendengar pernyataan Sasuke yang kelewat datar itu. Kedua matanya mengerjap. Satu kali, dua kali.

Perlu dicatat dalam sejarah: ini kali pertama Uchiha Itachi melongo.

Perlu dicatat juga: kali pertama Sasuke menanyakan atribut kencan-lah yang membuat Itachi melongo. Kali pertama Sasuke meminta pendapat orang lain.

Perlu dicatat juga, dengan amat sangat darurat: pertanyaan Sasuke muncul karena didesak urgensi stadium dua puluh tiga.

Ehem.

Itachi berusaha menguasai dirinya. Kaget sih boleh, tapi sepertinya tidak saat ini. Tidak saat Sasuke memasang wajah-garang-seolah-akan-membakar-sang-kakak-bila-sang-kakak-tidak-segera-menjawab padanya. “Kau ada... kencan?”

Sebuah reaksi tak terduga: wajah Sasuke sedikit memerah. Lagi-lagi, OOC.

“Hn.” Tetap saja ia berhasil melontarkan jawaban singkat-padat-dan-jelas. Wajah Sasuke kembali berubah datar. “Cepat, jawab!”

Itachi terkekeh mendengar desakan Sasuke. Astaga, sudah berapa lama ia tidak melihat adiknya bertingkah seperti ini? Bahkan ketika akan kencan dengan Karin dulu pun, Sasuke tidak terlihat seperti ini. Yah, meskipun Karin pernah menempati posisi spesial di hati sang adik... tetap saja berbeda.

Sasuke yang di hadapannya saat ini terlihat sedikit lebih... bersemangat? Gembira? Polos?

Ia menepuk bagian sofa yang kosong di sebelahnya—menyuruh Sasuke duduk. Pemuda yang lebih muda darinya itu menurut. Dengan segera, Sasuke duduk di sisi Itachi, berharap petuah sang kakak dapat membantunya.

“Dia gadis yang istimewa, hm?” mulainya, mengerling nakal ke arah sang adik. “Sampai-sampai otouto-ku yang manis ini gugup pra-kencan mereka. Hahaha...”

Sasuke mendengus kesal, “Aku tidak manis.”

Satu poin. Itachi tersenyum samar. Sasuke tidak menyangkal soal ‘gadis istimewa’ itu. —yang berarti, gadis-entah-siapa itu memang berhasil menggeser posisi Karin.

Itachi menatap kedua obsidian Sasuke, berusaha menguak isi pikiran adik semata wayangnya. Yah, sepertinya adiknya ini memang sedang jatuh cinta—berusaha membuat gadis itu terpukau pada kencan pertama mereka. Sepertinya... saat dengan Karin dulu, tidak seperti ini, kan?

“Jadi, apa yang harus kupakai?” tanya Sasuke lagi. “Setelan formal? Baju bermerek yang dibelikan otou-san? —apa?”

Sang pemuda berambut kuncir tertawa melihat kegelisahan adiknya. Sebelah lengannya bergegas merangkul bahu Sasuke, seolah berniat menenangkannya.

—yang sayangnya salah diartikan oleh si raven.

Sedikit menyesal karena bertanya pada kakaknya yang mantan playboy, Sasuke mendengus. “Aku tidak suka berlama-lama, Itachi-nii.”

“Baiklah, baiklah...” tawa Itachi membahana. “Akan kuberitahu satu hal padamu, Sasuke.”

“... hn.”

Dua pasang obskurit itu kembali bertatapan.

“Jadilah dirimu apa adanya.” Senyum mengembang di bibir Itachi. “Pakailah apa pun yang membuatmu percaya diri. Itu saranku.”

Senyuman tipis kini menggantikan pola datar bibirnya, Sasuke bangkit dari sofa dan buru-buru berlari ke lantai atas.

“Terima kasih, Itachi-nii!” serunya sebelum menutup pintu kamarnya.

Blam!

Yang mendapatkan ucapan terima kasih itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan seringai di wajahnya, lalu kembali membuka koran yang sudah agak kusut itu. Terlihat membacanya, walau sebenarnya pikiran Itachi tidak sedang terpusat di sana.

Ah, akhirnya permintaanmu waktu itu terkabulkan, Sasuke... Mungkin gadis yang kau temui itu ‘gadis air hujan’mu itu.

Catatan lagi: inilah kali pertama Uchiha Sasuke mengucapkan terima kasih pada seorang Uchiha Itachi.

.
.
.
.

Tarik napas. Buang. Tarik napas. Buang. Tarik—

Ini salah. Jelas sekali, ini salah.

Berulang kali, Haruno Sakura melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya, berusaha memastikan benda eletronik itu tidak mati. Atau terlalu lambat mempertunjukkan waktu. Dan memang tidak.

Ia memang datang lebih awal satu jam. Crap.

Jujur saja—siapa pun yang mendengarnya pasti akan tertawa—ini adalah kencan pertama bagi Sakura. Seumur hidup, ia tidak pernah berhubungan dengan laki-laki hingga taraf ‘berkencan’. Tidak pernah. Sekalipun.

Dan kini... ia akan berkencan dengan laki-laki yang bertabrakan dengannya di bawah hujan dan berhasil menyita pikirannya selama beberapa waktu terakhir ini.

—oke. Memang tidak sekarang. Masih ada satu jam lagi sebelum saat-saat itu—

Tapi, tetap saja! Ia akan berkencan. Sakura akan berkencan. HARUNO SAKURA AKAN BERKENCAN—cukup.

Ah, apa yang harus ia lakukan?

Pertama-tama, datang ke tempat janjian lebih awal satu jam itu tidak dianjurkan bagi kencan pertama—terutama bila yang melakukannya adalah cewek. Mengapa?

Satu, terkesan terlalu bersemangat.

Dua, ia harus menunggu sendirian selama satu jam.

Dan tiga, dandanannya pasti berantakan!

Oke, bukan berarti Sakura berdandan berlebihan, memulas dempulan bedak setebal tiga sentimeter, memakai perona pipi semerah delima, memakai maskara hingga bulu matanya selebat semak-semak. Gadis itu bahkan sama sekali tidak memakai lipgloss! Tapi—tetap saja.

Rambut sebahunya yang (sudah berusaha) disisir rapi kini porak-poranda dipermainkan oleh embusan angin nakal. Pakaiannya—t-shirt dan celana jeans dan rompi rajut berwarna abu-abu—sedikit kusut karena berlari-lari dari stasiun ke tempat janjian. Dan sepatu boot-nya... hell—sedikit kotor karena terciprat lumpur.

Ditambah kedua kakinya yang pegal luar biasa akibat terlalu lama berdiri.

Sabar, Sakura, sabar... Ia mencoba menenangkan dirinya.

Sepuluh jarinya saling meremas, berusaha mengusir hawa dingin yang diakibatkan oleh pergerakan angin. Udara musim gugur mendominasi hari ini. Kendati sudah pukul sembilan pagi lewat sekian menit, kabut tipis masih mengudara.

Oh tidak. Seharusnya tadi ia memakai sweater, bukannya vest tanpa lengan seperti ini!

Takdir pasti masih berusaha mengerjainya. Dingin. Berantakan. Ditambah lagi, ia harus menunggu Sasuke selama satu jam—

Ternyata tidak.

Takdir kini berada di pihaknya.

Ia tersenyum saat kedua matanya berhasil menangkap sosok itu.

.
.
.
.

Dalam hati, Sasuke merutuk kebodohannya sendiri. Dengan catatan: kebodohan pertama seorang Uchiha Sasuke.

Demi apa ia pergi lebih awal satu jam? Bukankah biasanya ia berusaha agar tiba tepat waktu? —dan tepat waktu itu berkisar lima sampai sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan, bukannya satu jam sebelum pertemuan.

Apakah nanti Sakura akan berpikir Sasuke terlewat bersemangat untuk kencan pertama ini?

Oh, bahkan secara resmi, ini bukan disebut kencan. Ini adalah ‘bayaran taruhan’. Sasuke yang kalah, tentu saja.

Perlu dicatat: kekalahan pertama seorang Uchiha Sasuke.

Taruhan bodoh itu, taruhan bahwa tim Sakura tidak akan berhasil menjadi salah satu pemenang dalam lomba poster yang diadakan KIU. Tim Sakura menggondol posisi kedua, di atas Iwa University dan di bawah KIU sendiri—membuat gadis berambut pink itu memenangkan taruhan dan meminta imbalan ‘kencan’. Jadi, ini bisa disebut kencan atau tidak?

Entahlah.

Selama berada di dalam rongga kereta bawah tanah, Sasuke berulang kali berharap kereta yang ditumpanginya datang terlambat di stasiun tujuan. Dan tidak tanggung-tanggung, pemuda itu berharap keretanya terlambat satu jam. Dengan begitu, ia akan tiba tepat waktu dan tidak terkesan terlalu antusias. Sedikit menjaga harga diri.

Sayangnya, kereta tetap tiba tepat waktu.

Berbalut celana jeans dan kaus yang dilapisi jaket hitam, ia keluar dari lokasi stasiun chikatetsu.

Sasuke segera merutuk takdir yang mempermainkannya. Setelah puas menyulitkannya dan Sakura bertemu dan berinteraksi, kini ia disuruh menunggu selama satu jam. Dibarengi runtuhnya gengsi, pula. Hell.

Ia melangkahkan kedua kakinya dengan enggan di atas aspal, berusaha berjalan selambat yang ia bisa. Membuang-buang sedikit waktu memang merupakan dosa, tapi kali ini tidak. Memangnya, apa yang bisa ia lakukan, eh? Melamun seperti orang bodoh? Bisa-bisa ia disangka gelandangan seperti waktu kemarin di stasiun.

Pemuda itu mengembuskan napas, memperhatikan bagaimana uap transparan dari paru-parunya berbaur sempurna dengan langit. Cuaca yang cukup cerah untuk musim gugur, walau masih sedikit dipoles oleh gradasi warna awan stratus yang terbang rendah. Sejenak ia menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia pergi ke minimarket terlebih dahulu—membeli kopi kalengan sepertinya bukan ide yang buruk. Jadi Sasuke bisa menunggu Sakura dengan berpura-pura menikmati alam sambil meneguk larutan kafein itu—tentu ia tidak akan disangka tunawisma oleh orang lain.

Tapi, takdir berkata lain.

Siluet tubuh seorang gadis yang sedang berdiri di tepi jalan menarik perhatiannya.

Bukan. Sasuke bukanlah laki-laki yang suka memandangi sembarang gadis di pinggir jalan. Satu-satunya alasan Sasuke memandangi gadis itu adalah... karena gadis itu memiliki helai-helai rambut berwarna sugarplum yang memahkotai kepalanya.

Gadis itu Sakura, dan sama seperti Sasuke, ia juga terlihat kaget.

Sasuke menghampiri Sakura yang tersenyum lebar.

“Kau datang lebih awal, Sasuke-kun?” sapa Saku sambil menyelipkan anak rambut merah muda yang jatuh ke pipinya.

Sasuke memutar bola matanya. “Jam tanganku mati.” Astaga, alasan macam apa itu? Sasuke merutuk dalam hati. Seharusnya ia mengarang alasan yang lebih masuk akal. Pemuda macam apa yang datang lebih awal karena jamnya mati? Seperti tidak punya jam dinding di rumah saja.

Tawa terdengar dari mulut Sakura, dan detik berikutnya Sasuke mendapati Sakura menutup mulutnya, berusaha menyembunyikan gelak tawanya.

“Kukira, ketua senat KIU tidak akan sebegitu cerobohnya membiarkan arlojinya mati,” kekeh gadis itu. “Dan kukira, kau seperti aku, sama-sama takut terlambat sehingga berangkat jauuuhh lebih pagi dari waktu perjanjian kita—mengingat kita akan berkencan di tempat yang cukup jauh dari Shinjuku—’”

Ah, ya. Sasuke baru tersadar bahwa tempat kencan mereka memakan waktu cukup lama bila menumpang chikatetsu. Seharusnya tadi ia melontarkan alasan ‘takut terlambat’ juga...

Harap dicatat (lagi): kali pertama Uchiha Sasuke merasa bodoh.

Saat ini mereka berdua berada di Shimbashi, menunggu bis yang akan membawa mereka menyebrangi Rainbow Bridge. Sebenarnya, ada kereta yang terhubung langsung dari Shinjuku, hanya saja Sakura ingin melihat pemandangan Rainbow Bridge di siang hari; akhirnya membuat keduanya harus menempuh jarak cukup jauh ke Shimbashi.

Bunyi berdesis terdengar saat bis tiba di halte tempat mereka berdiri. Sasuke dan Sakura masuk ke dalam bis, mengambil tempat di deretan tengah. Sakura duduk di dekat lorong, karena Sasuke ingin duduk di sebelah jendela.

“Kau sudah pernah ke Odaiba, Sasuke-kun?” Gadis itu membuka pembicaraan setelah bis melaju meninggalkan halte.

“Hn—” Sasuke terdiam. Ah, bukan saatnya memasang wajah-batu-sok-dingin-yang-bisa-membuat-wanita-mundur. Sebaiknya ia berusaha sedikit lebih banyak berbicara, “—pernah. Kau?”

“Belum.” Sakura meleletkan lidahnya. “Aku pendatang di Tokyo dan terlalu disibukkan oleh tugas kuliah, jadi belum sempat pergi ke mana-mana—selain ke Central Park, tentu saja.”

Mau tidak mau Sasuke tersenyum—mengingat kejadian mereka berdua di Central Park. Obrolan mereka tidak canggung saat itu, meski Sakura berbicara dan Sasuke kebanyakan mendengarkan.

“Kalau begitu, kita harus main sepuasnya di Palette Town,” kata Sasuke, memandangi visualisasi alam hijau di luar jendela, kemudian kembali menatap Sakura.

“Pernah naik Daikanransha?” tanya Sakura.

Sasuke mengangguk. “Waktu SMP, teman-temanku memaksa untuk wisata kelas ke Odaiba, dan kami semua naik kincir besar itu saat menjelang sunset.”

“Pasti sangat indah.” Kedua emerald itu berbinar. “Aku jadi ingin mencobanya.”

Sasuke mendengus menahan tawa. “Akan lebih bagus lagi kalau ma—” tapi kalimat itu tidak ia selesaikan, membuat Sakura penasaran.

“‘Ma’ apa, Sasuke-kun?”

Kedua onyx itu menatap datar jade di hadapannya. “Lupakanlah. Tidak penting.”

Gadis itu menggembungkan kedua pipinya, kesal. “Kalau begitu, tidak usah dikatakan!”

“Hn.”

Setengah jam kemudian, keduanya sudah menyusuri jalanan di Palette Town, menembus ramainya individu-individu yang melepas lelah di lokasi hiburan itu.

Palette Town adalah sebuah tempat wisata yang berisi pusat perbelanjaan Venus Ford, Tokyo Leisure Land, tempat pameran Toyota—Megaweb, klub malam terbesar di Tokyo—Tokyo Zepp, dan tentu saja, taman bermain tempat Daikanransha—komidi putar setinggi 115 meter—berada.

Merupakan kali pertama datang ke Palette Town, tentu saja Sakura ingin sekali mencoba menaiki Daikanransha yang fenomenal itu. Namun, entah mengapa, Sasuke seolah mencoba menjauhkan Sakura dari wahana itu. Ia mengajak pemilik rambut permen kapas itu untuk bermain permainan lain.

Roller coaster, bumpty car, beberapa permainan yang ada di dalam game center. Tapi tidak Daikanransha. Tentu saja hal ini membuat Sakura bingung.

“Mengapa kita tidak mengantri untuk naik Daikanransha?” tanya Sakura ketika mereka berdua menikmati es krim di salah satu kedai. Sasuke memesan es krim mocca yang tidak manis, sedangkan Sakura memesan semangkuk besar es krim rasa buah-buahan.

“Hn?” Sasuke pura-pura tidak mengerti. Menyebalkan. Dan terlihat semakin menyebalkan karena wajah Sasuke terlihat berkerut tidak suka—efek ketidaksukaannya pada makanan manis.

Lagi-lagi, gadis itu menggembungkan pipinya. “Aku ingin naik Daikanransha!”

“Malas,” komentar Sasuke. “Lihat, antriannya sangat panjang.”

“Bilang saja kau takut pada ketinggian, Sasuke-kun,” kata Sakura seenaknya, menyendok satu suap es krim blueberry.

“Aku tidak takut.” Pemuda itu menjulurkan lidahnya—entah untuk meledek Sakura, entah karena tidak menyukai camilannya.

“Apa buktinya?”

Pemuda itu menoleh ke segala arah yang dapat dilihatnya dari dalam kedai es krim, kemudian matanya tertuju pada satu titik di kejauhan. Ia tersenyum tipis pada Sakura.

“Bagaimana kalau kita main Hyper Shoot?” tantangnya.

Sendok Sakura menggantung di udara—gerakan menyuapnya berhenti. Tetes-tetes es krim menitik ke permukaan meja tanpa ia sadari.

“Kita—apa?” Kedua mata hijaunya terbuka lebar, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

“Main Hyper Shoot,” ulang Sasuke, sesekali melirik ke titik yang sama—sebuah wahana tinggi yang terletak tidak terlalu jauh dari posisi mereka. Wahana itu mirip menara logam yang tersusun dari bilah-bilah baja. “Bagaimana?”

Gadis itu menelan ludah. Oke, tadi ia hanya menggoda Sasuke. Tak disangkanya, pemuda itu malah serius menanggapi candaannya. Naik wahana setinggi itu? Eum...

—samar-samar, terdengar teriakan saat sebuah kursi yang memuat sekitar belasan orang diluncurkan dari menara itu. Menukik ke bawah seolah akan menghantam permukaan tanah.

Glek.

Sebelah alis Sasuke terangkat, tampak menantang. “Kau takut?”

Mendadak, rasa tidak mau kalah yang tersembunyi dalam diri Sakura memberontak keluar. Dengan tegas gadis itu menjawab, “Tentu saja tidak. Ayo!”

—dan gadis itu menyeret Sasuke ke arena Hyper Shoot, tanpa memedulikan es krimnya yang masih tersisa beberapa sendok.

Sasuke jelas merasa senang. Ia kan tidak terlalu suka es krim.

Suara jeritan terdengar semakin kencang ketika keduanya tiba di bawah kaki Hyper Shoot, bersiap mengantri pada barisan yang tidak terlalu panjang itu. Ternyata, Hyper Shoot tidak termasuk wahana yang diminati banyak orang. Pengunjung lebih tertarik pada Daikanransha—seperti halnya Sakura.

“Kau takut?” tanya Sasuke ketika melihat Sakura berulang kali menatap cemas pada pilar-pilar baja itu.

Gadis itu mendelik kesal padanya, kilatan amarah tampak pada sepasang emerald miliknya. “Enak saja.”

Mau tak mau Sasuke harus menahan tawa. Sakura yang sedang ngambek terlihat sangat lucu, hanya saja ia tidak mau kena resiko dimarahi karena menertawakan tingkah laku gadis itu. Bisa-bisa, acara mereka hari ini berubah menjadi perkelahian Mars vs Venus.

Sepuluh menit kemudian, giliran mereka tiba. Sasuke dan Sakura duduk berdampingan pada sebuah kursi panjang yang disekat menjadi beberapa bagian. Sabuk pengaman mengikat bagian depan tubuh mereka agar mereka tidak celaka.

Wajah Sakura memucat ketika kursi itu bergerak ke atas.

“Jangan tegang.” Gadis itu menoleh kepada Sasuke yang tampak tenang-tenang saja. “Tarik napas...”

Tubuh Sakura serasa semakin berat. Mereka semakin ke atas. Rasa takut mulai menjalari dirinya. Ia merutuki mengapa ia begitu mudah terpancing. Masalahnya, ini kali pertama ia bermain permainan seperti ini. Bagaimana kalau ia terlepas dari sabuk pengaman? Bagaimana bila ia muntah? Bagaimana kalau—

Mendadak, kursi itu berhenti bergerak ke atas.

O’ow, ada apa ini?

Ia melirik Sasuke yang tampaknya tak peduli. Wajah pemuda itu tetap datar. Tak setitik pun rasa takut hingga pada wajah tampannya itu.

Glek. Glek. Dan glek.

Tiba-tiba saja, kursi itu menukik dengan tajam ke arah bawah. Tubuh Sakura seolah kehilangan massa. Kecepatannya sangat tinggi—ia akan membentur bumi hanya dalam sepersekian detik—

“KYAAAAAAAAAAAAAAA!!”

.
.
.
.

Semburat sinar berwarna jingga menghiasi permukaan langit, berpadu sempurna dengan warna samar violet yang berpendaran tertimpa kilau mentari sore. Sesekali terdengar koak burung camar yang terbang menuju lautan, karena bagaimanapun juga, Odaiba adalah pulau yang terletak di Teluk Tokyo.

Atmosfir itu terasa hangat dan menyenangkan, terutama bagi Sakura yang pada akhirnya berhasil duduk di dalam kubikel Daikanransha. Wajah gadis itu bersinar-sinar penuh kebahagiaan, menikmati saat-saat pertama ia naik kincir raksasa itu. Panorama tenggelamnya matahari di balik horizon lautan membuatnya semakin bahagia.

Sebaliknya, sepasang mata onyx menatap bosan pemandangan di depannya. Sang empunya menyilangkan kedua lengannya, bertumpu pada panel jendela kubikel kincir dan meletakkan dagunya di sana. Wajah datar itu terus menatap bulatan oranye yang tingga sepertiga dengan pandangan jemu. Pergerakan kincir yang lambat sama sekali tidak mengubah suasana hatinya.

Uchiha Sasuke tahu dengan jelas bahwa komidi putar raksasa di Palette Town merupakan salah satu area romantis bagi pasangan yang berkencan, namun baginya tidak. Ada tempat lain yang lebih indah yang ingin ditunjukkannya pada Sakura, namun gadis itu bersikeras untuk melihat matahari terbenam dari Daikanransha. Otomatis, Sasuke menyerah. Sebagian besar faktor yang membuatnya mengalah adalah karena tidak ingin gadis itu cemberut. Ya, pasca naik Hyper Shoot, Sakura memasang wajah kesal.

Dipandanginya kilau-kilau bahagia yang seolah terpancar dari setiap inci tubuh gadis itu, juga seluruh gesturnya. Rambut bubble gum-nya yang berayun lembut setiap kali ia menggerakkan kepalanya. Matanya yang berbinar-binar sarat akan kekaguman. Kedua tangannya menempel pada kaca—seolah ingin menyentuh rangkaian indah natur yang tertangkap oleh retinanya.

Dan jantung Sasuke berdebar lima kali lebih cepat dari biasanya.

Ragu, ia menyentuh dada kirinya, merasakan denyut jantungnya yang meloncat gila-gilaan. Ia pernah merasakan perasaan ini pada Karin dulu. Dulu.

Hanya saja, perasaan ini sedikit berbeda.

Intensitasnya tidak sama—ini lebih manis. Lebih hangat. Lebih... ingin merengkuh dirinya dan gadis itu dalam satu bentangan sayap yang lembut.

Entahlah, Sasuke tak pandai mendeskripsikan perasaan yang bergulung-gulung dalam hatinya saat ini—dan ia tak perlu jutaan kata untuk menggambarkannya. Yang terpenting, ia merasakannya—perasaan itu—dan ia bahagia karena mengalaminya.

Mungkinkah ini... cinta?

“Sasuke-kun...” Suara Sakura mengusik pemikirannya, membuatnya tersentak kepada kenyataan, kembali menghadapinya. Gadis itu tengah menatapnya dengan raut tak terbaca. Heran? Kesal? Khawatir? Sasuke sama sekali tidak pandai membaca ekspresi orang lain, bahkan ekspresinya sendiri pun tidak ia mengerti.

“Hn?”

Telunjuk gadis itu mengarah ke luar, ke arah matahari yang hampir tenggelam seutuhnya. “Indah sekali, ya...”

Sasuke hanya bisa tersenyum tipis. “Lumayan.”

Kening yang sedikit tertutup poni itu mengernyit. “Lumayan?”

“Hn.” Kembali ia alihkan pandangan matanya ke luar lembaran kaca. Pantulan jingga tampak di kedua bola matanya yang sehitam obsidian. “Aku tahu tempat yang lebih indah.”

Emerald itu membelalak. “Benarkah?”

Ia mengangguk. “Hn. Sebenarnya, aku ingin mengajakmu melihat sunset di sana. Tetapi karena kau memaksa menaiki Daikanransha ini—”

Gomennasai.” Kata-kata Sasuke terputus oleh permintaan maaf dari gadis berambut soft pink itu, membuatnya kaget. Sebelum ia sempat berkata-kata lagi, Sakura telah mendahuluinya. “Maafkan aku karena membuat rencanamu gagal.”

Tanpa terasa, senyuman terbentuk dengan mudahnya pada bibir tipisnya. Ringan, ia menjawab, “Sama sekali bukan masalah...”

Debaran di jantungnya melonjak sepuluh kali lipat lebih gencar. Ia merasa gadis di hadapannya bisa mendengar dentum-dentum itu bertalu-talu memompa di balik rongga dadanya.

Dan menjadi semakin cepat ketika ia melihat ekspresi polos di wajah Sakura.

Cepat-cepat ia menambahkan, “Ada pemandangan lain yang lebih indah di tempat itu,” sebelum ia salah tingkah.

Langkah yang salah, karena jantungnya semakin tidak mau berkompromi ketika kedua matanya menangkap senyum manis dari seorang Haruno Sakura.

Oh God.

Gadis itu bukanlah gadis cantik dengan tatapan mata memikat yang sanggup meluluh-lantakkan ego seorang pria. Ia bukanlah gadis dengan kulit porselen yang berkilauan dan mampu menggoda iman semua kaum adam.

Haruno Sakura hanyalah gadis lugas yang menciptakan kesan aneh pada perjumpaan pertama mereka. Gadis mengesalkan yang... semakin lama semakin sulit disingkirkan dari benak Sasuke.

“Ajak aku ke sana,” pinta gadis itu, terus terang. Kedua bola mata emerald-nya menatap lurus pada mata obskurit Sasuke, menyiratkan rasa penasaran yang membubung tinggi. Gadis itu menyunggingkan senyuman manis—senyuman jujur yang tak akan ia temukan dari berjuta-juta gadis cantik yang hidup di atas bumi.

Senyuman yang ia balas dengan senyuman sepenuh hati—senyuman yang tak pernah terbit dari lubuk hatinya setelah bertahun-tahun hidup.

Senyuman khusus untuk seorang gadis yang berhasil mencuri setiap inci perasaannya.

“Tentu saja,” jawabnya.

Daikanransha telah tiba pada putaran terakhirnya, tepat saat matahari menghilang seluruhnya di balik batas bumi dan langit. Lampu-lampu telah dinyalakan, tampak seperti butiran intan di tengah warna-warna yang mulai gelap.

Mereka berdua turun dari kubikel itu, bergandengan tangan. Menuju tempat yang ingin ia tunjukkan kepada sang gadis.

Dan detik itu ia menyadari sesuatu.

Ya, kini ia tahu. Ia telah jatuh cinta.

.
.
.
.

Langit hampir seutuhnya berwarna hitam ketika keduanya menjejakkan kaki di luar teritorial Palette Town. Partikel cahaya berwarna-warni menghiasi jalanan di sekitar mereka, membuat keduany seolah berada di dunia imajiner.

Tanpa banyak bicara, Sasuke membawa Sakura menuju pantai, menuju Tokyo Bay—Teluk Tokyo.

Tak ada yang berbicara. Samar-samar hanya terdengar gemuruh ombak yang berdebur pada tepi pantai, juga langkah kaki keduanya yang bergesekan dengan permukaan aspal. Aroma laut terendus oleh indera penciuman, menyatakan bahwa bentangan air luas itu telah di depan mata.

Kedua mata Sakura akhirnya berhasil membiasakan diri dengan kegelapan yang mulai menyelimuti kota. Kini dengan leluasa ia bisa mengamati keadaan di sekitarnya.

Indah. Inikah tempat yang dimaksud Sasuke? Kalau benar... ia seratus persen yakin bahwa matahari terbenam akan terlihat sangat indah di sini.

“Sebentar lagi kita akan sampai.” Suara Sasuke yang dalam memecah perhatian Sakura. Ia menoleh pada pemuda yang berjalan di sisinya, kemudian kembali memandang lurus ke depan.

Hatinya terasa bahagia karena banyak faktor. Pertama kali pergi ke Odaiba. Makan es krim. Memainkan aneka permainan. Berada dalam kubikel Daikanransha. Dan kini—

—bergandengan tangan saat berjalan dengan orang yang kerap kali membuat jantungnya berdebar-debar.

Bila ini semua mimpi, maka ia tidak akan rela untuk bangun dari tidurnya. Kalau bisa, ia ingin terus memimpikan hal ini. Tak peduli pada realita—bila ia bisa memiliki semuanya di dunia khayalan, untuk apa ia hidup pada kenyataan?

Langkah kakinya berhenti ketika Sasuke berhenti melangkah.

“Lihat itu.” Kedua matanya mengikuti arah telunjuk Sasuke.

Dan kembali, kedua matanya terbelalak.

Sebuah perahu dayung.

Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems