Jeong Jin Yeol melangkahkan kakinya dengan enggan. Berhenti tatkala pada akhirnya ia berada di hadapan pintu ganda keluarga Jeong. Napasnya menggantung di udara, membentuk kabut putih yang mendeposisi lalu menghilang ditelan nuansa gelap. Ia menolak untuk memasukkan kunci ke lubangnya dan memutarnya; apalagi mendorong pintu itu agar terbuka.
Mungkin lebih baik ia tidak usah pulang malam ini. Karena dengan berada di luar rumah, ia tidak perlu membantu Joo Rin mengemas barang-barang yang akan dibawanya ke dorm SugarSugar besok.
Pukul sebelas lewat, dan ia tetap berdiri di sana, di depan pintu.
Desakan kuat muncul agar ia masuk saja ke rumah, menghabiskan jam-jam terakhir dengan berada di sisi sang kakak. Akan jarang sekali mereka bisa mengobrol berdua lagi. Mungkin malah tidak akan pernah lagi.
Hesitasi itu menguat, namun dorongan lain juga menekannya dari sisi berlawanan. Sejenak, ia meragu. Menahan napasnya.
Haruskah ia membuka pintu itu? Bagaimana kalau kepulangannya kali ini percuma. Oh, Jeong Jin Yeol tidak pernah menemukan alasan yang tepat untuk terus pulang ke rumah. Selama ini, satu-satunya alasan kuat untuk tetap menginjak kediaman keluarganya adalah karena ada Joo Rin di sana.
Masalahnya, setelah ini alasannya akan menguap, jadi untuk apa ia pulang?
Diliriknya jam tangan yang melingkari pergelangannya. Seharusnya, jam segini Joo sudah terlelap. Sama sekali tidak akan mengobrol atau mengucapkan salam perpisahan. Mungkin bahkan Joo akan bangun dan pergi sebelum ia membuka mata keesokan harinya---
---dan pintu terbuka.
Sesosok gadis yang tingginya nyaris sama dengannya berdiri di ambang pintu dengan wajah letih bercampur tidak percaya. Jeong Joo Rin ada di sana, terbalut setelah yang didominasi warna kuning dan putih yang familier.
"Jyong..." Nada suaranya terdengar hati-hati dan ia tidak bergerak sedikit pun.
"Hmm." Jeong Jin bergumam sambil mengangguk. Sama sekali tidak menyangka kakaknya masih terbangun. Ini jam setengah dua belas dan seharusnya Joo sudah bergelung di balik selimut.
"Ayo masuk." Joo Rin terlihat ragu saat mengulurkan tangannya. Jeong Jin tahu pasti penyebabnya: pesan yang dikirimkannya tadi siang. Dia bilang dia benci Joo Rin---walau pada kenyataannya tidak seperti itu.
Diraihnya tangan sang kakak, ikut masuk ke dalam rumah sebelum pintu ditutup. Joo Rin menggandeng adiknya menuju kamar Jeong Jin---yang berada di lantai dua dengan jendela menghadap ke halaman depan.
"Aku senang kau pulang." Si sulung hanya berdiri di ambang pintu, mengamati adiknya yang duduk di tepi tempat tidur dengan wajah muram. Tangan Jeong Jin memain-mainkan ujung jaketnya yang belum dibuka. Tidak bergeming sedikit pun.
"Kukira, hari ini kau nggak akan pulang," lanjut Joo Rin sambil mengulas senyum.
Jeong Jin masih terdiam, terbenam dalam pikirannya sendiri. Membayangkan dirinya membuka mata di hari-hari setelah tanggal tiga puluh dan tidak menemukan sosok itu di rumah. Tidak ada yang menyapa dengan senyuman setiap kali ia menjejakkan kaki di depan pintu dan melepaskan sepatu. Tidak ada yang memasak untuknya setiap pagi dan malam. Tidak ada yang bisa dipeluk selama tidur---
"Makanya aku senang sekali waktu menemukanmu di depan pintu."
---tidak ada lagi sosok yang bisa dipanggil 'Mojo' setiap saat---
"Ah, mianhae. Kau pasti lelah ya, berada di luar rumah sejak kemarin." Suara Joo semakin lirih. Saat Jeong Jin mendongak memandangnya, ia mendapati Joo Rin tersenyum, namun pipinya mengilat basah. "Istirahatlah. Besok pagi kita bisa mengobrol sebelum aku pergi."
---tidak ada lagi senyuman itu.
Dan tangisnya meledak. Lagi.
"AKU NGGAK MAU KAMU PERGI!" jeritnya keras. Dua jalur air mata telah terbentuk di pipinya. Pandangannya memburam seketika, namun ia tidak peduli. Gejolak emosinya meruntuhkan semua dinding yang membatasi isi hatinya dengan dunia luar. Yang ia inginkan saat ini hanyalah... Joo Rin tidak pergi dari rumah. Ada di sini selalu, bersamanya.
"Aku benci kenapa kamu debut sendirian!" Diusapnya berkali-kali air mata yang mengalir, namun likuid bening itu terus meluncur. "Aku benci karena dengan debut berarti kamu nggak akan ada di sini!"
Menyerah, ia menangkupkan kedua tangan ke wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Tuhan, kalau bisa, ia ingin Joo Rin tetap debut namun tinggal di rumah ini bersamanya. Menjadi kakaknya seorang, tidak perlu membagi-baginya dengan orang lain.
"Oh, dear..." Joo Rin mengusap air mata yang juga telah jatuh dari tempatnya. Ia berlari kecil menghampiri sang adik, duduk di sisinya, dan memeluknya erat-erat. "Jyong, aku juga nggak mau pergi..."
Jeong Jin menyandarkan dirinya dalam pelukan Joo, membalas memeluknya erat-erat dan terus menangis. "Nggak... kamu bilang nggak mau tapi kamu tetap pergi..." Ia mengangkat kepala dan menemukan Joo Rin menangis. "Dan bagaimanapun juga, kamu pergi..."
Tangan itu mengusap lembut bagian belakang kepala Jeong Jin, menariknya agar tidak menjauh. Joo Rin merengkuh tubuh sang adik erat-erat. Dia juga tidak mau mereka berpisah. Dia tidak mau melihat Jeong Jin sesedih ini.
Sepanjang Joo Rin mengenal adiknya, ini adalah kali kedua ia melihat Jeong Jin Yeol menangis. Kali pertamanya saat masih bayi---itu juga hanya mendengar tangisannya dari luar ruang persalinan. Yang kedua adalah saat ini. Sisanya, ia selalu melihat gadis itu tertawa.
"Kalau bisa, aku juga nggak mau pergi," bisiknya di telinga Jeong Jin. "Kalau bisa, aku mau terus berada di sini, bersamamu."
Dilepaskannya pelukan, kemudian ia mencengkram kedua lengan Jeong Jin. "Aku sayang kamu, Jyong. Sekarang. Selalu. Selamanya. Jemarinya bergerak menghapus air mata yang terus mengalir itu. "Ssshh, jangan nangis. Jyong, aku sayang kamu lebih dari apa pun."
"Kamu yang nangis," balas Jeong Jin, membiarkan setitik kristal bening jatuh dari pelupuk matanya. "Aku sayang kamu, Mojo. Makanya aku benci kamu."
Gadis yang lebih muda menghela napas. Kerongkongannya terasa tercekat, seolah ada membran yang menggumpal di sana dan membuatnya merasa tercekik. "Aku benci kamu karena kamu pergi."
"Oh, dear..." Joo Rin menghapus air mata itu lagi, kemudian ia menangkupkan tangan di kedua pipi Jeong Jin. "Aku benci kenyataan aku harus pergi, tapi aku nggak bakalan ninggalin kamu."
Tangan kanannya meraih tangan kanan Jeong Jin, menautkan kelingkingnya pada kelingking gadis itu. "Aku pernah janji, kan? Kamu adikku, dan bagaimanapun juga, kita nggak akan terpisah." Kaitan kelingking itu semakin erat. "Aku janji, kan, benang merah di kelingking kita nggak akan pernah putus?"
Diraupnya tubuh si bungsu dalam pelukan. "Aku sayang kamu Jyong. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Aku janji."
Tubuh dalam pelukannya gemetar, dan isak itu kembali mengalir. Jeong Jin balas merengkuh tubuh sang kakak dan menangis di bahunya. Tuhan, kalau bisa hentikanlah waktu. Jangan sampai esok hari tiba. Jangan biarkan waktu kepergian Joo Rin datang besok. Biarkan mereka berdua begini, berdua selalu. Tinggal dalam satu rumah dan berbagi satu sama lain.
"Aku benci kamu, Mojo," bisiknya sedikit tersendat. "Aku benci karena mau bagaimanapun, aku tetap nggak bisa benci kamu."
Keduanya terdiam selama beberapa saat, membiarkan tangis mereka berlanjut dalam kesunyian. Membiarkan air mata merembes pada pundak masing-masing dan tenggorokan mereka kering. Pada akhirnya, mereka berdua berhenti menumpahkan air mata dan isakan itu mereda.
Jeong Jin-lah yang pertama kali melepaskan pelukan. Sisa-sisa air mata terlihat di sudut-sudut matanya yang menyipit.
"Chukkae," katanya dengan suara parau. Ketika Joo Rin menatapnya tak mengerti, buru-buru ia menambahkan penjelasan. "Selamat atas debutnya, Mojo." Senyuman itu terkembang samar pada kurva merah mudanya. "Aku belum mengucapkan selamat, kan? Chukkahamnida, uri Joo Rin-jagiya."
"Gomawo," jawab Joo Rin, suaranya juga serak. "Dibandingkan ucapan selamat dari teman-teman yang lain, aku merasa lebih senang waktu kamu yang bilang, Jyong."
Jeong Jin memencet hidung kakaknya. "Jelas, aku kan adikmu!"
Ada tawa yang menggelenyar setelah gelombang menyesakkan barusan. Joo Rin kembali memeluk Jeong Jin setelah memberikan ciuman kecil di pipi sang adik.
"Mhh, Joo." Jeong Jin menahan kakaknya agar tidak memeluknya. "Aku punya permintaan."
"Apa?"
"Menyanyilah," katanya sambil tersenyum tipis. "Aku mau dengar kakakku nyanyi hari ini."
"Tapi suaraku pasti bindeng karena habis menangis," jawab Joo Rin sambil menggembungkan pipi---kentara sekali jejak air mata itu masih ada di sana.
"Jebal..."
"Ah, baiklah." Gadis yang lebih tua memperbaiki posisi duduknya menjadi bersila. "Aku akan menyanyi untukmu. Tapi aku nggak yakin bakalan bagus."
Jeong Jin ikut menaikkan kedua kakinya ke atas tempat tidur, merangkak dan mengambil bantal-bantal, lalu menyusunnya agar punggung mereka berdua bisa bersandar. Ditepuk-tepuknya susunan bantal itu, dan ia bersandar duluan diikuti oleh Joo.
Jeong Joo Rin menarik napas dalam sebelum mulai menyanyi.
"I am the red in the rose, the flowers
on the blankets on your bedroom floor
And I am the gray in the ghost that hides
with your clothes behind your closet door..."
Suara itu begitu lembut dan memanjakan telinga. Jeong Jin memejamkan matanya, mengingat saat-saat sang kakak dulu menyanyikan lagu sebelum ia terlelap. Seperti rekaman lama yang diputar ulang, hanya saja yang ini lebih nyata.
"I am the green in the grass that bends back
from underneath your feet
And I am the blue in your back alley view
where the horizon and the rooftops meet..."
Ada malam-malam dimana ia kesulitan tidur, lalu Jeong Jin akan menemukan dirinya menyusup ke kamar sang kakak dan ikut bergelung dalam selimutnya. Kemudian biasanya Joo Rin akan terbangun dan mendendangkannya lagu pengantar tidur.
"If you cut me I suppose I would bleed the colors of the evening stars..."
Jeong Jin tahu benar bagaimana kelanjutan lagu itu. Dan ia ikut bernyanyi, walau suaranya tidak sebagus Joo Rin.
"You can go anywhere you wish cause I'll be there, wherever you are..."
Joo Rin menoleh dan memandang adiknya---yang entah kenapa kembali membuka mata. Keduanya tersenyum.
"I will always be your keys
When we are lost in the technicolor phase..."
Si bungsu kembali mengatupkan kelopak mata. Berusaha merekam bagaimana malam ini berlangsung. Besok, tidak akan pernah ada lagi saat-saat seperti ini.
"I am the black in the book
the letters on the pages that you memorize
And I am the orange in the overcast
of color that you visualize..."
Mulai besok, segalanya akan berubah. Alur kehidupan mereka dinamis, bergerak mengikuti takdir---tentunya akan terus mengalir dan tidak terpaku pada satu titik.
"I am the white in the walls that soak up
all the sound when you cannot sleep
And I am the peach in the starfish on the beach
that wish the harbor wasn't quite so deep..."
Tangan Joo Rin menyentuh lehernya, membuat Jeong Jin membuka kelopak matanya yang terasa berat. Sang kakak terlihat ragu, namun melanjutkan bernyanyi.
"If you cut me I suppose I would bleed the colors of the evening stars..."
Tangan itu beralih mengusap-usap kepala Jeong Jin Yeol, mengantarnya ke dunia mimpi. Berusaha menyalurkan betapa ia menyayangi adik sematawayangnya.
Ketika menyadari bahwa Jeong Jin sudah jatuh tertidur, Joo memutuskan untuk berbaring di sebelahnya. Ikut memejamkan mata sambil memeluk si bungsu.
Dan ia tahu, untuk selamanya mereka tidak akan berpisah. Secara fisik, mungkin---jarak boleh saja meretas di antara keduanya, karena mereka berdua memilih untuk terjun ke dunia hiburan---tetapi, keduanya akan tetap dekat.
Di hati.
(Karena ada benang merah yang tersimpul di jari kelingking mereka. Selamanya.)
.
.
.
.
.
.
"Mojo."
"Hng?"
"Aku sayang kamu. Selamanya."
"Me too, Jyong. Forever and always."
.
.
.
.
.
.
.
You can go anywhere you wish cause I'll be there, wherever you are...
---------------------------
f i n
---------------------------








0 komentar:
Posting Komentar