RSS

[Side Story 3] Ugly Girl Under The Raindrops: Undoubtfully Bound



“Berhentilah mendengus, Sasuke.”

Sasuke melirik Hyuuga Neji dengan tatapan sebal. Terkadang wakil ketuanya yang sedikit perfeksionis agak mengganggunya. Neji seringkali mencela Sasuke, dengan kata-kata yang singkat-padat-dan jelas, tentu saja. Dan hal ini membuat Sasuke menjadi lebih keki lagi.

“Aku tidak mendengus.” Pandangan Sasuke kembali beralih pada peralatan ‘pengesahan’ berkas-berkas mengenai pertandingan persahabatan itu.

“Aa, terserah sajalah.” Neji yang tengah bersedekap menatap ke udara luar, menyapukan pandangan dari sepasang mata lavender-nya ke sapuan gradasi warna biru di atas sana.

“Hn.”

Hening.

Sasuke berusaha menenggelamkan dirinya ke dalam lingkup lembaran-lembaran HVS berisi undangan resmi perlombaan yang akan dilaksanakan satu minggu lagi, namun pikirannya sama sekali tidak mau berkompromi dengan sang empunya. Alam bawah sadarnya berkali-kali memutarkan rekaman kejadian makan malam mereka berdua beberapa minggu yang lalu. Tsk, ternyata seorang Uchiha Sasuke tidak bisa melupakan gadis menyebalkan itu.

“Bisakah kau fokus pada pekerjaanmu sedikit saja, Tuan Muda Uchiha?” Lagi-lagi terdengar nada mengejek dalam suara Neji. Sepasang onyx milik Sasuke segera meluncurkan tatapan sinis—pertanda ia tidak menyukai ucapan Neji. Pasangan ketua dan wakil ketua senat itu seringkali bersitegang hanya karena masalah sepele.

“Urus tugasmu sendiri,” balas Sasuke sengit. Neji balas mendengus—sepasang mata lavender itu kembali menatap lembaran-lembaran HVS yang akan diserahkannya ke dosen pembimbing guna meminta persetujuan.
.
.

UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
The Side Story 3: Undoubtfully Bound
.
.
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.

mysticahime™
© 2011
.
.
.
Please take notes: KGB and the clique. Friendship, not sho-ai. Timeline anjlok, plot suka-suka. Beberapa scene terjadi sebelum side story 2
.
.
.
ENJOY! :)
.
.
“KGB!”

Salah satu rutinitas di Konoha International University adalah cuci mata di siang hari dengan melihat keelokan tiga orang kaum Adam yang sering berada di kafetaria. Setelah melewati berjam-jam penuh aura kantuk dengan dosen dan buku diktat, hal yang paling menyenangkan untuk dilakukan para gadis adalah menikmati radiasi testosteron bercampur dengan feromon.

Sabaku Gaara, Hyuuga Neji, dan Uchiha Sasuke adalah tiga dari empat anggota KGB—Kwartet Ganteng Banget. Orang keempat ialah Uchiha Itachi, kakak kandung dari Sasuke yang telah lulus dari Konoha International University bertahun-tahun yang lalu—hanya saja namanya tetap abadi dalam jajaran KGB, seolah-olah tidak ada yang bisa menggantikan tempatnya sebagai salah satu dari para jawara.

Sekilas, KGB terlihat seperti sekumpulan laki-laki cerdas, keren, ganteng, dan—tentu saja—normal. Mereka terlihat akrab bagaikan tiga sekawan yang tak terpisahkan, tampak bersahabat, kompak, solider... padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Sasuke dan Gaara bukannya tidak mempunyai teman-teman tersendiri, mereka tergabung dengan sebuah clique yang tak sengaja terbentuk semenjak masih mahasiswa tingkat pertama. Sedangkan Neji—Neji adalah senior mereka, satu tahun di atas Sasuke dan Gaara. Kemungkinan besar, pemuda berambut panjang itu memiliki konco sendiri di angkatannya.

Ah, bicara tentang Neji, beberapa hari lagi adalah wisuda bagi dua ratus orang angkatan Hyuuga itu, dari berbagai jurusan, tentu saja. Sebut saja beberapa orang yang akan diwisuda nanti: Temari, Karin, dan... tentu saja Neji sendiri.

Lulusnya tiga orang yang termasuk idola di KIU itu memberikan perasaan hampa tersendiri bagi mahasiswa-mahasiswi KIU. Setelah hari ini, 3 Diva hanya tinggal Hinata, dan KGB hanya tinggal Sasuke dan Gaara. Itu pun hanya bersisa satu tahun lagi mereka mengenyam ilmu di universitas swasta tersebut, karena mereka bertiga memiliki IP yang tinggi dan dijadwalkan untuk mengikuti wisuda periode tahun depan.

Kembali pada KGB.

“Bagaimana persiapan wisudamu, Neji?”

Saat ini KGB tengah menempati meja yang seolah dikhususkan untuk mereka, sebuah meja sudut dengan sofa berbentuk seperempat lingkaran yang terletak di salah satu sudut kafetaria. Posisi mereka sangat strategis untuk mengamati dan diamati seisi kafetaria, menimbulkan kecurigaan bahwa daerah eksklusif itu memang sengaja diciptakan untuk KGB (—dan kesehatan mata para gadis).

Neji melirik ke arah Gaara, sang penanya, kemudian kembali menyibukkan diri dengan sepiring penuh omelette rice. “Sudah selesai.”

“Urusan administrasi sudah?”

“Aa.”

Gaara mengangguk-angguk dan kembali pada santapannya, menikmati untai-untai spageti yang dengan sengaja ia gulung menggunakan garpunya. Kemudian mata jade-nya beralih pada Sasuke yang sedari tadi diam saja. “Bagaimana pekerjaanmu, Pak Ketua Panitia?”

“Baik,” jawab Sasuke tanpa menoleh. Disesapnya teh hijau tanpa gula melalui sedotan, kemudian ia melanjutkan proses ingestinya.

Ganti Neji yang berkata-kata dengan nada datar, “Kuharap kerja kerasmu tidak mengecewakan, Ketua.”

Kini Sasuke benar-benar menatap Neji dengan tajam. “Aku tidak melakukannya untukmu.” Diletakkannya sendok dan garpu yang ia gunakan di tepi piring, lalu pemuda berambut hitam itu berdiri. “Aku duluan.”

Pemuda bermata lavender yang sebelumnya menjadi lawan bicara Sasuke tidak menanggapi, sedangkan Gaara hanya memandang teman satu clique-nya dengan tatapan nanar. Ketika punggung Sasuke menjauh dari jarak pandangnya, pemilik rambut merah itu hanya bisa melirik ke arah makanan yang ditinggalkan Sasuke.

Nasi goreng itu bahkan belum habis separuhnya.

.
.
.

Untuk ukuran musim gugur, cuaca hari ini terbilang cukup cerah. Torsi galaksi tak tersembunyi di balik kawanan kumulus yang biasanya menari-nari di tengah birunya langit. Sesekali semilir angin bermain-main dengan dedaunan yang menempel pada ujung ranting-ranting yang mulai meranggas.

Atap kampus utama jurusan bisnis Konoha International University merupakan salah satu dari empat spot terbaik untuk mengasingkan diri dari keramaian. Tak banyak yang memiliki akses langsung ke atap kampus, kecuali orang tersebut dapat dengan mudah melobi staff yang bertugas memegang kunci dari universitas tersebut.

Tepat di tengah-tengah luasnya lanskap tersebut, seseorang berbaring dengan menggunakan kedua lengannya sebagai sandaran. Sebuah buku tebal mengenai perbisnisan yang terbuka pada bagian medial dijadikannya sebagai penutup wajah dari sengatan matahari. Dengan bagian fasial tertutup oleh buku, tak bisa dipastikan apakah orang itu tidur atau tidak.

—tidak, ia tidak tertidur.

Uchiha Sasuke sudah melewatkan beberapa menit ini dengan berada pada posisi yang sama—sesekali menggerakkan kakinya bila terasa kaku. Tetapi ia tak berniat untuk bangun atau berguling ke posisi lainnya. Statis, seperti itu saja.

Semula, pemuda bermata obskurit itu datang ke atap hanya untuk merenung, tidak ada tujuan lainnya. Hanya saja, bermenit-menit dibelai oleh sang bayu membuat kedua mata itu nyaris terpe—

BRAK!

Teme!”

Bunyi pintu yang dijeblak paksa disusul seruan yang memanggil ‘nama’nya membuat Sasuke sedikit terusik, namun tak berhasil membuat pemuda itu menyahuti panggilan tersebut.

Sasuke malah semakin memejamkan kedua matanya, seolah dengan merapatkan kelopak matanya bisa meredam kehebohan yang baru disebabkan oleh orang yang ia yakin adalah Uzumaki Naruto.

Srat!

Sinar keemasan menghambur ke wajah Sasuke, membuat sang empunya segera menggunakan lengannya untuk menghalangi radiasi yang menghujaninya tanpa henti. Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, tanpa sadar memfokuskan penglihatannya pada sosok orang yang menyingkap media peneduhnya dari posisi semula.

Uzumaki Naruto mengibaskan buku Sasuke dan meletakkannya di samping pemuda itu, kemudian duduk bersila dekat sang Uchiha bungsu. Kedua mata birunya mengamati Sasuke dalam diam, hingga akhirnya tinjuan dari pemilik rambut raven itu menghantam dengkulnya.

Ouch!” Naruto menjauhkan kakinya dari Sasuke, takut terkena serangan selanjutnya. “Apa-apaan kau, Teme?”

Satu deathglare dari pemuda itu. “Kau yang apa-apaan—memandangiku seperti... gay.”

Pemuda pirang itu tertawa mendengarnya, sejurus kemudian ia ikut membaringkan diri di sebelah Sasuke, memandangi langit biru yang seolah tak terbatas luasnya. “Aku tidak berminat pada cowok,” katanya sambil nyengir lebar. “Masih banyak cewek imut yang menanti di luar sana~” Ia melambai-lambaikan tangannya pada angkasa di atasnya.

“Hn.”

Keduanya terdiam selama beberapa saat. Sasuke kembali memejamkan kedua matanya, bersamaan dengan itu, angin sepoi-sepoi bertiup.

Teme,” suara Naruto memecah keheningan. Mata safirnya masih menatap jauh ke atas, tapi nada suaranya jelas-jelas mengajak Sasuke untuk berinteraksi. “Bagaimana perasaanmu soal wisuda nanti?”

“Bukan urusanku,” cetus Sasuke tanpa berpikir. Sedetik kemudian kelopak matanya terbuka. “Terutama karena ada Neji.”

“Hmh!” Salah satu sudut bibir Naruto tertarik ke atas. “Kau masih bermusuhan dengan Hyuuga senior itu? Bukankah kalian sama-sama KGB dan... pengurus senat?”

Kedua onyx itu berputar perlahan, “Bukan karena kemauanku.”

Naruto manggut-manggut, merasakan bagian belakang kepalanya bergesekan dengan permukaan beton. “Aku mengerti... Kau dan Hyuuga-senpai adalah orang yang mirip, Teme. Kalian sama-sama populer, cerdas, keras kepala—”

“—siapa bilang aku keras kepala?” sambar Sasuke, mendelik kepada salah satu orang yang paling dekat dengannya selain Itachi—dan Sakura.

“Aku!” Si pirang mengacungkan telunjuk kirinya ke udara. “Lalu Gaara, Shikamaru, Kiba—” satu-persatu jarinya bertambah. Jari tengah, jari manis, jari kelingking—

“Ck.” Kembali pemuda itu mengalihkan pandangannya ke arah langit, menelusuri luasnya yang menyelimuti buana. Pandangannya berakhir pada satu titik di mana ia tak bisa memaksa kedua matanya melihat lebih jauh lagi.

“Kau keras kepala, Teme,” ulang Naruto dengan nada ringan. “Kalau kau tidak keras kepala, kau tak akan pernah berdebat dengan Hyuuga Neji. Karena kalian sama-sama tipe orang koleris—setiap bertemu pasti akan saling mendebat dan—”

Sasuke diam saja, tidak berusaha menanggapi kata-kata Naruto. Pikirannya melayang-layang pada kejadian-kejadian ketika ia bersitegang dengan pemuda bermata lavender itu. Neji selalu berusaha memojokkannya, seolah-olah Sasuke-lah yang salah. Dan biasanya ia membalas dengan bersikap sarkastik pada pemuda itu. Lalu mereka akan saling menyindir, terus, terus hingga akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat.

...sebenarnya bukan sepenuhnya salah Neji.

Sasuke paling ingat kejadian saat KIU akan mengadakan lomba, ketika Neji terus-menerus mengkritiknya. Saat itu Sasuke memang tidak berada dalam kondisi prima—psikisnya sedang terganggu oleh sebuah gelombang yang ternyata adalah cinta. Terus terang, saat ini ia baru berpikir bahwa teguran Neji adalah benar.

Pertandingan persahabatan yang diadakan KIU memang bukan masalah sepele, salah satu acara yang menjadi kebanggaan bagi universitas swasta itu karena tak banyak universitas yang sanggup memfasilitasi lomba untuk banyak kategori dan peserta. Kalau saja saat itu ia tetap tidak berkonsentrasi pada okasi sebesar itu, ada kemungkinan mereka akan mendapat cibiran dari banyak pihak. Yang lebih buruk lagi, pamor KIU di mata masyarakat akan menurun drastis.

“Ck,” sekali lagi Uchiha bungsu berdecak kesal. Ia menggeser tubuhnya menjauhi Naruto, kemudian meregangkan kedua lengan dan tungkainya yang terasa kaku.

“Menurutku,” Naruto kembali bicara tanpa mempedulikan reaksi Sasuke barusan, “Hyuuga-senpai bukannya ingin bermusuhan denganmu, Teme, tapi kalian hanya sering miskomunikasi sehingga—” ia menghentikan kata-katanya ketika melihat Sasuke memunggunyinya. “Ah, sudahlah. Istirahat makan siang sudah hampir selesai. Ke kelas, yuk? Kita ada kuliah Kewirausahaannya Umino-sensei.”

“Kau duluan saja, Dobe,” suara Sasuke teredam oleh distansi di antara keduanya. “Aku masih ingin di sini.”

“Baiklah...” Naruto bangkit dari tidurnya, menepuk-nepuk bagian belakang celana jeans-nya yang ternodai debu kecokelatan. “Pikirkan baik-baik, Teme: memangnya Hyuuga Neji sejahat itu?” kemudian pemuda berambut jabrik itu melangkah ke arah pintu.

“Minggu nanti adalah hari terakhir Hyuuga-senpai menjadi mahasiswa—”

Hening.

“—dan juga partner senatmu.”

Blam.

Kini tinggallah Uchiha Sasuke sendirian di tempat itu, merenungi apa yang baru saja dikatakan oleh Naruto. Sebagian kecil hatinya membenarkan kata-kata itu.

Neji bukannya ingin mencela. Neji lugas, mencerminkan apa yang ia lihat dari orang itu kepada sang subjek. Menegur. Membimbing. Dan tidak segan memuji bila perlu.

Pemuda raven itu memejamkan kedua matanya.

.
.
.

Mungkin sebenarnya memang aku yang keras kepala, bukan Neji.

.
.
.

Ia membiarkan dirinya berdialog dengan akal sehatnya.

.
.
.

Mungkin aku yang menganggap teguran itu sebagai sesuatu yang seolah meremehkan diriku.

Karena egoku tinggi. Karena aku tak mau seseorang terlihat lebih baik dariku.

Karena aku bodoh.

Karena aku tidak berusaha melihat Neji sebagai garis positif...

.
.
.

Hari Minggu telah tiba, hari di mana dua ratus orang akan melepas status kemahasiswaannya dan terjun ke dunia bebas. Hari di mana mereka bersukacita karena berhasil menamatkan pendidikan yang telah dikenyam selama empat tahun. Hari di mana topi wisuda akan beterbangan setelahnya.

Aula besar Konoha International University adalah lokasi di mana terselenggaranya pelepasan calon alumnus, telah didekorasi sedemikian rupa sehingga tampak berbeda dari suasana sehari-harinya. Tak lain dan tak bukan, segalanya adalah hasil kerja keras panitia di bawah pengaturan Uchiha Sasuke sebagai ketua panitia.

“Min tiga puluh, re-check semua perlengkapan.”

Sound system, oke.”

“Podium, oke.”

Earset yang menyumpal sebelah telinga tiap panitia menggaungkan koordinasi antar individu, membuat mereka semua bergerak sistematis melakukan pengecekan tahap akhir sebelum acara wisuda dimulai. Perarakan senatorat KIU sebagai pembukaan acara akan berlangsung kurang-lebih tiga puluh menit lagi, dan saat ini semuanya harus sudah siap. Panitia hanya tinggal mengecek tugas satu sama lain, memastikan rundown akan berjalan sesuai rencana.

“Konsumsi senatorat telah dibagikan ke masing-masing meja.”

“Pendingin ruangan, oke.”

Uchiha Sasuke-lah manusia yang paling sibuk sedari tadi. Pemuda berambut hitam mencuat itu bolak-balik antara aula besar dan ruang senat secara berkala—terlalu frekuentif untuk dihitung dengan jari tangan. Jabatan ketua panitia yang berada di pundaknya membuat Sasuke memegang tanggung jawab penuh untuk pelaksanaan pelepasan calon alumnus periode ini.

Setelah memastikan semuanya seperti rencana, ia memberikan instruksi baru bagi seluruh panitia.

“Semua berkumpul di aula. Persiapan selesai. Keamanan, buka pintu aula dan persilakan para wisudawan masuk ke ruangan.”

Barisan sebelah kanan paling pojok aula adalah tempat khusus untuk panitia yang sudah selesai bertugas. Mereka diizinkan melihat jalannya wisuda, sedangkan beberapa panitia yang berperan sebagai seksi acara harus duduk di barisan tengah, tepat di dekat senatorat.

“Yo, Teme!” Kalau masih ada makhluk yang bisa bersikap ceria seolah tanpa beban saat ini, sudah pasti orang itu adalah Uzumaki Naruto—orang yang sebenarnya tidak terlibat kegiatan apa pun tetapi sering menyelundupkan diri ke dalam kegiatan apa pun yang dilakukan oleh Sasuke. Pemuda pirang itu menepuk pundak Sasuke dengan santai dan mengempaskan bokongnya di kursi sebelah.

Di acara seperti ini, kalau ada Naruto pasti ada—

“Untuk apa aku diseret ke acara seperti ini? Merepotkan...”

“Hoi! Pacarmu itu akan diwisuda, tahu!”

Ya, benar. The clique; Nara Shikamaru, Inuzuka Kiba, dan tentu saja Sabaku Gaara yang cukup pendiam di antara mereka. Mereka bertiga dan Naruto benar-benar setali tiga uang.

Ah, Sasuke hampir saja melupakan Gaara. Pemuda berambut crimson itu kan juga termasuk jajaran panitia, hanya saja ia sudah selesai bertugas—di bagian perkap. Gaara menempatkan diri di kursi lain yang juga di sebelah Sasuke. Praktisnya, urutan mereka duduk saat ini adalah Shikamaru, Kiba, Gaara, Sasuke, dan Naruto.

Pemuda Uchiha itu men-deathglare Naruto. “Dobe, ini barisan untuk panitia,” katanya sepelan mungkin.

“Lho,” respon Naruto begitu seadanya, “aku kan bermaksud baik, Teme. Berjaga-jaga seandainya kau mengantuk mendengar kata sambutan dari senatorat, kau bisa mengobrol bersama kami semua—iya kan, Teman-teman?”

“Hahahaha... BENAR!” jawab Kiba dengan suara lantang. “Lagipula, dengan adanya dua panitia di sini, kita pasti tidak akan dimarahi oleh yang lainnya—apalagi Sasuke adalah ketua panitia tahun ini!”

“Hoahmmm...” Shikamaru menanggapi Naruto dengan kuapan lebar. “Aku sudah mengantuk sebelum menemani kalian mengatasi kantuk saat diceramahi...”

Kiba langsung menyambit kepala berkuncir itu dengan bundelan kertas yang dibawanya, entah apa isi kertas itu.

Kelimanya memandangi ratusan mahasiswa-mahasiswi yang akan diwisuda hari ini memasuki ruangan dengan teratur. Tidak seperti remaja yang kalap untuk memasuki gedung konser band rock terkenal, mereka melangkah tanpa terburu-buru, tidak berebutan masuk untuk saling mendahului duduk di kursi yang tersedia. —bagaimanapun juga, tempat duduk telah diatur berdasarkan jurusan dan nomor pokok mahasiswa.

“Mereka berbeda sekali denganmu, Naruto,” oceh Kiba dengan tujuan meledek kawannya itu. Yang diejek menjulurkan lidah.

“Kau yang suka serampangan kalau masuk gedung!” balas Naruto sambil menunjuk-nunjuk ke arah saingannya dalam hal ejek-mengejek. “Waktu itu siapa coba yang sampai tersandung kabel lampu sorot saat wisuda Itachi-senpai?”

“Itu karena kau mendorongku terus maju!” Kiba tak mau disalahkan sendiri.

Sasuke yang berada di tengah-tengah pertengkaran keduanya merasa kesal. Dialihkannya perhatiannya pada rombongan mahasiswa yang semakin menipis di depan pintu masuk. Dan pandangan matanya membeku ketika melihat sosok seseorang.

Hyuuga Neji, orang yang seringkali berdebat dengannya.

Kontras dengan wajah-wajah ceria wisudawan lainnya, wajah Neji tetap datar dan tanpa ekspresi. Sorot matanya tak terbaca. Pemuda itu berjalan dengan tenang menuju kursinya di deretan depan.

“Itu Hyuuga Neji-senpai,” samar-samar ia mendengar Naruto berbicara. “Ne, kudengar Hyuuga-senpai akan memberikan kata sambutan sebagai lulusan terbaik—”

Lulusan terbaik? Huh. Sasuke mendengus mendengarnya. Tatapannya beralih pada rombongan wisudawan yang datang setelah kloter pertama masuk. Ada Temari dan Karin—dua orang dari 3 Diva. Sepertinya kloter kedua ini sarat akan kaum hawa.

“Tuh, Shikamaru, pacarmu.” Naruto berseru dari ujung ke ujung—mengingat posisi duduknya dan Shikamaru terhalang oleh Sasuke, Gaara, dan Kiba. Terdengar decihan kesal khas Shikamaru disusul gumaman, “Merepotkan,” yang membuat si pirang nyengir puas.

Sepertinya kebahagiaan utama Naruto berasal dari reaksi orang-orang yang dikerjainya.

Jelas saja Shikamaru kesal dengan perbuatan Naruto yang meneriakkan kata ‘pacarmu’ keras-keras di depan khalayak ramai. Walaupun hubungan Shikamaru dan Temari sudah bukan rahasia lagi, tetap saja pemuda berambut kuncir itu tidak merasa nyaman bila kehidupan personalnya diungkit-ungkit dengan seruan megabass seperti tadi.

—uhm, tidak, tidak. Suara Naruto bukan bas, tenor. Ya, seruan megatenor.

“Lima menit.” Suara di earset dari panitia yang bertugas di belakang panggung menyadarkan Sasuke dari kesibukannya memperhatikan wisudawan yang hilir-mudik di bagian depan aula.

“Tutup pintu setelah semuanya masuk,” ujar sang Uchiha muda. Yap, tugasnya sebagai ketua panitia akan segera berakhir dalam beberapa jam. Mungkin kata-katanya kali ini adalah titah terakhir yang bisa dikeluarkannya selama masih berada dalam jabatan tersebut.

Roger.”

Lima menit kemudian, prosesi pembukaan acara wisuda dimulai. Senatorat universitas beriringan masuk, dimulai dari para dekanat tiap fakultas hingga pada akhirnya rektorat universitas sendiri. Total lebih dari tiga puluh orang berpangkat magister dan doktor—ada juga profesor—berjalan dalam langkah-langkah lambat yang disesuaikan dengan irama lagu Himne Mahasiswa Sedunia.

“Gaudeamus Igitur
Juvenes dum sumus
Gaudeamus Igitur
Juvenes dum sumus,

Post ju cundum juventutem,
Post molestam senectutem
Nos ha bebit humus,
Nos ha bebit humus...”

Di bangku wisudawan, Sabaku Temari menitikkan air mata terharu. Perlahan diliriknya toga merah yang tengah ia kenakan, lalu tatapannya beralih pada tali topi yang menjuntai di depan wajahnya.

Empat tahun telah berlalu, hari-harinya sebagai mahasiswa telah mencapai finalnya pada hari ini. Empat tahun telah berlalu, kesibukannya menyerap ilmu dan mengerjakan tugas telah berakhir pada sidang beberapa hari yang lalu. Empat tahun telah berlalu, warna-warni cerah telah memenuhi sepanjang harinya.

Empat tahun telah berlalu, dan ia akan segera menapaki alur baru dalam kehidupan.

Kedua mata obskurit Temari semakin basah. Ia melirik Karin, salah satu dari 3 Diva yang juga merupakan teman seangkatannya walau berbeda jurusan. Temari adalah mahasiswi jurusan bisnis manajemen, sedangkan Karin mahasiswi jurusan psikologi. Tak disangka, Karin juga sedang meliriknya.

“Ubi sunt qui antenos
In mundo fuere?
Ubi sunt qui antenos
In mundo fuere?

Va dite ad superos,
Tran site in inferos
Hos si vis videre,
Hos si vis videre...”

“Hari ini hari terakhir kita membanggakan status kita sebagai mahasiswa,” bisik Karin sambil tersenyum kecil pada Temari. Gadis itu cukup terkejut melihat Temari yang biasanya terlihat tangguh dan ceria bisa juga menitikkan air mata pertanda terharu.

“Ya,” jawab Temari dalam bisikan, masih mengkhayati lagu yang dinyanyikan dengan indah oleh paduan suara universitas, Campone la Voce. “Tak kusangka hari ini akan tiba juga.”

“Aku juga,” balas Karin. Tatapan ruby-nya beralih ke depan, berusaha menatap satu-persatu senatorat yang duduk di meja panjang yang telah dipersiapkan. “Rasanya bagai mimpi...”

Temari tidak menjawab, setidaknya secara lisan. Dalam hati ia mengakui kebenaran kata-kata Karin. Hari-hari selama empat tahun ini berlalu bagaikan mimpi. Ya, mimpi. Bukan mimpi buruk yang membuat orang ketakutan setengah mati, namun merupakan mimpi indah yang ia harap tak pernah berakhir.

Lepasnya status sebagai mahasiswa bukanlah hal yang akan membuat mereka semua—para wisudawan—terbangun dari mimpi indah itu. Wisuda adalah sebuah awal yang baru, langkah pertama menuju karir cemerlang yang akan menyokong kehidupan mereka di masa depan.

Helaan napas panjang sebelum kembali mengikuti prosesi pembukaan. Gadis pirang itu kembali menatap toga yang dikenakannya.

Toga ini bukan saja sebagai tanda kelulusan. Toga merah ini juga menunjukkan bahwa dirinya telah jauh lebih dewasa daripada dirinya empat tahun yang lalu.

“Vivat Academia
Vivat frofesorres
Vivat Academia
Vivat frofesorres

Vivat membrun quod libet,
Vivat membra quaelibet
Vivat senatores,
Vivat senatores...”

“Kenapa kau menangis, Dobe?” Sasuke tak henti-hentinya heran akan bulir-bulir air mata yang mengalir di pipi Naruto tatkala seluruh hadirin menyanyikan lagu Himne Mahasiswa dipimpin oleh Campone la Voce. Memang sungguh mengherankan, Naruto yang semula paling semangat mengikuti acara wisuda ini tiba-tiba menangis saat menyanyi.

Absurd.

“Teme, tidakkah kau sadar? Clique kita akan berkurang seorang! Dan, dan, dan...” Naruto mengelap ingusnya yang sempat keluar. “...dan tahun depan kita juga akan menyanyikan lagu yang sama dalam balutan toga! Semakin cepat kita lulus, semakin cepat juga waktu bermain kita menguap!”

Sasuke menggeleng-geleng, terlalu malas untuk menanggapi celotehan sahabatnya itu.

“—aku juga akan kehilangan orang-orang yang sempat kukenal di angkatan atas, dan saat wisuda nanti, aku benar-benar akan kehilangan civitas kampus ini! Lalu—” Naruto berhenti bicara saat mendengar bahwa acara selanjutnya adalah kata sambutan dari lulusan terbaik periode ini. Hyuuga Neji. “Hei Teme, kau yakin akan membiarkan perseteruanmu dengan Hyuuga-senpai tidak memiliki ending yang jelas? Maksudku, tentu saja kau mengerti, tidak enak rasanya lulus masih dengan bentrok seperti ini. Kalian sama-sama pengurus senat—”

Kedua onyx itu melirik Naruto dengan datar.

“Jangan keras kepala, Teme! Aku yakin sebenarnya kalian berdua bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik-ba—”

“Diamlah.” Akhirnya Sasuke merespon. Ia memalingkan wajah agar tidak usah melihat Neji berdiri di podium dan mulai memberikan kata sambutan. Mengabaikan orang yang sering perang syaraf dengannya bukan hal sulit bagi Sasuke.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Naruto tanpa menoleh pada temannya. “Apa yang kau pikirkan sehingga kau terus mempertahankan gengsi untuk tidak menyelesaikan semua ketidakenakan ini?”

Tidak ada yang berbicara untuk sesaat.

“...Tahun-tahun di Konoha International University adalah  tahun-tahun emas dalam kehidupan saya,” sayup-sayup terdengar suara Neji dari depan. “Memiliki teman-teman yang menyenangkan, khususnya jajaran pengurus inti Senat yang kerap kali membantu saya, adalah anugerah. Saya jujur dalam mengenai hal ini—”

Teme?” Naruto masih menunggu jawaban Sasuke.

“...Sudah terlambat.” Alih-alih menjawab, Sasuke lebih terdengar seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Usai berkata-kata demikian, pemuda raven itu bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari pintu samping aula, meninggalkan acara wisuda yang bahkan prosesi pembukaannya belum selesai setengahnya.

.
.
.
.

Cahaya matahari berhamburan menghujani lapangan rumput hijau yang terletak di sentral kampus. Pada saat-saat penting seperti wisuda, tentu saja tak ada yang menyentuh lapangan itu. Terlebih lagi bila saat wisuda itu matahari bersinar kelewat cerah. Lebih baik duduk manis di dalam aula dan menikmati prosesi yang sedikit membosankan itu daripada harus disembur oleh ultarviolet.

Tapi untuk kali ini, tidak.

Sasuke berjalan, berjalan, dan terus berjalan. Kedua tungkainya menghasilkan langkah-langkah yang ritmis dan teratur, menyibak helaian rumput hijau yang menyelimuti lanskap tanah dengan baik.

Sedari tadi, dirinya menertawai kebodohannya. Untuk apa dia keluar dari aula? Bukankah dia adalah ketua panitia? Bukankah seharusnya dia tetap tinggal untuk mengawasi jalannya acara? Tentunya orang lain akan menyalahkan dirinya yang tidak bertanggung jawab meninggalkan acara bila terjadi kesalahan sekecil apa pun.

Pemuda itu pun tidak mengerti apa yang menyebabkan ia ke sini, ke lapangan kosong ini. Pidato Neji-kah? Atau kata-kata Naruto? Atau—ah, apa pun itu.

Dibiarkannya tubuhnya melawan gravitasi bumi, punggungnya membentur permukaan tanah yang tertutupi ruas-ruas rerumputan. Dibiarkannya sang bayu menghembus wajahnya, menggelitik kelopak matanya yang terpejam. Ah, siapa yang peduli dengan keganasan ultraviolet? Toh Sasuke bukan gadis-gadis yang menjaga keindahan dermis—

“Sudah kuduga kau akan ke sini, Ketua.”

Kelopak mata Sasuke yang semula sudah tertutup rapat kembali terbuka ketika telinganya mendengar suara itu. Setengah berharap ia bermimpi, tapi—

Memang Hyuuga Neji yang berdiri di sana, menatapnya dengan kedua mata lavender yang tak beremosi itu. Tak ada ekspresi apa pun terlukis di wajahnya, tak ada emosi. Hanya ada keheranan dan... kepedulian?

Pemuda berambut cokelat panjang itu segera duduk bersila di dekat Sasuke, tak terlalu dekat karena mereka tidak berteman baik.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Sasuke berganti posisi menjadi duduk selonjoran. Wajahnya berpaling ke arah lain karena tak mau menatap langsung mata Neji. “Bukankah seharusnya kau mengucapkan pidato perpisahan?”

“Memang.” Pemuda Hyuuga itu melepaskan topi wisudanya. “Tapi aku menyelesaikannya lebih cepat daripada yang seharusnya... karena tak sengaja melihat seorang bodoh keluar dari aula.”

“Cih.” Sasuke mengerutkan kening. “Aku tidak sedang ingin bertengkar.”

“Aku juga. Hari ini adalah hari kelulusanku. Dari universitas ini. Dari senat...”

Keheningan melanda keduanya. Tak ada yang berbicara. Angin berhembus meningkahi matahari yang kian mengganas. Gemerisik rerumputan adalah satu-satunya suara yang terdengar selama beberapa saat.

“Terima kasih untuk tiga tahun ini.” Sasuke tersentak mendengar kata-kata Neji selanjutnya. “Terima kasih karena menjadi partner yang cerdas di senat.”

“Bukan masalah.” Hanya itu yang bisa dikatakan Sasuke.

“...kau yakin akan membiarkan perseteruanmu dengan Hyuuga-senpai tidak memiliki ending yang jelas? Maksudku, tentu saja kau mengerti, tidak enak rasanya lulus masih dengan bentrok seperti ini. Kalian sama-sama pengurus senat—” Kata-kata Naruto kembali terngiang di telinga Sasuke.

Diam!—Sasuke membentak alam bawah sadarnya sendiri. Kenapa kata-kata Naruto terus berputar-putar di benaknya?

“Apa yang kau pikirkan sehingga kau terus mempertahankan gengsi untuk tidak menyelesaikan semua ketidakenakan ini?”
Bagaikan dipukul palu godam, Sasuke tersadar. Selama ini dirinya diselimuti oleh gengsi, begitu pula Neji. Seperti kata Naruto, keduanya sama-sama bertipe kepribadian koleris yang sama-sama keras kepala...

Yah, Sasuke memang memiliki gengsi, tak mau disalahkan dalam keadaan apa pun. Sekalipun ia tahu dirinya memang bersalah, alam bawah sadarnya akan menyangkal bahwa ia melakukan hal yang salah.

Tapi saat ini Neji sudah tidak menyelubungi dirinya dengan gengsi. Ah, Neji memang tidak pernah menyelubungi dirinya dengan gengsi—salahkah ia mengira selama ini? Pembawaan Neji memang begitu, datar dan lugas.

Ya, berlawanan dengan Sasuke yang memilih untuk tak menunjukkan emosi yang sebenarnya.

.
.
.

Hei, bukannya semalam ia sudah berdialog dengan dirinya sendiri?

Bukankah ia sudah mulai mempertimbangkan bahwa dirinya memang egois?

Lalu kenapa... sekarang ia berusaha menyangkal semua itu?

.
.
.

Neji sendiri bukannya tidak tahu bahwa Sasuke tidak menyukai banyak hal dari dirinya. Sasuke keras kepala, tidak mau diberitahu maupun ditentang. Sasuke tidak suka disalahkan.

Sasuke adalah ketua senat paling kreatif yang pernah ditemui Neji.

Hari ini hari kelulusannya dari status mahasiswa yang pernah berada di pundaknya selama empat tahun. Hari ini adalah hari terakhir ia bisa disebut sebagai civitas kampus. Hari ini adalah tambahan langkah baginya menuju kedewasaan.

Dan Neji tak ingin merusak kebahagiaannya hari ini.

Neji ingin lulus tanpa ada beban tertinggal. Satu-satunya beban yang ada saat ini adalah... kembali berteman dengan Uchiha Sasuke, kembali menjadi ketua dan wakil ketua senat yang tidak saling melontarkan api saat bertemu.

Kembali menjadi... Uchiha Sasuke dan Hyuuga Neji.

Nyaris dua tahun mereka berdua memasang perisai dan bersinggungan. Nyaris dua tahun berlalu dengan perseteruan tak kasatmata ini.

Neji tak ingin lulus dengan sikap permusuhan dari Sasuke. Mereka adalah teman. Mereka seharusnya menjadi teman. Seharusnya mereka bisa, bila saja Sasuke juga mau menurunkan benteng permusuhannya—

“Selamat.” Sebuah tangan terulur ke hadapannya, menyadarkan Neji bahwa sedari tadi ia melamun. Ketika mendongak, ia bisa melihat bahwa Sasuke-lah pemilik tangan itu. Ada yang berbeda dengan raut wajah Sasuke. Seperti...

“Selamat atas apa?” Neji memutuskan untuk bertanya.

...menahan sebuah senyuman? “Selamat untuk keputusanmu, Neji-fukutaichou.” Detik berikutnya lengkungan senyum muncul di bibir tipis Sasuke, menghapus semua sikap permusuhannya selama ini.

“...” Untuk sesaat Neji tak bisa berkata apa-apa. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyambut tangan Sasuke dan... tersenyum.

Ya, tersenyum. Mereka berdua tersenyum.

“Aa.”

Tidak perlu ada perkataan ‘maaf’, segalanya telah berubah mulai dari detik ini. Baik Sasuke maupun Neji masih merasa canggung untuk mengucapkan salah satu dari tiga kata terindah di dunia itu. Tapi, tidak masalah.

Tidak perlu ada perkataan ‘maaf’ bila permusuhan bisa diakhiri hanya dengan senyuman.

Ya, senyuman memang bisa mewakili segalanya.

Mulai detik ini, satu pertemanan tumbuh di hati sepasang pemuda. Belum bisa dibilang sebagai hubungan yang harmonis, tapi suatu saat, pasti pertemanan itu bisa berkembang menjadi hal yang lebih erat: persahabatan.

.
.
.
.

“Jadi itu yang membuat Neji meninggalkan acara wisuda?”

Setahun kemudian, enam orang berkumpul di salah satu restoran bintang tiga di kawasan Shinjuku. Bila setahun lalu yang mengenakan toga merah adalah Temari, kali ini lima orang pemuda lainnyalah yang mengenakan pakaian kebesaran itu.

Acara wisuda sudah berlalu beberapa jam yang lalu, namun kelima pemuda itu masih enggan menanggalkan toga dari tubuh mereka. Satu-satunya yang mereka lepaskan adalah topi wisuda—dilemparkan ke udara bersama ratusan lulusan lainnya sehingga mereka tak dapat menemukan milik mereka sendiri.

“Begitulah, Temari!” Naruto-lah yang menyahuti. “Kau tidak tahu, ya, betapa wajah Teme menjadi bebas dari keriput permanen setelahnya? Aku tak menyangka Teme bisa juga berbaikan dengan Hyuuga-senpai pada saat-saat terakhir.”

“Caramu berbicara membuatku terlihat seperti seorang gay cemburuan yang akhirnya memaafkan pacarnya di saat sang pacar akan meninggal,” dengus Sasuke sambil menghentikan sesapannya pada kopi hitam.

Tawa Naruto meledak detik itu juga. “Aku tak pernah bilang seperti itu!”

“Mungkin Sasuke sendiri yang berpikiran terlalu jauh,” Kiba ikutan menggoda sang Uchiha bungsu. “—atau kau mengungkapkan kenyataan, Sasuke? HAHAHA!”

Sasuke memutar kedua bola matanya sementara Temari dan Naruto tertawa terbahak-bahak.

“Ckck.” Shikamaru ikut-ikutan. “Bagaimana kabarnya gadis itu, Sasuke? Kau memilih Hyuuga sebagai pengganti dari anak Suna itu?”

“Ya ampun...” Gaara menggeleng-gelengkan kepala.

Lebih banyak tawa yang meledak sementara Sasuke memicingkan kedua matanya, memberi setiap anggota clique itu death glare andalannya. Namun tak ada yang mau berhenti tertawa—mereka semua memang senang menertawai Sasuke yang jarang berekspresi.

Sasuke menghela napas setelah usahanya menghentikan olok-olok teman-temannya itu menemui kegagalan untuk kesekian kalinya. Baginya, teman-teman seperti clique ini terkadang sangat mengganggu ketenangannya. Namun di saat yang bersamaan, keberadaan merekalah yang membuat hari-hari di kampus terasa sangat menyenangkan.

Ah, kampus. Sekarang Sasuke sudah bukan lagi penghuni tetapnya.

Percakapan berlanjut, kini mereka ganti meledek Gaara yang sedang dalam proses penjajakan dengan salah satu adik angkatan mereka, Matsuri. Kali ini, Sasuke tak mau ketinggalan dalam menggoda temannya itu. Masih dengan gaya sedikit bicaranya, Sasuke mengeluarkan kata-kata cerdas yang semakin menyudutkan Gaara. Wajah pemuda itu nyaris semerah rambutnya.

Untuk kali ini, Sasuke merasa bersyukur.

Mungkin clique ini memang bukan kumpulan orang-orang terhebat sepanjang masa, bukan pula kumpulan konglomerat yang tak pernah kesusahan material. Clique ini hanyalah sekumpulan mantan mahasiswa yang entah mengapa bisa meringankan kepenatan dengan cara mereka sendiri: tertawa.

Sasuke bisa saja mencari orang-orang yang lebih berkelas untuk bergaul selama ini, tetapi ia tidak mau. Walau awalnya agak terpaksa untuk berkumpul bersama mereka, tetapi pada akhirnya Sasuke menikmatinya. Mereka menerima dirinya apa adanya.

Persahabatan memang bersifat kualitatif, bukan kuantitatif. Sekaya atau seluarbiasa apa pun teman-temanmu, tidak akan ada artinya bila kau tidak bisa menunjukkan dirimu yang sebenarnya di hadapan mereka. Berpura-pura menjadi orang lain demi sebuah ‘pertemanan’ tidak akan menjadikannya sebagai persahabatan yang sesungguhnya.

Persahabatan sesungguhnya adalah memberi dan menerima—sama-sama menghadapi kekurangan dan perbedaan dan menjadikannya sebagai salah satu bagian dari ikatan itu. Kelebihan dan persamaan akan memperkuat segalanya, namun esensi dari persahabatan itu sendiri adalah rasa saling percaya. Tanpa kepercayaan, segalanya akan sia-sia.

Empat tahun berlalu, dan Sasuke semakin mengerti apa arti persahabatan yang sesungguhnya. Persahabatannya dengan mereka semua merupakan salah satu bagian dari tarikan garis takdir yang menjadi alur hidupnya. Persahabatan adalah ikatan yang tak akan terpatahkan oleh ancaman sekuat apa pun, asalkan ‘kepercayaan’ tetap menjadi intinya.

Untuk pertama kalinya, Uchiha Sasuke berterima kasih karena diizinkan untuk mengenal sebuah persahabatan dalam hidupnya.

~Side Story 3: Undoubtfully Bond – END~

ABA: oke, satu lagi side story selesai! Entah kenapa saya legaaa banget udah nyelesain yang ini :3 Bisa dibilang chapter ini adalah favorit saya! :D Lagu yang dinyanyiin pas wisuda itu lagu Himne Mahasiswa Sedunia yang diajarin pas saya baru masuk kuliah taun lalu, entah kenapa lagunya selalu bikin saya merinding pas dengernya. Apalagi yang pertama nyanyiin di kampus itu paduan suara universitas, suaranya kereeeeennn~!
Lalu soal nama paduan suara di KIU... itu sebenernya saya nyomot dari paduan suara yang saya kenal. ehehehe :p
Chapter ini panjang banget, ya~ Mana Sasuke sama Neji-nya OOC pula -___- Pas lagi bikin adegan di lapangan itu, saya takut banget bikin interaksi mereka jadi ‘kelewat batas’ dan akhirnya jatuh ke BL. Semoga pembaca semua ga ngerasa itu kayak BL yaaa~ (sumpah saya mau bikin friendshiiiipppp! DX)

Jangan jadi silent readers lagi ya, kali ini ;)

Me ke aloha,
mysticahime™
Bandung, 02022012, 3.13

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems