RSS

[RP fic] "Hello, this is Yoo InHo!"


Covered in dirt, in an unfamiliar city
I didn't smile like usual


Posted Image

------------------

I just walked hanging my head
To all the people hurrying quickly past me
"Have your dreams come true?"
I'm still struggling


------------------



9,995,300.

Krik.

Yoo InHo melongo membaca hasil print buku tabungannya. Kaget. SIAPA YANG MEMAKAI EMPAT RIBU TUJUH RATUS WON-NYA?! Tidak sopan. Sudah tahu dia tidak punya uang, masih saja ada yang berani sembarangan pakai---



---oh.

Kemarin kan dia makan dua kali. Full set. Errrr, ya sudahlah, yang penting perutnya kenyang.

InHo menutup rapi buku tabungannya, kemudian menyelipkannya ke tas selempang satu-satunya. Ahh, kalau saja dia tidak menjadi trainee, tentunya dia bisa bekerja lebih banyak dan menghasilkan uang untuk bertahan hidup. Sekarang waktunya tersita habis untuk berlatih menyanyi dan menari---kalau dipikir-pikir, mengapa juga ia mau?

Pemuda itu merogoh tasnya, mengeluarkan harmonika kesayangannya dan mulai memainkan sebuah lagu.

------------------

Rather than going back to my childhood
I want to live happily now
I'm a coward by nature


------------------


"Aa, InHo-ya, kau sudah pulang?"

Yoo InHo tersenyum pada ahjumma tetangganya itu. Ya, ahjumma itulah yang mendaftarkannya menjadi trainee di WB Entertainment. InHo tidak tahu ia harus bersyukur atau tidak karena didaftarkan olehnya.

Pertama, sekarang dia harus belajar lagi.

Kedua, dia masih belum dekat dengan trainee lainnya. Maklum, dia kan pendatang. Dan pasif.

"Ya, Ahjumma, aku sudah pulang." Tangannya meraih pegangan pintu dan memutarnya. "Terima kasih sudah bertanya."

Lalu pintu itu ditutup.

------------------

"I wonder if I could cross the sky?"

------------------


Kedua netra itu terpejam, menikmati aliran udara di sekitarnya. Suasana hening yang menyelimutinya membuat InHo bisa berpikir banyak. Mengingat-ingat masa lalunya, mencermati setiap detil yang masih bisa direkamnya.

InHo berharap ia bisa mengulang masa kecilnya, tapi hanya pada momen-momen tertentu. Misalnya saat ayahnya membelikan sepuluh balon gas sekaligus---yang berakhir terbang semua karena talinya putus. Atau saat ibunya membuat apple-pie---yang kemudian dicuri oleh anak-anak nakal tetangga lamanya.

Tak bisa dipungkiri, InHo rindu kedua orangtuanya. Rindu saat-saat mereka mengobrol di ruang tengah, dengan tangan masing-masing memegang cuping cangkir teh yang mengepulkan asap tipis. Rindu saat-saat mereka menyantap makan malam bersama. Rindu saat ia bisa melihat senyuman bahagia mereka berdua setiap harinya...

Ah...

InHo mengerjap, tersadar kalau ia sudah melamun begitu lama. Tersadar kalau pada faktanya, tidak akan ada hal-hal seperti itu lagi. Spektrum masa lalunya telah lama tenggelam dan memudar.

Musim semi dua tahun yang lalu, segalanya berakhir. Ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan keduanya. Liburan ke Hawaii itu... tidak mungkin selama ini, kan?

Pemuda itu menghela napas.

Ya, anggaplah mereka sudah tiada, kalau begitu. Biarkan mereka menjadi kenangan. Biarkan dia melanjutkan hidup, karena dia tahu kalau ia perlu maju.

Maka, ia pun melangkah.

------------------

I want to be loved, I just want to be loved
I've said it
It's no good just wishing for it


------------------


"Yoo InHo?"

Pemuda itu menegakkan punggungnya ketika namanya disebut. Pria di depannya memberikan isyarat agar InHo duduk di depannya. Melirik ke sekitarnya, meyakinkan diri tidak ada Yoo InHo lain selain dirinya, barulah InHo melangkah ke kursi yang dimaksud.

"Kau melamar untuk pekerjaan ini, Nak?" sapa bapak itu sambil tersenyum dari balik kumisnya yang lebat.

"Begitulah." InHo menganggukkan kepala, berusaha bersikap sesopan mungkin. Kalau saja masih ada orang tuanya, tentu saja InHo tidak perlu bersusah-payah seperti ini. Masalahnya, ekspektasinya begitu kontra dengan kenyataan.

"Mengapa kau tidak mencantumkan nomor ponselmu, Nak? Nomor telepon rumah juga..." Terdengar bunyi kertas dibolak-balik bersamaan dengan pertanyaan itu.

"Eh, saya tidak punya ponsel, Pak. Tidak pasang telepon rumah juga."

"Begitu?"

"Iya. Tidak ada uang, Pak."

Terdengar gumaman pewawancaranya, cukup panjang hingga InHo menjadi cemas. Apakah ia terlalu jujur soal ia tidak punya uang? Rasanya tidak, karena semua orang mencari pekerjaan karena butuh lembaran nominal itu.

"Sayang sekali, Nak, kau tidak bisa bekerja di sini."

InHo mendongak. "Maaf?"

"Aku tidak akan bisa menghubungimu kalau ada pekerjaan penting yang mendesak nantinya."

------------------

I still can't see my wings for flying
Because I can't just go on, I continue to live


------------------


"Baru pulang, InHo-ya?"

"Ne, Ahjumma..."

"Ada apa? Kenapa kau lemas begitu? Ada masalah?"

"Aniya... Aku hanya gagal mendapatkan pekerjaan baru."

"Benarkah? Kenapa bisa sampai gagal? Kualifikasimu kurang?"

"Bukan. Katanya aku susah dihubungi."

------------------

I tried to leave for a place where the sun shines
Gripping tightly
Destroying that time and place


------------------


Alunan melodi terdengar dari harmonika yang dimainkannya. Yoo InHo memejamkan mata dan terus meniup alat musiknya. Merangkai nada-nada yang entah apa, tidak ada harmoni khusus. InHo hanya melengkingkan nada-nada yang terdengar sendu.

Satu-satunya hal yang dilakukan InHo untuk mengisi waktu luangnya adalah bermain harmonika. Membiarkan konsentrasinya teralih dari hal-hal lain. Membiarkan dunia menjadi miliknya hanya dalam satu waktu itu.

"InHo-ya."

Pemuda itu menoleh ke arah si pemanggil. Sepasang matanya menemukan ahjumma tetangganya berdiri beberapa meter jauhnya. Ah, sekarang dia sedang berada di taman---salah satu tempatnya menenangkan diri sambil melakukan hobinya.

"Ada apa, Ahjumma? Hari ini tidak bekerja?" InHo memasukkan harmonikanya ke dalam saku celana, bergegas berdiri dan menghampiri tetangganya itu.

"Sudah pulang, InHo-ya."

"Oh." InHo mengangguk.

Tiba-tiba saja, sebuah kantung plastik disodorkan kepadanya, membuat kedua lengkung alis itu terangkat. Menatap bingung pada kantung yang disodorkan, InHo tidak langsung menerimanya. Melihat hesitasi InHo, ahjumma itu menarik tangan si pemuda dan membuatnya menggenggam pegangan kantung.

"Untukmu," katanya sambil tersenyum. "Untuk trainee hebat yang akan jadi artis paling terkenal di masa depan." Wanita itu menepuk kepala InHo yang lebih tinggi darinya. "Sudah ya, jangan pusing lagi. Kau bisa mencari pekerjaan sekarang."

Lalu wanita itu berlalu.

InHo menunduk dan memandang kantung di tangannya. Melongok sedikit dan---

"AAAAAAAHHHH INI PONSEL!"---jeritannya bergema di udara.

------------------

I want to live happily now

------------------


"Yeobosaeyo?"

"Hello, this is Yoo In Ho!"

"Oh, InHo-ya, ada apa?"

"Ah, ah, kamsahamnida atas pemberiannya! Besok... besok aku akan masak untuk Ahjumma!"

.
.
.

Yang InHo tahu, ia merindukan masa kecilnya. Sangat-sangat kangen sampai ingin menangis setiap mengingatnya. Dia tahu ia laki-laki, namun ada kalanya ia benar-benar ingin menumpahkan air mata.

Tetapi, InHo juga tahu kalau kehidupannya saat ini tidak tergolong payah juga.

Ia punya pekerjaan di masa depan (kalau ia berhasil debut), ia punya ahjumma tetangganya yang baik hati, dan, dan, dan...

...ia punya ponsel baru!

Ada spektrum yang membuyar bersamaan dengan waktu yang terus bergulir. Hanya saja, ia yakin lembaran baru akan terus terkuak, dan mungkin menciptakan pelangi yang baru.

------------------

With everything that's gone by lately
I'm only the me I am now
Because I can't just go on
I continue to live


------------------

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems