UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
mysticahime™
© 2011
.
.
.
Sekadar perhatian: ini chapter
yang panjaaaaaaanggg. Ditotal 22 pages,
8073 words (termasuk ABA)
Silakan mundur kalau tidak kuat men-scroll
page yang panjang ini, atau bila
sayang pulsa Anda :)
.
.
.
Do not ever
give up to your destiny!
Hey, maybe it’s just fooling
you around!
Keep walking, keep standing—keep moving on!
Who knows what’s there in the end? —mysticahime
.
.
.
From: Haruno Sakura
Sasuke-kun, hai! Hanya ingin memastikan jadwal besok.
.
.
To: Haruno Sakura
Oh. Ya, tentu saja. pukul 10 tepat.
.
.
Trrtt...
1 pesan baru diterima...
.
.
.
“Sedang apa kau, Teme?”
Deg!
Jantung Sasuke seolah hendak meloncat keluar dari
kerongkongannya. Sapaan Naruto benar-benar membuatnya kaget, tersentak dari
kegiatan yang sedang dilakukannya saat ini. Hell,
sejak kapan seorang Uchiha Sasuke tersentak kaget?
Di ruang rapat senat pula.
Oh, oke. Garisbawahi ini: sangat. Tidak. Mungkin.
Pertama-tama, keberadaan Sasuke di ruang senat bukannya
tanpa alasan. Ya, Sasuke adalah ketua dari organisasi resmi Konoha
International University, yang—tentu saja—mewajibkannya memimpin evaluasi
pertandingan persahabatan yang diadakan universitasnya. Evaluasi sudah hampir
selesai, hanya tinggal membahas pengaturan personel panitia untuk hari Selasa
nanti. Hari Senin adalah hari libur nasional—tentu saja anggota senat tidak
bodoh untuk mengorbankan hari libur mereka demi lomba yang diperintahkan
rektorat. Libur adalah libur, tak bisa diganggu gugat. Ha!
Karena evaluasi tinggal satu tahap lagi, Sabaku
Gaara—dengan wajah stoic nan innocent-nya, lengkap dengan sepasang
mata jade berbinar-binar—mengusulkan
agar semuanya istirahat dulu, makan malam, karena waktu telah menunjukkan pukul
setengah enam. —membuat Sasuke tak berkutik dan memberikan izin sedini mungkin.
Bukannya Sasuke lemah pada ekspresi Gaara—wajah Gaara kan
cenderung cool, bukan cute, walau memasang wajah sepolos
mungkin—tapi karena... ia penasaran pada isi pesan yang dikirimkan Sakura—mungkin
sekitar dua jam yang lalu ponselnya bergetar. Demi solideritas pada anggota
senat, sang ketua menunda kegiatannya membaca pesan itu.
Dan ketika tiba waktunya untuk melihat isi pesan dari
‘calon teman kencan’nya besok, tebak apa yang terjadi?
Si rambut durian ini mengganggunya!
Kalau saja ia tidak menyandang nama Uchiha yang seolah
mematenkan ekspresi-batu-keren-dengan-tatapan-membunuh, ia pasti sudah
berkomat-kamit. Bukan latah—itu sama sekali tidak keren. Sasuke akan menyumpahi
Naruto agar melajang seumur hidup!
Pemuda berambut hitam ini menatap lawan bicaranya—pemilik
mata sewarna samudra—dan memberinya death
glare gratis tis tis. Wajahnya tetap datar, semakin mematenkan
ekspresi-batu-keren-dengan-tatapan-membunuh warisan turun-temurun keluarga
Uchiha.
“Bukan urusanmu,” jawabnya singkat, kemudian ia
mengibas-ibaskan sebelah tangannya—mengusir Naruto.
Sialnya, pemuda berambut pirang itu tetap setia berdiri
pada tempatnya. Statis. Hell.
“Tentu saja urusanku!” celotehnya riang. “Bagaimanapun
juga, kau temanku, Teme! Aku kan harus menjaga temanku, melindungi ketua senat
tercinta dari serangan fans-nya!
Siapa tahu, kau menerima SMS berisi peneroran, pernyataan cinta sepihak dengan
ancaman bunuh diri lompat dari gedung berlantai 100 bila ditolak, tagihan utang
satu milyar yen dari Yakuza, rayuan gombal dari para yankee—”
Oke, oke. Sasuke jadi kesal sendiri. Naruto sering sekali
berpidato panjang-lebar-tinggi-rendah-pendek-sempit mengenai ‘Aku, Temanku, dan
Kami’, menjunjung tinggi nilai persahabatan, membela teman yang dirundung teror
(dan yeah, apa pun yang tadi bocah
itu racaukan), dan blablabla yang memiliki inti: urusanmu ya urusanku juga,
urusanku ya urusan kita bersama. Titik.
Dan apa-apaan pula tadi, pernyataan cinta sepihak dengan
ancaman bunuh diri bila ditolak? Go to
hell!
Tagihan utang dari Yakuza? Go to deeper hell!
Rayuan gombal para yankee?
—memangnya apa yang ada di pikiran si Dobe ini, hah?
Sasuke menghela napas, terdengar sangat lelah. “Dobe,
temanku...”
Mata safir Naruto langsung berbinar-binar, menyangka
Sasuke akan memberitahukan apa yang menjadi fokus dari si raven ini.
Bibir Sasuke bergerak. “Urus. Urusanmu. Sendiri.”
Lalu pemilik mata onyx
itu kembali menatap layar ponselnya, memencet-mencet beberapa tombol. Kedua matanya
kembali serius.
—dan ponselnya lenyap dari tangannya.
Eh?
Naruto memamerkan cengiran puas. Sebelah tangannya
menggenggam ponsel lipat Sasuke, melambai-lambaikannya di depan wajah si
empunya.
Ctak!
Kesabaran Sasuke menipis diiringi urat bertonjolan di
area keningnya. Persis adegan mengamuk di anime:
empat siku, mata yang berubah menjadi seperti iblis, dan kobaran api massal di
sekitarnya.
Kini Naruto menatap layar—menatap SMS yang dibuka Sasuke
tadi. Dengan riang ia membacanya. “Baiklah, kuusahakan agar tepat waktu. Kau
sendiri tahu bahwa aku ini tipe yang suka terlambat. Kita bertemu di—oh, WADUH!
Teme, lepaskan! Aku mau tahu kelanjutannya!” Suara Naruto berubah melengking
saat Sasuke memitingnya untuk merebut kembali ponselnya itu.
Bletak!
“Tidak ada yang perlu kau ketahui.” Dengan nada dingin
yang terpeta jelas pada kata-katanya, Sasuke berjalan keluar ruangan,
meninggalkan Naruto yang meringis karena baru berkenalan dengan buku-buku
jarinya.
Ya, cukup keras untuk ukuran jitakan yang bisa menciptakan
benjol setinggi lima sentimeter di kepala bocah iseng yang sering muncul di
ruang senat meski ia bukan anggota dari jajaran itu.
.
.
.
.
Brak! Bruk!
Pria yang sedang membaca koran itu mengernyitkan
keningnya, bingung. Apa yang sedang
terjadi? pikirnya bingung.
Srak! Srek! Bruk!
Huruf-huruf di koran yang sedang di bacanya mendadak
berhamburan, seolah-olah hendak lari dari pupil yang sedang berusaha
menangkapnya. Suara-suara aneh itu mengusik konsentrasinya...
Hening.
Ah, sudah selesai semua chaos itu. Saatnya kembali membaca. Oo, jadi sekarang negara
sedikit mengalami defisit. Hmm, bidang finansial memang sedang bergerak ke
kurva negatif setelah krisis di Amerika—
Brak!
Thump! Thump! Thump!
“ITACHI-NIIIII!”
Srak!
Dalam satu gerakan cepat, Itachi menutup korannya—menghasilkan
lembaran kertas abu-abu lecek yang dilipat paksa. Untuk pertama kalinya, ia
terkejut. Ya, terkejut karena dipanggil seperti tadi.
Sasuke berteriak? Sangat OOC. Tentu saja Itachi kaget.
Selama ini, Sasuke dikenal dengan image
pemuda cool yang irit bicara.
Perlu dicatat dalam sejarah: kali pertama Uchiha Sasuke
berteriak.
—sayang sekali, Uchiha Itachi tidak akan tercatat sebagai
Uchiha pertama yang terkejut.
“Ada apa?” tanya Itachi ketika kepala berambut hitam
mencuat itu muncul dari bibir tangga. Wajah yang gusar, menurut Itachi. Entah
apa yang dipikirkannya.
Tanpa ba-bi-bu, Sasuke mendekati kakak satu-satunya itu.
Bibirnya mencebik.
“Kalau pergi dengan seorang gadis... apa yang akan kau
kenakan?” tanyanya dengan nada datar.
Tik.
Tik.
Tik.
Itachi melongo mendengar pernyataan Sasuke yang kelewat
datar itu. Kedua matanya mengerjap. Satu kali, dua kali.
Perlu dicatat dalam sejarah: ini kali pertama Uchiha
Itachi melongo.
Perlu dicatat juga: kali pertama Sasuke menanyakan
atribut kencan-lah yang membuat Itachi melongo. Kali pertama Sasuke meminta
pendapat orang lain.
Perlu dicatat juga, dengan amat sangat darurat:
pertanyaan Sasuke muncul karena didesak urgensi stadium dua puluh tiga.
Ehem.
Itachi berusaha menguasai dirinya. Kaget sih boleh, tapi
sepertinya tidak saat ini. Tidak saat Sasuke memasang
wajah-garang-seolah-akan-membakar-sang-kakak-bila-sang-kakak-tidak-segera-menjawab
padanya. “Kau ada... kencan?”
Sebuah reaksi tak terduga: wajah Sasuke sedikit memerah.
Lagi-lagi, OOC.
“Hn.” Tetap saja ia berhasil melontarkan jawaban
singkat-padat-dan-jelas. Wajah Sasuke kembali berubah datar. “Cepat, jawab!”
Itachi terkekeh mendengar desakan Sasuke. Astaga, sudah
berapa lama ia tidak melihat adiknya bertingkah seperti ini? Bahkan ketika akan
kencan dengan Karin dulu pun, Sasuke tidak terlihat seperti ini. Yah, meskipun
Karin pernah menempati posisi spesial di hati sang adik... tetap saja berbeda.
Sasuke yang di hadapannya saat ini terlihat sedikit
lebih... bersemangat? Gembira? Polos?
Ia menepuk bagian sofa yang kosong di sebelahnya—menyuruh
Sasuke duduk. Pemuda yang lebih muda darinya itu menurut. Dengan segera, Sasuke
duduk di sisi Itachi, berharap petuah sang kakak dapat membantunya.
“Dia gadis yang istimewa, hm?” mulainya, mengerling nakal
ke arah sang adik. “Sampai-sampai otouto-ku
yang manis ini gugup pra-kencan mereka. Hahaha...”
Sasuke mendengus kesal, “Aku tidak manis.”
Satu poin. Itachi tersenyum samar. Sasuke tidak
menyangkal soal ‘gadis istimewa’ itu. —yang berarti, gadis-entah-siapa itu memang
berhasil menggeser posisi Karin.
Itachi menatap kedua obsidian Sasuke, berusaha menguak
isi pikiran adik semata wayangnya. Yah, sepertinya adiknya ini memang sedang
jatuh cinta—berusaha membuat gadis itu terpukau pada kencan pertama mereka.
Sepertinya... saat dengan Karin dulu, tidak seperti ini, kan?
“Jadi, apa yang harus kupakai?” tanya Sasuke lagi.
“Setelan formal? Baju bermerek yang dibelikan otou-san? —apa?”
Sang pemuda berambut kuncir tertawa melihat kegelisahan
adiknya. Sebelah lengannya bergegas merangkul bahu Sasuke, seolah berniat
menenangkannya.
—yang sayangnya salah diartikan oleh si raven.
Sedikit menyesal karena bertanya pada kakaknya yang
mantan playboy, Sasuke mendengus.
“Aku tidak suka berlama-lama, Itachi-nii.”
“Baiklah, baiklah...” tawa Itachi membahana. “Akan
kuberitahu satu hal padamu, Sasuke.”
“... hn.”
Dua pasang obskurit itu kembali bertatapan.
“Jadilah dirimu apa adanya.” Senyum mengembang di bibir
Itachi. “Pakailah apa pun yang membuatmu percaya diri. Itu saranku.”
Senyuman tipis kini menggantikan pola datar bibirnya,
Sasuke bangkit dari sofa dan buru-buru berlari ke lantai atas.
“Terima kasih, Itachi-nii!”
serunya sebelum menutup pintu kamarnya.
Blam!
Yang mendapatkan ucapan terima kasih itu hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepalanya dengan seringai di wajahnya, lalu kembali
membuka koran yang sudah agak kusut itu. Terlihat membacanya, walau sebenarnya
pikiran Itachi tidak sedang terpusat di sana.
Ah, akhirnya permintaanmu waktu itu terkabulkan, Sasuke... Mungkin gadis
yang kau temui itu ‘gadis air hujan’mu itu.
Catatan lagi: inilah kali pertama Uchiha Sasuke
mengucapkan terima kasih pada seorang Uchiha Itachi.
.
.
.
.
Tarik napas. Buang. Tarik napas. Buang. Tarik—
Ini salah. Jelas sekali, ini salah.
Berulang kali, Haruno Sakura melirik arloji yang
melingkar pada pergelangan tangannya, berusaha memastikan benda eletronik itu
tidak mati. Atau terlalu lambat mempertunjukkan waktu. Dan memang tidak.
Ia memang datang
lebih awal satu jam. Crap.
Jujur saja—siapa pun yang mendengarnya pasti akan
tertawa—ini adalah kencan pertama bagi Sakura. Seumur hidup, ia tidak pernah
berhubungan dengan laki-laki hingga taraf ‘berkencan’. Tidak pernah. Sekalipun.
Dan kini... ia akan berkencan dengan laki-laki yang
bertabrakan dengannya di bawah hujan dan berhasil menyita pikirannya selama
beberapa waktu terakhir ini.
—oke. Memang tidak sekarang. Masih ada satu jam lagi
sebelum saat-saat itu—
Tapi, tetap saja! Ia akan berkencan. Sakura akan berkencan.
HARUNO SAKURA AKAN BERKENCAN—cukup.
Ah, apa yang harus ia lakukan?
Pertama-tama, datang ke tempat janjian lebih awal satu
jam itu tidak dianjurkan bagi kencan
pertama—terutama bila yang melakukannya adalah cewek. Mengapa?
Satu, terkesan terlalu bersemangat.
Dua, ia harus menunggu sendirian selama satu
jam.
Dan tiga, dandanannya pasti berantakan!
Oke, bukan berarti Sakura berdandan berlebihan, memulas
dempulan bedak setebal tiga sentimeter, memakai perona pipi semerah delima,
memakai maskara hingga bulu matanya selebat semak-semak. Gadis itu bahkan sama
sekali tidak memakai lipgloss!
Tapi—tetap saja.
Rambut sebahunya yang (sudah berusaha) disisir rapi kini
porak-poranda dipermainkan oleh embusan angin nakal. Pakaiannya—t-shirt dan celana jeans dan rompi rajut berwarna abu-abu—sedikit kusut karena
berlari-lari dari stasiun ke tempat janjian. Dan sepatu boot-nya... hell—sedikit
kotor karena terciprat lumpur.
Ditambah kedua kakinya yang pegal luar biasa akibat
terlalu lama berdiri.
Sabar, Sakura, sabar... Ia mencoba menenangkan dirinya.
Sepuluh jarinya saling meremas, berusaha mengusir hawa
dingin yang diakibatkan oleh pergerakan angin. Udara musim gugur mendominasi
hari ini. Kendati sudah pukul sembilan pagi lewat sekian menit, kabut tipis masih
mengudara.
Oh tidak. Seharusnya tadi ia memakai sweater, bukannya vest
tanpa lengan seperti ini!
Takdir pasti masih berusaha mengerjainya. Dingin.
Berantakan. Ditambah lagi, ia harus menunggu Sasuke selama satu jam—
Ternyata tidak.
Takdir kini berada di pihaknya.
Ia tersenyum saat kedua matanya berhasil menangkap sosok
itu.
.
.
.
.
Dalam hati, Sasuke merutuk kebodohannya sendiri. Dengan
catatan: kebodohan pertama seorang Uchiha Sasuke.
Demi apa ia pergi lebih awal satu jam? Bukankah biasanya
ia berusaha agar tiba tepat waktu? —dan tepat waktu itu berkisar lima sampai
sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan, bukannya satu jam sebelum pertemuan.
Apakah nanti Sakura akan berpikir Sasuke terlewat
bersemangat untuk kencan pertama ini?
Oh, bahkan secara resmi, ini bukan disebut kencan. Ini
adalah ‘bayaran taruhan’. Sasuke yang kalah, tentu saja.
Perlu dicatat: kekalahan pertama seorang Uchiha Sasuke.
Taruhan bodoh itu, taruhan bahwa tim Sakura tidak akan
berhasil menjadi salah satu pemenang dalam lomba poster yang diadakan KIU. Tim
Sakura menggondol posisi kedua, di atas Iwa University dan di bawah KIU
sendiri—membuat gadis berambut pink
itu memenangkan taruhan dan meminta imbalan ‘kencan’. Jadi, ini bisa disebut
kencan atau tidak?
Entahlah.
Selama berada di dalam rongga kereta bawah tanah, Sasuke
berulang kali berharap kereta yang ditumpanginya datang terlambat di stasiun
tujuan. Dan tidak tanggung-tanggung, pemuda itu berharap keretanya terlambat
satu jam. Dengan begitu, ia akan tiba tepat waktu dan tidak terkesan terlalu
antusias. Sedikit menjaga harga diri.
Sayangnya, kereta tetap tiba tepat waktu.
Berbalut celana jeans
dan kaus yang dilapisi jaket hitam, ia keluar dari lokasi stasiun chikatetsu.
Sasuke segera merutuk takdir yang mempermainkannya.
Setelah puas menyulitkannya dan Sakura bertemu dan berinteraksi, kini ia
disuruh menunggu selama satu jam. Dibarengi runtuhnya gengsi, pula. Hell.
Ia melangkahkan kedua kakinya dengan enggan di atas
aspal, berusaha berjalan selambat yang ia bisa. Membuang-buang sedikit waktu
memang merupakan dosa, tapi kali ini tidak. Memangnya, apa yang bisa ia
lakukan, eh? Melamun seperti orang bodoh? Bisa-bisa ia disangka gelandangan
seperti waktu kemarin di stasiun.
Pemuda itu mengembuskan napas, memperhatikan bagaimana
uap transparan dari paru-parunya berbaur sempurna dengan langit. Cuaca yang
cukup cerah untuk musim gugur, walau masih sedikit dipoles oleh gradasi warna
awan stratus yang terbang rendah. Sejenak ia menimbang-nimbang apakah sebaiknya
ia pergi ke minimarket terlebih dahulu—membeli kopi kalengan sepertinya bukan
ide yang buruk. Jadi Sasuke bisa menunggu Sakura dengan berpura-pura menikmati
alam sambil meneguk larutan kafein itu—tentu ia tidak akan disangka tunawisma
oleh orang lain.
Tapi, takdir berkata lain.
Siluet tubuh seorang gadis yang sedang berdiri di tepi
jalan menarik perhatiannya.
Bukan. Sasuke bukanlah laki-laki yang suka memandangi
sembarang gadis di pinggir jalan. Satu-satunya alasan Sasuke memandangi gadis
itu adalah... karena gadis itu memiliki helai-helai rambut berwarna sugarplum yang memahkotai kepalanya.
Gadis itu Sakura, dan sama seperti Sasuke, ia juga
terlihat kaget.
Sasuke menghampiri Sakura yang tersenyum lebar.
“Kau datang lebih awal, Sasuke-kun?” sapa Saku sambil menyelipkan anak rambut merah muda yang
jatuh ke pipinya.
Sasuke memutar bola matanya. “Jam tanganku mati.” Astaga,
alasan macam apa itu? Sasuke merutuk dalam hati. Seharusnya ia mengarang alasan
yang lebih masuk akal. Pemuda macam apa yang datang lebih awal karena jamnya
mati? Seperti tidak punya jam dinding di rumah saja.
Tawa terdengar dari mulut Sakura, dan detik berikutnya
Sasuke mendapati Sakura menutup mulutnya, berusaha menyembunyikan gelak
tawanya.
“Kukira, ketua senat KIU tidak akan sebegitu cerobohnya
membiarkan arlojinya mati,” kekeh gadis itu. “Dan kukira, kau seperti aku,
sama-sama takut terlambat sehingga berangkat jauuuhh lebih pagi dari waktu
perjanjian kita—mengingat kita akan berkencan di tempat yang cukup jauh dari
Shinjuku—’”
Ah, ya. Sasuke baru tersadar bahwa tempat kencan mereka
memakan waktu cukup lama bila menumpang chikatetsu.
Seharusnya tadi ia melontarkan alasan ‘takut terlambat’ juga...
Harap dicatat (lagi): kali pertama Uchiha Sasuke merasa
bodoh.
Saat ini mereka berdua berada di Shimbashi, menunggu bis
yang akan membawa mereka menyebrangi Rainbow Bridge. Sebenarnya, ada kereta
yang terhubung langsung dari Shinjuku, hanya saja Sakura ingin melihat
pemandangan Rainbow Bridge di siang hari; akhirnya membuat keduanya harus
menempuh jarak cukup jauh ke Shimbashi.
Bunyi berdesis terdengar saat bis tiba di halte tempat
mereka berdiri. Sasuke dan Sakura masuk ke dalam bis, mengambil tempat di
deretan tengah. Sakura duduk di dekat lorong, karena Sasuke ingin duduk di
sebelah jendela.
“Kau sudah pernah ke Odaiba, Sasuke-kun?” Gadis itu membuka pembicaraan setelah bis melaju meninggalkan
halte.
“Hn—” Sasuke terdiam. Ah, bukan saatnya memasang
wajah-batu-sok-dingin-yang-bisa-membuat-wanita-mundur. Sebaiknya ia berusaha
sedikit lebih banyak berbicara, “—pernah. Kau?”
“Belum.” Sakura meleletkan lidahnya. “Aku pendatang di
Tokyo dan terlalu disibukkan oleh tugas kuliah, jadi belum sempat pergi ke
mana-mana—selain ke Central Park, tentu saja.”
Mau tidak mau Sasuke tersenyum—mengingat kejadian mereka
berdua di Central Park. Obrolan mereka tidak canggung saat itu, meski Sakura
berbicara dan Sasuke kebanyakan mendengarkan.
“Kalau begitu, kita harus main sepuasnya di Palette
Town,” kata Sasuke, memandangi visualisasi alam hijau di luar jendela, kemudian
kembali menatap Sakura.
“Pernah naik Daikanransha?” tanya Sakura.
Sasuke mengangguk. “Waktu SMP, teman-temanku memaksa
untuk wisata kelas ke Odaiba, dan kami semua naik kincir besar itu saat
menjelang sunset.”
“Pasti sangat indah.” Kedua emerald itu berbinar. “Aku jadi ingin mencobanya.”
Sasuke mendengus menahan tawa. “Akan lebih bagus lagi
kalau ma—” tapi kalimat itu tidak ia selesaikan, membuat Sakura penasaran.
“‘Ma’ apa, Sasuke-kun?”
Kedua onyx itu
menatap datar jade di hadapannya.
“Lupakanlah. Tidak penting.”
Gadis itu menggembungkan kedua pipinya, kesal. “Kalau
begitu, tidak usah dikatakan!”
“Hn.”
Setengah jam kemudian, keduanya sudah menyusuri jalanan
di Palette Town, menembus ramainya individu-individu yang melepas lelah di
lokasi hiburan itu.
Palette Town adalah sebuah tempat wisata yang berisi
pusat perbelanjaan Venus Ford, Tokyo Leisure Land, tempat pameran
Toyota—Megaweb, klub malam terbesar di Tokyo—Tokyo Zepp, dan tentu saja, taman
bermain tempat Daikanransha—komidi putar setinggi 115 meter—berada.
Merupakan kali pertama datang ke Palette Town, tentu saja
Sakura ingin sekali mencoba menaiki Daikanransha yang fenomenal itu. Namun,
entah mengapa, Sasuke seolah mencoba menjauhkan Sakura dari wahana itu. Ia
mengajak pemilik rambut permen kapas itu untuk bermain permainan lain.
Roller coaster, bumpty car,
beberapa permainan yang ada di dalam game
center. Tapi tidak Daikanransha. Tentu saja hal ini membuat Sakura bingung.
“Mengapa kita tidak mengantri untuk naik Daikanransha?”
tanya Sakura ketika mereka berdua menikmati es krim di salah satu kedai. Sasuke
memesan es krim mocca yang tidak
manis, sedangkan Sakura memesan semangkuk besar es krim rasa buah-buahan.
“Hn?” Sasuke pura-pura tidak mengerti. Menyebalkan. Dan
terlihat semakin menyebalkan karena wajah Sasuke terlihat berkerut tidak
suka—efek ketidaksukaannya pada makanan manis.
Lagi-lagi, gadis itu menggembungkan pipinya. “Aku ingin
naik Daikanransha!”
“Malas,” komentar Sasuke. “Lihat, antriannya sangat
panjang.”
“Bilang saja kau takut pada ketinggian, Sasuke-kun,” kata Sakura seenaknya, menyendok
satu suap es krim blueberry.
“Aku tidak takut.” Pemuda itu menjulurkan lidahnya—entah
untuk meledek Sakura, entah karena tidak menyukai camilannya.
“Apa buktinya?”
Pemuda itu menoleh ke segala arah yang dapat dilihatnya
dari dalam kedai es krim, kemudian matanya tertuju pada satu titik di kejauhan.
Ia tersenyum tipis pada Sakura.
“Bagaimana kalau kita main Hyper Shoot?” tantangnya.
Sendok Sakura menggantung di udara—gerakan menyuapnya
berhenti. Tetes-tetes es krim menitik ke permukaan meja tanpa ia sadari.
“Kita—apa?” Kedua mata hijaunya terbuka lebar,
seolah-olah tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
“Main Hyper Shoot,” ulang Sasuke, sesekali melirik ke
titik yang sama—sebuah wahana tinggi yang terletak tidak terlalu jauh dari
posisi mereka. Wahana itu mirip menara logam yang tersusun dari bilah-bilah
baja. “Bagaimana?”
Gadis itu menelan ludah. Oke, tadi ia hanya menggoda
Sasuke. Tak disangkanya, pemuda itu malah serius menanggapi candaannya. Naik
wahana setinggi itu? Eum...
—samar-samar, terdengar teriakan saat sebuah kursi yang
memuat sekitar belasan orang diluncurkan dari menara itu. Menukik ke bawah
seolah akan menghantam permukaan tanah.
Glek.
Sebelah alis Sasuke terangkat, tampak menantang. “Kau
takut?”
Mendadak, rasa tidak mau kalah yang tersembunyi dalam
diri Sakura memberontak keluar. Dengan tegas gadis itu menjawab, “Tentu saja
tidak. Ayo!”
—dan gadis itu menyeret Sasuke ke arena Hyper Shoot,
tanpa memedulikan es krimnya yang masih tersisa beberapa sendok.
Sasuke jelas merasa senang. Ia kan tidak terlalu suka es
krim.
Suara jeritan terdengar semakin kencang ketika keduanya
tiba di bawah kaki Hyper Shoot, bersiap mengantri pada barisan yang tidak terlalu
panjang itu. Ternyata, Hyper Shoot tidak termasuk wahana yang diminati banyak
orang. Pengunjung lebih tertarik pada Daikanransha—seperti halnya Sakura.
“Kau takut?” tanya Sasuke ketika melihat Sakura berulang
kali menatap cemas pada pilar-pilar baja itu.
Gadis itu mendelik kesal padanya, kilatan amarah tampak
pada sepasang emerald miliknya. “Enak
saja.”
Mau tak mau Sasuke harus menahan tawa. Sakura yang sedang
ngambek terlihat sangat lucu, hanya saja ia tidak mau kena resiko dimarahi
karena menertawakan tingkah laku gadis itu. Bisa-bisa, acara mereka hari ini
berubah menjadi perkelahian Mars vs Venus.
Sepuluh menit kemudian, giliran mereka tiba. Sasuke dan
Sakura duduk berdampingan pada sebuah kursi panjang yang disekat menjadi
beberapa bagian. Sabuk pengaman mengikat bagian depan tubuh mereka agar mereka
tidak celaka.
Wajah Sakura memucat ketika kursi itu bergerak ke atas.
“Jangan tegang.” Gadis itu menoleh kepada Sasuke yang
tampak tenang-tenang saja. “Tarik napas...”
Tubuh Sakura serasa semakin berat. Mereka semakin ke
atas. Rasa takut mulai menjalari dirinya. Ia merutuki mengapa ia begitu mudah
terpancing. Masalahnya, ini kali pertama ia bermain permainan seperti ini.
Bagaimana kalau ia terlepas dari sabuk pengaman? Bagaimana bila ia muntah? Bagaimana
kalau—
Mendadak, kursi itu berhenti bergerak ke atas.
O’ow, ada apa ini?
Ia melirik Sasuke yang tampaknya tak peduli. Wajah pemuda
itu tetap datar. Tak setitik pun rasa takut hingga pada wajah tampannya itu.
Glek. Glek. Dan glek.
Tiba-tiba saja, kursi itu menukik dengan tajam ke arah
bawah. Tubuh Sakura seolah kehilangan massa. Kecepatannya sangat tinggi—ia akan
membentur bumi hanya dalam sepersekian detik—
“KYAAAAAAAAAAAAAAA!!”
.
.
.
.
Semburat sinar berwarna jingga menghiasi permukaan langit,
berpadu sempurna dengan warna samar violet yang berpendaran tertimpa kilau
mentari sore. Sesekali terdengar koak burung camar yang terbang menuju lautan,
karena bagaimanapun juga, Odaiba adalah pulau yang terletak di Teluk Tokyo.
Atmosfir itu terasa hangat dan menyenangkan, terutama
bagi Sakura yang pada akhirnya berhasil duduk di dalam kubikel Daikanransha.
Wajah gadis itu bersinar-sinar penuh kebahagiaan, menikmati saat-saat pertama
ia naik kincir raksasa itu. Panorama tenggelamnya matahari di balik horizon
lautan membuatnya semakin bahagia.
Sebaliknya, sepasang mata onyx menatap bosan pemandangan di depannya. Sang empunya
menyilangkan kedua lengannya, bertumpu pada panel jendela kubikel kincir dan
meletakkan dagunya di sana. Wajah datar itu terus menatap bulatan oranye yang
tingga sepertiga dengan pandangan jemu. Pergerakan kincir yang lambat sama
sekali tidak mengubah suasana hatinya.
Uchiha Sasuke tahu dengan jelas bahwa komidi putar
raksasa di Palette Town merupakan salah satu area romantis bagi pasangan yang
berkencan, namun baginya tidak. Ada tempat lain yang lebih indah yang ingin
ditunjukkannya pada Sakura, namun gadis itu bersikeras untuk melihat matahari
terbenam dari Daikanransha. Otomatis, Sasuke menyerah. Sebagian besar faktor
yang membuatnya mengalah adalah karena tidak ingin gadis itu cemberut. Ya,
pasca naik Hyper Shoot, Sakura memasang wajah kesal.
Dipandanginya kilau-kilau bahagia yang seolah terpancar
dari setiap inci tubuh gadis itu, juga seluruh gesturnya. Rambut bubble gum-nya yang berayun lembut
setiap kali ia menggerakkan kepalanya. Matanya yang berbinar-binar sarat akan
kekaguman. Kedua tangannya menempel pada kaca—seolah ingin menyentuh rangkaian
indah natur yang tertangkap oleh retinanya.
Dan jantung Sasuke berdebar lima kali lebih cepat dari
biasanya.
Ragu, ia menyentuh dada kirinya, merasakan denyut
jantungnya yang meloncat gila-gilaan. Ia pernah merasakan perasaan ini pada
Karin dulu. Dulu.
Hanya saja, perasaan ini sedikit berbeda.
Intensitasnya tidak sama—ini lebih manis. Lebih hangat.
Lebih... ingin merengkuh dirinya dan gadis itu dalam satu bentangan sayap yang
lembut.
Entahlah, Sasuke tak pandai mendeskripsikan perasaan yang
bergulung-gulung dalam hatinya saat ini—dan ia tak perlu jutaan kata untuk
menggambarkannya. Yang terpenting, ia merasakannya—perasaan itu—dan ia bahagia
karena mengalaminya.
Mungkinkah ini... cinta?
“Sasuke-kun...”
Suara Sakura mengusik pemikirannya, membuatnya tersentak kepada kenyataan,
kembali menghadapinya. Gadis itu tengah menatapnya dengan raut tak terbaca.
Heran? Kesal? Khawatir? Sasuke sama sekali tidak pandai membaca ekspresi orang
lain, bahkan ekspresinya sendiri pun tidak ia mengerti.
“Hn?”
Telunjuk gadis itu mengarah ke luar, ke arah matahari
yang hampir tenggelam seutuhnya. “Indah sekali, ya...”
Sasuke hanya bisa tersenyum tipis. “Lumayan.”
Kening yang sedikit tertutup poni itu mengernyit.
“Lumayan?”
“Hn.” Kembali ia alihkan pandangan matanya ke luar
lembaran kaca. Pantulan jingga tampak di kedua bola matanya yang sehitam obsidian.
“Aku tahu tempat yang lebih indah.”
Emerald itu membelalak. “Benarkah?”
Ia mengangguk. “Hn. Sebenarnya, aku ingin mengajakmu
melihat sunset di sana. Tetapi karena
kau memaksa menaiki Daikanransha ini—”
“Gomennasai.”
Kata-kata Sasuke terputus oleh permintaan maaf dari gadis berambut soft pink itu, membuatnya kaget. Sebelum
ia sempat berkata-kata lagi, Sakura telah mendahuluinya. “Maafkan aku karena
membuat rencanamu gagal.”
Tanpa terasa, senyuman terbentuk dengan mudahnya pada
bibir tipisnya. Ringan, ia menjawab, “Sama sekali bukan masalah...”
Debaran di jantungnya melonjak sepuluh kali lipat lebih
gencar. Ia merasa gadis di hadapannya bisa mendengar dentum-dentum itu
bertalu-talu memompa di balik rongga dadanya.
Dan menjadi semakin cepat ketika ia melihat ekspresi
polos di wajah Sakura.
Cepat-cepat ia menambahkan, “Ada pemandangan lain yang
lebih indah di tempat itu,” sebelum ia salah tingkah.
Langkah yang salah, karena jantungnya semakin tidak mau
berkompromi ketika kedua matanya menangkap senyum manis dari seorang Haruno
Sakura.
Oh God.
Gadis itu bukanlah gadis cantik dengan tatapan mata
memikat yang sanggup meluluh-lantakkan ego seorang pria. Ia bukanlah gadis
dengan kulit porselen yang berkilauan dan mampu menggoda iman semua kaum adam.
Haruno Sakura hanyalah gadis lugas yang menciptakan kesan
aneh pada perjumpaan pertama mereka. Gadis mengesalkan yang... semakin lama
semakin sulit disingkirkan dari benak Sasuke.
“Ajak aku ke sana,” pinta gadis itu, terus terang. Kedua
bola mata emerald-nya menatap lurus
pada mata obskurit Sasuke, menyiratkan rasa penasaran yang membubung tinggi.
Gadis itu menyunggingkan senyuman manis—senyuman jujur yang tak akan ia temukan
dari berjuta-juta gadis cantik yang hidup di atas bumi.
Senyuman yang ia balas dengan senyuman sepenuh
hati—senyuman yang tak pernah terbit dari lubuk hatinya setelah bertahun-tahun
hidup.
Senyuman khusus untuk seorang gadis yang berhasil mencuri
setiap inci perasaannya.
“Tentu saja,” jawabnya.
Daikanransha telah tiba pada putaran terakhirnya, tepat
saat matahari menghilang seluruhnya di balik batas bumi dan langit. Lampu-lampu
telah dinyalakan, tampak seperti butiran intan di tengah warna-warna yang mulai
gelap.
Mereka berdua turun dari kubikel itu, bergandengan
tangan. Menuju tempat yang ingin ia tunjukkan kepada sang gadis.
Dan detik itu ia menyadari sesuatu.
Ya, kini ia tahu. Ia telah jatuh cinta.
.
.
.
.
Langit hampir seutuhnya berwarna hitam ketika keduanya
menjejakkan kaki di luar teritorial Palette Town. Partikel cahaya berwarna-warni
menghiasi jalanan di sekitar mereka, membuat keduany seolah berada di dunia
imajiner.
Tanpa banyak bicara, Sasuke membawa Sakura menuju pantai,
menuju Tokyo Bay—Teluk Tokyo.
Tak ada yang berbicara. Samar-samar hanya terdengar
gemuruh ombak yang berdebur pada tepi pantai, juga langkah kaki keduanya yang
bergesekan dengan permukaan aspal. Aroma laut terendus oleh indera penciuman,
menyatakan bahwa bentangan air luas itu telah di depan mata.
Kedua mata Sakura akhirnya berhasil membiasakan diri dengan
kegelapan yang mulai menyelimuti kota. Kini dengan leluasa ia bisa mengamati
keadaan di sekitarnya.
Indah. Inikah tempat yang dimaksud Sasuke? Kalau benar...
ia seratus persen yakin bahwa matahari terbenam akan terlihat sangat indah di
sini.
“Sebentar lagi kita akan sampai.” Suara Sasuke yang dalam
memecah perhatian Sakura. Ia menoleh pada pemuda yang berjalan di sisinya,
kemudian kembali memandang lurus ke depan.
Hatinya terasa bahagia karena banyak faktor. Pertama kali
pergi ke Odaiba. Makan es krim. Memainkan aneka permainan. Berada dalam kubikel
Daikanransha. Dan kini—
—bergandengan tangan saat berjalan dengan orang yang
kerap kali membuat jantungnya berdebar-debar.
Bila ini semua mimpi, maka ia tidak akan rela untuk
bangun dari tidurnya. Kalau bisa, ia ingin terus memimpikan hal ini. Tak peduli
pada realita—bila ia bisa memiliki semuanya di dunia khayalan, untuk apa ia
hidup pada kenyataan?
Langkah kakinya berhenti ketika Sasuke berhenti
melangkah.
“Lihat itu.” Kedua matanya mengikuti arah telunjuk
Sasuke.
Dan kembali, kedua matanya terbelalak.
Sebuah perahu dayung.







