Kasus 1: menyukai seseorang yang tak pernah bisa kau gapai, hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan sambil berharap suatu saat ia akan menyukaimu.
Kasus 2: disukai oleh seseorang yang hanya kau anggap sebagai teman biasa, tak peduli apa pun yang ia lakukan.
Kasus 3: menyukai senior yang menganggapmu tak lebih dari sekadar adik.
Kasus 4: merasa galau ketika teman dekat lawan jenismu menyukai orang lain yang ternyata adalah temanmu sendiri.
Apa pun itu, selama berkaitan dengan perasaan terhadap lawan jenis yang sudah melewati suatu garis batas 'pertemanan', bisa disebut sebagai afeksi; atau mungkin cinta.
Seringkali, orang merasa galau karena cinta, sekalipun mereka sudah berpacaran atau tidak. Cinta adalah sesuatu yang seringkali menjadi penyebab depresi dan sebagainya; sesuatu yang tak dapat dicegah.
Mari menilik 'cinta' melalui kacamata seorang filsuf kopi.
Cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan.
Kita tidak bisa memaksakan kapan kita jatuh cinta, kepada siapa, bagaimana, di mana, seberapa kuat, berapa lama. Cinta itu alami—datang tanpa diundang.
Cinta yang satu ini berbeda dengan rasa sayang kepada teman/keluarga.
Dengan keluarga, kau memberi dan menerima dalam jumlah yang sama, tetapi di sini, kau memberi dan belum tentu menerima.
Kita lihat kasus 2.
Ada seseorang yang menyukai kita tetapi kita tidak menyukainya sebagaimana dia menyukai kita. Tentu saja orang itu memberi cintanya tanpa menerima cinta dari pihak kita. Mungkin kita membalasnya dengan perbuatan baik karena merasa tidak enak dengan perlakukannya yang baik pada kita.
Tetapi karena itulah, cinta tak dapat dipaksakan.
Cinta yang tulus tak akan memaksa subjeknya. Cinta yang tulus akan menerima apa adanya kenyataan di depan mata. Sama seperti kita yang tak bisa memaksa subjek di kasus 1 untuk mau bersama-sama dengan kita, atau mungkin di kasus 3.
Juga sama seperti di kasus 2—orang yang mencintai kita tidak bisa memaksa kita membalas perasaannya bila dia ingin membahagiakan kita dengan cintanya.
Karena hakikat dari cinta adalah 'membahagiakan'.
Selama orang yang kita cintai berbahagia, maka kita juga akan berbahagia.
Benar, bukan?








0 komentar:
Posting Komentar