“Yo, Karin!”
Sapaan dari seorang pemuda dalam rombongan yang melintasi
Karin membuat gadis berambut merah itu menoleh. Ia hanya tersenyum tipis dan
melanjutkan langkah-langkah kakinya, namun tidak demikian halnya dengan
rombongan pemuda itu.
Pemuda yang lainnya langsung menghadang di hadapan
mereka—Karin dan Sasuke—menatap pemuda berambut hitam mencuat itu seraya
mencibir.
“Jadi ini pacar barumu, Karin?” tatapannya seolah menilai
Sasuke yang tetap berwajah datar. “Adik kelas, ya?”
Gadis itu terdiam, bibirnya yang terpoles lipgloss membentuk
sebuah garis datar.
Pemuda itu kini mencengkram kerah baju Sasuke. “Kau, jauhi
Karin!”
Tadinya, Karin mengira Sasuke akan langsung marah dan
meninju pemuda yang mengancamnya itu. Nyatanya tidak.
Pemuda itu hanya tersenyum sinis dan menatap salah satu fans Karin itu
dengan tatapan mengintimidasi.
“You nuts!” katanya singkat.
.
.
“Sudah kubilang, jangan balas memukul!”
Cess...
“Aduh!” Uchiha Sasuke mengerang ketika gadis di hadapannya
menempelkan sekantung es batu ke pipinya yang ternodai memar berwarna biru tua.
Ditatapnya bola mata ruby
yang sarat akan kekhawatiran itu. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas.
“Sesama lelaki yang tidak saling memukul sama sekali tidak seru, tahu.”
Entah mengapa, gadis itu terkikik geli mendengar kata-kata
Sasuke.
“Memang, sih...” Karin tersenyum manis, mengakibatkan
kedua pipinya menempel pada lensa kacamata miliknya. Sedikit-banyak, ia terharu
karena Sasuke berkelahi dengan para penggemarnya karena dirinya. “...tapi kan tidak perlu demi aku!” Sekali lagi ditekannya
kompresan es itu hingga sang pemuda berjengit.
Sasuke hanya bisa memutar kedua bola matanya, tidak
berkata-kata lagi.
.
.
.
Saat itu, entah mengapa aku melihatnya
sebagai saudara.
Malaikat pelindungku...
.
.
.
UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
The Side Story 2: Your Guardian Angel
.
.
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
mysticahime™
© 2011
.
.
.
Please take notes: SasuKarin non-romance
DLDR!
.
.
.
ENJOY! :)
.
.
Ting tong!
Gaung bel elekrik terdengar di seluruh
rumah tatkala Uchiha Sasuke tengah asyik bergulat dengan konsol game-nya di lantai atas. Sekilas ia
mengalihkan pandangannya dari layar permainannya, hanya setengah detik,
kemudian ia kembali menekuni kegiatannya semula.
Urusan bel pintu, biarkan sang kakak
yang mengambil alih.
Ting tong!
Jemari Sasuke masih dengan lincah
bercengkrama dengan tombol-tombol di atas PSP kesayangannya. Jangankan untuk
mengurusi bel pintu, berniat melepaskan benda hitam dari tangannya saja ia
tidak berniat.
Ting tong!
Kali ini pemilik iris onyx itu mengernyitkan dahi. Ada apa
dengan Itachi hingga tidak ada yang membukakan pintu dan mengusir si pemencet
bel?
Ting tong!
Sasuke melirik ke arah kalendar,
mengamati tanggal yang tertera di sana. Setelah menemukan tanggal hari ini,
barulah ia mencerna nama hari ini.
Sabtu.
“Ck.” Pemuda berkulit putih itu memutar
kedua matanya dengan kesal. Hari ini tentu saja kakak semata wayangnya itu
pergi berkencan dengan tunangannya, Inuzuka Hana, kakak dari salah satu teman
se-clique-nya, Kiba. Otomatis hal
tersebut menjadikan Sasuke sebagai satu-satunya penghuni rumah.
Yang berarti ialah yang harus membuka
pintu.
Ting tong!
Pemuda itu memencet tombol pause pada permainannya, kemudian
berdiri dari posisinya semula. Kedua kakinya melangkah menuju tangga dan segera
menuruninya dengan gerakan lincah.
Ting tong!
“Dasar tidak sabaran,” gumam Sasuke
sambil meraih kunci dari gantungan dan setengah berlari ke arah pintu utama.
Ting—
Cklek!
“Ada ap—” kata-kata Sasuke berhenti
ketika mendapati siapa yang berdiri di balik pintu rumahnya.
Karin.
Gadis berambut merah tersebut tersenyum,
jemarinya bergerak menyelipkan anak rambut yang terjuntai menutupi wajahnya ke
belakang telinga. “Ohisashiburi desu ne[1], Sasuke?”
Pemuda itu hanya bisa mengangguk.
.
.
Mereka berdua bertatapan satu sama lain.
Intens. Konstan. Onyx
dan ruby saling menyorot dalam
kebisuan, berdialog tanpa ada satu morfem pun terlontar dari masing-masing
bibir.
“Kurasa, memang sudah saatnya ini semua
berakhir.” Sang gadis, memain-mainkan garpu peraknya di atas piring yang masih
dipenuhi potongan daging merah dan sayuran. Kedua matanya masih memandang lurus
ke arah onyx.
“Hn.” Pemilik bola mata hitam itu
menggumamkan persetujuannya. Sama sekali tidak membantah maupun menolak.
Seolah-olah dialog-dialog itu sudah dirancang jauh-jauh hari sebelumnya.
Garis tatap itu luruh ketika Karin
mengalihkan pandangannya ke arah sajian di hadapannya. “Sungguh saat-saat yang
menyenangkan, Sasuke. Aku senang bisa bersama denganmu selama ini. Kau
seperti... seorang adik.”
Sasuke menatap ke bawah selama beberpaa
saat sebelum akhirnya kembali menatap Karin. “Aku juga lebih bisa memandangmu
sebagai... kakak.”
Gadis itu tersenyum.
“Setuju. Mulai saat ini kita adalah adik
dan kakak. Dan...” ia berhenti sejenak, “...aku mengharapkan yang terbaik
untukmu.”
.
.
“Apa kabar?”
Pertanyaan itu terlontar dari bibir
Karin setelah mereka berdua terduduk cukup lama dalam keheningan di ruang tamu.
Karin tidak ingin kedatangannya dihabiskan dengan kekakuan—bukan itu maksudnya
mengunjungi Sasuke. Ia hanya ingin sekadar... melepas rindu. Meskipun satu
kampus, perjumpaan mereka dalam satu tahun belakangan ini bisa dihitung dengan
jari.
“Baik.” Satu patah kata menyuarakan jawaban
Sasuke. “Kau sendiri?”
Bukannya menjawab, Karin malah menoyor
kepala Sasuke. “Hei, bukankah sudah kuajarkan untuk menjawab ‘luar biasa’ kalau
aku menanyakan kabarmu?”
Pemuda itu memutar bola matanya. “Hn.”
Hening lagi.
Keduanya sama sekali tidak mengucapkan
apa-apa untuk beberapa saat. Bukan karena merasa enggan, hanya saja... ada
terlalu banyak hal yang dibicarakan. Dan keduanya terlalu bingung untuk memulai
percakapan. Di satu sisi, Sasuke bukanlah tipe yang biasa mencairkan suasana.
“Besok...” akhirnya Karin memberanikan
diri untuk mengatakan sesuatu, “...aku akan berada dalam jajaran wisudawan.”
Sasuke mengangguk. “Aku ketua
panitianya.”
Karin menepuk dahinya pelan. Bagaimana
mungkin ia bisa lupa? Sasuke adalah keajaiban yang mendominasi senat mahasiswa
selama dua tahun ini—bagaimana mungkin ia tidak menjadi ketua panitia untuk
acara sepenting wisuda?
Kedua bola mata merah itu menatap
jemarinya yang sibuk bermain dengan ujung bajunya. “Aku sama sekali tidak
menyangka akan menjadi salah satu mahasiswa yang lulus pertama dari
almamaterku.” Kembali, gadis itu menarik napas. “Padahal aku termasuk jarang
masuk kuliah.”
“Aku tahu,” jawab Sasuke sambil
tersenyum tipis. “Kau tidak pernah berubah.”
Berbagai kenangan kembali berkecamuk
dalam pikiran Sasuke—sebagian besar adalah masa lalunya dengan Karin. Bagaimana
gadis itu mengisi hari-harinya dengan seluruh spektrum warna yang ada.
Bagaimana gadis itu menjadi napasnya...
Tak kentara, ia menyapukan pandangannya
pada sosok Karin yang duduk di hadapannya.
Sorot mata yang sama. Senyum yang sama.
Tatanan rambut yang sama. Gestur yang sama.
Berapa pun lamanya waktu berlalu, ia
tetaplah Karin yang sama. Karin yang pernah menjadi bagian dirinya—
—hingga ia bertemu dengan Haruno Sakura.
“Ada apa?” Karin menyeruak di sela-sela
lamunan Sasuke, membuat pemuda itu mengangkat wajahnya dan kembali menatapnya.
Namun kecemasan yang terpeta di wajah gadis itu hanya bertahan beberapa detik
sebelum wajahnya kembali bersemangat. “Ngomong-ngomong, apa kau tahu? Dua bulan
setelah wisuda, aku akan menikah.”
Kedua onyx itu melebar sesaat, lalu kembali seperti sedia kala.
Diterimanya sepucuk karton berhias tinta emas tatkala gadis itu mengulurkannya
pada Sasuke. Pemuda itu membuka lipatan karton mewah berwarna krem tersebut dan
membaca kata demi kata yang dicantumkan di atasnya.
Hozuki Suigetsu
&
Akagami Karin
delightly expect your presence,
at:
Amarige Café
Dering ponsel Sasuke mengakibatkan
pemuda itu tidak sempat mengomentari kartu undangan yang diberikan Karin. Ia
segera mengeluarkan ponsel hitam dari saku celananya dan menatap nama yang
muncul di layar terang benda elektronik itu. Nama Sakura tertulis di sana,
namun Sasuke tak kunjung menekan tombol hijau untuk menjawab telepon itu.
Karin yang melihat tingkah laku aneh
Sasuke mengangkat alis melihatnya. “Mengapa tidak diangkat, Sasuke? Pacarmu,
bukan?”
Sasuke menoleh sedikit pada gadis
berkacamata itu. “Hn.”
Lengkungan muncul di permukaan bibir
Karin yang terpulas lipgloss bening.
“Angkat saja, aku juga sudah akan pulang, kok.”
Untuk sesaat, kedua mata onyx itu terpejam, menenggelamkan
dirinya ke alam bawah sadarnya. Hanya beberapa detik.
Ia memikirkan semuanya. Masa-masanya
bersama Karin, saat-saat menyenangkan yang mereka lalui bersama. Saat-saat mereka
bertengkar akibat cemburu pada hal yang sepele. Saat-saat... bersama-sama Karin
yang terasa bagaikan bersama seorang kakak. Seorang kakak yang lupa Tuhan
berikan kepadanya...
—dan ia pun menekan tombol hijau sebelum
ringtone itu berhenti.
“Halo?” bisa didengarnya
suara ceria Sakura di seberang sana. “Sasuke?”
“Hn.” Seperti biasa, jawaban Sasuke
hanya sepatah-dua patah kata. Ciri khas yang semenjak dulu kerap dilakukan oleh
Uchiha bungsu itu.
Karin merapikan tumpukan undangan yang
agak acak-acakan ketika ia menarik undangan untuk Sasuke sementara menunggu
pemuda itu selesai bercakap-cakap dengan lawan bicaranya, bermaksud berpamitan
karena hari sudah cukup malam pula.
“Mengapa kau lama sekali menjawab teleponku?” tanya Sakura, nada suaranya terdengar berat, seolah-olah
sudah mengantuk.
“Aku sedang berbicara dengan...”—tatapan
mata Sasuke beralih ke arah Karin yang mendongakkan kepalanya—“...seorang
kakak. Kakak angkatku, Karin.”
Entah mengapa, senyum Karin kembali
mengembang, lebih lebar dari sebelumnya. Ada perasaan hangat mengalir di
hatinya ketika Sasuke menyebutkan bahwa dirinya adalah... kakak.
Sasuke bercakap-cakap dengan Sakura
selama beberapa menit selanjutnya hingga akhirnya pemuda itu memilih untuk
mengakhiri pembicaraan. “Baiklah, nanti aku akan menelponmu.”
Ibu jarinya menekan tombol merah di sisi
kanan sebelum memasukkan ponsel itu ke dalam saku. Sasuke tersenyum sejenak
sebelum kembali menatap Karin.
“Aku pulang sekarang. Besok adalah hari
wisudaku, dan aku tak mau difoto dengan lingkaran hitam di bawah mataku.”
Sambil bergurau, gadis itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya
dan berdiri dari sofa yang semula didudukinya. Karin menatap mantan pacarnya
dari balik lensa kacamata, berusaha mengingat setiap detil sosok Sasuke. Kedua
matanya yang hitam dan seolah tak berdasar. Lekuk wajahnya yang rupawan.
Sosoknya yang atletis dan proporsional. Bibir tipisnya yang nyaris tanpa
senyum. “Berbahagialah, Sasuke,” katanya lirih, “...dengan gadis itu.”
...karena Sasuke adalah adiknya.
Tak disangka-sangka, Sasuke mengulurkan
tangannya kepada Karin, menawarkan jabat tangan yang hangat. Dan bibir tipisnya
menyunggingkan senyum kecil yang tulus.
“Kau juga, Karin.” Ia menatap kedua iris
ruby di hadapannya. Seraya menghela
napas, ia melanjutkan kata-katanya. “Selamat atas kelulusan dari KIU...” jeda
sejenak, “...dan pernikahanmu.”
Pemuda berambut raven itu berjalan menuju pintu rumahnya, kemudian menarik
lempengan kayu itu hingga terbuka dan menampilkan panorama malam yang elok.
“Sampai jumpa.”
“Hmm...” gadis itu melangkah mendekati
posisi Sasuke berada, kemudian dengan ragu-ragu ia merentangkan tangannya.
“...bolehkah?”
Mengerti akan maksud dari gestur itu,
yang bisa dilakukan oleh Uchiha Sasuke hanyalah menerima pelukan hangat dari
Karin. Pelukan dari seorang kakak yang selalu menjaganya. Walaupun cukup lama
juga mereka tak berkomunikasi, waktu telah mengubur semua rasa cinta mereka
dahulu. Tidak ada lagi gelembung-gelembung afeksi di antara mereka. Yang ada
hanyalah ikatan persaudaraan, lebih kuat daripada yang pernah mereka duga
selama ini.
Karin memejamkan matanya, menikmati
pelukan antara dirinya dan Sasuke. Saat ia melepaskannya, bisa dirasakan kedua
matanya panas.
“Sampai bertemu di wisuda besok... dan
di resepsi pernikahanku,” ucapnya perlahan.
“Hn.”
“Aku akan memakai toga,” gadis itu
tersenyum, “—hanya saat wisuda, tentu saja. Pokoknya kau harus melihatku besok,
Tuan Uchiha.”
“Hn,” senyuman ikut mengembang di bibir
Sasuke, tapi tak banyak mengubah ekspresi wajahnya. “Pasti.”
.
.
Beberapa belas menit lamanya setelah
Karin pulang, Sasuke masih terduduk di sofa ruang tamu, memandang langit-langit
yang putih sambil menarik napas.
Karin adalah satu goresan tinta emas
pada sejarah hidupnya, kepingan masa lalu yang merupakan bagian dari jigsaw hidupnya. Bukan sebagai tragedi,
tetapi sebagai kenangan yang manis.
Berhenti mencintai Karin adalah takdir
dari seorang Uchiha Sasuke, dan itu adalah hal terbaik dari semua ini. Beberapa
bulan sebelum bertemu Sakura, kehidupan Sasuke berada pada titik terendah. Ia
sudah menganggap gadis berambut merah itu seperti kakaknya, namun entah mengapa
ia seolah memiliki keterikatan dalam hubungan mereka.
Keterikatan yang—kini ia
mengerti—bernama ‘persaudaraan’.
Tanpa sadar pemuda itu kembali
tersenyum.
Diambilnya karton mewah yang diberikan
Karin tadi, kembali membuka lipatannya dan membaca kata demi kata yang
tercantum di sana. Saat Sasuke hendak membalik lipatan yang menunjukkan peta
Amarige Café, selembar kertas yang dilipat-lipat terjatuh ke lantai.
Sebelah alis Sasuke terangkat.
.
.
Sasuke,
Mungkin kau sedikit terkejut karena menerima undangan pernikahanku
secepat ini. Satu tahun lebih sudah berlalu semenjak perpisahan kita, dan aku
harap kau menerima ini semua dengan lapang dada.
Aku tahu betapa beratnya bagimu untuk mengakhiri hubungan
kita dulu, karena aku juga merasakan hal yang sama. Tetapi, setelah berpikir
ulang mengenai segalanya, aku sama sekali tidak menyesal telah membuat
keputusan seperti itu. Kuharap kau juga tidak menyesal.
Bersamamu membuatku menyadari banyak hal yang tak pernah
terpikir olehku sebelumnya. Kau mengajariku tentang cinta. Kau mengajariku cara
menyayangi seseorang dengan tetap menjadi dirimu. Kau mengajarkan bahwa...
mencintai tak berarti harus memiliki.
Mencintai terdiri dari dua hal, Sasuke; mencintai seorang
kekasih dan mencintai keluarga.
Untuk kita, aku memilih yang kedua.
Jujur saja, Sasuke, pada awal kita berpacaran, aku selalu
berdebar-debar ketika bersamamu. Bahkan mengucapkan namamu saja, wajahku bisa
memanas...
Dan entah sejak kapan, debaran itu berubah menjadi
perasaan ingin melindungimu.
Aku lebih tua satu tahun darimu, Sasuke. Karena itu, aku
akan menjadi kakakmu. Kakak yang akan mendampingimu setiap kali kau mengalami
kesulitan dan memerlukan pertolongan.
Sasuke, berbahagialah dengan siapa pun yang bersamamu
nanti. Jangan pernah mengecewakannya, karena rasa sakit hati wanita tidak bisa
disembuhkan semudah membalik tangan. Mungkin saja ia memang yang disuratkan
oleh takdir kepadamu.
Ingatlah, selamanya aku akan menjadi malaikat pelindungmu,
dan—
—Aku menyayangimu.
Karin
.
.
“Malaikat pelindung?”
Pemuda Uchiha itu kini membaringkan
tubuhnya di sofa. Kertas surat dari Karin ia gunakan untuk menutup wajahnya.
Di balik lembaran kertas itu, ia
tersenyum.
“Dasar...”
~Side Story 2: Your Guardian Angel –
END~
Author’s Bacot Area
Ga ada bashing soal Karin di sini! Usahakanlah untuk menghormati setiap
karakter yang ada di suatu animanga,
sekalipun karakter itu benar-benar menyebalkan. Personally, saya menyukai karakter Karin. Karin sangat manusiawi,
meskipun caranya mengekspresikan ketertarikannya pada Sasuke seperti itu. Buat
yang mau nge-flame karena saya pakai
Karin sebagai tokoh side story kali
ini, maaf ya ga akan saya ladenin =p
Yosh, mind to gimme feedback? (asal bukan flame soal chara)
Me ke aloha,
mysticahime™
Bandung, 21122011, 00.14








0 komentar:
Posting Komentar