RSS

[EXTRA STORY] Ugly Girl Under The Raindrops


-->
“Ngomong-ngomong, apa kau tahu? Dua bulan setelah wisuda, aku akan menikah.”

Kedua onyx itu melebar sesaat, lalu kembali seperti sedia kala. Diterimanya sepucuk karton berhias tinta emas tatkala gadis itu mengulurkannya pada Sasuke. Pemuda itu membuka lipatan karton mewah berwarna krem tersebut dan membaca kata demi kata yang dicantumkan di atasnya.

Hozuki Suigetsu

&

Akagami Karin

delightly expect your presence,
at:

Amarige Café

Dering ponsel Sasuke mengakibatkan pemuda itu tidak sempat mengomentari kartu undangan yang diberikan Karin. Ia segera mengeluarkan ponsel hitam dari saku celananya dan menatap nama yang muncul di layar terang benda elektronik itu. Nama Sakura tertulis di sana, namun Sasuke tak kunjung menekan tombol hijau untuk menjawab telepon itu.

Karin yang melihat tingkah laku aneh Sasuke mengangkat alis melihatnya. “Mengapa tidak diangkat, Sasuke? Pacarmu, bukan?”

Sasuke menoleh sedikit pada gadis berkacamata itu. “Hn.”

Lengkungan muncul di permukaan bibir Karin yang terpulas lipgloss bening. “Angkat saja, aku juga sudah akan pulang, kok.”

Untuk sesaat, kedua mata onyx itu terpejam, menenggelamkan dirinya ke alam bawah sadarnya. Hanya beberapa detik.

Ia memikirkan semuanya. Masa-masanya bersama Karin, saat-saat menyenangkan yang mereka lalui bersama. Saat-saat mereka bertengkar akibat cemburu pada hal yang sepele. Saat-saat... bersama-sama Karin yang terasa bagaikan bersama seorang kakak. Seorang kakak yang lupa Tuhan berikan kepadanya...

—dan ia pun menekan tombol hijau sebelum ringtone itu berhenti.

.
.
.

UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
Extra Story
.
.
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.

mysticahime™
© 2012
.
.
.
Please take notes: Timeline setelah kelulusan Neji dkk.
.
.
.
ENJOY! :)
.
.

Amarige Café adalah sebuah café yang dispesifikasikan untuk acara-acara khusus selain bersantai di sore hari dengan sofa empuk, hotspot dengan teknologi tinggi, lagu-lagu relaksasi yang mengalun di udara, dan secangkir kopi yang nikmat untuk disesap.

Sesuai namanya yang berarti ‘pernikahan’ dalam bahasa Prancis, Amarige Café yang sudah berdiri nyaris tiga tahun ini lebih sering digunakan untuk menggelar resepsi pernikahan bagi pasangan-pasangan yang menginginkan wedding banquet ala barat tetapi tidak menginginkan suasana yang terlalu classy seperti yang hotel-hotel berbintang lima sering menawarkan. Singkat kata, Amarige Café adalah sebuah trend untuk resepsi pernikahan saat ini.

Sepasang kaki bersepatu boot merah beludru dan kaki bersepatu pantofel hitam mengilat melangkah masuk dengan santai. Kita tilik ke atas, pemilik kedua pasang kaki itu adalah Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke; berjalan beriringan tanpa bergandengan tangan. Ketika tiba di meja penyambut tamu, keduanya—lebih tepatnya Sasuke—menandatangani buku segiempat yang disediakan, menuliskan nama, dan menitipkan hadiah kecil untuk pasangan yang menggelar pernikahan pada hari ini.

Gadis penjaga buku tamu yang berdiri di belakang meja merona ketika matanya bersirobok dengan kedua onyx milik Sasuke, gugup dan segera menyerahkan souvenir sebagai ucapan terima kasih kepada pemuda itu.

Hiasan magnet berbentuk miniatur tenderloin steak lengkap dengan sayur-mayur dan perlengkapan makannya untuk kulkas—Sasuke terdiam dan segera menyurukkan benda itu ke dalam saku kemejanya, membuat Sakura mengernyitkan alisnya dengan bingung.

“Ayo kita mengucapkan selamat kepada kakakmu,” ajak Sakura sambil menarik lengan Sasuke, gerakannya segera diiyakan oleh pemuda itu.

Kakak? Yah, Sasuke mengatakan bahwa yang menikah adalah kakaknya.

Yap, Akagami Karin adalah... kakaknya.

Kakak angkat.

Mereka berdua melangkah melewati meja-meja panjang bertaplak putih dengan pinggan-pinggan perak berisi aneka hidangan di atasnya, menyeruak di antara orang-orang yang bergerombol dua-tiga-empat dengan piring di tangan masing-masing.

Suasana bahagia jelas tergambar di wajah setiap undangan—Sakura bisa menangkapnya dengan jelas. Kelihatannya mereka mendukung penuh hubungan antara kedua mempelai yang bersanding manis di tengah-tengah pelaminan.

...dan Sakura tidak mengenal hampir sembilan puluh persen dari penghuni ruangan itu. Yeah, masih ada beberapa orang yang pernah disebutkan ciri-cirinya oleh Sasuke; sebut saja Hyuuga Neji dan Temari—mereka berdua adalah teman Sasuke. Sakura bahkan ingat bahwa Neji adalah pemuda berambut coklat panjang yang memberikan pengarahan saat technical meeting lomba desain berbulan-bulan yang lalu.

Sisanya?

Nol besar.

Oleh karena itu, jantungnya bertalu-talu memukuli rongga dadanya; semakin kedua kakinya mendekat ke arah mahligai, semakin kencang debaran itu. Gadis itu bersyukur suasana ruangan begitu hingar-bingar oleh musik dan percakapan orang-orang sehingga Sasuke tidak bisa mendengar gemuruh di dada Sakura.

Karpet merah yang terbentang di bawah sana bergesekan dengan hak sepatu stiletto boots milik Sakura—berdampingan dengan sepatu pantofel mahal milik Sasuke. Tidak kentara, Sakura sedikit mendorong punggung Sasuke.

“Kau duluan saja, Sasuke,” ujarnya pelan. Ketika mendapati sebelah alis sang Uchiha terangkat, Sakura buru-buru menambahkan, “Aku tidak kenal dengan kedua mempelai. Sebaiknya kamu maju duluan dan... memperkenalkanku, hehe.”

Terlihat ekspresi kebingungan menggantung di wajah Sasuke untuk beberapa saat, namun pemilik rambut raven itu bersikap acuh tak acuh dan melanjutkan langkahnya, kali ini selangkah di depan Sakura.

Detik demi detik berlalu dan keduanya tiba di hadapan pasangan berambut merah cerah yang diduga adalah orang tua Karin. Setelah bersalaman dan memberikan ucapan selamat berbahagia, Sasuke dan Sakura berlanjut pada Suigetsu dan...

...Karin.

Sakura tertegun.

Gadis berambut merah dengan mahkota imitasi di atas kepalanya dan bergaun model backless yang seksi itu... Karin? Sakura mengamati dalam diam bagaimana rambut itu ditata dengan rumit, setiap detil kristal yang menyusun mahkota tiruannya, gurat wajahnya yang nyaris sempurna...

Tiba-tiba saja Sakura merasa dirinya lusuh. Dress A line warna merah dengan pita berwarna hitam mengelilingi pinggang yang dikenakannya terasa seperti pakaian anak perempuan yang sedang merayakan ulang tahunnya yang keenam. Ah...

Sasuke menyalami Karin dengan antusias, bahkan memberikan pelukan hangat—sebagai saudara, jelas. Mereka bercanda dengan akrab, seolah-olah ini adalah reuni setelah sekian lama tak bertemu. Nyaris dua menit mereka berdua mengabaikan Sakura yang menanti dengan sabar hingga akhirnya Sasuke berbalik dan meliriknya.

“Ini Sakura.” Tangan Sasuke meraih tangan Sakura dan mempertemukannya dengan tangan Karin yang terbalut kaus tangan putih yang panjangnya mencapai siku. “Ini Karin,” ujarnya singkat kepada Karin.

Gadis merah jambu itu tersenyum canggung, “Se-selamat atas pernikahannya, Karin-san...”

Senyuman lebar terulas pada bibir penuh yang dipoles warna rose itu. Kedua mata Karin yang terbingkai kacamata merah sedikit menyipit akibat pipinya yang tertarik ke atas. “Terima kasih, Sakura!”

Sasuke mengangkat alisnya dan berlalu dari hadapan Karin, bersalaman dengan ibu Suigetsu dan kakaknya. “Ayo, Sakura.”

“Eh, iya!” Gadis itu baru saja akan menyusul Sasuke ketika ia merasakan sesuatu menahannya. Alangkah kagetnya Sakura ketika mendapati bahwa tangan Karin-lah yang menahan laju langkahnya. “...Ada apa?” tanya gadis itu, lugas seperti biasa.

Senyuman Karin masih belum memudar. “Jadi kau yang meneleponnya waktu itu? Bisa kita bicara sebentar?”

Kening Sakura mengernyit. Ia menoleh ke belakang dan melihat bahwa tidak ada orang lain mengantri di belakangnya untuk memberikan ucapan selamat. “Baiklah. Di mana?”

“Tidak jauh.” Sebelah dari sepasang rubi itu mengedip cepat. “Ayo!” Seraya menjinjing gaun pengantinnya, Karin menggandeng tangan Sakura.

“Karin, kau mau ke mana?” Seruan itu membuat pengantin wanita yang baru saja mengajak pacar dari mantan pacarnya berbicara menoleh. Sang ibulah yang memanggil dengan wajah cemas.

“Mengobrol sebentar dengan calon adik iparku, Bu!” jawab Karin cepat. Ia mengerling pada Suigetsu yang hanya mengangkat bahu. “Sebentar, kok.”

Dan tanpa menunggu jawaban dari ibunya, gadis berambut merah itu segera menarik Sakura ke belakang kue pengantin yang tingginya mencapai delapan tingkat.

Suasana di sekitar sana remang-remang, penerangan hanya berasal dari  balok-balok es raksasa berbentuk huruf K dan S yang disoroti lampu berwarna merah. Sakura membantu Karin merapikan ekor gaunnya yang lumayan panjang.

Thanks,” gumam Karin ketika lipatan terakhir ekor gaunnya kembali seperti semula. Ia menegakkan tubuhnya dan memandang Sakura yang tingginya beberapa sentimeter di bawahnya—Karin memakai sepatu berhak dua belas sentimeter, omong-omong. “Pasti kau bingung mengapa aku mengajakmu bicara seperti ini—aku hanya ingin tahu seperti apa pacar Sasuke yang sekarang, dan...”

“...dan...?” Sakura menirukan ucapan Karin dengan intonasi yang berbeda. “...dan aku di luar ekspektasimu?”

“Tidak,” sambar gadis merah itu cepat. “Justru aku senang ketika melihat kalian bersama—oke, kau mungkin tahu bahwa aku adalah mantan pacar Sasuke, dan kami putus karena merasa bahwa kami lebih cocok menjadi adik dan kakak, bukannya menjadi sepasang kekasih.”

Itu mengagetkan Sakura.

Sasuke sering menyebut-nyebut soal Karin selama beberapa waktu ini—terutama mengenai pernikahan ‘kakak’nya yang akan segera diselenggarakan di Amarige ini, tetapi tidak pernah ada perihal mengenai ‘mantan pacar’ keluar dari mulut pemuda Uchiha itu.

“Sepertinya Sasuke tidak pernah bilang soal mantan, ya.” Seolah menebak pikiran Sakura, gadis berkacamata itu terus berceloteh. “Yah, akan kuceritakan timeline singkatnya saja, kalau begitu,” —gadis itu meringis ketika melihat beberapa orang mulai berjalan menuju pelaminan— “Dulu aku menyukai Sasuke, sungguh-sungguh menyukainya. Aku menembaknya saat ia berada di tahun pertama, dan ternyata Sasuke menerimaku.

“Seiring waktu berjalan, aku merasa bahwa Sasuke lebih terasa seperti adik bagiku—yah, bagiku. Aku sama sekali tidak tahu mengenai perasaan Sasuke sendiri, tapi ketika aku mengatakan kepadanya bahwa hubungan kami sebaiknya diakhiri saja...” Tangan Karin meremas gaunnya sendiri, “...ia tampak tidak baik-baik saja.”

“Oh,” adalah satu-satunya yang dapat keluar dari pita suara Sakura. Tidak ada respons lain yang dapat diberikannya kepada sepenggal cerita Karin. Antara bingung dan kaget.

Helaan napas panjang sebelum Karin melanjutkan ceritanya. “Kau boleh menyebutku sombong, Sakura, tapi aku bisa merasakan perasaan Sasuke saat otu. Walau ia menyetujui perpisahan kami, aku bisa melihat bagaimana jiwanya surut...

“Aku menghindarinya selama berbulan-bulan, berharap bahwa tidak tampil di depan matanya dapat membantu Sasuke untuk kembali pulih. Tetapi Sasuke tetap rapuh, kosong.” Kedua mata Sakura membelalak tidak percaya. “...walaupun memakai topeng yang tangguh dan keras, sebenarnya Sasuke siap hancur berkeping-keping kapan saja...”

“...dan kau tidak berusaha menyatukan setiap kepingan itu?” tanya Sakura perlahan, kesepuluh jemarinya saling bertaut.

“Tidak.” Gadis di hadapannya menggeleng. “Bila aku muncul hanya untuk menyatukan serpihan-serpihannya dengan menggenggamnya, suatu saat ia akan kembali hancur ketika aku pergi.”

Untuk sesaat keduanya terdiam. Alunan musik mengisi kekosongan itu selama beberapa detik.

“Dan kau datang, Sakura.”

Pemilik emerald itu tersentak.

“Kau datang dan mengembalikan Sasuke seperti dulu; Sasuke yang ketus dan pembangkang seperti dulu. Sasuke yang tidak membutuhkan tameng untuk menutupi semua perasaannya. Kau datang dan menyatukan semua pecahan diri Sasuke—bahkan kau merekatkan kesatuan itu dan memodifikasinya hingga sedemikian rupa...”

Sunyi.

“Itu saja.” Bersamaan dengan isak pelan, tutur kata Karin berakhir. Sakura baru menyadari bahwa emosi Karin telah menggelegak hingga ia menangis.

Di luar kesadarannya, Sakura mengucapkan hal itu: “Terima kasih.”

Tetes air mata itu segera terhapus oleh punggung tangan terbalut sarung tangan putih. Senyuman tipis kembali terkembang di bibir Karin.

“Terima kasih karena pernah mencintai Sasuke.” Sakura mengulangi kalimatnya dengan lebih utuh. Ditatapnya kedua iris merah berkilat itu. “Terima kasih karena mau... menjadi kakak dari seorang Uchiha Sasuke.”

Pandangan Karin beralih pada sosok pemuda yang tampak sedang mencari-cari seseorang dalam keremangan. “Dia mencarimu,” katanya pelan. Karin menyentuh siku Sakura untuk menyadarkan gadis itu. “Jangan bilang apa-apa soal ini semua, oke?”

Cengiran muncul di wajah gadis pink itu. “Hehe, tentu saja!”

Sebelum gadis itu benar-benar berlalu dari hadapannya, Karin bergumam lirih.

“Berjanjilah Sakura, jangan pernah melepaskan tangannya. Karena garis takdirlah yang mempertemukan kalian berdua...”

Dan dengan senyum yang terkulum, gadis berambut merah itu menjinjing gaunnya dan kembali ke atas mahligai, menyisipkan tangannya pada lengan Suigetsu.

.
.
.
.

Karena kulihat kamu mampu mengimbangi gejolak dalam dirinya.
Kamu dan dirinya mungkin tidak sadar akan hal itu, tetapi aku tahu bahwa semenjak hari itu—semenjak hari pertama kalian bertemu—setiap detiknya, ada satu kepingan dari dirinya yang kembali tersusun seperti sedia kala...
...malah mungkin lebih baik lagi.

.
.
.
.

“Oi!”

Tepukan di bahu membuat Uchiha Sasuke berbalik dengan kedua tangan berisi potongan sushi yang beraneka ragam. Kerutan muncul pada kening pemuda itu, menandakan bahwa ia agak kesal.

“Ke mana saja kau?” tanyanya dengan nada datar, percampuran antara kemarahan dan rasa ingin tahu.

Gadis di hadapannya menampilkan senyuman tak berdosa. Sakura mencomot sepotong sushi dari piring Sasuke dan memasukkannya ke dalam mulut dalam satu suapan. “Tidak ke mana-mana, aku hanya berbincang sedikit dengan kakakmu, hehe.”

Sebelah lengkungan hitam terangkat. “Dengan Karin? Mengobrol apa?”

Kalau saja tidak ingat pesan Karin untuk tidak memberitahukan isi percakapan mereka tadi kepada Sasuke, mungkin saja Sakura yang sering kebablasan bicara ini akan berceloteh panjang-lebar soal hal yang diceritakan Karin barusan.

Gadis itu nyengir lebar.

“Ahh, bukan hal penting, kok! Karin hanya bilang kalau ia senang bisa punya adik sepertimu.”

Hanya dengan percakapan singkat tadi, Sakura bisa menyimpulkan: cinta akan selalu ada, hanya saja bentuknya berubah.

Dari cinta sepasang kekasih menjadi cinta kakak-adik.

Sama seperti Sasuke dan Karin.

.
.
.
.

Karena bisa kurasakan...
.
.
.
...kamu adalah takdirnya...

.
.
.
.
.

~Ugly Girl Under The Raindrops Extra Story: END~


.

Author’s Bacot Area

Helloooooooooooooo, finally I made it yaaaaaayyyyy! XD

Semua komentar ditunggu di kotak review :p

Oh ya, mau nambahin sekaligus minta maaf dengan sangat, aku ga folbek sembarang orang, sori~ Karena jaringan internet di rumahku agak jelek, jadinya aku agak susah juga buka TL twitter (quote hunter, hihi). Aku males kalo ternyata isi TL-ku itu orang-orang yang ga aku kenal. buat yang ga suka sama caraku, boleh banget kok kalo nge-unfollow, bakal aku unfollow juga dengan senang hati :D

Oke deh, byeeeeeeeeeeeee :*

Me ke aloha,
mysticahime™
05042012, 23.49

1 komentar:

Anonim mengatakan...

hello there :D

sudah tahu IFA? IFA (Indonesian Fanfiction Awards) adalah ajang penghargaan untuk author dan fanfiksi berbahasa indonesia yang diadakan setahun sekali. nah IFA 2012 ini adalah yang kelima sejak IFA diadakan pertama kalinya pada tahun 2008. tapi kali ini IFA nggak cuma mencakup FFN aja lho, tapi juga udah merambah ke AO3 :") ayo, buruan ikutan dan nominasikan fanfiksi-fanfiksi jagoanmu!

untuk info lebih lanjut, kamu bisa tengok akun-akun resmi IFA di bawah ini:

twitter - @_IFA2012
website - http://ifa2012.infantrum.info
infantrum - http://s3.zetaboards.com/Infantrum/forum/3002925
facebook - http://bit.ly/fbifa12
AO3 - http://archiveofourown.org/users/IFA2012/profile
FFN - http://www.fanfiction.net/u/3558869/IFA_2012

majukan fanfiksi berbahasa indonesia!

salam,
humas resmi AO3,

ejey

Posting Komentar

Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems