Suasana kelas yang riuh rendah langsung
berubah sunyi ketika seorang wanita berpakaian formal masuk ke dalam ruangan
itu. Beberapa anak yang sedang berada di luar area bangkunya bergegas kembali
duduk—tidak ingin membuat sang guru marah.
Wanita berambut hitam ikal itu bertepuk
tangan untuk meminta perhatian murid-muridnya.
“Anak-anak,” katanya dengan suara lembut
namun tegas. “Hari ini kita tidak akan belajar seperti biasanya—” yang langsung
disambut oleh seruan bahagia dari anak-anak berusia enam tahun itu. “—Hari ini
kita akan mengisi kuisioner.”
Lembar-lembar HVS dibagikan ke seisi
kelas—dioper dari meja paling depan ke meja paling belakang. Menit-menit
selanjutnya diisi dengan bunyi gesekan pensil pada kertas putih, sesekali
diiringi gumaman perlahan dari mulut-mulut mungil tersebut.
Seorang gadis cilik berambut pirang
sebahu menggigiti ujung pensilnya, menatap kertasnya yang masih
kosong—hanya tertera kuisioner yang
diberikan sang guru. Ia belum mengisi apa-apa pada permukaannya, masih termenung.
Bingung akan mengisi jawabannya membuat
gadis cilik itu terdiam lama sekali. Bahkan ketika anak-anak lainnya telah
mengumpulkan kertas itu, gadis pirang itu masih duduk diam dan berpikir. Hal
itu tentu saja membuat gurunya heran.
“Ada apa?” tanya gurunya ramah.
Gadis kecil itu mendongak, “Aku tidak
tahu mau menulis apa, Sensei.”
Wanita itu tersenyum mendengar jawaban
anak didiknya. “Tulislah apa saja yang kau inginkan. Tidak perlu hal-hal
rumit—yang sederhana saja.”
Ia kembali menggigit ujung pensilnya.
Terdiam beberapa saat, kemudian ia menulis sesuatu.
Nama: Yamanaka Ino
Kelas: 1 – C
Umur: 6 tahun
Cita-cita: mempunyai suami yang baik dan sensitif
.
.
.
.
UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
The Side Story 1: Accidentally in Love
.
.
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Accidentally in Love © The Crows (borrowed for the title
;p)
.
.
mysticahime™
© 2011
.
.
.
Please take notes: SaiIno. Roman picisan kah?
.
.
.
ENJOY! :)
.
.
.
Karena cinta itu bisa dinikmati siapa
saja seperti taiyaki dan lengket seperti natto
.
.
.
.
.
“Jang Geunsuk! Lee Hongki! Kyaaaaaa~!”
What. The. Hell.
Sakura mendongakkan kepalanya dari
halaman majalah yang tengah ia baca, menatap aksi Yamanaka Ino ber-fangirling-ria di depan sebuah televisi
plasma berukuran 32 inch yang
menampilkan tayangan drama Korea. Gadis berambut pirang itu nyaris menempelkan
wajahnya ke layar televisi ketika salah satu aktor Korea itu muncul secara close-up.
“Saku! Sakura!” ia memanggil-manggil
Sakura—tetap tanpa melepaskan pandangannya dari sang aktor, “Lihat! Aaaaaa~”
Seandainya. Saja. Tadi. Ia. Tidak.
Menerima. Ajakan. Ino...
Eww... Sakura buru-buru meraih bantalan sofa terdekat—berbahan
beludru lembut warna merah tua—dan menenggelamkan wajahnya di sana, berusaha
meredam suara-suara histeria Ino yang semakin menjadi-jadi.
What
a day!
.
.
.
.
.
.
Yamanaka Ino. 19 tahun. Mahasiswi Desain Komunikasi Visual di
Suna University of Arts. Sanguinis. Kidal. Berkulit putih. Berambut sewarna
jagung.
Cerewet. Korean-freak.
Tambahan: sedang dalam diet rendah kalori sesi keenam.
.
.
.
.
.
.
Udara pagi di Tokyo amatlah kontras dengan saat-saat di siang
hari—kau bisa menemukan langit yang biru dan lembab dengan aneka gumpalan awan
bergelayut di tengah-tengahnya, dan kau bisa berjalan kaki tanpa takut kulitmu
terbakar sinar matahari yang mengandung ultraviolet. Angin semilir meninggalkan
jejak-jejak yang tak kasat mata, merayapi permukaan dermis dengan sensasi
dinginnya.
Ia melangkahkan kaki ke dalam kerumunan manusia—berjalan
beringingan dengan entitas-entitas yang telah siap memulai hari mereka.
Check
point pertama: Ikebukuro eki.
Bukanlah salah siapa-siapa bila sahabatnya mengundang dirinya
untuk datang ke pertandingan membuat poster di Konoha International University
yang terletak di Shibuya—sungguh,
ia sama sekali tidak keberatan sengaja bangun pagi demi mengejar kereta pukul
6.30.
—tetapi, kapankah mimpinya akan menjadi kenyataan?
Bukan salah siapa-siapa pula dirinya menjadi tipikal gadis
yang menginginkan kisah cinta yang hangat dan manis—salahkan jutaan drama Korea
yang rajin ia tonton setiap harinya—dan sering bermimpi akan sebuah ‘pertemuan’
dengan laki-laki setampan Jang Geun Suk; bertabrakan di stasiun kereta,
misalnya.
Dan, oh, akan lebih
baik lagi bila laki-laki itu 10000% orang Korea.
Perfect.
Ino sudah berdoa kira-kira sejuta kali demi kejadian seperti
itu, tetapi doanya tidak terkabul. —tertunda, begitu ia biasa mengatakannya.
Positive thinking, ada banyak orang yang mengharapkan doanya dikabulkan, sedangkan
yang mengabulkannya tidak sebanyak yang mengharapkan. Bisa saja doa itu sedang
mengantri di urutan kesemilyar, siapa yang tahu?
Orang-orang bilang: dreams come true—impian akan menjadi kenyataan.
Betul, suatu saat akan menjadi
kenyataan, yang diperlukan hanyalah kesabaran.
—dan ketabahan bila realita yang terjadi
tidak sesuai dengan ekspektasi kita.
Terdengar bunyi dengung kencang saat
rangkaian kereta bawah tanah memasuki Ikebukuro eki. Kedua aquamarine
milik Ino mengerjap saat ia kembali ke kenyataan—pada pintu kereta yang terbuka
secara otomatis dan langsung diserbu sekumpulan manusia.
Gadis itu ambil bagian dalam acara
berdesak-desakkan tersebut, berusaha untuk mendapatkan tempat duduk di salah
satu gerbang terdepan. Sialnya, ia tetap kebagian posisi untuk berdiri. Kursi
terakhir diambil oleh seorang pemuda berambut hitam berwajah datar dengan kulit
pucat.
Benar-benar tidak beruntung.
Dalam hati Ino menggerutu sebal. Cowok
itu benar-benar tidak gentle, sama
sekali tidak sensitif. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang sehat rela membiarkan seorang gadis berdiri di dalam kereta?
Karena sang pemuda sama sekali tidak
menunjukkan reaksi, Ino memutuskan untuk mencari pegangan dan berdiri saja
selama perjalanan. Waktu dihabiskan gadis itu dengan melihat-lihat penumpang
yang berada di sekelilingnya.
Bosan, gadis itu memutuskan untuk
memainkan ponselnya. Kedua ibu jarinya bergerak lincah di papan tombol,
menari-nari sesuai dengan beat
permainan yang ia tekuni.
“Saat ini, kita telah tiba di Shibuya eki. Perhatikan
barang bawaan Anda sebelum turun dari kereta—” Sebuah pengumuman yang
diulang terus-menerus di dalam kereta membuat Ino mendongak. Ternyata, kereta
telah tiba di Shibuya, lebih cepat dari perkiraannya. Dimasukkannya ponsel
lipat kesayangannya ke dalam tas dan ia melangkah turun dari kereta,
berdesak-desakkan dengan puluhan orang yang tergesa-gesa menuju tempat tujuan
mereka.
Jam masih menunjukkan pukul tujuh, cukup
lama untuk kriteria menunggu, dan tentu saja, gadis berambut pirang itu tidak
mau membuang waktunya dengan terlihat seperti orang bodoh. Berhubung ia tidak
sempat menelan makanan apa pun, kini perutnya menjerit protes.
Siluet minimarket tertangkap oleh
pandangannya. Bangunan mungil itu letaknya tak jauh dari posisinya berdiri saat
ini. Ino memutuskan untuk melangkah ke sana, berniat membeli sesuatu untuk
mengatasi rasa laparnya.
Sayangnya, takdir berkata lain.
Beberapa meter sebelum ia tiba di
minimarket, beberapa orang pemuda mencegatnya. Tiga orang, dan kelihatannya
mereka bukan tipe pemuda baik-baik.
“Halo, Non. Sendirian saja?” Salah satu
di antara mereka menyapanya, tersenyum sok manis walau sebenarnya senyuman itu
lebih mirip cengiran nakal.
“Dia memang sendirian, hei Zaku!”
temannya menonjok pemuda yang pertama menyapa Ino dengan gerakan main-main.
“Kau pikir dia berjalan dengan siapa?”
Ino memutuskan untuk mengacuhkan ketiga
pemuda itu. Selain tidak penting, rasa lapar yang dialaminya sudah mencapai
stadium tiga. Besar probabilitas penyakit maag-nya
akan kambuh bila ia tidak makan dalam waktu dekat—yeah, sekalipun ia tengah menjalani diet. Nah, jadi apa yang akan ia beli nanti? Pikirannya sudah
melayang-layang.
Sialnya, ketiga pemuda itu tak mau
menyerah. Salah satu dari mereka menangkap lengan kirinya—mencegahnya kabur
dari hadapan mereka.
“Hei Non, kami sedang berbicara padamu.
Tidak sopan bukan, mengacuhkan orang yang sedang berinteraksi denganmu?”
Cengiran nakal, lagi. Ingin rasanya Ino menghajar mereka, tapi apa daya dirinya
bukan karateka sabuk hitam.
“Maaf, tapi aku sedang tak ingin
diganggu,” balasnya ketus. Ditepisnya tangan pemuda itu dari lengannya. Kini
kedua mata safirnya menyorotkan sorot terganggu, sama sekali tidak
disembunyikan dari sepasang manik itu.
“Jangan bersikap sok dingin seperti itu,
kau membuatku tertawa.” Zaku merangkul gadis itu dengan santai. “Ayolah, temani
kami sebentar saja daripada sendirian seperti itu. Hari masih pagi, kita bisa
mengunjungi banyak tempat...”
Ino menggigit bibirnya.
Bagaimana ini? Mengapa tak ada yang
datang menolongnya? Mengapa tidak ada seorang pun yang peduli?
Biasanya, di drama Korea yang ia tonton,
di saat sang tokoh utama wanita berada dalam posisi terdesak, tokoh utama pria
akan datang menolongnya seperti pahlawan yang di-summon khusus untuk melindungi tokoh utama wanita itu.
—tapi pada kenyataannya...?
Ketiga pemuda itu mulai menyeretnya. Ino
berusaha berontak, namun tenaganya kalah kuat dengan ketiga pemuda itu.
“Kyaaaaaaaaaa...!” adalah senjata
terakhir yang dikeluarkan gadis itu, berharap adegan drama favoritnya akan
menjadi kenyataan. Atau minimal ada petugas keamanan yang datang menolongnya.
Kalau tidak, habislah sudah.
Entah memang garis takdir sedikit
memutar, atau memang inilah keberuntungan Ino; seseorang menarik tangannya dan
mengamankan gadis itu di balik punggungnya.
Merasa terganggu, Zaku dan kedua
kawannya segera mengelilingi orang yang baru saja menyelamatkan Ino—seorang
pemuda, tetapi Ino tidak bisa melihat wajahnya karena orang itu memunggunginya.
Kelihatannya, Zaku dan dua pemuda lainnya tidak berniat baik.
“Kau, jangan sok pahlawan!” geram salah
satu teman Zaku yang berambut kuncir.
“Aku tidak sok pahlawan,” pemuda itu
berkata dengan santainya. Ia melirik Ino yang berdiri di belakangnya. “Gadis
ini pacarku.”
Baik Ino maupun ketiga pemuda itu
melotot mendengar kata-kata sang pemuda, tapi Ino segera bisa menguasai diri.
Mungkin pemuda ini bisa menolongnya. Kalau saja bukan karena ingin selamat, Ino
ingin menjambak rambut hitam cepak pemuda itu.
Pacar? —yang benar saja.
Bukannya segera pergi menjauh, ketiga
pemuda itu malah tertawa-tawa.
“Boleh saja gadis itu pacarmu,” Zaku
menyeringai, “tapi ia punya janji duluan dengan kami. Kalau kau ingin
merebutnya kembali... ayo maju!”
Pemuda itu malah mengangsurkan kantong
kertas cokelat yang sedari tadi dipegangnya kepada Ino. “Pegang ini,” katanya,
membuat kening gadis itu berkerut namun mau tak mau ia mengambil alih kantong
kertas yang terasa hangat itu.
“Berani juga kau,” cibir si rambut
kuncir dengan nada mengejek. “Pangeran yang menyelamatkan putrinya...”
“...Pangeran yang menyelamatkan putrinya
dari tiga monster rongsokan bau,” tawa pemuda itu pelan. Ia tersenyum dan
langsung menghantamkan kepalan tangannya pada salah satu teman Zaku yang dari
tadi diam saja, tepat di ulu hati.
“Oi, menyebalkan sekali dia!”
Segera saja terjadi perkelahian antara
keempat pemuda itu. Ino mengawasi keempatnya tanpa suara. Bukan apa-apa, sepertinya
pemuda berambut hitam yang mengaku-aku pacarnay itu bisa mengatasi ketiga
pemuda sialan itu dengan mudah. Buktinya setengah menit kemudian ketiganya
melarikan diri dengan bekas-bekas berwarna biru di beberapa bagian tubuh
mereka.
Gadis itu menghela napas.
Untung sekali kejadian tadi tidak
memancing perhatian banyak orang.
“Kau tidak apa-apa?” Gadis itu menoleh,
mendapati penolongnya terengah-engah sambil mendekatinya. Detik itu juga ia
membeku.
Pemuda itu... pemuda berwajah datar yang
mengambil tempat duduk terakhir di densha
tadi!
Ino tidak jadi gembira.
“Ya, terima kasih,” diucapkannya dengan
separo hati. Bagaimana tidak? Kesan pertama yang didapat dari pemuda itu di
kereta adalah tidak gentle dan tidak
sensitif—bukan tipe yang disukainya. Tapi di sisi lain, pemuda itulah yang
menolongnya tadi. “Terima kasih. Kau sendiri tidak apa-apa?”
Pemuda itu tersenyum manis, “Tidak
masalah. Mereka lawan yang mudah bagiku.”
Hening. Ino kehabisan topik pembicaraan—hal
yang sangat jarang terjadi, mengingat gadis blonde
yang satu ini merupakan tipe sanguinis.
“Ini,” disodorkannya kantong kertas
hangat yang sedari tadi dipegangnya. Kantong itu milik pemuda bersenyum manis
di hadapannya, tentu saja harus dikembalikan.
“Oh, ya.” Pemuda itu menyambut
kantongnya, masih tersenyum. “Terima kasih.”
Hening lagi.
Kruyuuukkk...
Demi Jang Geun Suk, Ino malu sekali. Perutnya sama sekali tidak bisa
berkompromi! Memang sih, semalam ia sama sekali tidak mengudap apa pun karena
program diet tralala trilili itu, tapi... apakah perutnya harus berbunyi di
depan seorang pemuda?—dengan senyum manis pula.
Sebelah alis pemuda itu terangkat. “Kau
lapar?”
“Ung...” Rona merah menyebar di pipi
Ino. Detik itu juga ia berharap agar tanah mengubur dirinya hidup-hidup.
“Makan ini.” Kantong kertas cokelat itu
kembali ke tangan Ino yang hanya bisa melongo.
“Ha?”
“Makan saja,” ulang pemuda itu. “Isinya
beberapa buah taiyaki—eh, mungkin kau
tidak suka, ya?”
“Ha?” Ino masih melongo, tetapi kemudian
cepat-cepat ia menyadarkan diri. “Tidak, tidak. Aku suka segala jenis makanan
kecuali yang berhubungan dengan natto.”
Yuck, not that fermentated soybean again...
“Oh ya?” senyum manis itu masih di sana.
“Aku ada sedikit urusan beberapa jam ini, tetapi setelah jam sebelas, aku punya
waktu luang. Makan saja taiyaki itu
untuk mengganjal perutmu sebelum makan siang kita nanti.” Dan pemuda itu
mengeluarkan pena dan secarik kertas. “Nanti hubungi aku di nomor ini bila kau
siap untuk makan siang.”
Ha?—yang kali ini di dalam hati saja;
gadis pirang itu menerima kertas yang diberikan oleh si pemuda dan menatapnya
dengan bingung. Beberapa detik kemudian, baru ia berhasil mengeluarkan suara.
“Makan siang? Mengapa...?”
Lagi, pemuda itu tersenyum manis.
“Karena kau kan ‘pacar’ku. Jadi aku akan mengajakmu makan siang. Sudah ya, aku
duluan.”
Dan pemuda itu membalikkan tubuhnya,
berjalan menjauh meninggalkan Ino yang masih berdiri mematung.
Gadis itu menatap punggung pemuda
berambut hitam itu dengan manik safirnya tanpa berkedip, kemudian tatapannya
beralih pada kantong kertas di tangannya. Sedikit mengintip, isinya taiyaki, dan kue berbentuk ikan itu
terlihat sekali baru dibeli. Lewat ekor matanya Ino bisa melihat gerobak
penjual taiyaki tak jauh dari
tempatnya berada.
Hmmm, ternyata pemuda tadi sedang
membeli taiyaki, makanya bisa cepat
menolongnya.
Diambilnya salah satu dari kue tersebut
dan ia mulai memakannya dari bagian kepala. Rasa cokelat meleleh dari bagian
dalamnya, enak sekali.
Mirip adegan-adegan di drama Korea, saat sang tokoh utama
wanita terpesona pada tokoh utama pria yang datang menolongnya, pikir Ino sambil menggigiti taiyaki-nya. Dan tiba-tiba ia tersadar akan sesuatu.
Duh! Aku lupa menanyakan siapa namanya...
.
.
.
.
.
.
.
Kafetaria Konoha International
University adalah tempat Ino menunggu selama beberapa jam terakhir ini.
Menunggu dengan perasaan keki, tentu saja. Haruno Sakura, temannya yang
memintanya untuk datang dan mendukungnya selama lomba desain, sama sekali tidak
tampak batang hidungnya. Menurut mail
terakhir yang dikirim Sakura tadi pagi, si Pinky itu terlambat bangun dan
berhasil masuk ke area lomba di menit terakhir.
Kesimpulan utamanya: tidak bisa menemui
Ino sampai lomba selesai.
Untung saja kafetaria KIU menyediakan cappuccino yang berharga relatif murah, jadinya Ino tidak terlalu
keberatan untuk menunggu teman cerewetnya itu. —dan menunggu “kencan” dari
pemuda yang tadi pagi.
Heh, kencan? Sejak kapan Ino
menyetujuinya?
Well, sebenarnya si
pirang berniat untuk menceritakan kejadian tadi pagi dan menanyakan pendapat
sahabatnya yang satu itu. Hanya saja... sepertinya sulit sekali menjangkau
Sakura.
Semua kemelut pikiran Ino buyar begitu
saja ketika sejumlah besar orang menyeruak masuk ke dalam spasi ruang
kafetaria. Rata-rata penampilan mereka identik—tercoreng cat berwarna-warni di
beberapa bagian tubuh. Asumsi gadis pirang tersebut, rombongan yang memasuki
kafetaria adalah peserta lomba desain yang baru saja selesai menunaikan master piece-nya.
—sruutt...?
He? Ino menatap minumannya yang telah
tandas tak bersisa. Ia masih merasa haus, padahal. Diputuskannya untuk membeli
satu lagi cappuccino, ia berniat
mengantri di barisan yang mulai memanjang.
Dan matanya menangkap sesuatu.
“Eh, lho?” Tanpa
sadar Ino melengkingkan suara dengan volume terlalu keras. Pemuda itu juga tampak terkejut ketika mata mereka
bertemu. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?”
“Lomba,” jawabnya, jempolnya mengarah ke
belakang, seolah menunjuk pada tempat lomba. “Bagaimana denganmu?”
Ino meringis kecut ketika pemuda itu
mendahuluinya dalam mengambil tempat di barisan yang mengurut ke arah counter. Sial, dia memang tidak gentle. “Aku menunggu temanku yang
berlomba. Sebenarnya sih, aku datang untuk mendukungnya, tetapi kami sama
sekali tidak bertemu. Katanya dia hampir terlambat datang, dan aku juga tidak
tahu tempatnya—”
“Keberuntunganmu sepertinya tipis, ya,”
komentar pemuda itu—Ino tak bisa melihat ekspresinya karena si rambut hitam itu
memunggunginya, tetapi berani bertaruh pemuda itu tersenyum manis, salah,
senyum mengejek. “Tadi pagi juga, kau diganggu oleh sekelompok pemuda nakal...”
“...Dan juga bertemu denganmu,” balas
Ino sarkastis. “Benar-benar sial.”
Pemuda itu berbalik, senyum di wajahnya
hilang. “Apa maksudmu?”
Ino membuang muka. “Bukan apa-apa.”
Antrian itu bergerak maju dan keduanya
terlarut dalam keheningan.
Benak Ino terus menggerutu sebal. Cowok
ini benar-benar tidak peka! Sudah begitu, sama sekali tidak gentle. Mengantri
tanpa mempersilakan seorang gadis lebih dahulu?—kesampingkan senyuman manisnya;
tata kramanya nol besar.
Eh, tidak. Perbuatannya tadi pagi begitu
fantastis.
Hingga akhirnya berhadapan dengan
petugas yang melayani pembelian cappuccino,
Ino masih bergelut dengan alam bawah sadarnya. Satu sisi dirinya penasaran,
sisi lainnya kesal.
“Soal makan siang yang tadi,”—Ino
mendongak dari gelas plastiknya dan mendapati pemuda itu berdiri di hadapannya
sambil membawa hanger yang
menggantung tiga gelas minuman berbeda jenis—“aku akan menraktirmu.”
...lho?
“Mengapa?” adalah satu-satunya kata yang
berhasil keluar dari tenggorokannya tanpa sempat dipikir. Kedua matanya
mengerjap bingung selama beberapa detik.
“Karena kau pacarku.” Jawabannya singkat
dan jelas.
Pemilik mata safir itu mengangguk.
Karena dia pacarnya—HE?
“Pacar?” oke, sekarang ia mengucapkan
kata itu dengan nada di oktaf lima.
Pemuda itu tersenyum sebentar dan
berbalik. “Sebentar, aku akan memberikan minuman ini pada teman-temanku, lalu
aku akan menemanimu lagi—ah, tidak, kita akan pergi makan siang setelah
pengumuman lomba.”
Dan ia berlalu, sementara Ino masih
mencerna kata-kata pemuda itu.
Pacar? Pa-car? Hmm, pacar...? Pa—PACAR?
Apa maksudnya dengan mengatakan bahwa
Ino adalah pacarnya? Sejak kapan mereka berpacaran?
...perlu bicara dengan Sakura. SAAT INI.
Tepat saat itu, pupil Ino menangkap
sosok berambut merah muda di antara kerumunan padat entitas yang menjejali
kafetaria KIU. Sakura tampak sedang bersama dengan dua orang—mungkin rekan
lombanya tadi; keduanya memunggungi Ino, memblokir area pandangnya. Tapi, baru
saja Ino hendak menghampiri Sakura, gadis itu sudah keburu pergi ke arah lain.
Ngek.
Kedua orang yang tadi bersama Sakura
membalikkan tubuhnya.
—itu kan pemuda yang tadi pagi! Yang
tadi mengantri di depannya dengan oh-so-not-gentle-nya!
...yang bilang bahwa Ino adalah
pacarnya!
Harus. SMS. Sakura. Sekarang.
.
.
.
.
.
.
To: Forehead
Forehead! Teman satu kelompokmu itu... siapa namanya?
Drrtt... drrttt...
From: Forehead
Hah? Yang mana?
To: Forehead
Yang kulitnya pucat itu lhoooo~
Drrttt... drrttt...
From: Forehead
Oh, itu Shimura Sai. Masa kau tidak tahu? Kan kau yang
menyebutkan namanya waktu itu! =___=
Hah? Ino mengerutkan keningnya. Pernah,
ya, ia menyebutkan nama pemuda itu? Shimura Sai...? Rasanya agak asing.
To: Forehead
Emang pernah, ya?
Drrttt... drrttt...
From: Forehead
Dulu, sih. Waktu di rektorat.
...he?
Duh, rasanya Ino semakin pusing saja...
.
.
.
.
.
.
Ketika bentangan langit malam telah
berganti dengan tabir biru berhiaskan kemelut awan putih,
sang gadis berambut pirang belumlah berniat membuka kedua matanya. Bukannya
disengaja, namun gadis itu baru berhasil terlelap ketika fajar hampir
menyingsing.
Semalaman suntuk, benaknya tak henti-hentinya memikirkan
cowok bermuka pucat—Shimura Sai—yang berulang kali mengatakan bahwa kini Ino
adalah pacarnya.
Bingung?
Ya.
Kaget?
Ya.
Kesal?
Sangat!
Entah apa alasan si Sai-Sai itu terus-menerus mengatakan
bahwa Ino adalah pacarnya—mari kita hitung: dua kali saat peristiwa 'penyelamatan'
di depan stasiun, satu kali di kafetaria KIU tadi.
—dan itu membuat
Ino langsung meninggalkan kafetaria.
Tanpa memedulikan bahwa sebenarnya ia mempunyai janji makan
siang dengan si Muka Pucat.
Tanpa memedulikan bahwa seharusnya ia memberikan dukungan
pada Sakura.
.
.
.
.
.
.
Triiiinnnggg...
Ponsel yang selalu berfungsi ganda sebagai alarm itu kini berdering nyaring tepat
di telinga seorang gadis berambut pirang panjang. Beberapa detik kemudian
sebelah tangannya menggapai-gapai ke sisi bantal—tempat dimana dengan bodohnya
ia meletakkan ponselnya semalam. Setelah menemukan benda mungil tersebut, gadis
itu memaksa tubuhnya untuk terduduk di atas kasur—tidak ada perasaan bahagia
sama sekali.
Kedua mata aqua-nya
memaksakan diri untuk terfokus pada layar ponselnya—selain untuk mematikan
sumber bunyi berisik itu, juga untuk mengecek hari dan jam.
Hari Senin, jam enam lewat dua menit.
Astaga,
betapa cepatnya hari Minggu berlalu!—batinnya
mengeluh.
Tentu saja hari telah beranjak menuju hari Senin, mengingat
Ino menghabiskan hari libur spesialnya dengan terus teronggok di kasur sampai
sore hari.
Setelah meletakkan ponselnya di tempat semula, kedua tangan
gadis itu bergegas memijit-mijit pelipisnya—maksudnya untuk mengumpulkan
kesadaran dan kembali mengingat apa saja yang harus dilakukannya hari ini.
Kuliah pagi: komposisi warna. Kerja kelompok untuk mata
kuliah Pengelolaan Media Lukis. Rapat senat.
Mendadak Ino rasanya ingin kembali bergelung di bawah
selimutnya.
.
.
.
.
.
.
Kalau saja ia tidak ingat bahwa salah satu cita-citanya
adalah menjadi penguasa kampus, maka ia tidak akan memasuki ruangan ini;
setidaknya tidak saat ia sedang mengalami kelelahan kronis.
Dan tidak perlu pula bertemu dengan Shimura Sai.
"Maaf saya terlambat," gumam Ino pelan sambil
menunduk saat memasuki ruangan. "Kerja kelompok saya ternyata memakan
waktu lebih lama dari yang sama duga."
Semua yang ada di sana mengangguk maklum—seolah mengerti kesibukan mahasiswa tingkat satu. Ino
cepat-cepat mengambil tempat duduk di depan, berniat untuk terkesan antusias
dengan rapat senat perdana yang didatanginya.
Tenten—sang ketua senat—menatap Ino.
"Sayang sekali, Yamanaka-san,
kami baru saja sepakat memilih seseorang untuk menjadi ketua senat periode
ini."
Hening.
Dalam hatinya, Ino sudah
membentur-benturkan dirinya ke tembok, menyesali nasib buruknya. Satu-satunya
alasan ia rela datang ke rapat senat kali ini—meskipun lelah jiwa raga—itu
karena hari ini adalah pemilihan ketua senat beserta kabinetnya secara
internal.
—kalau ketuanya saja sudah terpilih,
sudah dapat dipastikan bahwa kabinetnya sudah terisi penuh.
Dan musnahlah semua impian Ino.
"Begitu?" Ia sendiri merasakan
bahwa suaranya sedikit bergetar.
Anggukan Tenten membuatnya semakin lemas. Dalam hati Ino merutuki dirinya yang begitu sial. Sudah
sengaja datang rapat dengan tubuh nyaris rontok, kini... gagal mendapatkan
posisi di kabinet?
Oh my barking dog.
“Ya,” jawab Tenten dengan wajah serius.
“Hanya saja, ada suatu hal yang ganjil dalam kata-kata ketua kita yang baru.”
Kening Ino mengernyit. Ah, ya, ketua
baru memang biasa menyampaikan sepatah-dua patah kata pada kabinet
barunya—entah apa itu, mungkin semacam persuasi agar mereka semua dapat menjadi
kolega yang baik. “Dia bilang apa?”
“Katanya,” Tenten memutuskan untuk
menghampiri Ino dan menepuk bahunya, “kau harus menjadi wakil ketuanya, baru ia
mau menjadi ketua senat.”
Hah?
Karnaval meriah dilatari ledakan ratusan
kembang api seolah-olah berada di sekeliling Ino—tentu saja hanya bayangannya
dalam hati. Serius? Ini serius?
Dia? Wakil ketua senat?
Wakil ketua?—yeaaaayyyy~!
Ditekannya antusiasme berlebihan itu dan
menoleh pada Tenten. “Benarkah?” tanyanya malu-malu tapi mau. “Lalu, siapa
ketua yang memintaku jadi wakil ketuanya?”
“Dia.” Telunjuk Tenten mengarah ke satu
fokus, diikuti oleh iris aquamarine
milik Ino.
Senyum manis itu—
“Halo, kau melewatkan makan siang kita
kemarin.”
Wajah pucat itu—
—jangnan iji?*
Rasanya lutut Ino menjadi sangat lemas;
bukan dalam konteks romantis, tentu saja.
Si cowok tidak
gentle!
.
.
.
.
.
.
tbc
Jangnan iji =
bercanda, kan?
Me ke aloha
mysticahime™
Bandung, 14 November 2011, 00.46 a.m








0 komentar:
Posting Komentar