RSS

[Chapter 3] Ugly Girl Under The Raindrops


cerita asli :)


UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto

mysticahime™
© 2010
.
.
.
Karena manusia tidak bisa menentukan...
.
.
.
Suasana dalam ruang kamar itu masih temaram. Lampu kamar yang biasanya memendarkan spektrum warna putih yang terburai itu sepertinya sengaja dipadamkan oleh sang empunya kamar. Menghemat litstrik, mungkin? Entahlah, tidak ada yang bisa menebak pergerakan pikiran gadis pemilik kamar tersebut, hanya si gadis yang tahu alur pikirannya saat itu.

Sesosok tubuh itu berbaring terlentang—membentuk diagonal pada dipan berukuran queen size-nya. Wajahnya tersembunyi di balik tubuh berbulu boneka teddy bear berbulu coklat dengan pita coklat mengilat melingkari lehernya. Kedua lengannya yang putih melingkari boneka berukuran jumbo itu, jelas sekali bahwa pemilik lengan tersebut tidak sedang teritdur seraya mendekap boneka kesayangannya. Ia pasti sedang melamun.

Boneka itu bergeser ke bawah—ke arah abdomennya—dan muncullah seraut wajah manis yang dibingkai puluhan ribu helai rambut berwarna pinky peach. Kedua matanya terpejam, membuat bulu-bulu matanya yang lentik terekspos jelas. Kedua sudut bibirnya berkedut, keningnya pun berkerut.

Ia sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang seharusnya terjadi barusan. Sesuatu yang baru disadarinya kini.

Ya Tuhan, ia lupa meminta nomor ponsel Uchiha Sasuke!

Bukan hal penting, memang. Namun dari pengalaman yang pernah dialami Sakura, meminta nomor ponsel seseorang yang pernah dikenalnya adalah penting. Bila sewaktu-waktu ia memerlukan bantuan, maka ia bisa mengontak nomor itu.

“Ugh!” Sakura kembali menyembunyikan wajahnya di balik tubuh gembul bonekanya.

Sungguh, ia merasa sangat-sangat bodoh.
.
.
.
“Bagaimana kencanmu, Sasuke?”

Sasuke yang baru saja membuka pintu rumahnya tertegun mendapati sang kakak berdiri beberapa meter jauhnya dari posisi pemuda itu sekarang. Pria berambut hitam kuncir itu menyipitkan matanya, menatap sang adik yang pulang larut malam dengan tatapan menyelidik—persis seorang polisi yang sedang menginterogasi seorang penjahat.

Pemuda berambut raven itu menghela nafas dengan nada bosan. “Aku tidak berkencan.”

“Bohong!” Itachi mengacungkan jari telunjuknya ke arah Sasuke. “Tadi aku kebetulan lewat café Ginger Lily, dan kau sedang duduk berhadapan dengan seorang gadis!”

Kedua bola mata onyx itu sontak berputar. Ekspresi malah tampak di wajah orientalnya yang rupawan. Ahh, aniki-nya yang overprotective itu mulai menginterogasinya. Dan demi Kami-sama, Sasuke sedang malas sekali berbicara dengan orang lain. Ia ingin menyimpan ingatannya tentang kejadian di café tadi untuk dirinya sendiri.

“Tidak ada meja kosong,” kilah Sasuke, “jadi gadis itu terpaksa duduk denganku.”

Kemudian, Sasuke berpura-pura merapikan jaket hitamnya dengan menggantungnya di gantungan yang berada di belakang pintu depan, mencopot sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu, dan berjalan menuju ruang cuci untuk menyimpan sepasang kaus kaki hitamnya yang tadi dipakai. Apa saja untuk menghindari tatapan Itachi. Itachi selalu tahu apabila pemuda berambut raven itu berbohong. Wajar saja, Itachi dan Sasuke telah tinggal bersama sedari kecil, dan hanya tinggal berdua semenjak kedua orangtua mereka memutuskan untuk pindah ke Bremen dan membuka kantor cabang dari perusahaan keluarga mereka. Segala sesuatu hal mengenai Sasuke jelas terekam di otak Itachi, pria berusia duapuluhan itu telah hafal semua kebiasaan adik semata wayangnya itu.

“Ahhh~ Otouto-ku mulai dewasa~” seru Itachi dengan nada menggoda dari ruang tengah.

Sasuke buru-buru menaiki tangga ke lantai atas—menyelamatkan dirinya dari Itachi.

Klek!

Akhirnya! Sasuke segera menghempaskan dirinya ke atas kasur dan membenamkan wajahnya di balik bantal yang terbungkus penutup bantal berwarna biru. Ia sama sekali tidak berkeinginan untuk mengganti pakaiannya. Sebelum pergi ke café tadi, ia memang sudah membilas tubuhnya di bawah pancuran selama beberapa menit. Selang beberapa detik, Sasuke membalikkan tubuhnya hingga telentang menghadap langit-langit kamarnya yang tinggi.

Dalam pikirannya terbayang jelas percakapannya dengan gadis pinkie barusan. Percakapan yang beralur amat aneh, namun menjadi awal perkenalan mereka berdua.

/Flashback/

“Ah.” Gadis itu meletakkan garpunya di atas piring. “Ngomong-ngomong, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Haruno Sakura. Salam kenal, Uchiha Sasuke-kun.”

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Rasanya ia tidak menanyakan nama gadis itu.

“Uchiha Sasuke,” balasnya dengan nada datar.

Sakura tersenyum dan mulai menciptakan lagi bola spageti dengan garpunya—memutar-mutarnya sedemikian rupa, lalu memasukkan ‘hasil karya’nya ke dalam rongga mulutnya, mengunyah-ngunyahnya. Sasuke menopangkan dagunya ke sebelah tangannya di atas meja, mengamati setiap gerakan Sakura yang menurutnya unik itu. Merasa diperhatikan, Sakura melirik Sasuke.

“Kenapa? Kau lapar?” Gadis bermata zamrud itu menyodorkan piringnya yang masih tersisa setengah porsi spageti.

Sasuke tersentak. “Eh, apa? Tidak, aku sudah makan barusan.”

Sejak kapan seorang Uchiha tersentak? Sasuke merasa jengkel dengan dirinya sendiri. Tanpa ekspresi, ditatapnya gadis itu—kini ia tengah menyesap minuman merah susunya. Mungkin jus strawberry. Entahlah, seumur-umur, minuman berwarna cerah yang pernah diminum Sasuke hanyalah segelas orange juice ketika ia masih menjadi murid sekolah dasar. Selebihnya, ia biasa meminum minuman standar seperti air mineral, teh, atau kopi.


“Kau masih kuliah, Sasuke?” Sakura mencoba mencari topik pembicaraan. Garpu perak di tangan kirinya teracung, tanpa spageti melilit di sekelilingnya.

“Hn.” Hanya itu yang dijawab Sasuke. Irit kata, seperti biasa.

“Di mana?” tanya Sakura.

“Konoha International University.”

“KIU? KIU yang itu??” Reaksi gadis di hadapannya benar-benar di luar dugaan Sasuke. Tak disangka, suaranya bisa sekeras ini. Apa yang hebat dari sebuah universitas bernama KIU? Universitas itu hanyalah universitas swasta yang—hn—merupakan universitas satu-satunya yang dapat menyaingi Tokyo Daigaku. Tapi, apa yang membuat gadis itu terpesona?

Sakura terdiam saat tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Sasuke. Gadis itu menunduk, memandangi lantai seolah-olah merasa bersalah. “Ma-maaf. Aku terlalu bersemangat. KIU sangat hebat karena telah meluluskan banyak mahasiswa yang pada akhirnya menjadi orang-orang sukses di Jepang...”

“Kau sendiri?”

Kepala yang berselimutkan helaian rambut merah jambu itu terangkat sedikit. Kedua mata hijaunya membulat. “Aku... apa?”

Bibir tipis Sasuke tetap datar. “Di mana kuliahmu?”

“Suna... University of Arts...” Sakura menelan ludahnya. Gugup. Tak disangkanya bahwa mata Sasuke sangat memesona. Benar apa yang dikatakan teman-temannya, Uchiha Sasuke itu sangat keren! “Jurusan Desain Komunikasi Visual. Tingkat satu.”

“Hn,” telunjuk Sasuke bermain di tepi meja, menggambarkan sesuatu yang abstrak dan tak kasat mata. “Jurusan seni.”

“Ya, bagaima—”

Trrrrtt... trrrttt...

Mendadak ponsel Sakura bergetar sebelum gadis itu menyelesaikan kata-katanya. Sepasang emerald itu memerhatikan layar bercahaya ponsel selama beberapa detik sebelum akhirnya sang pemilik ponsel bersuara lagi. “Anoo, aku harus pergi sekarang. Aku baru ingat bahwa besok ada ujian.”

Sasuke mengangguk paham. “Hn.”

“Terima kasih atas, ehh, obrolannya.” Gadis itu membungkuk sebelum berlari menuju kasir dan membayar biaya makan malamnya, lalu sosok tubuh mungilnya menghilang di balik pintu café.

/Flashback End/

Geez, Sasuke menggeram pada dirinya sendiri. Ia lupa meminta nomor gadis itu!

Sisa malam itu dihabiskan oleh pemuda bermata onyx itu dengan menyesali kebodohannya. Kebodohan pertama seorang Uchiha.
.
.
.
Tiga minggu telah berlalu semenjak pertemuan tak sengaja mereka di café. Hari-hari kembali berjalan seperti biasa—tidak seperti biasa juga. Ada yang berbeda. Setidaknya dari perilaku Haruno Sakura. Dan sebagai sahabatnya, Yamanaka Ino sangat mengenali perubahan yang kontras dari gadis pink yang satu itu.

“Hei, forehead, apa yang sedang kaulakukan?” sapanya ketika memasuki laboratorium komputer, tempat di mana Sakura telah menghabiskan tiga jam terakhir di dalamnya. Gadis berambut pirang itu melenggang melintasi gang-gang yang memisahkan setiap meja komputer dan mendekati meja pojok tempat Sakura duduk menatap layar komputer tanpa bergerak sama sekali.

“Mengedit foto yang kujepret kemarin,” kata Sakura, kedua matanya tetap fokus kepada layar datar komputer yang menampilkan foto pemandangan malam daerah Akihabara—wilayah yang didominasi oleh para otaku untuk menyalurkan hobi-hobi mereka. Tangan kanannya menggenggam mouse dan menggerakkannya ke sana-ke mari, tetapi tidak membuat perubahan apapun pada foto yang sedang ditekuninya.

Ino diam sesaat, mengamati hasil karya Sakura. “Tidak salah?”

Gadis berambut sugarplum itu melirik Ino dengan tatapan aneh. “Ada yang salah dengan,”—pandangan matanya kemudian beralih lagi ke arah layar komputer—“fotoku?” Ia terdiam, menyadari kesalahannya. Kesalahan fatal!

Kami-sama, apa yang kupikirkan?? pekik Sakura dalam hati. Selama berjam-jam mengedit foto, ia malah membuat gambar itu menjadi blur! Ditambah lagi dengan tambahan macam-macam coretan tidak penting di beberapa bagian, dan... mengapa ia me-rotate foto itu hingga terbalik?

“Kau melamun lagi, eh, forehead?” tanya Ino ragu. Selama beberapa minggu ini, Sakura memang kerap kali ditemukan tengah memandang dengan pandangan menerawang—entah apa yang dipikirkannya. Setelah enam tahun lebih bersahabat dengan Sakura, Ino telah hafal segala kebiasaan Sakura. Dan bila gadis itu tidak fokus mengerjakan apapun, sudah dapat dipastikan bahwa hanya ada satu hal yang mengawang-awang di pikiran gadis itu: cowok.

“Tidak,” Sakura mendesah, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, “—entahlah, aku sendiri tidak tahu, Ino...”

Aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Entah apa yang membuatku seperti ini. Mungkinkah karena pemuda Uchiha itu? Baka-Sakuraaa...! Tidak bisakah kau tidak memikirkan si pantat ayam itu? Sakura mengomel sendiri di dalam hatinya. Perasaan kesal menjalar di sepanjang syarafnya.

Bodoh.

Mengapa ia merindukan seorang Uchiha Sasuke hingga seperti itu? Ah, entahlah... Dirinya sendiri pun tidak mengetahui apa jawaban dari pertanyaan itu.
.
.
.
“KGB!!”

Teriakan demi teriakan bernada memuja terdengar di sepanjang lorong yang dilalui oleh tiga kaum adam dengan keindahan fisik yang mereka miliki. Pintar, kaya, rupawan, dan tak terjangkau. Itulah definisi singkat mengenai empat orang anggota KGB bila para penggemar tak resminya ditanyai oleh orang-orang yang bingung mengenai alasan mengapa mereka sangat terobsesi pada empat orang ciptaan yang Di Atas itu. Dan empat denifisi tersebut selalu membuat Uchiha Sasuke—salah seorang di antara mereka berempat—merasa risih karenanya.

Pekikan demi pekikan disusul oleh tindakan dramatis para gadis (pura-pura tidak-sengaja-padahal-sengaja jatuh di depan mereka, curi-curi pandang, dan yang paling parah—pura-pura pingsan) semakin gencar dilakukan oleh semua yang mengaku sebagai ‘wanita’ di koridor memanjang yang menuju ruang senat itu. Dan seperti biasa, tidak ada satupun di antara para pemuda itu yang menggubris tindakan-tindakan para gadis. Bagi mereka bertiga, perilaku seperti itu sama dengan perilaku tikus yang mengejar keju seperti di kartun Tom & Jerry.

“Sampai kapan mereka akan meneriaki kita dengan sebutan ‘KGB’, heh?” tanya Hyuuga Neji dengan nada setengah sinis. Pemuda berambut panjang kecoklatan itu adalah yang pertama mencapai ruang senat, merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci perak mengilap dan memasukkannya ke lubang kunci. “Sejak semester lalu berakhir, kita tinggal bertiga.”

“Hn.” Sasuke merespon. Jelas-jelas ia tahu sekali penyebab mereka tinggal berempat. Sejak awal musim gugur kemarin, anggota KGB berkurang satu orang, karena Uchiha Itachi—pentolan KGB yang dulunya menjadi jawara KGB sekaligus kakak dari Uchiha Sasuke—lulus gemilang dengan predikat cum laude dan IP 4.0. Sempurna. Dan setahun sebelum Itachi lulus, pemuda perambut hitam dikuncir itu telah memperoleh pekerjaan dengan jabatan tinggi dan gaji yang melebihi kriteria ‘cukup’. Sungguh tipe manusia yang sangat beruntung.

Gaara hanya mengangguk. Pemuda crimson yang satu itu memang paling pendiam di antara mereka berempat—kini bertiga. Dulu, yang paling cerewet tentu saja Itachi. Ia juga tak segan-segan menggodai gadis-gadis yang jatuh cinta padanya, benar-benar tipikal playboy sejati. Namun kini, seorang Uchiha Itachi hanya setia pada seorang Inuzuka Hana—sekretarisnya yang juga merupakan kakak perempuan Inuzuka Kiba, teman se-clique dari Sasuke dan Gaara.

Ketiga pemuda itu memasuki ruang senat tanpa banyak bicara lagi. Dulu, saat Itachi menjabat menjadi ketua senat, ruangan tersebut tidak pernah lolos dari sesuatu yang ber-genre hura-hura. Mantan ketua yang satu itu selalu menyetel musik kencang-kencang (dan sampai sekarang masih suka melakukan kebiasaan tersebut bila di rumah), dan tidak pernah absen mengajak anggotanya untuk meneriakkan yel-yel norak.

Tapi, berkat itulah para anggota senat jadi semangat untuk mengadakan berbagai jenis festival di KIU. Sedangkan sekarang? Para anggota senat hanyalah gadis-gadis yang ingin mencuci mata menikmati rupa para KGB, dan bukannya mau bekerja. Paling-paling hanya Temari yang masih mau bekerja. Itupun karena ia menjabat sebagai sekretaris.

Secara tidak resmi—karena memang tidak ada acara pengukuhan apapun selain pengumuman lewat radio sekolah—KGB termasuk dalam jajaran kepengurusan senat. Sabaku Gaara sebagai bendahara. Hyuuga Neji sebagai wakil ketua. Dan Uchiha Sasuke...

“Ketua.” Panggilan Neji terhadapnya membuat Sasuke tersentak dari lamunannya. Selama beberapa detik, Sasuke tampak larut dalam sebuah imajinasi yang tidak diketahui kedua rekannya, dan sama sekali tidak mendengar bahwa Neji telah memanggilnya sebanyak tiga kali.

“Hn?” Sasuke mengangkat sebelah alisnya, pertanda bahwa ia telah mendengar suara Neji.

“Aku sudah memanggilmu tiga kali,” kata pemuda bermata perak itu. Tidak biasanya seorang Uchiha Sasuke ditemukan dalam keadaan tidak fokus.

“Maaf,” gumam Sasuke. “Ada apa?”

“Pertandingan persahabatan yang dijadwalkan oleh anak-anak HIMA.” Gaara menjawab pertanyaan itu. “Basket, voli, futsal. Apa lagi? Apa kau ingin menambahkan sesuatu?”

Kening Sasuke mengernyit. Basket, voli, dan futsal. Bukankah itu terlalu umum? Semua pertandingan persahabatan selalu mengusung tiga permainan tersebut. Bahkan saat masa jabatan Itachi, pertandingan yang diadakan hanya itu-itu saja. Membosankan.

Ah, ya. Sekalipun Itachi adalah ketua yang ramai dan menyenangkan, ada satu kualifikasi yang tidak dipenuhinya selama masa jabatan sebagai ketua senat tahun lalu.

“Lagi-lagi pertandingan-pertandingan itu.” Hyuuga Neji menempatkan dirinya di meja yng berada di sebelah kanan Sasuke. Pertanda ‘tangan kanan’, karena Neji adalah seorang wakil ketua.

“Hn.” Sasuke melirik Neji dengan kedua mata onyx-nya yang mampu membuat seorang gadis tumbang setelah menerima lirikan itu setelah satu detik. “Kalau tidak salah, fakultas-fakultas yang ada di KIU adalah...”

“—Fakultas Teknik: Teknik Mesin, Teknik Fisika, Teknik Kimia, Teknik Pertambangan, Teknik Elektro, Teknik Lingkungan, Teknik Informatika. Fakultas Kedokteran: Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi, Kedokteran Hewan. Fakultas Ekonomi: Akuntansi, Bisnis Manajemen. Fakultas Hukum: Sospol, Filsafat, Hukum. Fakultas Sastra: Sastra Jepang, Sastra Inggris, Sastra Prancis. Fakultas Seni Rupa dan Desain: Seni Murni, Desain Komunikasi Visual, Desain Interior, Fashion Design. Fakultas Psikologi. Fakultas FIKOM—”

“Lomba Desain,” cetus Sasuke, membuat Gaara yang membolak-balik arsip mengenai KIU yang tersimpan dalam rak yang biasanya ‘dikuasai’ Temari mendongak kaget.

... kreatif. Itu adalah kualifikasi seorang ketua yang tidak dimiliki Itachi. Untuk urusan bersenang-senang, mungkin ia adalah ahlinya. Sedangkan untuk pengembangan program senat, Uchiha yang satu itu masih kalah dengan adik bungsunya.

Sepasang mata argentum Neji berbinar.

“Ide bagus, teman,” katanya.

Sasuke menyeringai. Desain, adalah kata kunci yang sangat menggambarkan seorang Haruno Sakura, mahasiswi Suna University of Arts jurusan Desain Komunikasi Visual. Sosok yang selalu memenuhi alam bawah sadarnya selama beberapa minggu ini. Gadis pertama yang mampu mengusik kehidupannya.

Gadis menyebalkan yang ditemuinya di bawah tetes-tetes air hujan.
.
.
.
Keesokan harinya...

Kedua kaki jenjang bersepatu boots coklat itu baru saja melewati gerbang universitas ketika ponsel yang tersimpan aman dalam saku celana jeans-nya bergetar heboh. Haruno Sakura tergesa-gesa merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel lipat berwarna pink dan segera membuka flip­-nya. Pada layarnya tertera tulisan ‘Piggy calling’, yang menandakan bahwa Yamanaka Ino meneleponnya.

Sakura memencet tombol bergambar telepon berwarna hijau dan menempelkan speaker ponsel itu ke telinganya. “Halo?”

FOREHEAD!” Jeritan Ino membahana di seberang sana, membuat gadis itu sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya yang mendengung.

“Jangan berteriak-teriak,” gerutu Sakura seraya mengerucutkan bibirnya. Sekilas ia mengangguk kepada penjaga pintu gerbang—Pak Danzou—yang selalu tampak muram. Kedua kakinya melangkah ke gedung tiga, tempat studio bagi para anak DKV belajar. “Ada apa?”

“Di mana kau?” Ino tidak menjawab pertanyaan Sakura.

“Dalam perjalananku menuju studio fotografi,” jawab Sakura, menyebutkan mata kuliahnya hari ini. “Jawab, ada apa?”

“Jangan ke sana!” pekik Ino, masih tidak menjawab pertanyaan Sakura, kali ini membuat Sakura benar-benar jengkel. Ya, gadis berambut punch itu memang tipe orang yang cepat emosi.

“Jadi aku harus ke mana?!” Sakura mengernyitkan alisnya dengan sebal. Sungguh, Ino adalah orang paling tidak to-the-point yang pernah ia kenal.

“Ke gedung rektorat. Ada pengumuman di sana.” Telepon diputus oleh Ino ketika gadis itu selesai bicara, sama sekali tidak menunggu jawaban Sakura.

Menghembuskan nafas dengan geram, akhirnya Sakura bergegas menuju gedung rektorat, di mana papan pengumuman raksasa berada. Gadis itu berlari-lari kecil, bukan hal yang sulit mengingat ia selalu memakai sepatu yang membuatnya mudah bergerak—sekalipun kali ini adalah sepasang sepatu boots setungkai. Tidak seperti rata-rata gadis yang kerap menggunakan sepatu flat yang tampak feminin dan anggun.

Setibanya di sana, kerumunan mahasiswa yang bergerombol di depan papan raksasa tersebut membuatnya kaget. Tumben-tumbenan sekali para mahasiswa memperhatikan pengumuman yang ditempel di sana. Ada mahasiswa yang di-DO lagikah? pikir Sakura.

Pertanyaannya terjawab ketika wajah Ino yang dibingkai rambut pirangnya menyembul dari kerumunan. Berdesak-desakkan, Ino keluar dari lautan manusia itu dan menghampiri Sakura. Wajahnya yang cantik menyambut Sakura dengan senyum senang.

“Hei, forehead!” sapanya dengan wajah tanpa dosa. “Apa kau berminat mengikuti lomba desain?”

“Lom—lomba desain?” Kening Sakura berkernyit. Perlombaan macam itu memang sering sekali diadakan di kalangan mahasiswa, namun apa yang membuat para mahasiswa yang rata-rata cewek ini tertarik?

“Benar!” Gadis pirang itu mengangguk, membuat rambutnya yang kali ini dikeriting pada bagian bawahnya bergoyang-goyang jenaka. “Salah satu universitas yang fakultas desainnya memiliki tingkatan yang nyaris sama dengan universitas kita mengadakan pertandingan persahabatan, dan salah satu dari pertandingan itu adalah lomba desain. Setiap mahasiswa yang mengambil perkuliahan di bidang seni rupa dan desain boleh berpartisipasi di lomba itu.”

“Dan kau menyuruhku ikut?” tanya Sakura dengan nada tidak yakin. Seingatnya, semua orang selalu menganggap Ino berbakat, dan bukan dirinya. “Bukankah lebih baik kau yang ikut lomba itu?”

“Kalau aku tidak ikut, untuk apa aku mengajakmu, he?” Mata aqua Ino tampak sangat berapi-api. “Peserta yang ikut dibagi menjadi dua kategori. Kategori pertama adalah kategori individual, di mana setiap orang yang berminat boleh mengikutinya; sedangkan kategori yang kedua adalah kategori tim. Setiap universitas hanya boleh mengirim satu tim untuk mengikuti kategori kedua. Dan satu tim berisi tiga orang. Tadi ketua senat kita—Tenten—sudah memutuskan siapa tiga orang tersebut.”

Sakura diam saja. Pasti bukan ia yang terpilih. Salah satu dari tiga orang itu pastilah Ino, karena si pirang cerewet itu terlihat sangat gembira. Pasti. Kalau tidak, siapa lagi?

Mengabaikan reaksi Sakura yang diam saja, Ino melanjutkan kata-katanya. “Yang terpilih adalah Shimura Sai, jurusan seni rupa divisi melukis tingkat dua; Aburame Shino dari jurusan desain interior tingkat dua; dan kau, Haruno Sakura dari jurusan desain komunikasi visual tingkat satu.”

Tanpa sadar, mulut Sakura menganga lebar. Melongo saking kagetnya. Mimpi apa dia semalam? Tiba-tiba ia terpilih untuk mengikuti lomba desain kategori kelompok dalam pertandingan persahabatan di—

“Tunggu,” Sakura menatap kedua mata Ino dengan serius. “Universitas apa yang mengadakan pertandingan ini?”

Bibir Ino semakin terangkat tinggi, menyunggingkan senyuman lebar yang sangat manis.

“Konoha International University.”

Jawaban yang membuat kedua mata Sakura sontak membelalak lebar.

Itu universitas tempat Sasuke belajar!
.
.
.
Karena manusia hanya bisa berjalan sesuai takdir..
.
.
.
TBC

[Chapter 2] Ugly Girl Under The Raindrops

cerita asli :)



UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto

mysticahime™
© 2010
.
.
.
Warna-warna itu berbaur dengan indah di atas permukaan kanvas, menyusun goresan-goresan abstrak yang dipola dengan indah oleh pemilik tangan dengan jari-jemari lentik itu. Haruno Sakura tengah mencampurkan sekian belas komposisi warna di atas bentangan kanvas itu, membaurkan semua warna yang ia kehendaki sesuai dengan imajinasi dalam benaknya.

Gadis itu begitu terhanyut dalam kreasinya, tinggal dalam dunia miliknya sendiri. Saking asyiknya, bahkan gadis itu tidak menyadari bahwa temannya yang berambut pirang sudah berulang kali memanggil-manggil namanya. Yamanaka Ino—teman Sakura—akhirnya memutuskan untuk mendekati gadis itu, lengkap dengan ekspresi kesalnya—menggembungkan pipinya.

“Sakura!”

Gadis berambut soft pink itu terlonjak dari kegiatannya. Dengan tatapan kaget ia menoleh ke arah Ino. Mata emerald-nya berkerjap-kerjap, antara kaget bercampur bingung.

“A-ada apa, Ino?” tanyanya, menghentikan gerakan kuasnya di atas kanvas. Bola mata aquamarine yang menatapnya tampak kesal.

“Kau yang ada apa,” dengus Ino sambil menekankan intonasi suaranya pada kata ‘ada apa’. “Sedari tadi kau melamun terus—well, melamun sambil bekerja, tepatnya.”

“Aku tidak melamun kok!” Sakura menyanggah argumen Ino dengan cepat, kemudian kembali memalingkan wajahnya ke arah lukisan yang sedang dibuatnya. “Seorang seniman yang berkonsentrasi pada pekerjaannya—” Ia mendesah, “—bukan hal yang buruk, kan? Bahkan sebagian besar seniman kelas satu di dunia sangat hanyut ke dalam karya seni yang sedang diciptakannya. Penjiwaan, kurasa. Itulah yang sangat penting dalam seni, bukan?”

Yeah...” potong Ino dengan nada jemu. “Kadang-kadang kurasa kau lebih cocok menjadi pengarang buku seni, tahu? Asal kau tahu saja, penjiwaan dalam suatu karya seni berarti menggambarkan hal yang ada di dalam benakmu. Dan membuat lukisan yang sesuai dengan tema yang diberikan untuk tugas bulananmu!” Gadis pirang itu menunjuk lukisan Sakura. Abstrak dan—errr, sangat melenceng dari tema yang diberikan. Mereka berdua diperintahkan oleh dosen untuk melukis—lukisan pertama dengan cat minyak di tingkat satu—pemandangan danau. Dan Sakura melukis sebuah kurva abstrak berwarna biru laut yang diselingi warna-warna lainnya. Sangat bukan danau.

Sakura meringis saat melihat lukisannya. Jujur saja, ia sama sekali tidak menyadari sedang menggambar apa dengan kuas dan catnya. Tadi ia sedang berpikir tentang... pemuda yang menabraknya pagi tadi—pemuda menyebalkan dengan rambut seperti ayam berwarna hitam yang, well, menawan—dan tahu-tahu saja tangannya telah melukiskan garis-garis abstrak ini. semacam penggambaran suasana hati, mungkin? Entahlah, Sakura sama sekali tidak tahu. Pengetahuannya mengenai seni hanya sebatas pengetahuan seorang anak yang duduk di kelas satu primary school mengenai matematika—nol besar. Mengenai hal ‘penjiwaan’ yang barusan dikatakannya, itu hanya merupakan tindakan sok tahunya saja.

“Nah, forehead girl, silakan kau ceritakan padaku mengapa kau melamun dan membuat lukisan yang aneh seperti ini.” Ino melipat kedua tangannya di atas dada dan menatap Sakura dengan pandangan menunggu.

“Aku memang sengaja membuat lukisan seperti ini!” bantah Sakura tidak mau mengaku. Ino sangat senang bergosip tentang cowok—dan meledek siapapun yang menceritakan cowok itu padanya. Dan Sakura sedang tidak ingin digosipi dengan siapa-siapa, apalagi dengan cowok berambut seperti pantat ayam yang menabraknya tadi pagi itu!

Gadis berambut pirang panjang itu menaikkan sebelah alisnya. “Hmmm, ternyata forehead girl sudah punya pacar di luar sepengetahuan temannya...” katanya dengan nada setengah menyindir, berharap Sakura akan terpancing. Gadis berambut kuning emas itu sama sekali tidak suka bila sahabatnya menyembunyikan sesuatu darinya, dan ia tahu si pinkie itu tidak suka bila dipancing dengan pernyataan bahwa ia sudah punya pacar.

“Siapa yang punya pacar, hah?! Pria berambut seperti pantat ayam itu sama sekali bukan pacarku!” Benar dugaan Ino. Sakura memang sedang memikirkan seseorang. Ino kan sama sekali tidak menanyakan siapa yang sedang dipikirkan oleh Sakura, namun gadis itu malah mengakui ciri-ciri seorang pria.

Ino tersenyum menggoda. “Jadi rambut pria itu seperti pantat ayam, Sakura?” tanyanya sambil menatap mata emerald Sakura. “Seleramu menurun, eh?”

Wajah Sakura merona seketika, dan ia sadar bahwa Ino tengah menjebaknya.

Piggy~ Kau menyebalkan...!” Sakura merengut tanpa menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Ia kembali menekuni kanvas di hadapannya guna mengalihkan perhatian Ino. Dan Ino semakin bersemangat, karena rona merah di wajah Sakura menandakan bahwa gadis itu memang memikirkan pria berambut mirip pantat ayam yang dikatakannya barusan.

“Hei, apakah ia tampan?” Ia melipat kedua lututnya, merangkul Sakura dari arah belakang. Kuas yang digenggam gadis itu kini semakin ditekan, sehingga ketebalan garis yang dihasilkan oleh lumuran cat itu menjadi tebal dan terlihat tidak enak dipandang mata.

“Mmmm...” Sakura meletakkan kuasnya dan membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Ino yang buru-buru menegakkan tubuhnya. Kembali dibayangkannya wajah pria menyebalkan itu. “Ia sangat jelek.”

“Kau seperti berbohong,” selidik Ino dengan kedua lengan terlipat di depan perut.

Si rambut pink memutar kedua bola mata gioknya dengan gerakan bosan. Yeah, ia tidak akan bisa melukis dengan baik bila temannya yang satu itu tidak berhenti merecokinya soal si pantat ayam. Astaga, pemuda itu benar-benar membuat masalah. Saat ia ada, ia menjatuhkan semua kuas Sakura di tengah hujan dan langsung pergi setelah hanya mengambilkan sebuah kuas. Saat ia tidak ada, lagi-lagi ia membuat masalah dengan menyebabkan Ino terus menanyai Sakura mengenainya. Benar-benar mengganggu.

Apapun akan ia lakukan demi waktu tenang untuk melukis lagi.

Yeah,” gadis itu memajukan bibirnya. “Aku memang berbohong. Ia tampan. Puas?”

Detik berikutnya Ino mengeluarkan tawa terbahak-bahak. Sepertinya puas sekali.

“Kapan kau bertemu dengannya?” Tatapan Ino berubah menjadi tatapan mellow-dramatic, seolah-olah yang akan didengar selanjutnya adalah kisah cinta yang paling romantis yang pernah ada. Seperti film Korea saja. Ino memang sering bermimpi mempunyai pacar orang Korea. Karena itu ia memilih untuk menolak semua pemuda yang menyatakan cinta kepadanya. Baginya, bila bukan orang Korea, ia tidak mau.

Kembali ke percakapan Sakura dan Ino.

“Tadi pagi.” Gadis bermata emerald itu mendengus, mulai emosi. “Kau tahu? Ia menabrakku sehingga semua kuas ini—” Ia melambaikan tangannya ke arah tabung yang penuh berisi batangan-batangan kuas, “—terjatuh ke jalanan yang basah. Lalu, ia malah marah-marah kepadaku dan bukannya minta maaf! Padahal ia yang menabrakku duluan... bisa kau bayangkan betapa kesalnya aku?” tanya Sakura dengan nada berapi-api.

“Hahaha...” Ino tak tahan untuk tertawa, membuat Sakura menedelik tajam kepadanya—yang justru malah membuat tawa si mata turquoise itu tertawa semakin keras. “Jadi... siapa namanya?” tanya Ino setelah tawanya berangsur-angsur mereda.

Sakura menggigit bibirnya, berpikir untuk beberapa saat. “Mmmm... aku tidak tahu. Aku memanggilnya pantat ayam, dan ia memanggilku ‘pinkie’—”

“Kau kan memang ‘pinkie’, jadi untuk apa marah?” Ino menyela perkataan Sakura. Kedua pipinya naik sehingga matanya agak menyipit. Sepertinya ia bermaksud menggoda Sakura lagi. “Ah ya, kapan kau akan bertemu dengannya lagi?”

Sakura—yang baru saja memegang kuas dan mulai melukis lagi dengan tangan kiri—menyentuh bagian bawah dagunya dengan jari telunjuk tangan kanannya, gaya berpikir yang biasa dilakukannya. “Hmmm... aku tidak—ah, hei! Lagi-lagi kau menjebakku! Sudah kubilang bahwa si pantat ayam itu menyebalkan, dan...”

Kata-kata Sakura berhenti ketika kedua matanya menangkap gerakan temannya—jari telunjuk di bibir yang berarti ‘diam’.

“Jangan bilang begitu,” kata Ino. “Nanti kau malah menyukainya.”

Ingin rasanya Sakura menjitak Ino sampai kepala sahabatnya itu dipenuhi oleh tonjolan-tonjolan memar, namun diurungkannya niatnya ketika ia melihat salah satu dosennya memasuki studio lukis, sekedar mengecek kegiatan para mahasiswanya selama dua jam ini. Lalu Sakura memutuskan untuk melanjutkan lukisannya, tidak memedulikan gestur Ino yang masih ingin mengajaknya ngobrol.
.
.
.
Istirahat makan siang!

Rasanya dua jam setengah yang dilalui Sakura pada mata kuliah kedua hari ini di studio lukis tadi adalah dua jam setengah terlama yang pernah dialaminya seumur hidup. Direcoki Ino terus-menerus adalah neraka baginya, sehingga ia tidak bisa melukis dengan benar. Teguran dari dosennya karena ia salah melukis pun sama sekali tidak membantu, malahan memperburuk mood gadis pink itu. Ahh, what a bad day for that pinkie girl... Ino pun tidak dapat mencerahkan suasana hati temannya itu.

Kafeteria di Suna Art University tampak lengang—tentu saja. Mereka—Sakura dan Ino—terlambat datang makan siang selama setengah jam—seharusnya mata kuliah pagi tadi hanya memakan waktu dua jam, namun mereka terkena ceramah dari dosen selama nyaris setengah jam. Namun, Sakura bersyukur karenanya. Ia sedang tidak mood untuk makan bersama-sama dengan sejumlah besar orang di tempat yang ramai. Demi Tuhan, saat ini ia hanya ingin sendirian saja. Kesialannya yang berturut-turut sudah jelas bersumber pada... si pantat ayam!

Lain lagi dengan Ino. Gossip queen itu sudah berulangkali menghampiri meja-meja yang masih ada penghuninya, bergosip barang setengah menit, kemudian melenggang menyusul langkah Sakura yang lebar-lebar. Keduanya segera antri di barisan pengambilan makan siang, barisan yang pendek. Ino hanya mengambil semangkuk salad dengan french dressing dan caramel pudding low fat juga segelas air mineral. Makanan diet ala nona pirang ini kerap kali mendapatkan cibiran dari Sakura.

Untuk makan siangnya, Sakura sendiri mengambil satu box full-set kentang goreng dan daging ayam goreng berbumbu, semangkuk salad buah, tiga potong pai apel, sebuah strawberry pudding, sekotak susu, dan segelas air mineral. Bila sedang stres, nafsu makan Sakura memang meningkat dua kali lipat.

Mereka berdua mengambil meja di dekat jendela—area yang dikhususkan untuk para mahasiswa tingkat awal. Di meja itu sudah terdapat beberapa anak seangkatan mereka. Mereka tampak sedang bercakap-cakap dengan asyik, bahkan sampai ada seseorang di antara mereka yang cekikikan tanpa henti. Sakura yang sedang tidak berminat melakukan tetek-bengek sosialisasi langsung menarik kursi yang berada tepat di sebelah jendela dan mulai memakan isi nampannya, sementara Ino memulai social life-nya. Karena tidak terlalu memerhatikan—dan lebih fokus kepada tumpukan makanannya—Sakura hanya bisa menangkap sepotong-sepotong pembicaraan di mejanya.

“... ia pria yang sangat tampan, dan...” Suara seorang gadis di mejanya yang terdengar sangat memuja objek pembicaraannya membuat Sakura bergidik geli.

“... yeah, mahasiswa KIU jurusan bisnis, lalu...”

“... Kyaaaaa~ Gantengnyaaaa~”

Sampai di situ, Sakura rasanya ingin muntah.

Mengapa teman-teman seangkatannya—sudah jelas para cewek—senang sekali bergosip mengenai makhluk-makhluk berjenis kelamin ‘cowok’? Sakura tidak pernah memikirkan seorang cowok terlalu jauh selama ia hidup—yeah, mungkin si pantat ayam itu pengecualian. Karena ia sangat menye—

“... rambutnya sangat unik! Hitam legam dan bermodel raven. Banyak yang bilang bahwa rambutnya mirip dengan pantat ayam...” Deg! “Namun hal itu tidak mengurangi ketampanannya, kyaaaaaa~”

Ra-rambut pantat ayam? batin Sakura kaget. Jangan-jangan...

“Memang, siapa sih namanya?” Ino yang sedari tadi diam mendengarkan mulai terpancing untuk masuk ke dalam pembicaraan itu. Si pirang juara gosip ini tidak pernah bisa tidak terjerat dalam percakapan seru yang melibatkan para jantan sebagai objeknya.

Salah satu dari gadis-gadis itu menoleh dan menatap Ino. “Uchiha Sasuke. Kau tahu?”

Wajah cantik Ino tampak sedikit kecewa. Jelas sekali perasaannya itu tercetak di raut wajahnya. Pasalnya, Ino sama sekali tidak mendengar nama ataupun pernah mengenal pemilik nama itu. Padahal kan, kalau kenal Ino bisa sedikit menyombong mengenai hal itu.

Lain halnya dengan Sakura. Gadis berambut bubble gum itu malah melambatkan laju makannya. Entah mengapa selera makannya hilang ketika mendengar percakapan teman-temannya—terutama setelah mendengar bahwa si pantat ayam yang menabraknya tadi pagi itu adalah cowok tampan yang digila-gilai oleh teman-teman ceweknya.

Masa sih ia sebegitu tampannya? pikir Sakura tak percaya. Di mataku, wajahnya tampak biasa-biasa saja. Mereka memang sudah gila...

Namun di sisi lain, ia merasakan perasaan lain. Perasaan asing yang membuatnya merasa agak kesal mendengar percakapan itu. Seolah-olah ia tidak suka si pantat ayam diketahui orang banyak...

Forehead girl, ada apa denganmu?” tanya Ino tiba-tiba, membuyarkan lamunan Sakura. Gadis itu tersentak dan mendapati bahwa setiap pasang mata di meja itu menatap dirinya. Dengan semburat merah malu di kedua pipinya, Sakura melanjutkan acara menyantap pai apelnya.

“Ti-tidak.” Bibir mungilnya terbuka untuk menerima sepotong pai. “Aku hanya... tidak enak badan. Ino, sepertinya aku akan pulang lebih cepat. Tolong absenkan aku di kuliah Yuuhi-sensei nanti, ya?”

Gadis yang dimaksud memutar kedua bola mata sapphire-nya dengan gerakan bosan. “Yeah, baiklah, baiklah... Istirahatlah yang cukup, forehead. Ingat, besok adalah ujian mata kuliah Nirmana Dwirana!”

Sakura yang bangkit dari kursinya mengangguk lemah. “Yeah, baiklah. Sampai jumpa... besok.” Ia melambaikan tangannya dan beranjak pergi dari kafeteria dengan langkah-langkah lemas.

Para gadis yang tersisa di meja itu saling pandang dengan keheranan. Tidak biasanya Sakura yang energik dan berisik itu bisa sediam itu. Ada apa dengannya?
.
.
.
Berjam-jam telah berlalu sejak Sakura berbaring memandang langit-langit kamar di atas tempat tidurnya. Kedua lengan putih gadis itu memeluk sebuah boneka beruang berwarna coklat muda dengan pita besar berwarna coklat tua mengilat. Hanya itulah yang dilakukan Sakura semenjak ia pulang ke apartemennya.

Tidak banyak yang dipikirkannya—bahkan satu-satunya hal yang ia pikirkan adalah si pemuda pantat ayam. Bagaimana lekuk wajahnya, cara bibir tipisnya tersenyum sinis, kedua mata onyx-nya memberikan tatapan merendahkan...

HEI, SAKURA! MENGAPA KAU MEMIKIRKAN PEMUDA ITU TERUS? Suara hatinya menjerit, seolah berusaha menyadarkan dirinya.

Sakura tersentak. Iya ya, mengapa ia terus-menerus memikirkan pemuda menyebalkan itu? Bisa-bisa ia jatuh cinta kepa—HENTIKAN!

Gadis itu melonjak dan terduduk bersila di atas kasurnya, kedua lengannya masih mendekap boneka beruang itu di depan tubuhnya. Rambut merah mudanya yang panjang sebahu tergerai dan acak-acakan. Kedua mata emerald-nya memandang langit yang sudah mulai pe—hei, sudah berapa lama ia berbaring-baring begitu saja? Waktu makan malam sudah lewat, sedangkan dirinya belum makan dan sama sekali tidak berniat memasak. Ia juga belum belajar untuk ujian besok...

Secepat kilat ia merapikan rambut seadanya, berganti pakaian, kemudian melangkah keluar dari apartemennya. Sakura memutuskan untuk makan di café 24 jam yang berada di mall dekat apartemennya.

Lampu-lampu jalanan tampak menyala temaram, memberikan kesan berkelap-kelip seperti lampu-lampu hiasan pohon natal ketika Sakura tiba di jalan. Kedua kakinya yang bersepatu kets melangkah ke arah mall yang ditujunya.

Café Gingerlily.

Café dengan nuansa klasik yang disukai Sakura. Selain makanan dan minumannya yang enak dan terjangkau harganya bagi anak kuliahan seperti Sakura, entah mengapa atmosfir yang terbentuk di dalam ruangan café itu membuat Sakura merasa tenang. Alunan musik klasik terdengar di seluruh penjuru ruangan—bening dan membuat Sakura melayang. Dengan segera ia melupakan semua hal yang membuatnya kesal hari ini.

Rupanya kebahagiaan Sakura tak berlangsung lama. Saat gadis bermata hijau terang itu baru memasuki pintu masuk café, tanpa sengaja ia bertubrukan dengan seseorang. Sakura—yang pada dasarnya adalah tipe orang yang tak mau disalahkan—langsung bersiap memaki orang yang menabraknya itu.

“Kau—”

Suaranya menghilang. Semua kata makian yang siap dilontarkannya seolah menguap habis entah ke mana. Dalam sekejap ia terpesona pada sang penabraknya.

Pemuda rambut pantat ayam yang tadi pagi! —yang dikatakan oleh teman-temannya bernama Uchiha Sasuke...

Lidah Sakura terasa kelu saat menatapnya.

Yeah, ia memang tampan dengan rambut pantat ayamnya. Kedua mata onyx-nya tajam bagaikan mata elang. Kulitnya putih mulus dengan raut wajah oriental yang rupawan. Tubuhnya tampak tegap dan kekar—tipe-tipe tubuh cowok yang dapat melindungi gadisnya dari bahaya. Dan sorot mata elangnya itu...

HAH!

Sakura terkejut setengah mati ketika kedua onyx itu balas menatapnya dengan tatapan yang membekukan jiwa raga. Sekujur tubuhnya terasa mati rasa—Sakura sendiri tidak tahu mengapa—dan persendiannya terasa kaku. Terlebih lagi ketika pemuda itu balas menatapnya melalui kedua matanya yang sehitam jelaga.

“H-h-haaaiii...” Sakura mencoba menyapanya dengan nada canggung. “Kita—eh—sepertinya kembali bertabrakan...” Rasanya Sakura malu sekali. Detik demi detik berlalu, namun tidak terdengar balasan apapun dari pria berambut raven itu. Pemuda itu malah membuang muka dan bersiap membuka pintu di belakang tubuh gadis itu.

Rasanya Sakura mau mati saja!

Sudah ia menahan rasa malu dengan menyapa pemuda itu, namun ia tidak digubris. Bahkan pemuda itu tidak menatapnya...

Pinkie keras kepala...”

Eh?

Sakura menoleh ke arah pemuda bermata obsidian itu. Pemuda itu kini tengah menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan yang tak tertebak. Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda itu, yang jelas, tatapannya itu membuat Sakura—pertama kali dalam hidupnya—merasa bahwa pakaiannya kali ini kurang oke. Biasanya, gadis berambut pale pink itu tidak peduli dengan penampilannya.

“Apa yang kau katakan barusan, pantat ayam?” tanya Sakura dengan nada ketus. Inikah balasannya dari sapaan Sakura tadi? Dasar orang yang tidak bisa diperlakukan dengan baik!

Stubborn pinkie...” Pemuda itu mengulangi kata-katanya dengan bahasa lain. “Kau membuntutiku, hn?”

Ingin rasanya Sakura menendang pemuda di hadapannya itu. Walaupun tampan, bila menyebalkan, apa gunanya?

Namun keinginannya itu berhenti ketika Sasuke menyunggingkan senyuman tipis yang terbentuk dari salah satu sudut bibirnya yang terangkat.

“Kau... baru saja makan malam?” tanya Sakura canggung sembari melirik arloji Switch merah muda yang melingkari pergelangan tangan kirinya.

“Hn.” Pemuda itu menangguk dengan ekspresi datar terpatri pada wajahnya. Tangan kirinya masih menyentuh pegangan pintu—gestur yang menandakan bahwa ia ingin lekas keluar dari café itu.

“A-aahh... maukah kau menemaniku makan malam? Ada banyak hal yang ingin kubicarakan padamu—salah satunya adalah kejadian tadi pagi. Tentu saja bila kau tidak keberatan, maksudku—eh...” Sakura menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Ia tidak tahu harus memanggil apa pemuda di hadapannya.

“Uchiha Sasuke.” Pemuda itu melepaskan tangannya dari logam tabung melengkung yang terpasang di pintu. “Dan aku sama sekali tidak keberatan.”
.
.
.
Mereka berdua duduk berhadap-hadapan. Si gadis di kursi yang menghadap ke arah ruangan. Si pemuda di kursi yang menghadap ke jendela. Sepiring fettuccini dengan bolognaise sauce dan segelas jus berwarna merah susu berada di hadapan si gadis. Secangkir macchiato panas terhidang di hadapan si pemuda.

“Maafkan aku untuk soal yang tadi pagi.” Sakura memulai pembicaraan dan mulai mengelap garpunya dengan selembar tissue. “Aku terburu-buru membawa kuas-kuas yang menjadi pesanan temanku, sehingga aku tidak terlalu memerhatikan jalanan. Aku harus cepat-cepat pergi ke stasiun, jadi—”

“Hn. Aku mengerti.” Pemuda di hadapannya mengangkat tangan kirinya untuk menyela perkataan Sakura yang tiada habisnya. “Hn.”

“Aku minta maaf.” Sakura menunduk dan mulai membentuk spagetinya menjadi bola-bola kecil berlumur saus sebelum memasukkannya ke dalam mulut dan mulai melumatnya dengan tiga puluh dua gigi miliknya.

“Hn.”

Hening.

Ia tidak semenyebalkan tadi pagi, pikir Sakura. Tapi sepertinya Uchiha-san memang bukan tipe orang yang banyak bicara. Cool. Pantas saja Shion dan kawan-kawan sangat memujanya...

“Mengapa kau terus menatapku?”

Pertanyaan pemuda itu sukses membuat Sakura tersedak. Gadis berambut sugarplum itu kontan terbatuk-batuk dan nyaris sesak nafas. Segelas air putih disodorkan oleh pemuda itu ke dekat tangan kanannya yang mengepal erat.

“Ini.” Dan Sakura langsung menenggak banyak-banyak air di hadapannya, diiringi rasa malu dan kagum yang susul-menyusul.

Pemuda itu sama sekali tidak menertawainya. Ia malah membantunya.

Pemuda ini berbeda.
.
.
.
Sasuke tertegun melihat betapa cepatnya gadis di hadapannya menghabiskan segelas air putih. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, air di gelas itu telah kosong melompong. Warna merah yang semula mendominasi wajahnya kini berangsur-angsur menghilang. Kini warna itu digantikan oleh semburat merah muda di kedua pipi chubby-nya.

“Ah.” Gadis itu meletakkan garpunya di atas piring. “Ngomong-ngomong, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Haruno Sakura. Salam kenal, Uchiha Sasuke-kun.”

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Rasanya ia tidak menanyakan nama gadis itu. Sebelum-sebelumnya, gadis-gadis di sekitarnya mengetahui namanya dan langsung berusaha memanggilnya dengan sebutan ‘Sasu-chan’, lalu para gadis itu ikut memanggil diri mereka dengan nama-nama yang sok imut, seperti Karinppe, Sasamepyon dan sebangsanya—padahal ia tidak meminta mereka melakukan hal itu. Tetapi, gadis bermata emerald di hadapannya ini lain. Ia menyebutkan namanya dengan lengkap—Haruno Sakura. Dan ia menyebutkan nama Sasuke dengan utuh—Uchiha Sasuke, ditambah dengan embel-embel –kun.

Sungguh gadis yang berbeda.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan mereka berdua sama sekali tidak menyadari bahwa keduanya sudah tertarik satu sama lain...
.
.
.
.
~To Be Continued~
Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems