RSS
Tampilkan postingan dengan label SaiIno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SaiIno. Tampilkan semua postingan

[Side Story 1.2] Ugly Girl Under The Raindrops: Accidentally in Love



UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
The Side Story 1.2: Accidentally in Love
.
.
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Accidentally in Love © The Crows (borrowed for the title ;p)
.
.

mysticahime™
© 2011
.
.
.
Please take notes: SaiIno. Roman picisan kah?
.
.
.
ENJOY! :)
.
.
.

Karena cinta adalah sesuatu yang tak diundang—ia bisa tiba-tiba saja hadir tanpa seizinmu

.
.
.
.
.

“Hah?”

Yamanaka Ino mengerucutkan bibirnya ketika satu-satunya respon yang diberikan Haruno Sakura atas cerita panjang-lebarnya hanyalah sepatah kata singkat yang dibumbui ekspresi menganga yang dramatis. Gadis pirang itu dengan segera menoyor kepala temannya saat Sakura tidak memberikan respon lanjutan.

“Hanya itu?” tanya Ino dengan keki. “Seharusnya kau bangga karena temanmu ini menjadi wakil ketua senat!”

Satu kali, dua kali; emerald itu mengerjap mengumpulkan kembali kesadarannya yang nyaris melayang ketika mendengar cerita Ino. Lalu sang empunya buru-buru menggeleng.

“Bukan, bukan itu,” sergahnya. “Yang mendapat respon ‘hah’ dariku adalah... Shimura Sai-senpai menyebutmu pacarnya?”

“Benar,” adalah satu-satunya yang mampu dikatakan Ino—setidaknya satu detik sebelum gadis sanguinis itu kembali mencerocos, “—sepertinya ia sedang demam. Atau mabuk. Atau mungkin menderita gangguan mental. Atau—”

Yeah, apa pun itu,” sambar si gadis pink. “Terus terang saja, aku sedikit bingung dengan semua kejadian hari ini, Ino. Terutama yang terjadi padamu.”

“Memangnya aku tidak bingung?” Ino menyambar sebuah bantal berbentuk hati yang didominasi warna merah. “Dia menyelamatkanku satu kali, dan tiba-tiba saja si Muka Datar itu mengaku-aku bahwa diriku adalah pacarnya, dan—”

“—apa kau sebut dia tadi?” Sakura nyaris terkikik, “Muka Datar? Wah, wah...”

“Dia memang Muka Datar!” Ino menjulurkan lidahnya dengan sarkastis. “Ingat apa yang kuceritakan mengenai perjalananku di kereta tadi pagi? Dia duduk di bangku terakhir dengan wajah datar—sama sekali tidak memikirkan bahawa ada seorang gadis yang sebenarnya lebih pantas untuk duduk di situ!”

Lengkungan sabit muncul di permukaan bibir Sakura. “Tidak gentle, maksudmu? Wah, benar-benar di luar tipemu, dong...”

“...Apa maksudmu?” kening Ino mengernyit.

“Bisa saja kau nanti malah jatuh cinta padanya,” jawab Sakura. “Aku sering mendengar bahwa banyak manusia yang jatuh cinta pada orang yang bukan tipenya—entah itu memang realitanya, atau ekspektasi dari orang-orang itu memang terlalu tinggi...”

Bantal berbentuk hati itu kini digunakan oleh pemiliknya untuk memukuli Sakura dengan bertubi-tubi—bercanda, tentu saja. “Bahasamu terlalu mengerikan, Forehead-girl! Seperti filsuf saja...” ia bergidik sendiri. “Oh ya, jadi Sasuke juga hasil ekspektasi yang terlalu tinggi, ya? Berarti dia eksistensi yang terlampau... rendah?”

—dan detik berikutnya, bantal berbentuk hati itu menjadi senjata makan tuan.
.
.
.
.
.
“Selamat pagi.”

Yamanaka Ino baru saja membuka pintu rumahnya tatkala sebuah sapaan yang diiringi senyum manis menyambutnya dari sisi pagar. Bila yang disapa adalah gadis selain Ino, kemungkinan besar gadis itu sudah meleleh saking bahagianya.

Memangnya, siapa yang tidak senang disambut oleh seorang cowok yang memiliki senyuman semanis itu?

Yeah, terkecuali Ino yang saat ini malah menatap pemuda itu dengan tatapan datar.

“Apa maumu, Taichou[1]?” tanya Ino seraya mengunci pintu rumahnya.

“Menjemput pacarku,” jawabnya dengan wajah berseri-seri. Wajah itu semakin antusias ketika Ino berbalik dan berjalan mendekatinya.

—sebenarnya Ino hanya mendekati pagar untuk keluar dari area rumahnya dan pergi ke stasiun.

Gadis itu memutar kedua mata safirnya dengan bosan. “Setahuku hari ini mahasiswa tingkat dua dan tiga tidak ada kuliah lagi sejak menyelesaikan tugas studio dua hari yang lalu—setidaknya sampai Senin depan.” Dilangkahkannya kedua tungkainya lebar-lebar agar bisa cepat-cepat menjauh dari pemuda yang satu itu.

“Memang,” jawab Sai sambil menyejajari langkah-langkah Ino, “tetapi Jumat nanti ada rapat pleno senat di hari pertama kepengurusanku—dan aku harus mengingatkan wakil ketuaku untuk berpartisipasi dalam rapat ini, juga membantuku karena ini kali pertama aku memimpin sebuah rapat.”

“Tidak akan.” Gadis itu mempercepat langkahnya—setengah karena untuk menjauhi Sai, setengah lagi untuk mengejar waktu yang semakin mepet dengan jam kuliah studionya hari ini.

“Oi, oi.” Tersengar suara Sai dari belakang sana. “Tidak usah terburu-buru, hari masih pa—”

Ino sama sekali tidak memedulikan panggilan Sai. Bibirnya berkomat-kamit mengucapkan doa bercampur umpatan, berharap Sai tidak mengikutinya lagi. Kedua kakinya melangkah ke zebra cross untuk menyebrang menuju halte yang mengarah ke stasiun, dan—

TIIIINNNN—!

Sebuah truk melintas beberapa sentimeter di hadapannya. Beberapa sentimeter, karena seseorang berhasil menarik tubuhnya menjauhi bodi rigit kendaraan berbahan bakar solar tersebut. Sebelumnya, Ino dan truk itu berada dalam satu garis lurus yang bila berpotongan akan menjadi—

“Apa kubilang.” Sayup-sayup gendang telinga Ino menangkap suara penyelamatnya sementara gadis itu masih berupaya menggapai semua kesadarannya. Sedikitnya gadis itu shock akan kecelakaan yang nyaris menimpanya beberapa detik lalu.

Pupil mata Ino masih mengecil, pertanda bahwa kejutan yang dirasakannya masih beresidu. Wajah pucat gadis itu menjadi pertanda lain.

Sai menatap gadis itu sejenak, kemudian memutuskan untuk membawanya ke bangku halte yang tinggal beberapa meter dari posisi mereka. Dibantunya gadis itu untuk duduk dan menarik napas selama beberapa saat.

“Sudah merasa lebih baik?” tanyanya ketika rona wajah Ino mulai kembali seperti biasa.

Lamat-lamat gadis itu mengangguk, lalu menatap wajah Sai yang terlihat mengkhawatirkannya. “Terima kasih...”

—kalian tentu bisa membayangkan betapa bahagianya Sai bila melihat senyuman manis yang tergantung di wajahnya.
.
.
.
.
.
Kedua iris aqua itu melirik sinis ke arah sosok yang berjalan beberapa langkah di belakangnya—lebih tepatnya sosok itu mengejar dirinya yang berjalan terlalu cepat.

“Mau sampai kapan kau membuntutiku, Sai?” Yamanaka Ino berbalik cepat sehingga pemuda yang berusaha menyejajari langkahnya itu nyaris menabrak tubuhnya.

“Entahlah.” Sai mengangkat bahu. “Aku akan menemanimu selama kau menjadi pacarku.”

Gadis pirang itu memutar kedua bola matanya dengan bosan, lalu membalikkan tubuh dan melanjutkan perjalanannya menuju stasiun. Mood-nya sedang berada pada level terendah pagi ini. Semalaman ia nyaris tidak tidur karena menggarap ulang tugas komposisi garis dan warnanya. Tugas lamanya terkena tumpahan kopi di detik-detik penyelesaiannya, mengakibatkan gadis berambut jagung itu harus mengulang segala jerih payahnya dari titik awal. Beruntung sekali tugasnya selesai pukul lima pagi tadi.

Ini sudah kali ketiga dalam minggu ini pemuda berwajah datar itu menjemput Ino di rumahnya kemudian mengantarnya ke kampus—atau lebih tepatnya mengekori gadis itu hingga Ino berhasil mencapai kelasnya tanpa kekurangan suatu apa pun. Setiap kali Ino mengatakan bahwa Sai tidak perlu melakukan hal itu, sang pemuda selalu berdalih dengan alasan bahwa gadis itu adalah pacarnya.

Biasanya Ino selalu berhasil menggunakan langkah-langkah panjangnya untuk menghindari Sai dengan alasan mengejar waktu kuliah pagi. Tetapi beberapa menit yang lalu Sakura baru saja mengiriminya mail bahwa kelas pagi ini diundur menjadi nanti siang. Sekarang Ino tidak punya alasan untuk menghindari Sai.

“Untuk apa terburu-buru?” tanya Sai ketika mulai lelah mengejar gadis yang kecepatan berjalannya tergolong luar biasa untuk ukuran seseorang yang memakai sepatu wedges dengan hak setebal tujuh sentimeter. “Kelasmu diundur, bukan?”

Sedikit bertanya-tanya mengapa Sai bisa mengetahui jadwal kelasnya yang diubah, Ino hanya menoleh sedikit dan mengangkat sebelah alisnya. Tangan kirinya membenarkan letak tali tabung gambar yang menggantung di pundaknya. “Memangnya kenapa? Aku harus menemui dosenku untuk menyetor tugas, setidaknya aku perlu meminta opini mengenai tugas komposisi ini.”

Dan pemuda itu menahan pundak Ino, membuat gadis itu menghentikan langkah-langkahnya. Ia tersenyum manis.

“Jangan pernah melewatkan waktu untuk menikmati indahnya langit biru di pagi hari.” Jari telunjuknya mengarah ke atas diikuti tatapan mata Ino.

Sapuan warna biru membuat kedua mata gadis itu membelalak takjub. Entah sugesti apa yang meresap ke dalam benaknya, namun tiba-tiba saja rasa ingin terburu-buru pergi ke kampus menguap begitu saja. Bukan satu kali ini saja ia melihat langit biru di tengah-tengah Tokyo, ia sudah sering melihatnya, hanya saja rasanya kali ini sedikit... berbeda.

Sayang sekali ia tidak tahu apa perbedaannya.

Pemuda itu tersenyum melihat ekspresi Ino yang tampak begitu takjub dengan atmosfir biru menyegarkan di sekitarnya. “Benar, kan? Untuk apa terburu-buru untuk berada dalam kereta berisik yang memiliki langit-langit berwarna monoton bila kau bisa melihat langit biru di sini?”

Ada perasaan ringan melayang di hati Ino. Perasaan yang entah apa.

“Selama kau masih bisa melihat langit biru dengan matamu, bagaimana bila kau menikmatinya, Ino?” kata-kata Sai terasa seperti satu-satunya suara yang bisa didengar oleh gadis itu, kendati bisingnya Tokyo mulai memenuhi udara. “Langit adalah esensi dari seorang seniman. Bila para seniman tidak memiliki kebahagiaan untuk melukis langit pada karya-karya mereka, bagaimana mungkin mereka bisa menciptakan sebuah masterpiece?”

Kata-kata Sai bagaikan penyejuk bagi dirinya. Pikiran Ino yang semula serumit benang kusut kini mulai terurai secara ajaib.

“Kau...” ...bagaimana mungkin bisa tahu apa yang kupikirkan? Ino mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan isi pikirannya saat ini, namun untuk kesekian kalinya ia merasa bisu di depan Sai. Dirinya yang selama ini selalu bisa merajut percakapan tanpa perlu banyak berpikir kini dengan tak lazimnya terdiam.

“Aku tidak pandai berbicara,” kata Sai sambil menarik tangan Ino. “Bisa kubilang aku bukan tipe yang pandai bersosialisasi, tapi aku senang bisa membuka percakapan denganmu.”

Dan gadis itu benar-benar terdiam. Entah pengaruh kata-kata Sai, entah pengaruh langit biru yang menggelayut di atasnya.

Sebelum membiarkan dirinya dibawa ke stasiun yang menuju ke Suna University of Arts, Ino membiarkan dirinya untuk merekam keindahan langit biru sekali lagi.

Mungkin karena pengaruh langit biru itulah Ino menyetujui ajakan Sai untuk menunggu kelasnya di kafetaria Suna University of Arts sambil mengganyang sepiring takoyaki dan segelas ocha hangat.

Mungkin karena pengaruh langit biru itulah Ino memerhatikan orang-orang yang kebetulan bercakap-cakap dengan Sai selama mereka berdua duduk di kafetaria. Aburame Shino. Tenten. Haruno Sakura—teman baiknya sendiri—yang mengedipkan mata sambil menjulurkan lidah ketika melihat siapa yang bersama Sai saat itu adalah sahabatnya sendiri.

Mungkin karena pengaruh langit biru itulah Ino menikmati saat-saat bersama Sai.

Atau mungkin karena keberadaan Sai-lah, langit biru jadi terlihat begitu indah.
.
.
.
.
.
“Hmmm...”

Meja di hadapan Yamanaka Ino kini dipenuhi dengan barang-barang yang semula berada di dalam tasnya. Ada tempat pensil, ponsel, dompet, cermin, sisir rambut, kuas, kotak cat air, kunci rumah—hanya saja ada sesuatu yang kurang di sana.

Gadis pirang itu menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung ketika ia tidak berhasil mengeluarkan benda apa pun lagi dari dalam tas ungunya. Semua penghuni rongga tasnya telah berserakan di atas meja, tetapi ia tetap tidak menemukan benda yang dicarinya.

Kali ini, ia malah melongok ke dalam tasnya.

Tetap saja buku diktatnya tidak ada.

Ino mengerang frustasi. Rasanya tadi pagi ia membawa buku itu di tasnya, buku diktat sejarah seni yang subjeknya merupakan mata kuliah siang ini. Sebenarnya bukan masalah ia membawa buku atau tidak, hanya saja pelajaran ini adalah satu-satunya pelajaran yang dijadikan ujian tertulis di akhir semester nanti.

Tentu saja dirinya tak bisa meminjam buku kepada siapa-siapa. Setiap anak memiliki buku masing-masing, kecuali beberapa anak yang terlampau malas untuk mengikuti kuliah itu, datang hanya demi memenuhi kuota absensi.

Percuma saja terus mengorek-korek tasnya, buku itu tak akan muncul tiba-tiba bagai disihir. Jadi gadis itu memutuskan untuk menyandarkan punggungnya dan menarik napas. Membiarkan pikirannya mengingat-ingat bagaimana runtut kejadian hilangnya diktat yang tadi pagi berada aman di tasnya.

Buku itu ia simpan di tasnya, bersama dengan kotak berisi cat air. Ia bersama-sama dengan Sai, tidak mengeluarkan bukunya sama sekali. Mereka makan di kafetaria. Ia mengeluarkan bukunya untuk dibaca. Ia berpamitan untuk menemui dosen pembimbingnya—

Oh my barking dog!

Tanpa sadar ia menepuk keningnya sendiri.

Tentu saja buku itu tertinggal di kafetaria! Karena ia memutuskan untuk sedikit membaca mengenai sejarah seni ketika menunggu Sai berbincang-bincang dengan temannya...

Harapannya untuk kembali ke kafetaria guna mencari bukunya musnah tak bersisa ketika mendapati dosen yang mengajar mata kuliah sejarah seni masuk ke dalam ruangan dan duduk di meja yang dikhususkan untuknya di depan kelas. Dalam hati Ino berharap hari ini dosennya sedang tidak berminat untuk mengajar, atau—

Tok tok

Bunyi ketukan ritmik di pintu menyadarkan gadis itu dari segala ekspektasinya. Karena merupakan tipe gadis yang mudah penasaran, Ino langsung menjulurkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang.

Shitsureishimasu[2]...” seseorang melangkah masuk ke dalam kelas dan mendekati meja Hatake Kakashi, sang dosen sejarah seni. Ino menahan napas ketika menyadari siapa orang yang baru datang itu.

Sai!

Kakashi menatap Sai melalui sepasang matanya yang berlainan warna. “Ada keperluan apa, Shimura-san?”

Sai mengacungkan sesuatu—yang lagi-lagi membuat Ino menahan napas—dan menunjukkannya kepada Kakashi. “Saya ingin mengantarkan buku diktat milik pacar saya.”

“Memangnya siapa pacarmu, Shimura-san?”

Pemuda itu mengedarkan pandangannya ke seisi kelas dan tatapannya berhenti pada titik dimana Ino berada. Kemudian pemuda itu mengedikkan dagunya sedikit. “Yamanaka Ino, Sensei. Boleh saya menemuinya?”

Terdengar riuh rendah sorakan teman-teman sekelas Ino, membuat wajah gadis itu merah padam—rasa malu dan kesal bercampur menjadi satu. Tak menunggu respon dari dosennya, Ino segera berjalan keluar dari bangkunya dan menghampiri Sai, lalu menyeret pemuda itu keluar dari ruang kelasnya, lagi-lagi diiringi dengan suit-suit menyebalkan dari penghuni kelasnya.

Sesampainya di koridor yang cukup sepi, Ino berhenti menarik lengan Sai dan berbalik menghadapnya. Wajah gadis itu masih merah padam.

“Apa maksudmu?” tanya gadis itu dengan suara rendah.

“Apa maksudmu?” Sai malah mengulangi pertanyaan gadis itu, hanya saja nadanya berbeda.

“Apa maksudmu melakukan tindakan seperti tadi?” Kini kilatan rasa marah tampak jelas di kedua mata biru Ino.

“Aku hanya mengantarkan bukumu yang tertinggal di meja kafetaria tadi,” jawab Sai sambil memasang senyum manisnya seperti biasa. Namun senyuman itu meluntur ketika melihat wajah Ino tidak merespon senyumnya. “Ada yang salah?”

“Bukan itu,” sahut sang gadis pirang. “Maksudku adalah mengapa kau menyebutku pacarmu di depan Hatake-sensei? Di depan semua teman sekelasku?”

“Ada yang salah?” Sai balas bertanya dengan nada ringan. “Kau memang pacarku, dan sudah sebaiknya aku memberitahu seisi kampus bahwa kau adalah—”

“—aku. Bukan. Pacarmu.” Setiap kata yang diucapkan gadis itu diberinya penekanan, seolah menyatakan secara denotasi bahwa semua kata itu adalah realita yang sebenarnya. “Kau saja yang selalu menyebut-nyebutku sebagai pacarmu. Pada kenyataannya, tak pernah sekali pun aku mengiyakan kata-katamu.”

Melihat Sai diam saja tak membalas kata-katanya, Ino sempat merasa tidak enak hati, tapi ia harus menyuarakan apa yang berada di pikirannya.

“Kau bukan orang yang menyenangkan untuk diajak menghabiskan waktu bersama. Aku tak pernah bermimpi untuk menjadi pacarmu.”

Ino tahu bahwa sebagian besar kata-katanya hanyalah kebohongan besar. Ia merasa senang ketika tadi pagi menghabiskan waktu bersama Sai. —walaupun yang mengenai ia tidak pernah bermimpi menjadi pacar Sai memang kenyataannya.

Gadis itu merasa semakin tidak enak hati ketika melihat Sai masih tidak bereaksi. Sesungguhnya ia menyesal telah mengucapkan kata-kata barusan, namun ia tak mungkin menelan kembali kata-katanya. Tidak baik menjilat ludah sendiri. Maka ia memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya.

“Kau sama sekali bukan tipeku, Sai. Kau sama sekali tidak gentle. Kau bukan orang Korea. Kau juga tidak sensitif. Dan yang terpenting—” gadis itu menarik napas, “—kau sembarangan meng-claim-ku sebagai pacarmu dan menyebarkannya ke seluruh dunia!”

Dan Ino menyambar bukunya dari tangan Sai dan segera bersiap untuk meninggalkan pemuda itu. Ia tak mau melihat ekspresi Sai mendengar segala kata-kata dan kebohongannya. Namun, baru saja ia akan mulai berlari, telinganya menangkap pemuda itu mengatakan sesuatu.

“Bila kau membenciku, kita tidak usah melanjutkan hubungan ini semua.” Gadis itu sedikit menolehkan kepalanya dan menatap pemuda berambut hitam yang mengucapkan klausa itu tanpa berkedip. Ekspresi wajah Sai terlihat begitu terluka. “Kau tidak perlu membantuku dalam rapat pleno besok—tidak akan ada rapat.”

Dan pemuda itu berjalan pergi ke arah yang berlawanan, meninggalkan Ino yang masih mematung.

Hingga punggung Sai tak tampak lagi di kejauhan, Ino masih belum bergerak dari posisinya.

Gadis itu melupakan semuanya—kelas kuliahnya yang sedang berlangsung saat ini, buku diktat dalam pelukannya, koridor sepi yang menjadi saksi pertengkarannya dengan Sai.

Yang ada di pikirannya hanyalah wajah Sai yang tampak terluka ketika mengucapkan kalimat perpisahan itu. Sesuatu dalam dadanya terasa berdenyut-denyut nyeri bila mengingat hal itu. Ada rasa sesak di sana.

Entah karena kelilipan atau memang merasa kesal pada kenyataan yang baru saja terjadi, sebutir kristal air mata bening meluncur turun dari sudut mata Ino, yang segera dihapusnya dengan punggung tangan kiri.
.
.
.
.
.
.
—malam harinya, seorang Yamanaka Ino sama sekali tidak bisa tidur.

Dalam benaknya terus terbayang-bayang bagaimana kejadian tadi siang berlangsung. Bagaikan gulungan pita video yang terus-menerus diputar ulang, ingatan akan peristiwa itu sama sekali tidak bisa disingkirkan dari otaknya—seolah-olah isi dari memori otaknya hanyalah itu saja.

Seharusnya ia tidak bersikap kasar kepada Sai tadi, seharusnya. Sai sebenarnya bermaksud baik dengan mengantarkan diktat sejarah seni ke kelasnya tadi—agar Ino bisa mengikuti mata kuliahnya tanpa kesulitan—hanya saja Ino tidak suka bagaimana cara pemuda itu meminta izin pada dosen yang mengajar kelas Ino bahwa ia mengantarkan buku untuk pacarnya.

Demi Leonardo Da Vinci, Ino sama sekali tidak pernah menyetujui untuk berpacaran dengan pemuda itu!

—bukan tidak pernah, tetapi belum.

Memang, selama ini belum ada pernyataan resmi yang keluar dari mulut Ino bahwa mereka berdua resmi mengikat hubungan, tetapi entah mengapa gadis itu sudah merasa terbiasa dengan adanya Sai di sisinya. Hanya saja, ia tak pernah biasa dengan Sai mengatakan di depan umum bahwa Ino adalah pacarnya—tentu saja karena ia memang bukan pacar Sai, tetapi tetap saja...

Gadis itu menutup wajahnya dengan bantal hati merahnya, mengerang putus asa atas kebodohannya.

Sejujurnya, ia masih bingung sendiri dengan semua ini. Dengan alasan mengapa Sai menyebutnya pacarnya. Dengan kenyataan di depannya. Dengan ekspektasinya akan pendampingnya di atas kertas bertahun-tahun yang lalu. Dengan... perasaannya yang terasa nyeri ketika Sai mengatakan bahwa ia tidak akan memaksa Ino untuk melanjutkan semua ini bila Ino merasa sungkan.

Kegalauan Ino kini mencapai tingkat maksimal.

Berguling-guling di atas tempat tidur tidak membuat segalanya menjadi lebih baik. Alih-alih terlepas dari rasa galau, kini Ino malah terperangkap dalam dimensi lain.

Dimensi yang dipenuhi kata ‘mengapa?’.

Mengapa Sai selalu menyatakan bahwa Ino adalah pacarnya?

Mengapa ekspektasinya tidak sesuai dengan eksistensi?

Dan... mengapa dirinya menyukai eksistensi itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar dalam benak Ino selama berjam-jam. Setiap sel tubuhnya berusaha menemukan jawaban yang pasti. Ia berpikir, berpikir, dan berpikir.

Pada akhirnya, ia menyerah.

Dibiarkannya akal sehatnya berhenti bekerja dan mulai membiarkan perasaannya yang menjawab. Sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab dengan logika. Pertanyaan yang berulang kali ia gaungkan di kepalanya adalah sesuatu yang seperti seni—jangan biarkan otak kirimu mendominasi, biarkan otak kananmu yang mengambil alih.

Ketika matanya terasa semakin berat, barulah ia mendapatkan jawaban dari segalanya.

Karena cinta. Itulah takdirnya.

Ia mulai mencintai Shimura Sai, secara tidak sengaja.

.
.
.
.
.
.

Kedua kakinya berderap dalam irama tak beraturan di koridor gedung rektorat, menimbulkan bunyi tap tap yang memenuhi udara. Berbelok setiap kali menemukan tikungan, mendaki setiap kali menemukan anak tangga.

Saat ini tujuannya hanya satu: mencapai ruang senat.

Yamanaka Ino sesekali mengusap peluh yang melekat di kulit wajah dan lehernya; berlari secepat ia bisa untuk mendaratkan dirinya pada destinasinya. Sebenarnya, ia tak perlu berlari-lari seandainya saja pertemuan dengan dosen walinya tadi tidak memakan waktu lama.

Saat ini kedua jarum kurus di sirkular arlojinya sudah menunjukkan waktu pukul empat sore. Warna oranye mulai mengudara, memancarkan gradasi jingga di sepanjang koridor yang dilewatinya. Langit masih cukup terang sehingga pihak universitas belum berinisiatif untuk menyalakan penerangan. Setidaknya, berkas-berkas temaram berwarna lembayung itu masih bisa digunakannya untuk pencahayaan yang menuntunnya menuju ruang senat—walaupun minim.

Beberapa meter lagi kedua tungkainya yang lelah akan menjejak di depan pintu ruang senat itu, hanya saja semakin lama langkah-langkahnya terasa semakin berat. Dan hanya beberapa kaki jauhnya dari tempat ia berhenti berlari, Ino benar-benar menghentikan langkahnya.

Keraguan mulai menjalar di hatinya, meresap pada setiap celah yang ada.

Apakah Sai masih berada di balik pintu itu? Dalam diam, benaknya bertanya-tanya akan sebuah pertanyaan yang hanya Sai dan Yang Di Atas yang mengetahui jawabannya. Seingatnya, pemuda itu bilang bahwa rapatnya akan dibatalkan dan tidak ada yang perlu datang ke ruangan itu.

Kecil sekali probabilitas Sai masih berada di ruangan itu, hanya saja kali ini Ino ingin bertaruh dengan takdirnya. Semalam, ia sudah membulatkan tekad untuk menyampaikan kepada Sai, apa adanya. Semuanya. Tak peduli pemuda itu mau mendengarnya atau tidak, ataupun ada pengganggu lain di sana.

...tapi entah mengapa tiba-tiba dirinya merasa ciut. Ino merasa dirinya begitu kecil—sekalipun hanya dibandingkan dengan koridor panjang yang mengarah ke ruang targetnya. Ketika kedua anggota gerak bawahnya mulai kembali melangkah ritmis, setiap langkahnya memicu jantungnya untuk semakin cepat berdetak.

Tidak ada lagi keragu-raguan, ia memberitahu dirinya sendiri. Kau harus jujur padanya, Ino. Harus. Kau harus meluruskan segala salah paham yang terjadi kemarin. Bila tidak, kau akan menyesal seumur hidupmu...

Dan kini dirinya berdiri di balik pintu kayu itu, berbataskan sekat rigit dengan isi ruangannya. Ragu-ragu Ino menyentuh tombol pintu ketika telinganya menangkap sebuah suara yang sudah familier baginya.

“...jadi sebenarnya, bahasan kita kali ini...”

Suara Sai—berani bertaruh sepuluh ribu yen soal itu. Kening Ino mengernyit bingung. Sedang apa Sai di dalam sana? Bukankah pemuda itu bilang bahwa rapatnya dibatalkan? Atau jangan-jangan... mereka mengadakan rapat tanpa dirinya?

Diintipnya bagian dalam ruang senat melalui jendela kecil di sisi pintu, mencari-cari kabinet senat baru yang duduk di sekeliling meja rapat yang diatur membentuk lingkaran. Namun, bukannya menemukan puluhan mahasiswa dari berbagai angkatan, ia malah menemukan sosok Sai yang sedang berdiri tegak di depan mejanya sendiri. Kening pemuda itu dipenuhi kerutan.

“Ada usulan?” pemuda itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, kemudian ia malah mengacak-acak rambutnya sendiri. “Bukan seperti itu seharusnya aku bertanya... ck.”

Sebelah alis Ino terangkat ketika menyadari apa yang sedang dilakukan oleh sang pemuda. Sai sedang melakukan simulasi rapat pleno... seorang diri.

Tanpa sadar Ino tersenyum melihatnya. Sai benar-benar berusaha menjadi ketua senat yang baik dan luwes, melatih dirinya dalam simulasi yang dilakukan seorang diri. Menjadi ketua bukanlah hal yang mudah, terutama bagi mereka yang sering terjebak dalam hambatan bersosialisasi. Sepanjang pengamatan Ino, Sai bukanlah tipe laki-laki yang gemar bergaul dengan mahasiswa lainnya. Orang yang sering bersama dengan Sai hanya teman-teman yang ikut berlomba dengannya, Tenten si mantan ketua senat, dan... dirinya.

“Ada usulan?” Sai mengatakannya dengan nada yang berbeda, oktaf yang dipakainya terdengar lebih tinggi daripada suara aslinya. Mungkin maksudnya untuk menciptakan efek yang merangsang anggota rapat menjadi lebih aktif untuk berpartisipasi, tetapi hal itu malah membuat Ino mengikik.

Diputuskannya untuk duduk di luar ruang senat dan mengamati kegiatan Sai di dalam sana. Ino membiarkan embusan angin memainkan helai-helai rambut pirangnya yang diikat setengah, membuat mereka menari-nari di sekitar lehernya. Dipejamkan olehnya kedua mata aqua itu, menghalangi warna jingga memapar indera penglihatannya.

Ganbatte, Sai,” bisiknya perlahan.
.
.
.
.
.
Ketika Yamanaka Ino membuka kedua matanya, sadarlah ia bahwa dirinya telah jatuh tertidur selama beberapa waktu. Tidak terlalu lama, bila menilik langit masih berwarna lembayung walau warna-warna ungu tua mulai membaur di antaranya.

Tersentak, dirinya menyadari bahwa seharusnya ia menunggui Sai, bukannya tertidur. Ketika ia nyaris menggunakan lengan kirinya untuk  menopang dirinya bangkit berdiri, Ino baru menyadari bahwa sebuah jaket hitam tersampir pada tubuhnya untuk dijadikan selimut—

—dan juga kepala Shimura Sai tengah bersandar pada bahunya dengan kedua mata terpejam.

Serta-merta rona merah segera menjalar di kedua pipi gadis itu, terlebih lagi mengingat bahwa jarak di antara keduanya begitu minim...

Berusaha keras memecah rasa gugup yang dirasakannya, Ino mengguncangkan tubuh Sai, membangunkan pemuda itu.

“Sai, bangun!” bisiknya sambil terus mengguncang-guncang pemuda itu selama beberapa saat sambil berharap Sai akan bangun secepat mungkin.

Namun respon pemuda itu hanyalah, “Emh...” dan ia hanya menggeser posisi kakinya sedikit. Sama sekali tidak membuka mata.

“Bangun!” Satu guncangan lagi.

“Nanti...”

Ino menyerah untuk membangunkan pemuda itu. Dibiarkannya kepala berselimut helai-helai rambut hitam itu bersandar di bahunya, meski perbuatan itu membuat jantungnya melonjak hingga nyaris keluar dari rongga dadanya.

Gadis itu menggunakan kesempatan langka yang terjadi padanya untuk benar-benar mengamati wajah Sai. Ditatapnya kedua kelopak mata Sai yang menyembunyikan dua bola mata beriris obskurit yang selalu menatapnya dengan tatapan hangat. Bibir yang selalu menyunggingkan lengkungan senyum manis. Helai-helai poni hitam pendek yang selalu tampak jauh dari atas alisnya. Dan kulit pucat yang entah mengapa begitu serasi dengan semua itu...

Entah apa yang mendorongnya untuk mendaratkan kecupan ringan pada kening Sai, dan ketika sadar, wajah Ino terasa lebih panas dari sebelumnya.

“Maaf atas sikap kasarku kemarin,” bisiknya pada sosok yang masih tertidur itu. “Bukan maksudku untuk mengatakan hal-hal seperti itu... hanya saja—kau tahu?—rasanya aneh mendengar kata ‘pacar’ kau katakan di depan umum padahal kita masih belum resmi menjajaki hubungan itu—”

Gadis itu berhenti sejenak dan menatap goresan lembayung yang semakin samar di atas kanvas langit.

“—dan ini juga aneh, pasti terdengar aneh, tapi... aku menyukai bagaimana kau menyebutku sebagai pacarmu.” Sejenak ia menggigit bibir bawahnya. “...aku menyukaimu, Sai.”

Kemudian Ino melirik ke arah Sai yang masih menutup mata, tertidur dengan damainya. “Terima kasih juga untuk nasihatmu...”

Kini Ino ikut bersandar pada kepala yang bertumpu pada bahunya, membiarkan mereka berdua terdiam di tengah-tengah sore hari. Membiarkan angin membawa perasaan keduanya bersama hari yang semakin meredup.

Sekalipun matahari terbenam, bola bercahaya itu akan kembali terbit keesokan harinya, terus berada dalam siklus yang kontinuitas—sama seperti cinta.

Sama seperti kebahagiaan yang dirasakan Sai saat ini, ketika berpura-pura tertidur dan mendengar semua pengakuan Ino.

Satu kalimat saja untuk menjabarkan definisi cinta: cinta itu kompleks.

.
.
.
.

Yamanaka Ino. 19 tahun. Mahasiswi Desain Komunikasi Visual di Suna University of Arts. Sanguinis. Kidal. Berkulit putih. Berambut sewarna jagung.

Cerewet. Korean-freak.

Tambahan: selalu berekspektasi—walaupun eksistensi di hadapannya berbeda jauh dari yang diharapkan.

Sedang belajar untuk mencintai sang eksistensi lebih dalam lagi.

.
.
.
.
.

Taburlah kebiasaan, maka kau akan menuai karakter
Taburlah karakter, maka kau akan menuai takdir
.
~Side story 1 – Accidentally in Love: END~


[1] Taichou = ketua
[2] Shitsureishimasu = permisi (bentuk formal)

Catatan penting: di UGUTR chapter 2, saya menuliskan Sakura melukis dengan tangan kiri (yang berarti Sakura kidal), dan di side story ini saya membuat Ino menjadi seorang kidal juga. Karena rasanya tidak mungkin secara kebetulan ada sepasang sahabat yang kidal, maka saya ralat; Sakura tidak kidal.
.
.
Deleted scene(s):
Entah karena kelilipan atau memang merasa kesal, sebutir kristal air mata bening meluncur turun dari sudut mata Ino, yang segera dihapusnya dengan punggung tangan kiri.

Gadis itu memutuskan untuk kembali ke kelas dan mengikuti kuliahnya. Ia sudah terlambat beberapa belas menit untuk kelas sejarah seni, dan ia sama sekali tidak mau melewatkan mata kuliah yang satu itu.

Ino akan melupakannya. Melupakan kejadian tadi. Melupakan Shimura Sai.

Bukankah akan menyenangkan bila besok pagi tidak ada yang mengekorinya lagi sampai ke kampus?

Ia berjanji untuk tidur nyenyak nanti malam.
.
.
Tadinya saya berencana untuk menulis adegan itu, tapi karena setelah dipikir-pikir lebih oke bila diputus di adegan air mata Ino, akhirnya saya cut dan pindahkan ke sini supaya readers bisa melihat ide awalnya ^___^
.
.
Nah, readers dan SiDers sekalian, boleh minta komentar akan chapter ini?

Me ke aloha,
mysticahime™
Bandung, 15122011, 20.45

[Side Story 1.1] Ugly Girl Under The Raindrops: Accidentally in Love


Suasana kelas yang riuh rendah langsung berubah sunyi ketika seorang wanita berpakaian formal masuk ke dalam ruangan itu. Beberapa anak yang sedang berada di luar area bangkunya bergegas kembali duduk—tidak ingin membuat sang guru marah.

Wanita berambut hitam ikal itu bertepuk tangan untuk meminta perhatian murid-muridnya.

“Anak-anak,” katanya dengan suara lembut namun tegas. “Hari ini kita tidak akan belajar seperti biasanya—” yang langsung disambut oleh seruan bahagia dari anak-anak berusia enam tahun itu. “—Hari ini kita akan mengisi kuisioner.”

Lembar-lembar HVS dibagikan ke seisi kelas—dioper dari meja paling depan ke meja paling belakang. Menit-menit selanjutnya diisi dengan bunyi gesekan pensil pada kertas putih, sesekali diiringi gumaman perlahan dari mulut-mulut mungil tersebut.

Seorang gadis cilik berambut pirang sebahu menggigiti ujung pensilnya, menatap kertasnya yang masih kosong—hanya  tertera kuisioner yang diberikan sang guru. Ia belum mengisi apa-apa pada permukaannya, masih termenung.

Bingung akan mengisi jawabannya membuat gadis cilik itu terdiam lama sekali. Bahkan ketika anak-anak lainnya telah mengumpulkan kertas itu, gadis pirang itu masih duduk diam dan berpikir. Hal itu tentu saja membuat gurunya heran.

“Ada apa?” tanya gurunya ramah.

Gadis kecil itu mendongak, “Aku tidak tahu mau menulis apa, Sensei.”

Wanita itu tersenyum mendengar jawaban anak didiknya. “Tulislah apa saja yang kau inginkan. Tidak perlu hal-hal rumit—yang sederhana saja.”

Ia kembali menggigit ujung pensilnya. Terdiam beberapa saat, kemudian ia menulis sesuatu.

Nama: Yamanaka Ino
Kelas: 1 – C
Umur: 6 tahun
Cita-cita: mempunyai suami yang baik dan sensitif

.
.
.
.


UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
The Side Story 1: Accidentally in Love
.
.
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Accidentally in Love © The Crows (borrowed for the title ;p)
.
.

mysticahime™
© 2011
.
.
.
Please take notes: SaiIno. Roman picisan kah?
.
.
.
ENJOY! :)
.
.
.

Karena cinta itu bisa dinikmati siapa saja seperti taiyaki dan lengket seperti natto

.
.
.
.
.

“Jang Geunsuk! Lee Hongki! Kyaaaaaa~!”

What. The. Hell.

Sakura mendongakkan kepalanya dari halaman majalah yang tengah ia baca, menatap aksi Yamanaka Ino ber-fangirling-ria di depan sebuah televisi plasma berukuran 32 inch yang menampilkan tayangan drama Korea. Gadis berambut pirang itu nyaris menempelkan wajahnya ke layar televisi ketika salah satu aktor Korea itu muncul secara close-up.

“Saku! Sakura!” ia memanggil-manggil Sakura—tetap tanpa melepaskan pandangannya dari sang aktor, “Lihat! Aaaaaa~”

Seandainya. Saja. Tadi. Ia. Tidak. Menerima. Ajakan. Ino...

Eww... Sakura buru-buru meraih bantalan sofa terdekat—berbahan beludru lembut warna merah tua—dan menenggelamkan wajahnya di sana, berusaha meredam suara-suara histeria Ino yang semakin menjadi-jadi.

What a day!


.
.
.
.
.
.

Yamanaka Ino. 19 tahun. Mahasiswi Desain Komunikasi Visual di Suna University of Arts. Sanguinis. Kidal. Berkulit putih. Berambut sewarna jagung.

Cerewet. Korean-freak.

Tambahan: sedang dalam diet rendah kalori sesi keenam.

.
.
.
.
.
.

Udara pagi di Tokyo amatlah kontras dengan saat-saat di siang hari—kau bisa menemukan langit yang biru dan lembab dengan aneka gumpalan awan bergelayut di tengah-tengahnya, dan kau bisa berjalan kaki tanpa takut kulitmu terbakar sinar matahari yang mengandung ultraviolet. Angin semilir meninggalkan jejak-jejak yang tak kasat mata, merayapi permukaan dermis dengan sensasi dinginnya.

Ia melangkahkan kaki ke dalam kerumunan manusia—berjalan beringingan dengan entitas-entitas yang telah siap memulai hari mereka.

Check point pertama: Ikebukuro eki.

Bukanlah salah siapa-siapa bila sahabatnya mengundang dirinya untuk datang ke pertandingan membuat poster di Konoha International University yang terletak di Shibuya—sungguh, ia sama sekali tidak keberatan sengaja bangun pagi demi mengejar kereta pukul 6.30.

—tetapi, kapankah mimpinya akan menjadi kenyataan?

Bukan salah siapa-siapa pula dirinya menjadi tipikal gadis yang menginginkan kisah cinta yang hangat dan manis—salahkan jutaan drama Korea yang rajin ia tonton setiap harinya—dan sering bermimpi akan sebuah ‘pertemuan’ dengan laki-laki setampan Jang Geun Suk; bertabrakan di stasiun kereta, misalnya.

Dan, oh, akan lebih baik lagi bila laki-laki itu 10000% orang Korea.

Perfect.

Ino sudah berdoa kira-kira sejuta kali demi kejadian seperti itu, tetapi doanya tidak terkabul. —tertunda, begitu ia biasa mengatakannya. Positive thinking, ada banyak orang yang mengharapkan doanya dikabulkan, sedangkan yang mengabulkannya tidak sebanyak yang mengharapkan. Bisa saja doa itu sedang mengantri di urutan kesemilyar, siapa yang tahu?

Orang-orang bilang: dreams come true—impian akan menjadi kenyataan.

Betul, suatu saat akan menjadi kenyataan, yang diperlukan hanyalah kesabaran.

—dan ketabahan bila realita yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi kita.

Terdengar bunyi dengung kencang saat rangkaian kereta bawah tanah memasuki Ikebukuro eki. Kedua aquamarine milik Ino mengerjap saat ia kembali ke kenyataan—pada pintu kereta yang terbuka secara otomatis dan langsung diserbu sekumpulan manusia.

Gadis itu ambil bagian dalam acara berdesak-desakkan tersebut, berusaha untuk mendapatkan tempat duduk di salah satu gerbang terdepan. Sialnya, ia tetap kebagian posisi untuk berdiri. Kursi terakhir diambil oleh seorang pemuda berambut hitam berwajah datar dengan kulit pucat.

Benar-benar tidak beruntung.

Dalam hati Ino menggerutu sebal. Cowok itu benar-benar tidak gentle, sama sekali tidak sensitif. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang sehat rela membiarkan seorang gadis berdiri di dalam kereta?

Karena sang pemuda sama sekali tidak menunjukkan reaksi, Ino memutuskan untuk mencari pegangan dan berdiri saja selama perjalanan. Waktu dihabiskan gadis itu dengan melihat-lihat penumpang yang berada di sekelilingnya.

Bosan, gadis itu memutuskan untuk memainkan ponselnya. Kedua ibu jarinya bergerak lincah di papan tombol, menari-nari sesuai dengan beat permainan yang ia tekuni.

“Saat ini, kita telah tiba di Shibuya eki. Perhatikan barang bawaan Anda sebelum turun dari kereta—” Sebuah pengumuman yang diulang terus-menerus di dalam kereta membuat Ino mendongak. Ternyata, kereta telah tiba di Shibuya, lebih cepat dari perkiraannya. Dimasukkannya ponsel lipat kesayangannya ke dalam tas dan ia melangkah turun dari kereta, berdesak-desakkan dengan puluhan orang yang tergesa-gesa menuju tempat tujuan mereka.

Jam masih menunjukkan pukul tujuh, cukup lama untuk kriteria menunggu, dan tentu saja, gadis berambut pirang itu tidak mau membuang waktunya dengan terlihat seperti orang bodoh. Berhubung ia tidak sempat menelan makanan apa pun, kini perutnya menjerit protes.

Siluet minimarket tertangkap oleh pandangannya. Bangunan mungil itu letaknya tak jauh dari posisinya berdiri saat ini. Ino memutuskan untuk melangkah ke sana, berniat membeli sesuatu untuk mengatasi rasa laparnya.

Sayangnya, takdir berkata lain.

Beberapa meter sebelum ia tiba di minimarket, beberapa orang pemuda mencegatnya. Tiga orang, dan kelihatannya mereka bukan tipe pemuda baik-baik.

“Halo, Non. Sendirian saja?” Salah satu di antara mereka menyapanya, tersenyum sok manis walau sebenarnya senyuman itu lebih mirip cengiran nakal.

“Dia memang sendirian, hei Zaku!” temannya menonjok pemuda yang pertama menyapa Ino dengan gerakan main-main. “Kau pikir dia berjalan dengan siapa?”

Ino memutuskan untuk mengacuhkan ketiga pemuda itu. Selain tidak penting, rasa lapar yang dialaminya sudah mencapai stadium tiga. Besar probabilitas penyakit maag-nya akan kambuh bila ia tidak makan dalam waktu dekatyeah, sekalipun ia tengah menjalani diet. Nah, jadi apa yang akan ia beli nanti? Pikirannya sudah melayang-layang.

Sialnya, ketiga pemuda itu tak mau menyerah. Salah satu dari mereka menangkap lengan kirinya—mencegahnya kabur dari hadapan mereka.

“Hei Non, kami sedang berbicara padamu. Tidak sopan bukan, mengacuhkan orang yang sedang berinteraksi denganmu?” Cengiran nakal, lagi. Ingin rasanya Ino menghajar mereka, tapi apa daya dirinya bukan karateka sabuk hitam.

“Maaf, tapi aku sedang tak ingin diganggu,” balasnya ketus. Ditepisnya tangan pemuda itu dari lengannya. Kini kedua mata safirnya menyorotkan sorot terganggu, sama sekali tidak disembunyikan dari sepasang manik itu.

“Jangan bersikap sok dingin seperti itu, kau membuatku tertawa.” Zaku merangkul gadis itu dengan santai. “Ayolah, temani kami sebentar saja daripada sendirian seperti itu. Hari masih pagi, kita bisa mengunjungi banyak tempat...”

Ino menggigit bibirnya.

Bagaimana ini? Mengapa tak ada yang datang menolongnya? Mengapa tidak ada seorang pun yang peduli?

Biasanya, di drama Korea yang ia tonton, di saat sang tokoh utama wanita berada dalam posisi terdesak, tokoh utama pria akan datang menolongnya seperti pahlawan yang di-summon khusus untuk melindungi tokoh utama wanita itu.

—tapi pada kenyataannya...?

Ketiga pemuda itu mulai menyeretnya. Ino berusaha berontak, namun tenaganya kalah kuat dengan ketiga pemuda itu.

“Kyaaaaaaaaaa...!” adalah senjata terakhir yang dikeluarkan gadis itu, berharap adegan drama favoritnya akan menjadi kenyataan. Atau minimal ada petugas keamanan yang datang menolongnya. Kalau tidak, habislah sudah.

Entah memang garis takdir sedikit memutar, atau memang inilah keberuntungan Ino; seseorang menarik tangannya dan mengamankan gadis itu di balik punggungnya.

Merasa terganggu, Zaku dan kedua kawannya segera mengelilingi orang yang baru saja menyelamatkan Ino—seorang pemuda, tetapi Ino tidak bisa melihat wajahnya karena orang itu memunggunginya. Kelihatannya, Zaku dan dua pemuda lainnya tidak berniat baik.

“Kau, jangan sok pahlawan!” geram salah satu teman Zaku yang berambut kuncir.

“Aku tidak sok pahlawan,” pemuda itu berkata dengan santainya. Ia melirik Ino yang berdiri di belakangnya. “Gadis ini pacarku.”

Baik Ino maupun ketiga pemuda itu melotot mendengar kata-kata sang pemuda, tapi Ino segera bisa menguasai diri. Mungkin pemuda ini bisa menolongnya. Kalau saja bukan karena ingin selamat, Ino ingin menjambak rambut hitam cepak pemuda itu.

Pacar? —yang benar saja.

Bukannya segera pergi menjauh, ketiga pemuda itu malah tertawa-tawa.

“Boleh saja gadis itu pacarmu,” Zaku menyeringai, “tapi ia punya janji duluan dengan kami. Kalau kau ingin merebutnya kembali... ayo maju!”

Pemuda itu malah mengangsurkan kantong kertas cokelat yang sedari tadi dipegangnya kepada Ino. “Pegang ini,” katanya, membuat kening gadis itu berkerut namun mau tak mau ia mengambil alih kantong kertas yang terasa hangat itu.

“Berani juga kau,” cibir si rambut kuncir dengan nada mengejek. “Pangeran yang menyelamatkan putrinya...”

“...Pangeran yang menyelamatkan putrinya dari tiga monster rongsokan bau,” tawa pemuda itu pelan. Ia tersenyum dan langsung menghantamkan kepalan tangannya pada salah satu teman Zaku yang dari tadi diam saja, tepat di ulu hati.

“Oi, menyebalkan sekali dia!”

Segera saja terjadi perkelahian antara keempat pemuda itu. Ino mengawasi keempatnya tanpa suara. Bukan apa-apa, sepertinya pemuda berambut hitam yang mengaku-aku pacarnay itu bisa mengatasi ketiga pemuda sialan itu dengan mudah. Buktinya setengah menit kemudian ketiganya melarikan diri dengan bekas-bekas berwarna biru di beberapa bagian tubuh mereka.

Gadis itu menghela napas.

Untung sekali kejadian tadi tidak memancing perhatian banyak orang.

“Kau tidak apa-apa?” Gadis itu menoleh, mendapati penolongnya terengah-engah sambil mendekatinya. Detik itu juga ia membeku.

Pemuda itu... pemuda berwajah datar yang mengambil tempat duduk terakhir di densha tadi!

Ino tidak jadi gembira.

“Ya, terima kasih,” diucapkannya dengan separo hati. Bagaimana tidak? Kesan pertama yang didapat dari pemuda itu di kereta adalah tidak gentle dan tidak sensitif—bukan tipe yang disukainya. Tapi di sisi lain, pemuda itulah yang menolongnya tadi. “Terima kasih. Kau sendiri tidak apa-apa?”

Pemuda itu tersenyum manis, “Tidak masalah. Mereka lawan yang mudah bagiku.”

Hening. Ino kehabisan topik pembicaraan—hal yang sangat jarang terjadi, mengingat gadis blonde yang satu ini merupakan tipe sanguinis.

“Ini,” disodorkannya kantong kertas hangat yang sedari tadi dipegangnya. Kantong itu milik pemuda bersenyum manis di hadapannya, tentu saja harus dikembalikan.

“Oh, ya.” Pemuda itu menyambut kantongnya, masih tersenyum. “Terima kasih.”

Hening lagi.

Kruyuuukkk...

Demi Jang Geun Suk, Ino malu sekali. Perutnya sama sekali tidak bisa berkompromi! Memang sih, semalam ia sama sekali tidak mengudap apa pun karena program diet tralala trilili itu, tapi... apakah perutnya harus berbunyi di depan seorang pemuda?—dengan senyum manis pula.

Sebelah alis pemuda itu terangkat. “Kau lapar?”

“Ung...” Rona merah menyebar di pipi Ino. Detik itu juga ia berharap agar tanah mengubur dirinya hidup-hidup.

“Makan ini.” Kantong kertas cokelat itu kembali ke tangan Ino yang hanya bisa melongo.

“Ha?”

“Makan saja,” ulang pemuda itu. “Isinya beberapa buah taiyaki—eh, mungkin kau tidak suka, ya?”

“Ha?” Ino masih melongo, tetapi kemudian cepat-cepat ia menyadarkan diri. “Tidak, tidak. Aku suka segala jenis makanan kecuali yang berhubungan dengan natto.” Yuck, not that fermentated soybean again...

“Oh ya?” senyum manis itu masih di sana. “Aku ada sedikit urusan beberapa jam ini, tetapi setelah jam sebelas, aku punya waktu luang. Makan saja taiyaki itu untuk mengganjal perutmu sebelum makan siang kita nanti.” Dan pemuda itu mengeluarkan pena dan secarik kertas. “Nanti hubungi aku di nomor ini bila kau siap untuk makan siang.”

Ha?—yang kali ini di dalam hati saja; gadis pirang itu menerima kertas yang diberikan oleh si pemuda dan menatapnya dengan bingung. Beberapa detik kemudian, baru ia berhasil mengeluarkan suara.

“Makan siang? Mengapa...?”

Lagi, pemuda itu tersenyum manis. “Karena kau kan ‘pacar’ku. Jadi aku akan mengajakmu makan siang. Sudah ya, aku duluan.”

Dan pemuda itu membalikkan tubuhnya, berjalan menjauh meninggalkan Ino yang masih berdiri mematung.

Gadis itu menatap punggung pemuda berambut hitam itu dengan manik safirnya tanpa berkedip, kemudian tatapannya beralih pada kantong kertas di tangannya. Sedikit mengintip, isinya taiyaki, dan kue berbentuk ikan itu terlihat sekali baru dibeli. Lewat ekor matanya Ino bisa melihat gerobak penjual taiyaki tak jauh dari tempatnya berada.

Hmmm, ternyata pemuda tadi sedang membeli taiyaki, makanya bisa cepat menolongnya.

Diambilnya salah satu dari kue tersebut dan ia mulai memakannya dari bagian kepala. Rasa cokelat meleleh dari bagian dalamnya, enak sekali.

Mirip adegan-adegan di drama Korea, saat sang tokoh utama wanita terpesona pada tokoh utama pria yang datang menolongnya, pikir Ino sambil menggigiti taiyaki-nya. Dan tiba-tiba ia tersadar akan sesuatu.

Duh! Aku lupa menanyakan siapa namanya...

.
.
.
.
.
.
.

Kafetaria Konoha International University adalah tempat Ino menunggu selama beberapa jam terakhir ini. Menunggu dengan perasaan keki, tentu saja. Haruno Sakura, temannya yang memintanya untuk datang dan mendukungnya selama lomba desain, sama sekali tidak tampak batang hidungnya. Menurut mail terakhir yang dikirim Sakura tadi pagi, si Pinky itu terlambat bangun dan berhasil masuk ke area lomba di menit terakhir.

Kesimpulan utamanya: tidak bisa menemui Ino sampai lomba selesai.

Untung saja kafetaria KIU menyediakan cappuccino yang berharga relatif murah, jadinya Ino tidak terlalu keberatan untuk menunggu teman cerewetnya itu. —dan menunggu “kencan” dari pemuda yang tadi pagi.

Heh, kencan? Sejak kapan Ino menyetujuinya?

Well, sebenarnya si pirang berniat untuk menceritakan kejadian tadi pagi dan menanyakan pendapat sahabatnya yang satu itu. Hanya saja... sepertinya sulit sekali menjangkau Sakura.

Semua kemelut pikiran Ino buyar begitu saja ketika sejumlah besar orang menyeruak masuk ke dalam spasi ruang kafetaria. Rata-rata penampilan mereka identik—tercoreng cat berwarna-warni di beberapa bagian tubuh. Asumsi gadis pirang tersebut, rombongan yang memasuki kafetaria adalah peserta lomba desain yang baru saja selesai menunaikan master piece-nya.

sruutt...?

He? Ino menatap minumannya yang telah tandas tak bersisa. Ia masih merasa haus, padahal. Diputuskannya untuk membeli satu lagi cappuccino, ia berniat mengantri di barisan yang mulai memanjang.

Dan matanya menangkap sesuatu.

“Eh, lho?” Tanpa sadar Ino melengkingkan suara dengan volume terlalu keras. Pemuda itu juga tampak terkejut ketika mata mereka bertemu. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“Lomba,” jawabnya, jempolnya mengarah ke belakang, seolah menunjuk pada tempat lomba. “Bagaimana denganmu?”

Ino meringis kecut ketika pemuda itu mendahuluinya dalam mengambil tempat di barisan yang mengurut ke arah counter. Sial, dia memang tidak gentle. “Aku menunggu temanku yang berlomba. Sebenarnya sih, aku datang untuk mendukungnya, tetapi kami sama sekali tidak bertemu. Katanya dia hampir terlambat datang, dan aku juga tidak tahu tempatnya—”

“Keberuntunganmu sepertinya tipis, ya,” komentar pemuda itu—Ino tak bisa melihat ekspresinya karena si rambut hitam itu memunggunginya, tetapi berani bertaruh pemuda itu tersenyum manis, salah, senyum mengejek. “Tadi pagi juga, kau diganggu oleh sekelompok pemuda nakal...”

“...Dan juga bertemu denganmu,” balas Ino sarkastis. “Benar-benar sial.”

Pemuda itu berbalik, senyum di wajahnya hilang. “Apa maksudmu?”

Ino membuang muka. “Bukan apa-apa.”

Antrian itu bergerak maju dan keduanya terlarut dalam keheningan.

Benak Ino terus menggerutu sebal. Cowok ini benar-benar tidak peka! Sudah begitu, sama sekali tidak gentle. Mengantri tanpa mempersilakan seorang gadis lebih dahulu?—kesampingkan senyuman manisnya; tata kramanya nol besar.

Eh, tidak. Perbuatannya tadi pagi begitu fantastis.

Hingga akhirnya berhadapan dengan petugas yang melayani pembelian cappuccino, Ino masih bergelut dengan alam bawah sadarnya. Satu sisi dirinya penasaran, sisi lainnya kesal.

“Soal makan siang yang tadi,”—Ino mendongak dari gelas plastiknya dan mendapati pemuda itu berdiri di hadapannya sambil membawa hanger yang menggantung tiga gelas minuman berbeda jenis—“aku akan menraktirmu.”

...lho?

“Mengapa?” adalah satu-satunya kata yang berhasil keluar dari tenggorokannya tanpa sempat dipikir. Kedua matanya mengerjap bingung selama beberapa detik.

“Karena kau pacarku.” Jawabannya singkat dan jelas.

Pemilik mata safir itu mengangguk. Karena dia pacarnya—HE?

“Pacar?” oke, sekarang ia mengucapkan kata itu dengan nada di oktaf lima.

Pemuda itu tersenyum sebentar dan berbalik. “Sebentar, aku akan memberikan minuman ini pada teman-temanku, lalu aku akan menemanimu lagi—ah, tidak, kita akan pergi makan siang setelah pengumuman lomba.”

Dan ia berlalu, sementara Ino masih mencerna kata-kata pemuda itu.

Pacar? Pa-car? Hmm, pacar...? Pa—PACAR?

Apa maksudnya dengan mengatakan bahwa Ino adalah pacarnya? Sejak kapan mereka berpacaran?

...perlu bicara dengan Sakura. SAAT INI.

Tepat saat itu, pupil Ino menangkap sosok berambut merah muda di antara kerumunan padat entitas yang menjejali kafetaria KIU. Sakura tampak sedang bersama dengan dua orang—mungkin rekan lombanya tadi; keduanya memunggungi Ino, memblokir area pandangnya. Tapi, baru saja Ino hendak menghampiri Sakura, gadis itu sudah keburu pergi ke arah lain.

Ngek.

Kedua orang yang tadi bersama Sakura membalikkan tubuhnya.

—itu kan pemuda yang tadi pagi! Yang tadi mengantri di depannya dengan oh-so-not-gentle-nya!

...yang bilang bahwa Ino adalah pacarnya!

Harus. SMS. Sakura. Sekarang.

.
.
.
.
.
.

To: Forehead
Forehead! Teman satu kelompokmu itu... siapa namanya?

Drrtt... drrttt...

From: Forehead
Hah? Yang mana?

To: Forehead
Yang kulitnya pucat itu lhoooo~

Drrttt... drrttt...

From: Forehead
Oh, itu Shimura Sai. Masa kau tidak tahu? Kan kau yang menyebutkan namanya waktu itu! =___=

Hah? Ino mengerutkan keningnya. Pernah, ya, ia menyebutkan nama pemuda itu? Shimura Sai...? Rasanya agak asing.

To: Forehead
Emang pernah, ya?

Drrttt... drrttt...

From: Forehead
Dulu, sih. Waktu di rektorat.

...he?

Duh, rasanya Ino semakin pusing saja...

.
.
.
.
.
.

Ketika bentangan langit malam telah berganti dengan tabir biru berhiaskan kemelut awan putih, sang gadis berambut pirang belumlah berniat membuka kedua matanya. Bukannya disengaja, namun gadis itu baru berhasil terlelap ketika fajar hampir menyingsing.

Semalaman suntuk, benaknya tak henti-hentinya memikirkan cowok bermuka pucat—Shimura Sai—yang berulang kali mengatakan bahwa kini Ino adalah pacarnya.

Bingung?

Ya.

Kaget?

Ya.

Kesal?

Sangat!

Entah apa alasan si Sai-Sai itu terus-menerus mengatakan bahwa Ino adalah pacarnya—mari kita hitung: dua kali saat peristiwa 'penyelamatan' di depan stasiun, satu kali di kafetaria KIU tadi.

—dan itu membuat Ino langsung meninggalkan kafetaria.

Tanpa memedulikan bahwa sebenarnya ia mempunyai janji makan siang dengan si Muka Pucat.

Tanpa memedulikan bahwa seharusnya ia memberikan dukungan pada Sakura.

.
.
.
.
.
.

Triiiinnnggg...

Ponsel yang selalu berfungsi ganda sebagai alarm itu kini berdering nyaring tepat di telinga seorang gadis berambut pirang panjang. Beberapa detik kemudian sebelah tangannya menggapai-gapai ke sisi bantal—tempat dimana dengan bodohnya ia meletakkan ponselnya semalam. Setelah menemukan benda mungil tersebut, gadis itu memaksa tubuhnya untuk terduduk di atas kasur—tidak ada perasaan bahagia sama sekali.

Kedua mata aqua-nya memaksakan diri untuk terfokus pada layar ponselnya—selain untuk mematikan sumber bunyi berisik itu, juga untuk mengecek hari dan jam.

Hari Senin, jam enam lewat dua menit.

Astaga, betapa cepatnya hari Minggu berlalu!—batinnya mengeluh.

Tentu saja hari telah beranjak menuju hari Senin, mengingat Ino menghabiskan hari libur spesialnya dengan terus teronggok di kasur sampai sore hari.

Setelah meletakkan ponselnya di tempat semula, kedua tangan gadis itu bergegas memijit-mijit pelipisnya—maksudnya untuk mengumpulkan kesadaran dan kembali mengingat apa saja yang harus dilakukannya hari ini.

Kuliah pagi: komposisi warna. Kerja kelompok untuk mata kuliah Pengelolaan Media Lukis. Rapat senat.

Mendadak Ino rasanya ingin kembali bergelung di bawah selimutnya.

.
.
.
.
.
.

Kalau saja ia tidak ingat bahwa salah satu cita-citanya adalah menjadi penguasa kampus, maka ia tidak akan memasuki ruangan ini; setidaknya tidak saat ia sedang mengalami kelelahan kronis.

Dan tidak perlu pula bertemu dengan Shimura Sai.

"Maaf saya terlambat," gumam Ino pelan sambil menunduk saat memasuki ruangan. "Kerja kelompok saya ternyata memakan waktu lebih lama dari yang sama duga."

Semua yang ada di sana mengangguk maklum—seolah mengerti kesibukan mahasiswa tingkat satu. Ino cepat-cepat mengambil tempat duduk di depan, berniat untuk terkesan antusias dengan rapat senat perdana yang didatanginya.

Tenten—sang ketua senat—menatap Ino. "Sayang sekali, Yamanaka-san, kami baru saja sepakat memilih seseorang untuk menjadi ketua senat periode ini."

Hening.

Dalam hatinya, Ino sudah membentur-benturkan dirinya ke tembok, menyesali nasib buruknya. Satu-satunya alasan ia rela datang ke rapat senat kali ini—meskipun lelah jiwa raga—itu karena hari ini adalah pemilihan ketua senat beserta kabinetnya secara internal.

—kalau ketuanya saja sudah terpilih, sudah dapat dipastikan bahwa kabinetnya sudah terisi penuh.

Dan musnahlah semua impian Ino.

"Begitu?" Ia sendiri merasakan bahwa suaranya sedikit bergetar.

Anggukan Tenten membuatnya semakin lemas. Dalam hati Ino merutuki dirinya yang begitu sial. Sudah sengaja datang rapat dengan tubuh nyaris rontok, kini... gagal mendapatkan posisi di kabinet?

Oh my barking dog.

“Ya,” jawab Tenten dengan wajah serius. “Hanya saja, ada suatu hal yang ganjil dalam kata-kata ketua kita yang baru.”

Kening Ino mengernyit. Ah, ya, ketua baru memang biasa menyampaikan sepatah-dua patah kata pada kabinet barunya—entah apa itu, mungkin semacam persuasi agar mereka semua dapat menjadi kolega yang baik. “Dia bilang apa?”

“Katanya,” Tenten memutuskan untuk menghampiri Ino dan menepuk bahunya, “kau harus menjadi wakil ketuanya, baru ia mau menjadi ketua senat.”

Hah?

Karnaval meriah dilatari ledakan ratusan kembang api seolah-olah berada di sekeliling Ino—tentu saja hanya bayangannya dalam hati. Serius? Ini serius?

Dia? Wakil ketua senat?

Wakil ketua?—yeaaaayyyy~!

Ditekannya antusiasme berlebihan itu dan menoleh pada Tenten. “Benarkah?” tanyanya malu-malu tapi mau. “Lalu, siapa ketua yang memintaku jadi wakil ketuanya?”

“Dia.” Telunjuk Tenten mengarah ke satu fokus, diikuti oleh iris aquamarine milik Ino.

Senyum manis itu—

“Halo, kau melewatkan makan siang kita kemarin.”

Wajah pucat itu—

—jangnan iji?*

Rasanya lutut Ino menjadi sangat lemas; bukan dalam konteks romantis, tentu saja.

Si cowok tidak gentle!

.
.
.
.
.
.
tbc

Jangnan iji = bercanda, kan?

Me ke aloha
mysticahime™
Bandung, 14 November 2011, 00.46 a.m
Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems