RSS

[Chapter 5] Ugly Girl Under The Raindrops


cerita asli :)


UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto

mysticahime™
© 2011
.
.
.
Sampai kapankah takdir akan tega mempermainkan mereka?
.
.
.
Udara terasa basah, lembab, dan dingin. Jejak-jejak curahan langit masih terpeta dengan jelas pada permukaan tanah yang berlumpur. Aroma hujan yang menusuk masih terendus samar oleh indera penciuman. Jas luar yang berwarna natur berbaur dalam keramaian kota, menciptakan lautan warna alami yang bergerak teratur.

Ia menyibakkan helai-helai rambutnya dengan jemari, berjalan menembus kerumunan semi padat di trotoar, berusaha memacu langkahnya agar lebih cepat. Haruno Sakura menyipitkan matanya agar mendapatkan visualisasi yang lebih baik, memandang jauh ke suatu titik tak kasat mata di garis horizon. Sepasang kaki bersepatu boots-nya bergantian bergesekan dengan permukaan trotoar yang berarah menjauh dari apartemennya, membawa sang empunya ke tempat tujuannya. Tidak terburu-buru, namun tidak rileks juga.

Setengah jam yang lalu, sebuah panggilan yang masuk ke ponselnya membuat keningnya mengernyit. Shimura Sai menelepon dan mengatakan bahwa tugas Sakura dalam lomba desain ini adalah membuat background poster. Ketiganya—Sai, Shino, dan Sakura sendiri—telah memeras otak kemarin malam, saling melemparkan ide satu sama lain, menyatukan setiap percikan inspirasi yang bertandang ke benak mereka; berhasil membuat sketsa tampilan utama untuk poster yang akan mereka buat pada hari Minggu besok.

Dan sekarang, mau tak mau Sakura harus mencari ide untuk latar belakang poster itu.

—yang sebenarnya akan sangat mudah bila ia tidak sedang mati ide, seperti saat ini.

Jenuh, gadis bermata emerald itu memutuskan untuk keluar dari apartemennya. Mungkin sedikit udara segar bisa membantunya berpikir, dan—kalau bisa—memberikan sedikit pencerahan untuk background poster itu.

Entah mengapa, kini kedua kakinya yang bersepatu boots membawanya ke sebuah taman kecil yang tak jauh dari apartemen sewaannya yang terletak di Minami Dori.

Shinjuku Central Park, sebuah taman dengan layout sederhana yang diapit oleh gedung Tocho 1 dan 2, Hyatt Regency Tokyo, dan sejumlah gedung tinggi lainnya. Pepohonan rimbun menjadi tajuk taman itu, melengkapi lanskap yang diselimuti hamparan rumput hijau. Bangku-bangku taman tertata dengan apik di sisi jalan setapak, mengizinkan siapa saja yang ingin mengistirahatkan diri untuk duduk di atasnya.

Ke taman itulah Sakura pergi, berusaha melepas penat yang mengganjal di otaknya. Gadis itu berharap, nyamannya atmosfir pada lokasi hijau itu dapat membantunya mencari sejumput inspirasi untuk dituangkan ke atas kanvas poster.

Dan ke sanalah, takdir menyeretnya.
.
.
.
Riuh rendah kebisingan sore hari di Shinjuku Eki sama sekali tidak menghibur bagi dirinya. Alih-alih membuyarkan pikirannya, intensitas suara yang memenuhi udara membuat pemuda itu semakin jengkel.

Entah sudah berapa lama, Uchiha Sasuke berdiri di peron kedatangan, sama sekali tidak tampak berniat untuk keluar dari stasiun itu. Penjaga stasiun yang berdiri di dekat pintu otomatis terus-menerus memandang ke arahnya—pandangan yang menyangsikan apakah pemuda itu gelandangan karena sudah cukup lama berdiam pada posisinya.

Hari beranjak petang—kira-kira sudah pukul empat sore. Sabtu adalah hari di mana Konoha International University tidak mengadakan mata kuliah apapun, hanya saja, Sasuke terpaksa datang ke universitas itu untuk menghadiri rapat—lebih tepatnya pemberian pengarahan pada seluruh anggota senat (dan juga panitia) yang akan bertugas pada perlombaan besok. Sangat menyebalkan, tentu saja, apalagi bila mengingat perdebatan sengit via tatapan mata dengan Hyuuga Neji tadi.

Cih.

Sasuke perlu tempat untuk menenangkan dirinya, paling tidak sebelum ia pulang ke rumah dan melampiaskannya pada Itachi. Dan tempat yang paling mudah dijangkau dari Shinjuku Eki adalah...

—tanpa sadar, kedua kaki Sasuke telah melangkah, membawa sang empunya pergi. Membawanya pada sang takdir.
.
.
.
Jalanan setapak dari bebatuan berwarna coklat menjadi salah satu bagian dari latar belakang Central Park sore itu, menyapukan nuansa yang berbeda pada lanskap hijau itu. Pergerakan lambat angin yang sepoi-sepoi basah menambah temperatur dingin sore itu.

Uchiha Sasuke melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak, masuk ke dalam pelataran Central Park yang tidak terlalu ramai sore itu. Tentu saja, cuaca lembab dan mendung seperti saat ini bukanlah saat yang tepat untuk menghabiskan waktu di luar rumah. Kebanyakan orang akan dengan senang hati mengurung dirinya di rumah dan meneguk secangkir minuman hangat—apapun selain berada di luar dan diselubungi hawa yang bisa menyebabkan flu dalam sekejap.

Didudukkannya dirinya di atas salah satu bangku taman yang peliturnya sudah pudar, Sasuke memandang ke tajuk-tajuk hijau kecoklatan yang mengudara di sekitarnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menghirup berjuta-juta partikel oksigen yang tersebar di udara—berharap hal itu dapat mengalihkan pikirannya yang semrawut.

Pertandingan persahabatan yang diadakan Konoha International University akan diadakan besok—mengakibatkan dirinya tenggelam dalam tumpukan berkas kepengurusan yang diakibatkan oleh jabatannya sebagai Ketua Senat. Adanya wakil ketua seperti Neji bukannya membuat segala sesuatunya lebih mudah, malahan membuat semuanya menjadi lebih rumit. Neji dan mulut pedasnya—benar-benar neraka.

Uap putih berhembus dari celah bibir Sasuke ketika pemuda itu mengembuskan napas dengan berat. Ia menyapukan sebelah tangan ke rambut hitamnya, meremasnya sehingga helaian-helaian yang membentuk model raven itu sedikit berantakan.

Mengesalkan.

Banyak hal yang menjadi ganjalan di hati Sasuke saat ini. Dimulai dari kegiatan organisasinya yang menyebalkan hingga kehidupan cintanya yang mendekati zona kritis.

—tunggu.

“Siapa yang punya kehidupan cinta?” Sasuke bertanya pada dirinya sendiri—pertanyaan yang bahkan ia sendiri pun tak tahu jawabannya. Kembali ia mengacak-acak rambutnya, gemas sendiri.

Kini pikiran Sasuke beralih pada sesosok gadis berambut merah muda yang bertatapan dengannya dalam keriuhan KIU. Saat memandang lurus ke bola mata emerald itu, Sasuke yakin, ia merasakan sesuatu—getaran aneh yang tidak pernah dirasakan sebelumnya, bahkan ketika masih menjalin hubungan dengan Karin. Dalam hati, Sasuke selalu bertanya-tanya apa yang terjadi pada dirinya.

Mengapa takdir seolah terus berusaha memisahkannya dan gadis itu?

Mempertanyakan takdir, ternyata takdir berusaha mempermainkannya. Untuk kesekian kalinya.
.
.
.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama Sakura menginjakkan kaki di Central Park. Sebelumnya, ia sudah beberapa kali mengunjungi taman kecil itu—hanya sekadar melepas penat maupun menjadikan taman itu sebagai objek karya seninya. Hanya saja, belum pernah ia datang ke sini karena dituntun oleh takdir.

Entah mengapa, sejak melewati gerbang selatan Central Park, jantungnya bergemuruh begitu keras—seolah-olah sanggup menciptakan badai hebat bila berada di luar rongga dada gadis itu. Seperti... ada sesuatu di dalam taman itu.

Sakura melangkahkan kakinya yang bersepatu boots, menembus angin dingin yang terus berhembus. Karena telah beberapa kali berkunjung ke sini, bukan tidak mungkin lagi ia mempunyai bangku favorit yang kerap kali didudukinya. Ke sanalah Sakura bergerak.

Ia menyusuri jalanan berbatu, lewat di belakang pepohonan, dan... menemukan bangku kesukaannya telah diduduki orang lain!

Seolah-olah tertimpa beban memikirkan background untuk lomba besok belum cukup, kini tempat yang menjadikannya berlimpah inspirasi untuk menghilangkan beban itu telah diambil orang lain! Dalam hati, Sakura merutuk siapa pun yang duduk di sana. Seraya mendekati bangku itu, Sakura memutuskan untuk menegur orang itu; bila perlu memintanya pergi, walaupun rasanya itu agak kurang sopan.

Baru saja ia akan menegur orang itu, sosok yang duduk di bangku itu menoleh ke arahnya. Mata hitamnya memancarkan sorot yang tak bisa ditebak.

Napas Sakura tercekat.

Orang itu...!
.
.
.
“Aku tidak menyangka kau sering datang ke sini.”

Sasuke hanya tersenyum tipis ketika gadis itu menyapanya. Mau bereaksi apa lagi? Terkadang Sasuke menyesali mengapa ia terlahir di keluarga Uchiha yang sepertinya kekurangan stok ekspresi.

Getaran aneh itu muncul lagi. Bahkan Sasuke merasa panas dingin, tanpa sebab yang jelas.

“Hn,” respon itulah yang diberikan Sasuke—perasaan kesalnya hilang sudah, menguap begitu saja tanpa jejak.

Senyuman bermain-main di bibir Sakura. Gadis itu melirik Sasuke, “Ngomong-ngomong kau duduk di bangku yang biasa kududuki.”

“Aa?” Sasuke menaikkan sebelah alisnya. “Di sebelah sini masih cukup untuk memuat satu orang.” Ia mengedikkan bahu ke bagian bangku yang kosong.

“Baiklah...” Hembusan angin terasa ketika gadis itu duduk di sebelahnya. “Biasanya aku duduk sendirian di bangku ini—tapi kali ini aku tidak masalah berbagi dengan orang lain.”

“Tak kusangka kau pelit,” gumam Sasuke, membuat gadis itu melotot ke arahnya. Entah mengapa, jantung Sasuke berdegup semakin kencang. Ada apa ini?

“Sekarang kau tidak perlu menyangkanya lagi,” tawa gadis itu. “Sedang apa kau di sini?”

Pertanyaan Sakura mengembalikan gumpalan gelap ke dalam otak Sasuke, kembali menyeretnya ke dalam rasa kesal—kesal akan Neji, tentu saja, karena ‘hal yang lain’ sudah mendapatkan kelanjutan alurnya.

“Duduk, menikmati alam.” Ia berusaha berlagak tak acuh, namun ia tahu, kali ini sikap tak acuhnya tak akan berhasil menipu Sakura. Kedua mata hijau gadis itu menatapnya dengan intens, seolah-olah berusaha menyingkap tabir pikiran Sasuke.

“Oke,” Sakura memilih untuk tidak mengorek lebih jauh, meski dalam hati ia merasa Sasuke sedang banyak pikiran. “Aku sedang... mencari inspirasi,” katanya tanpa ditanya.

“Inspirasi?”

Gadis itu memain-mainkan helaian rambut yang terjatuh di sisi wajahnya, melirik Sasuke yang kini bersandar dengan nyaman pada punggung kursi kayu panjang itu, “Untuk lomba besok, aku diminta untuk membuat... latar belakang. Sebenarnya bukan merupakan hal yang sulit, hanya saja—” ia menambahkan dengan malu-malu, “—aku sedang mati ide. Sial sekali.”

“Ah, lomba desain besok, ya...” Kepala Sasuke menengadah, memandang sapuan warna kelabu di antara gradasi warna hijau pudar dedaunan. Gumpalan awan menggulung-gulung, disusul oleh hembusan angin yang semakin menusuk kulit tangannya yang telanjang.

“Aku... gugup sekali,” kata Sakura—ikut memandang langit. “Kau tahu? Ini adalah lomba desain pertama yang kuikuti.”

Sasuke menoleh dengan sebelah alis terangkat, “Kau serius?”

“Untuk apa aku berbohong?” Gadis itu mengembuskan napas, “Kurasa, aku kehabisan ide karena... gugup. Semua orang yang grogi mengalami hal itu; seolah-olah ada beban tak kasat mata yang menghimpit—yah, seperti itulah.”

Keduanya terdiam; sunyi. Yang terdengar di sekitar mereka hanyalah intensitas-intensitas rendah dari ekosistem yang mengelilingi mereka. Kentara sekali bahwa keduanya sibuk dengan alam pikiran masing-masing.

“Umm...” Sakura mengayun-ayunkan kedua kakinya, menikmati sensasi dingin yang menjalar di kedua betisnya. “Kau sendiri? Mengapa kau bisa berada di sini? Sungguh tidak biasa. Apa ada masalah, Sasuke-kun?”

“Tidak ada apa-apa,” hanya itu yang dikatakan oleh Sasuke, membuat kening Sakura berkerut.

Gadis itu mengamati pemuda di sebelahnya. Meski Sasuke mengatakan ‘tidak ada apa-apa’, jelas sekali bahwa sebenarnya pemuda berambut hitam itu berbohong. Entah mengapa, Sakura mengetahuinya.

“Baiklah kalau kau tidak mau bercerita padaku,” gadis itu menghela napas. “AAAAAAAHHHHH...!” Ia merentangkan kedua lengannya—meninju udara kosong sekuat-kuatnya.

Uchiha Sasuke mendongak karena kaget dengan teriakan Sakura yang tiba-tiba itu. Kendati ia tahu bahwa Sakura memang suka bertindak spontan, ia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu nekat menjerit di tempat umum. Jelas-jelas si pinkie itu sama sekali tidak berniat untuk menjaga image.

“Kau sudah gila?” Death glare berkilat pada sepasang mata onyx itu.

“Apa?” Sakura menoleh pada Sasuke. “Gila? Tidak. Aku hanya melepas stres.”

“Stres?”

Tangan Sakura sudah bergerak hendak menoyor kepala berambut raven Sasuke, namun gerakan itu diurungkannya. “Aku kan sedang mengalami stres!”

“Kau bilang kau gugup.” Senyuman bermain-main di wajah Sasuke—menyatakan bahwa ia sedang menggoda Sakura.

“Ya, aku stres karena gugup!” Sakura membela diri. “Demi Kami-sama, mengapa tidak ada ide yang muncul di otakku?”

Tidak ada respon dari Sasuke. Pemuda itu tengah mengamati permukaan langit yang semakin gelap. Gumpalan-gumpalan awan semakin banyak bergelayut di dalamnya, bergulung-gulung dan tampak siap menumpahkan butiran air yang terkandung di dalamnya kapan saya.

“Kurasa kita harus mencari tempat berteduh—” Pemuda itu berdiri dari posisinya semula, “—kalau kita masih ingin mengobrol dan tidak mau kebasahan.”

Kedua mata Sakura mengerjap beberapa kali. Ia baru pernah mendengar Uchiha Sasuke berbicara sebanyak ini. Dan, kalimat terakhirnya. Apakah itu... suatu undangan?

Baru saja Sakura akan menjawab kata-kata Sasuke—setidaknya menjawab dengan pertanyaan untuk memastikan kata-kata pemuda itu—tetes-tetes pertama jatuh dari langit; salah satu dari butiran air itu menimpa hidung Sasuke. Pemuda itu memejamkan mata selama sedetik, kemudian kembali menatap Sakura.

“Ayo,” katanya, dan Sakura menurut. Ia mengikuti langkah-langkah Sasuke yang agak tergesa, menuju pintu keluar dari Central Park.

Jalanan berbatu itu kini tampak berwarna kelabu tua, lapisan air di atasnya beriak ketika dua pasang kaki mereka bergantian menginjak permukaannya. Hujan yang turun semakin deras, membuat Sakura terpaksa menggunakan kedua tangannya untuk menutup kepala.

Hujan... Sakura melirik ke arah langit yang seolah tengah mencurahkan tangisannya.

Ketenangan ini... rasanya... damai...

Sesuatu melintas dalam pikiran Sakura, membuat gadis itu berhenti melangkah. Sakura menatap langit yang menjatuhkan puluhan ribu partikel hidrogen dioksida, sama sekali tidak memedulikan tubuhnya yang basah.

“Hei, kau mau basah kuyup?” Sebuah jaket berwarna coklat muda—duster, itu sebutannya—menutupi kepala Sakura, menyisakan wajahnya saja. Gadis itu menatap Sasuke dengan keheranan.

“Tidak, aku hanya—” mendapatkan ide. Sakura tidak bisa melanjutkan kata-katanya. “Ah, kau basah kuyup, Sasuke-kun!”

“Tch, tidak akan terlalu basah bila kau tidak berhenti berjalan seperti sekarang,” balas Sasuke. “Benar-benar gadis yang mengesalkan. Ayo.”

Kali ini, Sasuke menarik tangan Sakura, membimbing langkahnya sementara gadis itu sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Sasuke yang berjalan di sebelahnya. Tanpa sadar, jantungnya berdetak sepuluh kali lebih cepat. Dalam sekejap, ia merasakan kedua pipinya memanas.

Mereka berdua masuk ke sebuah café yang terletak di Minami Dori. Café itu sepi, hanya ada mereka berdua di dalamnya, juga seorang pelayan. Sasuke menggesek-gesekkan kedua alas sepatunya pada keset yang sengaja dipasang di sana agar lantai café tidak terkotori oleh air hujan, kemudian ia melangkah ke sebuah meja yang berada di dekat jendela. Ragu-ragu, Sakura mengikutinya.

“Apa yang membuatmu berhenti berjalan, eh, pinkie?” Kembali menggunakan sebutannya yang dulu pada Sakura, Sasuke bertanya ketika gadis itu duduk di hadapannya.

“Um,” Sakura melepaskan jaket panjang Sasuke yang juga basah, “Aku mendapatkan inspirasi.”

Pemuda itu memutar kedua bola matanya, tampak kesal. “Ya sudahlah.”

Lalu keduanya kembali terdiam. Beberapa saat kemudian, Sasuke memanggil pelayan yang berjaga di sana dan memesan dua cangkir cokelat panas—setidaknya itu bisa menghangatkan tubuh mereka; ia melihat tubuh Sakura menggigil kedinginan. Tidak ada yang mengatakan apa-apa, bahkan sampai cangkir berisi larutan cokelat beruap ada di hadapan mereka.

“Ah,” Sakura membuka suara, tampak tidak menyukai kesunyian di antara mereka berdua. “Kalau boleh... aku ingin meminta nomormu, Sasuke-kun.”

Sasuke melirik Sakura, sebelah alisnya terangkat. “Untuk apa?”

“Untuk...” Gadis itu menunduk. Warna merah pudar bersemu di kedua pipinya. “Untuk... menghubungimu seandainya aku tersesat di KIU besok...”

Dan tawa Sasuke meledak.

Kebingungan, Sakura memberanikan diri menatap pemuda itu, mencuri-curi kesempatan untuk merekam jelas setiap lekuk wajah seorang Uchiha Sasuke dalam otaknya.

“Baiklah,” pemuda itu mengambil tissue lipat yang berada dalam kotak di sudut meja yang mereka tempat, juga sebuah bolpoin dari saku kemejanya. Ia menuliskan sederet angka di atas permukaan putih tissue itu. “Hubungi aku kapan saja—tidak perlu membuat alasan seandainya kau tersesat di KIU segala.” Kemudian ia menyodorkan tissue itu.

Gemetar, Sakura menerimanya. Dalam hati ia bersorak kegirangan.

A-arigatou...” gumamnya.

Hei, takdir. Apa kau masih akan mempermainkan kami?
.
.
.
Minggu pagi.

Cuaca cerah berhasil menghapus jejak-jejak hujan deras kemarin sore. Matahari bersemu cerah dari sisi timur bumi, menambah kehangatan di pagi ini.

“Astaga! Aku terlambat!”

Haruno Sakura melompat keluar dari pintu apartemennya dan menguncinya dengan tergesa-gesa. Hari ini adalah hari perlombaan desain yang diadakan oleh Konoha International University dalam rangka pertandingan persahabatan, dan gadis itu terlambat! Semalam, ia tidak bisa tidur saking bahagianya mendapatkan nomor ponsel seorang Uchiha Sasuke.

Gadis itu meloncati anak tangga dua-dua dan berlari menuju stasiun Shinjuku, berharap bahwa kereta yang akan ia naiki belum bergerak dari stasiun.

Dua puluh menit kemudian, ia berhasil tiba di depan pintu gerbang Konoha International University. Sai dan Shino sudah menunggunya, berdiri agak jauh dari gerbang itu.

“Kukira kau akan terlambat,” Sai tersenyum hambar, nada suaranya terdengar mengejek.

Shino tidak mengatakan apapun, namun Sakura yakin bahwa pemuda berkacamata itu setuju dengan kata-kata Sai.

“Maafkan aku, Shimura-senpai, Aburame-senpai.” Gadis itu berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. “Ayo kita masuk.”

Aula tempat lomba desain diadakan sudah dipenuhi oleh sekitar enam puluh orang—termasuk Sakura, Sai, dan Shino. Mereka semua duduk di atas lantai yang dilapisi karpet, tampaknya mereka sudah mengambil posisi untuk mulai mengecat kanvas. Ketiga perwakilan Suna University of Arts berhasil mendapatkan tempat agak di pojok—satu-satunya tempat kosong yang tersisa.

“Maaf,” bisik Sakura lirih ketika wajah Sai tampak tidak terima harus duduk di pojok.

Ketiganya menatap ke panggung di depan mereka. Ada sekitar enam orang di sana, dan semuanya adalah anggota kepanitiaan lomba dari KIU. Sakura mengenal salah satunya adalah pemuda berambut coklat panjang yang memandu acara technical meeting kemarin Jumat. Mungkin ia akan bercuap-cuap di podium sebagai basa-basi pembukaan lomba. Di manakah Sasuke? Kedua mata emerald gadis itu mencari-cari sosok pemuda berambut raven itu di atas panggung.

Ponsel Sakura mendadak bergetar, menandakan ada pesan masuk. Gadis itu merogoh saku celananya dan membaca pesan itu.

From: Uchiha Sasuke
Berjuanglah. Maaf, aku berjaga di tempat lain.

Bibir gadis itu menyunggingkan senyum.

Uchiha Sasuke itu... seperti udara, selalu berada di sekitarku. Di taman itu... mengirimi pesan ketika aku mencarinya...

Bolehkah aku menyebut ini semua takdir?
.
.
.
Takdir mereka terus berlanjut...
.
.
.
tbc

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems