Disclaimer: not mine.
A/N: rikuesan seme tersayang, semoga suka!
.
.
.
Uchi
by mysticahime
.
.
.
Uchiha Sasuke tak pernah mengira—dari sekian banyak orang
yang ditemuinya, yang mana kebanyakan ia pandang dengan sebelah mata,
menganggap hanya angin lalu, mengkhianati, dan pergi dari kehidupan mereka—bahwa
akan tiba hari di mana ia harus menelan kembali penyangkalan yang selalu
didustakannya.
Aku tak memerlukanmu.
Kau dan aku bukan
siapa-siapa.
Pergi!
Berulang kali, selalu, ia menggoreskan kata-kata itu dengan
dalam agar orang yang dimaksud paham bahwa inilah
yang dia inginkan. Sendirian—tanpa
ada siapa-siapa di sirkumstansi, tanpa ada yang masuk ke dalam garis perbatasan
yang ia ciptakan supaya tak ada yang menjangkau.
Namun, siapa yang mengira ia salah?
Uchiha Sasuke tak pernah menyangka, dari sekian banyak
entitas yang pernah hadir dalam hari-harinya—tiga sudah terlalu banyak—hanya
ada satu orang yang membuatnya terus menetaskan kebohongan. Pendusta kecil,
Sasuke itu, dan semakin hari semakin banyak yang ditutup-tutupinya dalam sebuah
topeng bernama kepalsuan.
Waktu semakin tinggi dan melapuk, berjalan pelan meniti
garis kehidupan yang berkelok dan bercabang. Mereka berpisah—Sasuke dan orang
itu—dan meneruskan alur cerita yang telah ditorehkan semenjak mereka lahir.
Kebohongannya terkubur rapat dan beku, didiamkan berada
dalam kenangan yang semakin memudar seiring berjalannya waktu, meninggalkannya
dalam penyesalan akan munafiknya seorang Uchiha,
dan diam-diam, ia berharap bisa menyuarakan ini nanti:
Kuharap aku selalu
menjadi seseorang... untukmu.
.
.
.
“Ayo,” telapak tangan itu terbuka di depan matanya, dengan
gurat luka yang memerah dan bernoda gelap. Sepasang mata hijau yang dikenalnya,
yang selalu muncul saat sesekali ia bermimpi, tetap menatap dengan sorot mata
yang sama. Salju putih dan sisa-sisa pertarungan ada di sekitar mereka—ada
tubuh-tubuh tanpa nyawa yang terbaring entah karena kesalahan siapa.
Konoha lenyap, tertimbun oleh puing-puing tak bernama,
menyisakan kenangan bagi beberapa yang beruntung karena masih hidup.
Sasuke telah pulang, kembali ke Konoha—dan tempatnya hancur.
Gadis di hadapannya tak ia gubris sama sekali, pun uluran
tangannya tak diacuhkan. Kali ini pandangannya terpaku pada mereka yang tak bersalah tetapi ikut
menderita?
Salahnya?
Bukan seratus persen.
Apa ia ambil andil dalam semua keadaan ini?
Ya.
.
.
.
Mungkin ini akibat perbuatannya. Hukuman karena ia adalah
seorang pengkhianat. Hukuman karena ia pendosa yang tak termaafkan.
Apa yang kau dapat ketika kau ingin pulang, Sasuke?
.
Ah, ironis.
.
.
.
Tangannya ditarik paksa, digenggam kuat-kuat sebelum diseret
dalam perjalanan yang melibatkan kaki yang cedera parah dan pinggang yang
sobek. Tertatih-tatih, ia berusaha mengikuti langkah gadis itu—yang entah
kenapa masih bisa berjalan dengan tegak walau satu-dua rusuknya patah—sambil
menggumam tak jelas soal rasa sakit di tubuhnya.
Perjalanan mereka bermula dari sosok-sosok yang tertidur
abadi karena sebuah pembelaan, berlanjut menjadi awal mula reruntuhan, berakhir
dalam sebuah kenangan.
Sasuke ingat dengan jelas tempat apa itu, karena sekeras apa
pun ia menyangkal, ia tak akan bisa melupakan tempat di mana segalanya bermula.
Lapangan. Tiga tunggul kayu masih di
sana, salah satunya sudah rusak parah entah karena apa. Ia tidak mengerti apa
yang dirasakannya sekarang—pohon-pohon sudah tiada dan rumputnya tertimbun
salju yang kotor—namun ada letupan kecil di sana.
“Selamat datang di rumah.”
Gadis itu berusaha mengulaskan senyuman kecil di antara raut sendunya. “Walau
sedikit berbeda, ini tetap rumah—bagi Tim Tujuh. Walaupun sekarang hanya kita
berdua, sih...”
Ada isakan pelan yang pecah, Sasuke merasakan tangannya
digenggam semakin erat. Menoleh, mendapati sosok yang selalu tegar itu
terguncang. Ia paham, ia juga merasakan hal yang sama. Konoha adalah rumah bagi
semua shinobi, karenanya mati-matian
dipertahankan supaya tetap utuh. Reruntuhan ini saksi nyata bagaimana mereka
berupaya keras untuk menjaganya.
Sayangnya, pikirannya berusaha jujur lagi, dan hal itu agak
egois.
Ia senang karena gadis
itu selamat.
Uchiha Sasuke memang egois, pengkhianat, dan pembohong.
Di saat yang tersisa menangis untuk kepergian sesama, ia
malah mengembuskan sedikit napas lega. Konoha boleh saja hancur, boleh saja
musnah, boleh saja kehilangan seluruh warganya. Musuh mereka boleh merusak apa saja, boleh menghancurkan lapangan
ini, boleh menghancurkan kediaman Uchiha.
Tapi, bagaimanapun juga, Konoha akan selalu menjadi rumah bagi Uchiha Sasuke, sekosong apa
pun isinya.
.
.
Karena, separuh dari rumah
itu adalah Haruno Sakura. Rumah yang akan
selalu menerimanya kembali.
.
.
.
Fin.








0 komentar:
Posting Komentar