UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
mysticahime™
© 2010
.
.
.
Karena manusia tidak bisa menentukan...
.
.
.
Suasana dalam ruang kamar itu masih temaram. Lampu kamar yang biasanya memendarkan spektrum warna putih yang terburai itu sepertinya sengaja dipadamkan oleh sang empunya kamar. Menghemat litstrik, mungkin? Entahlah, tidak ada yang bisa menebak pergerakan pikiran gadis pemilik kamar tersebut, hanya si gadis yang tahu alur pikirannya saat itu.
Sesosok tubuh itu berbaring terlentang—membentuk diagonal pada dipan berukuran queen size-nya. Wajahnya tersembunyi di balik tubuh berbulu boneka teddy bear berbulu coklat dengan pita coklat mengilat melingkari lehernya. Kedua lengannya yang putih melingkari boneka berukuran jumbo itu, jelas sekali bahwa pemilik lengan tersebut tidak sedang teritdur seraya mendekap boneka kesayangannya. Ia pasti sedang melamun.
Boneka itu bergeser ke bawah—ke arah abdomennya—dan muncullah seraut wajah manis yang dibingkai puluhan ribu helai rambut berwarna pinky peach. Kedua matanya terpejam, membuat bulu-bulu matanya yang lentik terekspos jelas. Kedua sudut bibirnya berkedut, keningnya pun berkerut.
Ia sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang seharusnya terjadi barusan. Sesuatu yang baru disadarinya kini.
Ya Tuhan, ia lupa meminta nomor ponsel Uchiha Sasuke!
Bukan hal penting, memang. Namun dari pengalaman yang pernah dialami Sakura, meminta nomor ponsel seseorang yang pernah dikenalnya adalah penting. Bila sewaktu-waktu ia memerlukan bantuan, maka ia bisa mengontak nomor itu.
“Ugh!” Sakura kembali menyembunyikan wajahnya di balik tubuh gembul bonekanya.
Sungguh, ia merasa sangat-sangat bodoh.
.
.
.
“Bagaimana kencanmu, Sasuke?”
Sasuke yang baru saja membuka pintu rumahnya tertegun mendapati sang kakak berdiri beberapa meter jauhnya dari posisi pemuda itu sekarang. Pria berambut hitam kuncir itu menyipitkan matanya, menatap sang adik yang pulang larut malam dengan tatapan menyelidik—persis seorang polisi yang sedang menginterogasi seorang penjahat.
Pemuda berambut raven itu menghela nafas dengan nada bosan. “Aku tidak berkencan.”
“Bohong!” Itachi mengacungkan jari telunjuknya ke arah Sasuke. “Tadi aku kebetulan lewat café Ginger Lily, dan kau sedang duduk berhadapan dengan seorang gadis!”
Kedua bola mata onyx itu sontak berputar. Ekspresi malah tampak di wajah orientalnya yang rupawan. Ahh, aniki-nya yang overprotective itu mulai menginterogasinya. Dan demi Kami-sama, Sasuke sedang malas sekali berbicara dengan orang lain. Ia ingin menyimpan ingatannya tentang kejadian di café tadi untuk dirinya sendiri.
“Tidak ada meja kosong,” kilah Sasuke, “jadi gadis itu terpaksa duduk denganku.”
Kemudian, Sasuke berpura-pura merapikan jaket hitamnya dengan menggantungnya di gantungan yang berada di belakang pintu depan, mencopot sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu, dan berjalan menuju ruang cuci untuk menyimpan sepasang kaus kaki hitamnya yang tadi dipakai. Apa saja untuk menghindari tatapan Itachi. Itachi selalu tahu apabila pemuda berambut raven itu berbohong. Wajar saja, Itachi dan Sasuke telah tinggal bersama sedari kecil, dan hanya tinggal berdua semenjak kedua orangtua mereka memutuskan untuk pindah ke Bremen dan membuka kantor cabang dari perusahaan keluarga mereka. Segala sesuatu hal mengenai Sasuke jelas terekam di otak Itachi, pria berusia duapuluhan itu telah hafal semua kebiasaan adik semata wayangnya itu.
“Ahhh~ Otouto-ku mulai dewasa~” seru Itachi dengan nada menggoda dari ruang tengah.
Sasuke buru-buru menaiki tangga ke lantai atas—menyelamatkan dirinya dari Itachi.
Klek!
Akhirnya! Sasuke segera menghempaskan dirinya ke atas kasur dan membenamkan wajahnya di balik bantal yang terbungkus penutup bantal berwarna biru. Ia sama sekali tidak berkeinginan untuk mengganti pakaiannya. Sebelum pergi ke café tadi, ia memang sudah membilas tubuhnya di bawah pancuran selama beberapa menit. Selang beberapa detik, Sasuke membalikkan tubuhnya hingga telentang menghadap langit-langit kamarnya yang tinggi.
Dalam pikirannya terbayang jelas percakapannya dengan gadis pinkie barusan. Percakapan yang beralur amat aneh, namun menjadi awal perkenalan mereka berdua.
/Flashback/
“Ah.” Gadis itu meletakkan garpunya di atas piring. “Ngomong-ngomong, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Haruno Sakura. Salam kenal, Uchiha Sasuke-kun.”
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Rasanya ia tidak menanyakan nama gadis itu.
“Uchiha Sasuke,” balasnya dengan nada datar.
Sakura tersenyum dan mulai menciptakan lagi bola spageti dengan garpunya—memutar-mutarnya sedemikian rupa, lalu memasukkan ‘hasil karya’nya ke dalam rongga mulutnya, mengunyah-ngunyahnya. Sasuke menopangkan dagunya ke sebelah tangannya di atas meja, mengamati setiap gerakan Sakura yang menurutnya unik itu. Merasa diperhatikan, Sakura melirik Sasuke.
“Kenapa? Kau lapar?” Gadis bermata zamrud itu menyodorkan piringnya yang masih tersisa setengah porsi spageti.
Sasuke tersentak. “Eh, apa? Tidak, aku sudah makan barusan.”
Sejak kapan seorang Uchiha tersentak? Sasuke merasa jengkel dengan dirinya sendiri. Tanpa ekspresi, ditatapnya gadis itu—kini ia tengah menyesap minuman merah susunya. Mungkin jus strawberry. Entahlah, seumur-umur, minuman berwarna cerah yang pernah diminum Sasuke hanyalah segelas orange juice ketika ia masih menjadi murid sekolah dasar. Selebihnya, ia biasa meminum minuman standar seperti air mineral, teh, atau kopi.
“Kau masih kuliah, Sasuke?” Sakura mencoba mencari topik pembicaraan. Garpu perak di tangan kirinya teracung, tanpa spageti melilit di sekelilingnya.
“Hn.” Hanya itu yang dijawab Sasuke. Irit kata, seperti biasa.
“Di mana?” tanya Sakura.
“Konoha International University.”
“KIU? KIU yang itu??” Reaksi gadis di hadapannya benar-benar di luar dugaan Sasuke. Tak disangka, suaranya bisa sekeras ini. Apa yang hebat dari sebuah universitas bernama KIU? Universitas itu hanyalah universitas swasta yang—hn—merupakan universitas satu-satunya yang dapat menyaingi Tokyo Daigaku. Tapi, apa yang membuat gadis itu terpesona?
Sakura terdiam saat tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Sasuke. Gadis itu menunduk, memandangi lantai seolah-olah merasa bersalah. “Ma-maaf. Aku terlalu bersemangat. KIU sangat hebat karena telah meluluskan banyak mahasiswa yang pada akhirnya menjadi orang-orang sukses di Jepang...”
“Kau sendiri?”
Kepala yang berselimutkan helaian rambut merah jambu itu terangkat sedikit. Kedua mata hijaunya membulat. “Aku... apa?”
Bibir tipis Sasuke tetap datar. “Di mana kuliahmu?”
“Suna... University of Arts...” Sakura menelan ludahnya. Gugup. Tak disangkanya bahwa mata Sasuke sangat memesona. Benar apa yang dikatakan teman-temannya, Uchiha Sasuke itu sangat keren! “Jurusan Desain Komunikasi Visual. Tingkat satu.”
“Hn,” telunjuk Sasuke bermain di tepi meja, menggambarkan sesuatu yang abstrak dan tak kasat mata. “Jurusan seni.”
“Ya, bagaima—”
Trrrrtt... trrrttt...
Mendadak ponsel Sakura bergetar sebelum gadis itu menyelesaikan kata-katanya. Sepasang emerald itu memerhatikan layar bercahaya ponsel selama beberapa detik sebelum akhirnya sang pemilik ponsel bersuara lagi. “Anoo, aku harus pergi sekarang. Aku baru ingat bahwa besok ada ujian.”
Sasuke mengangguk paham. “Hn.”
“Terima kasih atas, ehh, obrolannya.” Gadis itu membungkuk sebelum berlari menuju kasir dan membayar biaya makan malamnya, lalu sosok tubuh mungilnya menghilang di balik pintu café.
/Flashback End/
Geez, Sasuke menggeram pada dirinya sendiri. Ia lupa meminta nomor gadis itu!
Sisa malam itu dihabiskan oleh pemuda bermata onyx itu dengan menyesali kebodohannya. Kebodohan pertama seorang Uchiha.
.
.
.
Tiga minggu telah berlalu semenjak pertemuan tak sengaja mereka di café. Hari-hari kembali berjalan seperti biasa—tidak seperti biasa juga. Ada yang berbeda. Setidaknya dari perilaku Haruno Sakura. Dan sebagai sahabatnya, Yamanaka Ino sangat mengenali perubahan yang kontras dari gadis pink yang satu itu.
“Hei, forehead, apa yang sedang kaulakukan?” sapanya ketika memasuki laboratorium komputer, tempat di mana Sakura telah menghabiskan tiga jam terakhir di dalamnya. Gadis berambut pirang itu melenggang melintasi gang-gang yang memisahkan setiap meja komputer dan mendekati meja pojok tempat Sakura duduk menatap layar komputer tanpa bergerak sama sekali.
“Mengedit foto yang kujepret kemarin,” kata Sakura, kedua matanya tetap fokus kepada layar datar komputer yang menampilkan foto pemandangan malam daerah Akihabara—wilayah yang didominasi oleh para otaku untuk menyalurkan hobi-hobi mereka. Tangan kanannya menggenggam mouse dan menggerakkannya ke sana-ke mari, tetapi tidak membuat perubahan apapun pada foto yang sedang ditekuninya.
Ino diam sesaat, mengamati hasil karya Sakura. “Tidak salah?”
Gadis berambut sugarplum itu melirik Ino dengan tatapan aneh. “Ada yang salah dengan,”—pandangan matanya kemudian beralih lagi ke arah layar komputer—“fotoku?” Ia terdiam, menyadari kesalahannya. Kesalahan fatal!
Kami-sama, apa yang kupikirkan?? pekik Sakura dalam hati. Selama berjam-jam mengedit foto, ia malah membuat gambar itu menjadi blur! Ditambah lagi dengan tambahan macam-macam coretan tidak penting di beberapa bagian, dan... mengapa ia me-rotate foto itu hingga terbalik?
“Kau melamun lagi, eh, forehead?” tanya Ino ragu. Selama beberapa minggu ini, Sakura memang kerap kali ditemukan tengah memandang dengan pandangan menerawang—entah apa yang dipikirkannya. Setelah enam tahun lebih bersahabat dengan Sakura, Ino telah hafal segala kebiasaan Sakura. Dan bila gadis itu tidak fokus mengerjakan apapun, sudah dapat dipastikan bahwa hanya ada satu hal yang mengawang-awang di pikiran gadis itu: cowok.
“Tidak,” Sakura mendesah, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, “—entahlah, aku sendiri tidak tahu, Ino...”
Aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Entah apa yang membuatku seperti ini. Mungkinkah karena pemuda Uchiha itu? Baka-Sakuraaa...! Tidak bisakah kau tidak memikirkan si pantat ayam itu? Sakura mengomel sendiri di dalam hatinya. Perasaan kesal menjalar di sepanjang syarafnya.
Bodoh.
Mengapa ia merindukan seorang Uchiha Sasuke hingga seperti itu? Ah, entahlah... Dirinya sendiri pun tidak mengetahui apa jawaban dari pertanyaan itu.
.
.
.
“KGB!!”
Teriakan demi teriakan bernada memuja terdengar di sepanjang lorong yang dilalui oleh tiga kaum adam dengan keindahan fisik yang mereka miliki. Pintar, kaya, rupawan, dan tak terjangkau. Itulah definisi singkat mengenai empat orang anggota KGB bila para penggemar tak resminya ditanyai oleh orang-orang yang bingung mengenai alasan mengapa mereka sangat terobsesi pada empat orang ciptaan yang Di Atas itu. Dan empat denifisi tersebut selalu membuat Uchiha Sasuke—salah seorang di antara mereka berempat—merasa risih karenanya.
Pekikan demi pekikan disusul oleh tindakan dramatis para gadis (pura-pura tidak-sengaja-padahal-sengaja jatuh di depan mereka, curi-curi pandang, dan yang paling parah—pura-pura pingsan) semakin gencar dilakukan oleh semua yang mengaku sebagai ‘wanita’ di koridor memanjang yang menuju ruang senat itu. Dan seperti biasa, tidak ada satupun di antara para pemuda itu yang menggubris tindakan-tindakan para gadis. Bagi mereka bertiga, perilaku seperti itu sama dengan perilaku tikus yang mengejar keju seperti di kartun Tom & Jerry.
“Sampai kapan mereka akan meneriaki kita dengan sebutan ‘KGB’, heh?” tanya Hyuuga Neji dengan nada setengah sinis. Pemuda berambut panjang kecoklatan itu adalah yang pertama mencapai ruang senat, merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci perak mengilap dan memasukkannya ke lubang kunci. “Sejak semester lalu berakhir, kita tinggal bertiga.”
“Hn.” Sasuke merespon. Jelas-jelas ia tahu sekali penyebab mereka tinggal berempat. Sejak awal musim gugur kemarin, anggota KGB berkurang satu orang, karena Uchiha Itachi—pentolan KGB yang dulunya menjadi jawara KGB sekaligus kakak dari Uchiha Sasuke—lulus gemilang dengan predikat cum laude dan IP 4.0. Sempurna. Dan setahun sebelum Itachi lulus, pemuda perambut hitam dikuncir itu telah memperoleh pekerjaan dengan jabatan tinggi dan gaji yang melebihi kriteria ‘cukup’. Sungguh tipe manusia yang sangat beruntung.
Gaara hanya mengangguk. Pemuda crimson yang satu itu memang paling pendiam di antara mereka berempat—kini bertiga. Dulu, yang paling cerewet tentu saja Itachi. Ia juga tak segan-segan menggodai gadis-gadis yang jatuh cinta padanya, benar-benar tipikal playboy sejati. Namun kini, seorang Uchiha Itachi hanya setia pada seorang Inuzuka Hana—sekretarisnya yang juga merupakan kakak perempuan Inuzuka Kiba, teman se-clique dari Sasuke dan Gaara.
Ketiga pemuda itu memasuki ruang senat tanpa banyak bicara lagi. Dulu, saat Itachi menjabat menjadi ketua senat, ruangan tersebut tidak pernah lolos dari sesuatu yang ber-genre hura-hura. Mantan ketua yang satu itu selalu menyetel musik kencang-kencang (dan sampai sekarang masih suka melakukan kebiasaan tersebut bila di rumah), dan tidak pernah absen mengajak anggotanya untuk meneriakkan yel-yel norak.
Tapi, berkat itulah para anggota senat jadi semangat untuk mengadakan berbagai jenis festival di KIU. Sedangkan sekarang? Para anggota senat hanyalah gadis-gadis yang ingin mencuci mata menikmati rupa para KGB, dan bukannya mau bekerja. Paling-paling hanya Temari yang masih mau bekerja. Itupun karena ia menjabat sebagai sekretaris.
Secara tidak resmi—karena memang tidak ada acara pengukuhan apapun selain pengumuman lewat radio sekolah—KGB termasuk dalam jajaran kepengurusan senat. Sabaku Gaara sebagai bendahara. Hyuuga Neji sebagai wakil ketua. Dan Uchiha Sasuke...
“Ketua.” Panggilan Neji terhadapnya membuat Sasuke tersentak dari lamunannya. Selama beberapa detik, Sasuke tampak larut dalam sebuah imajinasi yang tidak diketahui kedua rekannya, dan sama sekali tidak mendengar bahwa Neji telah memanggilnya sebanyak tiga kali.
“Hn?” Sasuke mengangkat sebelah alisnya, pertanda bahwa ia telah mendengar suara Neji.
“Aku sudah memanggilmu tiga kali,” kata pemuda bermata perak itu. Tidak biasanya seorang Uchiha Sasuke ditemukan dalam keadaan tidak fokus.
“Maaf,” gumam Sasuke. “Ada apa?”
“Pertandingan persahabatan yang dijadwalkan oleh anak-anak HIMA.” Gaara menjawab pertanyaan itu. “Basket, voli, futsal. Apa lagi? Apa kau ingin menambahkan sesuatu?”
Kening Sasuke mengernyit. Basket, voli, dan futsal. Bukankah itu terlalu umum? Semua pertandingan persahabatan selalu mengusung tiga permainan tersebut. Bahkan saat masa jabatan Itachi, pertandingan yang diadakan hanya itu-itu saja. Membosankan.
Ah, ya. Sekalipun Itachi adalah ketua yang ramai dan menyenangkan, ada satu kualifikasi yang tidak dipenuhinya selama masa jabatan sebagai ketua senat tahun lalu.
“Lagi-lagi pertandingan-pertandingan itu.” Hyuuga Neji menempatkan dirinya di meja yng berada di sebelah kanan Sasuke. Pertanda ‘tangan kanan’, karena Neji adalah seorang wakil ketua.
“Hn.” Sasuke melirik Neji dengan kedua mata onyx-nya yang mampu membuat seorang gadis tumbang setelah menerima lirikan itu setelah satu detik. “Kalau tidak salah, fakultas-fakultas yang ada di KIU adalah...”
“—Fakultas Teknik: Teknik Mesin, Teknik Fisika, Teknik Kimia, Teknik Pertambangan, Teknik Elektro, Teknik Lingkungan, Teknik Informatika. Fakultas Kedokteran: Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi, Kedokteran Hewan. Fakultas Ekonomi: Akuntansi, Bisnis Manajemen. Fakultas Hukum: Sospol, Filsafat, Hukum. Fakultas Sastra: Sastra Jepang, Sastra Inggris, Sastra Prancis. Fakultas Seni Rupa dan Desain: Seni Murni, Desain Komunikasi Visual, Desain Interior, Fashion Design. Fakultas Psikologi. Fakultas FIKOM—”
“Lomba Desain,” cetus Sasuke, membuat Gaara yang membolak-balik arsip mengenai KIU yang tersimpan dalam rak yang biasanya ‘dikuasai’ Temari mendongak kaget.
... kreatif. Itu adalah kualifikasi seorang ketua yang tidak dimiliki Itachi. Untuk urusan bersenang-senang, mungkin ia adalah ahlinya. Sedangkan untuk pengembangan program senat, Uchiha yang satu itu masih kalah dengan adik bungsunya.
Sepasang mata argentum Neji berbinar.
“Ide bagus, teman,” katanya.
Sasuke menyeringai. Desain, adalah kata kunci yang sangat menggambarkan seorang Haruno Sakura, mahasiswi Suna University of Arts jurusan Desain Komunikasi Visual. Sosok yang selalu memenuhi alam bawah sadarnya selama beberapa minggu ini. Gadis pertama yang mampu mengusik kehidupannya.
Gadis menyebalkan yang ditemuinya di bawah tetes-tetes air hujan.
.
.
.
Keesokan harinya...
Kedua kaki jenjang bersepatu boots coklat itu baru saja melewati gerbang universitas ketika ponsel yang tersimpan aman dalam saku celana jeans-nya bergetar heboh. Haruno Sakura tergesa-gesa merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel lipat berwarna pink dan segera membuka flip-nya. Pada layarnya tertera tulisan ‘Piggy calling’, yang menandakan bahwa Yamanaka Ino meneleponnya.
Sakura memencet tombol bergambar telepon berwarna hijau dan menempelkan speaker ponsel itu ke telinganya. “Halo?”
“FOREHEAD!” Jeritan Ino membahana di seberang sana, membuat gadis itu sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya yang mendengung.
“Jangan berteriak-teriak,” gerutu Sakura seraya mengerucutkan bibirnya. Sekilas ia mengangguk kepada penjaga pintu gerbang—Pak Danzou—yang selalu tampak muram. Kedua kakinya melangkah ke gedung tiga, tempat studio bagi para anak DKV belajar. “Ada apa?”
“Di mana kau?” Ino tidak menjawab pertanyaan Sakura.
“Dalam perjalananku menuju studio fotografi,” jawab Sakura, menyebutkan mata kuliahnya hari ini. “Jawab, ada apa?”
“Jangan ke sana!” pekik Ino, masih tidak menjawab pertanyaan Sakura, kali ini membuat Sakura benar-benar jengkel. Ya, gadis berambut punch itu memang tipe orang yang cepat emosi.
“Jadi aku harus ke mana?!” Sakura mengernyitkan alisnya dengan sebal. Sungguh, Ino adalah orang paling tidak to-the-point yang pernah ia kenal.
“Ke gedung rektorat. Ada pengumuman di sana.” Telepon diputus oleh Ino ketika gadis itu selesai bicara, sama sekali tidak menunggu jawaban Sakura.
Menghembuskan nafas dengan geram, akhirnya Sakura bergegas menuju gedung rektorat, di mana papan pengumuman raksasa berada. Gadis itu berlari-lari kecil, bukan hal yang sulit mengingat ia selalu memakai sepatu yang membuatnya mudah bergerak—sekalipun kali ini adalah sepasang sepatu boots setungkai. Tidak seperti rata-rata gadis yang kerap menggunakan sepatu flat yang tampak feminin dan anggun.
Setibanya di sana, kerumunan mahasiswa yang bergerombol di depan papan raksasa tersebut membuatnya kaget. Tumben-tumbenan sekali para mahasiswa memperhatikan pengumuman yang ditempel di sana. Ada mahasiswa yang di-DO lagikah? pikir Sakura.
Pertanyaannya terjawab ketika wajah Ino yang dibingkai rambut pirangnya menyembul dari kerumunan. Berdesak-desakkan, Ino keluar dari lautan manusia itu dan menghampiri Sakura. Wajahnya yang cantik menyambut Sakura dengan senyum senang.
“Hei, forehead!” sapanya dengan wajah tanpa dosa. “Apa kau berminat mengikuti lomba desain?”
“Lom—lomba desain?” Kening Sakura berkernyit. Perlombaan macam itu memang sering sekali diadakan di kalangan mahasiswa, namun apa yang membuat para mahasiswa yang rata-rata cewek ini tertarik?
“Benar!” Gadis pirang itu mengangguk, membuat rambutnya yang kali ini dikeriting pada bagian bawahnya bergoyang-goyang jenaka. “Salah satu universitas yang fakultas desainnya memiliki tingkatan yang nyaris sama dengan universitas kita mengadakan pertandingan persahabatan, dan salah satu dari pertandingan itu adalah lomba desain. Setiap mahasiswa yang mengambil perkuliahan di bidang seni rupa dan desain boleh berpartisipasi di lomba itu.”
“Dan kau menyuruhku ikut?” tanya Sakura dengan nada tidak yakin. Seingatnya, semua orang selalu menganggap Ino berbakat, dan bukan dirinya. “Bukankah lebih baik kau yang ikut lomba itu?”
“Kalau aku tidak ikut, untuk apa aku mengajakmu, he?” Mata aqua Ino tampak sangat berapi-api. “Peserta yang ikut dibagi menjadi dua kategori. Kategori pertama adalah kategori individual, di mana setiap orang yang berminat boleh mengikutinya; sedangkan kategori yang kedua adalah kategori tim. Setiap universitas hanya boleh mengirim satu tim untuk mengikuti kategori kedua. Dan satu tim berisi tiga orang. Tadi ketua senat kita—Tenten—sudah memutuskan siapa tiga orang tersebut.”
Sakura diam saja. Pasti bukan ia yang terpilih. Salah satu dari tiga orang itu pastilah Ino, karena si pirang cerewet itu terlihat sangat gembira. Pasti. Kalau tidak, siapa lagi?
Mengabaikan reaksi Sakura yang diam saja, Ino melanjutkan kata-katanya. “Yang terpilih adalah Shimura Sai, jurusan seni rupa divisi melukis tingkat dua; Aburame Shino dari jurusan desain interior tingkat dua; dan kau, Haruno Sakura dari jurusan desain komunikasi visual tingkat satu.”
Tanpa sadar, mulut Sakura menganga lebar. Melongo saking kagetnya. Mimpi apa dia semalam? Tiba-tiba ia terpilih untuk mengikuti lomba desain kategori kelompok dalam pertandingan persahabatan di—
“Tunggu,” Sakura menatap kedua mata Ino dengan serius. “Universitas apa yang mengadakan pertandingan ini?”
Bibir Ino semakin terangkat tinggi, menyunggingkan senyuman lebar yang sangat manis.
“Konoha International University.”
Jawaban yang membuat kedua mata Sakura sontak membelalak lebar.
Itu universitas tempat Sasuke belajar!
.
.
.
Karena manusia hanya bisa berjalan sesuai takdir..
.
.
.
TBC







