RSS

[Side Story 1.2] Ugly Girl Under The Raindrops: Accidentally in Love



UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
The Side Story 1.2: Accidentally in Love
.
.
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Accidentally in Love © The Crows (borrowed for the title ;p)
.
.

mysticahime™
© 2011
.
.
.
Please take notes: SaiIno. Roman picisan kah?
.
.
.
ENJOY! :)
.
.
.

Karena cinta adalah sesuatu yang tak diundang—ia bisa tiba-tiba saja hadir tanpa seizinmu

.
.
.
.
.

“Hah?”

Yamanaka Ino mengerucutkan bibirnya ketika satu-satunya respon yang diberikan Haruno Sakura atas cerita panjang-lebarnya hanyalah sepatah kata singkat yang dibumbui ekspresi menganga yang dramatis. Gadis pirang itu dengan segera menoyor kepala temannya saat Sakura tidak memberikan respon lanjutan.

“Hanya itu?” tanya Ino dengan keki. “Seharusnya kau bangga karena temanmu ini menjadi wakil ketua senat!”

Satu kali, dua kali; emerald itu mengerjap mengumpulkan kembali kesadarannya yang nyaris melayang ketika mendengar cerita Ino. Lalu sang empunya buru-buru menggeleng.

“Bukan, bukan itu,” sergahnya. “Yang mendapat respon ‘hah’ dariku adalah... Shimura Sai-senpai menyebutmu pacarnya?”

“Benar,” adalah satu-satunya yang mampu dikatakan Ino—setidaknya satu detik sebelum gadis sanguinis itu kembali mencerocos, “—sepertinya ia sedang demam. Atau mabuk. Atau mungkin menderita gangguan mental. Atau—”

Yeah, apa pun itu,” sambar si gadis pink. “Terus terang saja, aku sedikit bingung dengan semua kejadian hari ini, Ino. Terutama yang terjadi padamu.”

“Memangnya aku tidak bingung?” Ino menyambar sebuah bantal berbentuk hati yang didominasi warna merah. “Dia menyelamatkanku satu kali, dan tiba-tiba saja si Muka Datar itu mengaku-aku bahwa diriku adalah pacarnya, dan—”

“—apa kau sebut dia tadi?” Sakura nyaris terkikik, “Muka Datar? Wah, wah...”

“Dia memang Muka Datar!” Ino menjulurkan lidahnya dengan sarkastis. “Ingat apa yang kuceritakan mengenai perjalananku di kereta tadi pagi? Dia duduk di bangku terakhir dengan wajah datar—sama sekali tidak memikirkan bahawa ada seorang gadis yang sebenarnya lebih pantas untuk duduk di situ!”

Lengkungan sabit muncul di permukaan bibir Sakura. “Tidak gentle, maksudmu? Wah, benar-benar di luar tipemu, dong...”

“...Apa maksudmu?” kening Ino mengernyit.

“Bisa saja kau nanti malah jatuh cinta padanya,” jawab Sakura. “Aku sering mendengar bahwa banyak manusia yang jatuh cinta pada orang yang bukan tipenya—entah itu memang realitanya, atau ekspektasi dari orang-orang itu memang terlalu tinggi...”

Bantal berbentuk hati itu kini digunakan oleh pemiliknya untuk memukuli Sakura dengan bertubi-tubi—bercanda, tentu saja. “Bahasamu terlalu mengerikan, Forehead-girl! Seperti filsuf saja...” ia bergidik sendiri. “Oh ya, jadi Sasuke juga hasil ekspektasi yang terlalu tinggi, ya? Berarti dia eksistensi yang terlampau... rendah?”

—dan detik berikutnya, bantal berbentuk hati itu menjadi senjata makan tuan.
.
.
.
.
.
“Selamat pagi.”

Yamanaka Ino baru saja membuka pintu rumahnya tatkala sebuah sapaan yang diiringi senyum manis menyambutnya dari sisi pagar. Bila yang disapa adalah gadis selain Ino, kemungkinan besar gadis itu sudah meleleh saking bahagianya.

Memangnya, siapa yang tidak senang disambut oleh seorang cowok yang memiliki senyuman semanis itu?

Yeah, terkecuali Ino yang saat ini malah menatap pemuda itu dengan tatapan datar.

“Apa maumu, Taichou[1]?” tanya Ino seraya mengunci pintu rumahnya.

“Menjemput pacarku,” jawabnya dengan wajah berseri-seri. Wajah itu semakin antusias ketika Ino berbalik dan berjalan mendekatinya.

—sebenarnya Ino hanya mendekati pagar untuk keluar dari area rumahnya dan pergi ke stasiun.

Gadis itu memutar kedua mata safirnya dengan bosan. “Setahuku hari ini mahasiswa tingkat dua dan tiga tidak ada kuliah lagi sejak menyelesaikan tugas studio dua hari yang lalu—setidaknya sampai Senin depan.” Dilangkahkannya kedua tungkainya lebar-lebar agar bisa cepat-cepat menjauh dari pemuda yang satu itu.

“Memang,” jawab Sai sambil menyejajari langkah-langkah Ino, “tetapi Jumat nanti ada rapat pleno senat di hari pertama kepengurusanku—dan aku harus mengingatkan wakil ketuaku untuk berpartisipasi dalam rapat ini, juga membantuku karena ini kali pertama aku memimpin sebuah rapat.”

“Tidak akan.” Gadis itu mempercepat langkahnya—setengah karena untuk menjauhi Sai, setengah lagi untuk mengejar waktu yang semakin mepet dengan jam kuliah studionya hari ini.

“Oi, oi.” Tersengar suara Sai dari belakang sana. “Tidak usah terburu-buru, hari masih pa—”

Ino sama sekali tidak memedulikan panggilan Sai. Bibirnya berkomat-kamit mengucapkan doa bercampur umpatan, berharap Sai tidak mengikutinya lagi. Kedua kakinya melangkah ke zebra cross untuk menyebrang menuju halte yang mengarah ke stasiun, dan—

TIIIINNNN—!

Sebuah truk melintas beberapa sentimeter di hadapannya. Beberapa sentimeter, karena seseorang berhasil menarik tubuhnya menjauhi bodi rigit kendaraan berbahan bakar solar tersebut. Sebelumnya, Ino dan truk itu berada dalam satu garis lurus yang bila berpotongan akan menjadi—

“Apa kubilang.” Sayup-sayup gendang telinga Ino menangkap suara penyelamatnya sementara gadis itu masih berupaya menggapai semua kesadarannya. Sedikitnya gadis itu shock akan kecelakaan yang nyaris menimpanya beberapa detik lalu.

Pupil mata Ino masih mengecil, pertanda bahwa kejutan yang dirasakannya masih beresidu. Wajah pucat gadis itu menjadi pertanda lain.

Sai menatap gadis itu sejenak, kemudian memutuskan untuk membawanya ke bangku halte yang tinggal beberapa meter dari posisi mereka. Dibantunya gadis itu untuk duduk dan menarik napas selama beberapa saat.

“Sudah merasa lebih baik?” tanyanya ketika rona wajah Ino mulai kembali seperti biasa.

Lamat-lamat gadis itu mengangguk, lalu menatap wajah Sai yang terlihat mengkhawatirkannya. “Terima kasih...”

—kalian tentu bisa membayangkan betapa bahagianya Sai bila melihat senyuman manis yang tergantung di wajahnya.
.
.
.
.
.
Kedua iris aqua itu melirik sinis ke arah sosok yang berjalan beberapa langkah di belakangnya—lebih tepatnya sosok itu mengejar dirinya yang berjalan terlalu cepat.

“Mau sampai kapan kau membuntutiku, Sai?” Yamanaka Ino berbalik cepat sehingga pemuda yang berusaha menyejajari langkahnya itu nyaris menabrak tubuhnya.

“Entahlah.” Sai mengangkat bahu. “Aku akan menemanimu selama kau menjadi pacarku.”

Gadis pirang itu memutar kedua bola matanya dengan bosan, lalu membalikkan tubuh dan melanjutkan perjalanannya menuju stasiun. Mood-nya sedang berada pada level terendah pagi ini. Semalaman ia nyaris tidak tidur karena menggarap ulang tugas komposisi garis dan warnanya. Tugas lamanya terkena tumpahan kopi di detik-detik penyelesaiannya, mengakibatkan gadis berambut jagung itu harus mengulang segala jerih payahnya dari titik awal. Beruntung sekali tugasnya selesai pukul lima pagi tadi.

Ini sudah kali ketiga dalam minggu ini pemuda berwajah datar itu menjemput Ino di rumahnya kemudian mengantarnya ke kampus—atau lebih tepatnya mengekori gadis itu hingga Ino berhasil mencapai kelasnya tanpa kekurangan suatu apa pun. Setiap kali Ino mengatakan bahwa Sai tidak perlu melakukan hal itu, sang pemuda selalu berdalih dengan alasan bahwa gadis itu adalah pacarnya.

Biasanya Ino selalu berhasil menggunakan langkah-langkah panjangnya untuk menghindari Sai dengan alasan mengejar waktu kuliah pagi. Tetapi beberapa menit yang lalu Sakura baru saja mengiriminya mail bahwa kelas pagi ini diundur menjadi nanti siang. Sekarang Ino tidak punya alasan untuk menghindari Sai.

“Untuk apa terburu-buru?” tanya Sai ketika mulai lelah mengejar gadis yang kecepatan berjalannya tergolong luar biasa untuk ukuran seseorang yang memakai sepatu wedges dengan hak setebal tujuh sentimeter. “Kelasmu diundur, bukan?”

Sedikit bertanya-tanya mengapa Sai bisa mengetahui jadwal kelasnya yang diubah, Ino hanya menoleh sedikit dan mengangkat sebelah alisnya. Tangan kirinya membenarkan letak tali tabung gambar yang menggantung di pundaknya. “Memangnya kenapa? Aku harus menemui dosenku untuk menyetor tugas, setidaknya aku perlu meminta opini mengenai tugas komposisi ini.”

Dan pemuda itu menahan pundak Ino, membuat gadis itu menghentikan langkah-langkahnya. Ia tersenyum manis.

“Jangan pernah melewatkan waktu untuk menikmati indahnya langit biru di pagi hari.” Jari telunjuknya mengarah ke atas diikuti tatapan mata Ino.

Sapuan warna biru membuat kedua mata gadis itu membelalak takjub. Entah sugesti apa yang meresap ke dalam benaknya, namun tiba-tiba saja rasa ingin terburu-buru pergi ke kampus menguap begitu saja. Bukan satu kali ini saja ia melihat langit biru di tengah-tengah Tokyo, ia sudah sering melihatnya, hanya saja rasanya kali ini sedikit... berbeda.

Sayang sekali ia tidak tahu apa perbedaannya.

Pemuda itu tersenyum melihat ekspresi Ino yang tampak begitu takjub dengan atmosfir biru menyegarkan di sekitarnya. “Benar, kan? Untuk apa terburu-buru untuk berada dalam kereta berisik yang memiliki langit-langit berwarna monoton bila kau bisa melihat langit biru di sini?”

Ada perasaan ringan melayang di hati Ino. Perasaan yang entah apa.

“Selama kau masih bisa melihat langit biru dengan matamu, bagaimana bila kau menikmatinya, Ino?” kata-kata Sai terasa seperti satu-satunya suara yang bisa didengar oleh gadis itu, kendati bisingnya Tokyo mulai memenuhi udara. “Langit adalah esensi dari seorang seniman. Bila para seniman tidak memiliki kebahagiaan untuk melukis langit pada karya-karya mereka, bagaimana mungkin mereka bisa menciptakan sebuah masterpiece?”

Kata-kata Sai bagaikan penyejuk bagi dirinya. Pikiran Ino yang semula serumit benang kusut kini mulai terurai secara ajaib.

“Kau...” ...bagaimana mungkin bisa tahu apa yang kupikirkan? Ino mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan isi pikirannya saat ini, namun untuk kesekian kalinya ia merasa bisu di depan Sai. Dirinya yang selama ini selalu bisa merajut percakapan tanpa perlu banyak berpikir kini dengan tak lazimnya terdiam.

“Aku tidak pandai berbicara,” kata Sai sambil menarik tangan Ino. “Bisa kubilang aku bukan tipe yang pandai bersosialisasi, tapi aku senang bisa membuka percakapan denganmu.”

Dan gadis itu benar-benar terdiam. Entah pengaruh kata-kata Sai, entah pengaruh langit biru yang menggelayut di atasnya.

Sebelum membiarkan dirinya dibawa ke stasiun yang menuju ke Suna University of Arts, Ino membiarkan dirinya untuk merekam keindahan langit biru sekali lagi.

Mungkin karena pengaruh langit biru itulah Ino menyetujui ajakan Sai untuk menunggu kelasnya di kafetaria Suna University of Arts sambil mengganyang sepiring takoyaki dan segelas ocha hangat.

Mungkin karena pengaruh langit biru itulah Ino memerhatikan orang-orang yang kebetulan bercakap-cakap dengan Sai selama mereka berdua duduk di kafetaria. Aburame Shino. Tenten. Haruno Sakura—teman baiknya sendiri—yang mengedipkan mata sambil menjulurkan lidah ketika melihat siapa yang bersama Sai saat itu adalah sahabatnya sendiri.

Mungkin karena pengaruh langit biru itulah Ino menikmati saat-saat bersama Sai.

Atau mungkin karena keberadaan Sai-lah, langit biru jadi terlihat begitu indah.
.
.
.
.
.
“Hmmm...”

Meja di hadapan Yamanaka Ino kini dipenuhi dengan barang-barang yang semula berada di dalam tasnya. Ada tempat pensil, ponsel, dompet, cermin, sisir rambut, kuas, kotak cat air, kunci rumah—hanya saja ada sesuatu yang kurang di sana.

Gadis pirang itu menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung ketika ia tidak berhasil mengeluarkan benda apa pun lagi dari dalam tas ungunya. Semua penghuni rongga tasnya telah berserakan di atas meja, tetapi ia tetap tidak menemukan benda yang dicarinya.

Kali ini, ia malah melongok ke dalam tasnya.

Tetap saja buku diktatnya tidak ada.

Ino mengerang frustasi. Rasanya tadi pagi ia membawa buku itu di tasnya, buku diktat sejarah seni yang subjeknya merupakan mata kuliah siang ini. Sebenarnya bukan masalah ia membawa buku atau tidak, hanya saja pelajaran ini adalah satu-satunya pelajaran yang dijadikan ujian tertulis di akhir semester nanti.

Tentu saja dirinya tak bisa meminjam buku kepada siapa-siapa. Setiap anak memiliki buku masing-masing, kecuali beberapa anak yang terlampau malas untuk mengikuti kuliah itu, datang hanya demi memenuhi kuota absensi.

Percuma saja terus mengorek-korek tasnya, buku itu tak akan muncul tiba-tiba bagai disihir. Jadi gadis itu memutuskan untuk menyandarkan punggungnya dan menarik napas. Membiarkan pikirannya mengingat-ingat bagaimana runtut kejadian hilangnya diktat yang tadi pagi berada aman di tasnya.

Buku itu ia simpan di tasnya, bersama dengan kotak berisi cat air. Ia bersama-sama dengan Sai, tidak mengeluarkan bukunya sama sekali. Mereka makan di kafetaria. Ia mengeluarkan bukunya untuk dibaca. Ia berpamitan untuk menemui dosen pembimbingnya—

Oh my barking dog!

Tanpa sadar ia menepuk keningnya sendiri.

Tentu saja buku itu tertinggal di kafetaria! Karena ia memutuskan untuk sedikit membaca mengenai sejarah seni ketika menunggu Sai berbincang-bincang dengan temannya...

Harapannya untuk kembali ke kafetaria guna mencari bukunya musnah tak bersisa ketika mendapati dosen yang mengajar mata kuliah sejarah seni masuk ke dalam ruangan dan duduk di meja yang dikhususkan untuknya di depan kelas. Dalam hati Ino berharap hari ini dosennya sedang tidak berminat untuk mengajar, atau—

Tok tok

Bunyi ketukan ritmik di pintu menyadarkan gadis itu dari segala ekspektasinya. Karena merupakan tipe gadis yang mudah penasaran, Ino langsung menjulurkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang.

Shitsureishimasu[2]...” seseorang melangkah masuk ke dalam kelas dan mendekati meja Hatake Kakashi, sang dosen sejarah seni. Ino menahan napas ketika menyadari siapa orang yang baru datang itu.

Sai!

Kakashi menatap Sai melalui sepasang matanya yang berlainan warna. “Ada keperluan apa, Shimura-san?”

Sai mengacungkan sesuatu—yang lagi-lagi membuat Ino menahan napas—dan menunjukkannya kepada Kakashi. “Saya ingin mengantarkan buku diktat milik pacar saya.”

“Memangnya siapa pacarmu, Shimura-san?”

Pemuda itu mengedarkan pandangannya ke seisi kelas dan tatapannya berhenti pada titik dimana Ino berada. Kemudian pemuda itu mengedikkan dagunya sedikit. “Yamanaka Ino, Sensei. Boleh saya menemuinya?”

Terdengar riuh rendah sorakan teman-teman sekelas Ino, membuat wajah gadis itu merah padam—rasa malu dan kesal bercampur menjadi satu. Tak menunggu respon dari dosennya, Ino segera berjalan keluar dari bangkunya dan menghampiri Sai, lalu menyeret pemuda itu keluar dari ruang kelasnya, lagi-lagi diiringi dengan suit-suit menyebalkan dari penghuni kelasnya.

Sesampainya di koridor yang cukup sepi, Ino berhenti menarik lengan Sai dan berbalik menghadapnya. Wajah gadis itu masih merah padam.

“Apa maksudmu?” tanya gadis itu dengan suara rendah.

“Apa maksudmu?” Sai malah mengulangi pertanyaan gadis itu, hanya saja nadanya berbeda.

“Apa maksudmu melakukan tindakan seperti tadi?” Kini kilatan rasa marah tampak jelas di kedua mata biru Ino.

“Aku hanya mengantarkan bukumu yang tertinggal di meja kafetaria tadi,” jawab Sai sambil memasang senyum manisnya seperti biasa. Namun senyuman itu meluntur ketika melihat wajah Ino tidak merespon senyumnya. “Ada yang salah?”

“Bukan itu,” sahut sang gadis pirang. “Maksudku adalah mengapa kau menyebutku pacarmu di depan Hatake-sensei? Di depan semua teman sekelasku?”

“Ada yang salah?” Sai balas bertanya dengan nada ringan. “Kau memang pacarku, dan sudah sebaiknya aku memberitahu seisi kampus bahwa kau adalah—”

“—aku. Bukan. Pacarmu.” Setiap kata yang diucapkan gadis itu diberinya penekanan, seolah menyatakan secara denotasi bahwa semua kata itu adalah realita yang sebenarnya. “Kau saja yang selalu menyebut-nyebutku sebagai pacarmu. Pada kenyataannya, tak pernah sekali pun aku mengiyakan kata-katamu.”

Melihat Sai diam saja tak membalas kata-katanya, Ino sempat merasa tidak enak hati, tapi ia harus menyuarakan apa yang berada di pikirannya.

“Kau bukan orang yang menyenangkan untuk diajak menghabiskan waktu bersama. Aku tak pernah bermimpi untuk menjadi pacarmu.”

Ino tahu bahwa sebagian besar kata-katanya hanyalah kebohongan besar. Ia merasa senang ketika tadi pagi menghabiskan waktu bersama Sai. —walaupun yang mengenai ia tidak pernah bermimpi menjadi pacar Sai memang kenyataannya.

Gadis itu merasa semakin tidak enak hati ketika melihat Sai masih tidak bereaksi. Sesungguhnya ia menyesal telah mengucapkan kata-kata barusan, namun ia tak mungkin menelan kembali kata-katanya. Tidak baik menjilat ludah sendiri. Maka ia memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya.

“Kau sama sekali bukan tipeku, Sai. Kau sama sekali tidak gentle. Kau bukan orang Korea. Kau juga tidak sensitif. Dan yang terpenting—” gadis itu menarik napas, “—kau sembarangan meng-claim-ku sebagai pacarmu dan menyebarkannya ke seluruh dunia!”

Dan Ino menyambar bukunya dari tangan Sai dan segera bersiap untuk meninggalkan pemuda itu. Ia tak mau melihat ekspresi Sai mendengar segala kata-kata dan kebohongannya. Namun, baru saja ia akan mulai berlari, telinganya menangkap pemuda itu mengatakan sesuatu.

“Bila kau membenciku, kita tidak usah melanjutkan hubungan ini semua.” Gadis itu sedikit menolehkan kepalanya dan menatap pemuda berambut hitam yang mengucapkan klausa itu tanpa berkedip. Ekspresi wajah Sai terlihat begitu terluka. “Kau tidak perlu membantuku dalam rapat pleno besok—tidak akan ada rapat.”

Dan pemuda itu berjalan pergi ke arah yang berlawanan, meninggalkan Ino yang masih mematung.

Hingga punggung Sai tak tampak lagi di kejauhan, Ino masih belum bergerak dari posisinya.

Gadis itu melupakan semuanya—kelas kuliahnya yang sedang berlangsung saat ini, buku diktat dalam pelukannya, koridor sepi yang menjadi saksi pertengkarannya dengan Sai.

Yang ada di pikirannya hanyalah wajah Sai yang tampak terluka ketika mengucapkan kalimat perpisahan itu. Sesuatu dalam dadanya terasa berdenyut-denyut nyeri bila mengingat hal itu. Ada rasa sesak di sana.

Entah karena kelilipan atau memang merasa kesal pada kenyataan yang baru saja terjadi, sebutir kristal air mata bening meluncur turun dari sudut mata Ino, yang segera dihapusnya dengan punggung tangan kiri.
.
.
.
.
.
.
—malam harinya, seorang Yamanaka Ino sama sekali tidak bisa tidur.

Dalam benaknya terus terbayang-bayang bagaimana kejadian tadi siang berlangsung. Bagaikan gulungan pita video yang terus-menerus diputar ulang, ingatan akan peristiwa itu sama sekali tidak bisa disingkirkan dari otaknya—seolah-olah isi dari memori otaknya hanyalah itu saja.

Seharusnya ia tidak bersikap kasar kepada Sai tadi, seharusnya. Sai sebenarnya bermaksud baik dengan mengantarkan diktat sejarah seni ke kelasnya tadi—agar Ino bisa mengikuti mata kuliahnya tanpa kesulitan—hanya saja Ino tidak suka bagaimana cara pemuda itu meminta izin pada dosen yang mengajar kelas Ino bahwa ia mengantarkan buku untuk pacarnya.

Demi Leonardo Da Vinci, Ino sama sekali tidak pernah menyetujui untuk berpacaran dengan pemuda itu!

—bukan tidak pernah, tetapi belum.

Memang, selama ini belum ada pernyataan resmi yang keluar dari mulut Ino bahwa mereka berdua resmi mengikat hubungan, tetapi entah mengapa gadis itu sudah merasa terbiasa dengan adanya Sai di sisinya. Hanya saja, ia tak pernah biasa dengan Sai mengatakan di depan umum bahwa Ino adalah pacarnya—tentu saja karena ia memang bukan pacar Sai, tetapi tetap saja...

Gadis itu menutup wajahnya dengan bantal hati merahnya, mengerang putus asa atas kebodohannya.

Sejujurnya, ia masih bingung sendiri dengan semua ini. Dengan alasan mengapa Sai menyebutnya pacarnya. Dengan kenyataan di depannya. Dengan ekspektasinya akan pendampingnya di atas kertas bertahun-tahun yang lalu. Dengan... perasaannya yang terasa nyeri ketika Sai mengatakan bahwa ia tidak akan memaksa Ino untuk melanjutkan semua ini bila Ino merasa sungkan.

Kegalauan Ino kini mencapai tingkat maksimal.

Berguling-guling di atas tempat tidur tidak membuat segalanya menjadi lebih baik. Alih-alih terlepas dari rasa galau, kini Ino malah terperangkap dalam dimensi lain.

Dimensi yang dipenuhi kata ‘mengapa?’.

Mengapa Sai selalu menyatakan bahwa Ino adalah pacarnya?

Mengapa ekspektasinya tidak sesuai dengan eksistensi?

Dan... mengapa dirinya menyukai eksistensi itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar dalam benak Ino selama berjam-jam. Setiap sel tubuhnya berusaha menemukan jawaban yang pasti. Ia berpikir, berpikir, dan berpikir.

Pada akhirnya, ia menyerah.

Dibiarkannya akal sehatnya berhenti bekerja dan mulai membiarkan perasaannya yang menjawab. Sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab dengan logika. Pertanyaan yang berulang kali ia gaungkan di kepalanya adalah sesuatu yang seperti seni—jangan biarkan otak kirimu mendominasi, biarkan otak kananmu yang mengambil alih.

Ketika matanya terasa semakin berat, barulah ia mendapatkan jawaban dari segalanya.

Karena cinta. Itulah takdirnya.

Ia mulai mencintai Shimura Sai, secara tidak sengaja.

.
.
.
.
.
.

Kedua kakinya berderap dalam irama tak beraturan di koridor gedung rektorat, menimbulkan bunyi tap tap yang memenuhi udara. Berbelok setiap kali menemukan tikungan, mendaki setiap kali menemukan anak tangga.

Saat ini tujuannya hanya satu: mencapai ruang senat.

Yamanaka Ino sesekali mengusap peluh yang melekat di kulit wajah dan lehernya; berlari secepat ia bisa untuk mendaratkan dirinya pada destinasinya. Sebenarnya, ia tak perlu berlari-lari seandainya saja pertemuan dengan dosen walinya tadi tidak memakan waktu lama.

Saat ini kedua jarum kurus di sirkular arlojinya sudah menunjukkan waktu pukul empat sore. Warna oranye mulai mengudara, memancarkan gradasi jingga di sepanjang koridor yang dilewatinya. Langit masih cukup terang sehingga pihak universitas belum berinisiatif untuk menyalakan penerangan. Setidaknya, berkas-berkas temaram berwarna lembayung itu masih bisa digunakannya untuk pencahayaan yang menuntunnya menuju ruang senat—walaupun minim.

Beberapa meter lagi kedua tungkainya yang lelah akan menjejak di depan pintu ruang senat itu, hanya saja semakin lama langkah-langkahnya terasa semakin berat. Dan hanya beberapa kaki jauhnya dari tempat ia berhenti berlari, Ino benar-benar menghentikan langkahnya.

Keraguan mulai menjalar di hatinya, meresap pada setiap celah yang ada.

Apakah Sai masih berada di balik pintu itu? Dalam diam, benaknya bertanya-tanya akan sebuah pertanyaan yang hanya Sai dan Yang Di Atas yang mengetahui jawabannya. Seingatnya, pemuda itu bilang bahwa rapatnya akan dibatalkan dan tidak ada yang perlu datang ke ruangan itu.

Kecil sekali probabilitas Sai masih berada di ruangan itu, hanya saja kali ini Ino ingin bertaruh dengan takdirnya. Semalam, ia sudah membulatkan tekad untuk menyampaikan kepada Sai, apa adanya. Semuanya. Tak peduli pemuda itu mau mendengarnya atau tidak, ataupun ada pengganggu lain di sana.

...tapi entah mengapa tiba-tiba dirinya merasa ciut. Ino merasa dirinya begitu kecil—sekalipun hanya dibandingkan dengan koridor panjang yang mengarah ke ruang targetnya. Ketika kedua anggota gerak bawahnya mulai kembali melangkah ritmis, setiap langkahnya memicu jantungnya untuk semakin cepat berdetak.

Tidak ada lagi keragu-raguan, ia memberitahu dirinya sendiri. Kau harus jujur padanya, Ino. Harus. Kau harus meluruskan segala salah paham yang terjadi kemarin. Bila tidak, kau akan menyesal seumur hidupmu...

Dan kini dirinya berdiri di balik pintu kayu itu, berbataskan sekat rigit dengan isi ruangannya. Ragu-ragu Ino menyentuh tombol pintu ketika telinganya menangkap sebuah suara yang sudah familier baginya.

“...jadi sebenarnya, bahasan kita kali ini...”

Suara Sai—berani bertaruh sepuluh ribu yen soal itu. Kening Ino mengernyit bingung. Sedang apa Sai di dalam sana? Bukankah pemuda itu bilang bahwa rapatnya dibatalkan? Atau jangan-jangan... mereka mengadakan rapat tanpa dirinya?

Diintipnya bagian dalam ruang senat melalui jendela kecil di sisi pintu, mencari-cari kabinet senat baru yang duduk di sekeliling meja rapat yang diatur membentuk lingkaran. Namun, bukannya menemukan puluhan mahasiswa dari berbagai angkatan, ia malah menemukan sosok Sai yang sedang berdiri tegak di depan mejanya sendiri. Kening pemuda itu dipenuhi kerutan.

“Ada usulan?” pemuda itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, kemudian ia malah mengacak-acak rambutnya sendiri. “Bukan seperti itu seharusnya aku bertanya... ck.”

Sebelah alis Ino terangkat ketika menyadari apa yang sedang dilakukan oleh sang pemuda. Sai sedang melakukan simulasi rapat pleno... seorang diri.

Tanpa sadar Ino tersenyum melihatnya. Sai benar-benar berusaha menjadi ketua senat yang baik dan luwes, melatih dirinya dalam simulasi yang dilakukan seorang diri. Menjadi ketua bukanlah hal yang mudah, terutama bagi mereka yang sering terjebak dalam hambatan bersosialisasi. Sepanjang pengamatan Ino, Sai bukanlah tipe laki-laki yang gemar bergaul dengan mahasiswa lainnya. Orang yang sering bersama dengan Sai hanya teman-teman yang ikut berlomba dengannya, Tenten si mantan ketua senat, dan... dirinya.

“Ada usulan?” Sai mengatakannya dengan nada yang berbeda, oktaf yang dipakainya terdengar lebih tinggi daripada suara aslinya. Mungkin maksudnya untuk menciptakan efek yang merangsang anggota rapat menjadi lebih aktif untuk berpartisipasi, tetapi hal itu malah membuat Ino mengikik.

Diputuskannya untuk duduk di luar ruang senat dan mengamati kegiatan Sai di dalam sana. Ino membiarkan embusan angin memainkan helai-helai rambut pirangnya yang diikat setengah, membuat mereka menari-nari di sekitar lehernya. Dipejamkan olehnya kedua mata aqua itu, menghalangi warna jingga memapar indera penglihatannya.

Ganbatte, Sai,” bisiknya perlahan.
.
.
.
.
.
Ketika Yamanaka Ino membuka kedua matanya, sadarlah ia bahwa dirinya telah jatuh tertidur selama beberapa waktu. Tidak terlalu lama, bila menilik langit masih berwarna lembayung walau warna-warna ungu tua mulai membaur di antaranya.

Tersentak, dirinya menyadari bahwa seharusnya ia menunggui Sai, bukannya tertidur. Ketika ia nyaris menggunakan lengan kirinya untuk  menopang dirinya bangkit berdiri, Ino baru menyadari bahwa sebuah jaket hitam tersampir pada tubuhnya untuk dijadikan selimut—

—dan juga kepala Shimura Sai tengah bersandar pada bahunya dengan kedua mata terpejam.

Serta-merta rona merah segera menjalar di kedua pipi gadis itu, terlebih lagi mengingat bahwa jarak di antara keduanya begitu minim...

Berusaha keras memecah rasa gugup yang dirasakannya, Ino mengguncangkan tubuh Sai, membangunkan pemuda itu.

“Sai, bangun!” bisiknya sambil terus mengguncang-guncang pemuda itu selama beberapa saat sambil berharap Sai akan bangun secepat mungkin.

Namun respon pemuda itu hanyalah, “Emh...” dan ia hanya menggeser posisi kakinya sedikit. Sama sekali tidak membuka mata.

“Bangun!” Satu guncangan lagi.

“Nanti...”

Ino menyerah untuk membangunkan pemuda itu. Dibiarkannya kepala berselimut helai-helai rambut hitam itu bersandar di bahunya, meski perbuatan itu membuat jantungnya melonjak hingga nyaris keluar dari rongga dadanya.

Gadis itu menggunakan kesempatan langka yang terjadi padanya untuk benar-benar mengamati wajah Sai. Ditatapnya kedua kelopak mata Sai yang menyembunyikan dua bola mata beriris obskurit yang selalu menatapnya dengan tatapan hangat. Bibir yang selalu menyunggingkan lengkungan senyum manis. Helai-helai poni hitam pendek yang selalu tampak jauh dari atas alisnya. Dan kulit pucat yang entah mengapa begitu serasi dengan semua itu...

Entah apa yang mendorongnya untuk mendaratkan kecupan ringan pada kening Sai, dan ketika sadar, wajah Ino terasa lebih panas dari sebelumnya.

“Maaf atas sikap kasarku kemarin,” bisiknya pada sosok yang masih tertidur itu. “Bukan maksudku untuk mengatakan hal-hal seperti itu... hanya saja—kau tahu?—rasanya aneh mendengar kata ‘pacar’ kau katakan di depan umum padahal kita masih belum resmi menjajaki hubungan itu—”

Gadis itu berhenti sejenak dan menatap goresan lembayung yang semakin samar di atas kanvas langit.

“—dan ini juga aneh, pasti terdengar aneh, tapi... aku menyukai bagaimana kau menyebutku sebagai pacarmu.” Sejenak ia menggigit bibir bawahnya. “...aku menyukaimu, Sai.”

Kemudian Ino melirik ke arah Sai yang masih menutup mata, tertidur dengan damainya. “Terima kasih juga untuk nasihatmu...”

Kini Ino ikut bersandar pada kepala yang bertumpu pada bahunya, membiarkan mereka berdua terdiam di tengah-tengah sore hari. Membiarkan angin membawa perasaan keduanya bersama hari yang semakin meredup.

Sekalipun matahari terbenam, bola bercahaya itu akan kembali terbit keesokan harinya, terus berada dalam siklus yang kontinuitas—sama seperti cinta.

Sama seperti kebahagiaan yang dirasakan Sai saat ini, ketika berpura-pura tertidur dan mendengar semua pengakuan Ino.

Satu kalimat saja untuk menjabarkan definisi cinta: cinta itu kompleks.

.
.
.
.

Yamanaka Ino. 19 tahun. Mahasiswi Desain Komunikasi Visual di Suna University of Arts. Sanguinis. Kidal. Berkulit putih. Berambut sewarna jagung.

Cerewet. Korean-freak.

Tambahan: selalu berekspektasi—walaupun eksistensi di hadapannya berbeda jauh dari yang diharapkan.

Sedang belajar untuk mencintai sang eksistensi lebih dalam lagi.

.
.
.
.
.

Taburlah kebiasaan, maka kau akan menuai karakter
Taburlah karakter, maka kau akan menuai takdir
.
~Side story 1 – Accidentally in Love: END~


[1] Taichou = ketua
[2] Shitsureishimasu = permisi (bentuk formal)

Catatan penting: di UGUTR chapter 2, saya menuliskan Sakura melukis dengan tangan kiri (yang berarti Sakura kidal), dan di side story ini saya membuat Ino menjadi seorang kidal juga. Karena rasanya tidak mungkin secara kebetulan ada sepasang sahabat yang kidal, maka saya ralat; Sakura tidak kidal.
.
.
Deleted scene(s):
Entah karena kelilipan atau memang merasa kesal, sebutir kristal air mata bening meluncur turun dari sudut mata Ino, yang segera dihapusnya dengan punggung tangan kiri.

Gadis itu memutuskan untuk kembali ke kelas dan mengikuti kuliahnya. Ia sudah terlambat beberapa belas menit untuk kelas sejarah seni, dan ia sama sekali tidak mau melewatkan mata kuliah yang satu itu.

Ino akan melupakannya. Melupakan kejadian tadi. Melupakan Shimura Sai.

Bukankah akan menyenangkan bila besok pagi tidak ada yang mengekorinya lagi sampai ke kampus?

Ia berjanji untuk tidur nyenyak nanti malam.
.
.
Tadinya saya berencana untuk menulis adegan itu, tapi karena setelah dipikir-pikir lebih oke bila diputus di adegan air mata Ino, akhirnya saya cut dan pindahkan ke sini supaya readers bisa melihat ide awalnya ^___^
.
.
Nah, readers dan SiDers sekalian, boleh minta komentar akan chapter ini?

Me ke aloha,
mysticahime™
Bandung, 15122011, 20.45

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems