UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
mysticahime™
© 2011
.
.
.
Sampai kapankah takdir akan tega mempermainkan mereka?
.
.
.
Udara terasa basah, lembab, dan dingin. Jejak-jejak
curahan langit masih terpeta dengan jelas pada permukaan tanah yang berlumpur.
Aroma hujan yang menusuk masih terendus samar oleh indera penciuman. Jas luar
yang berwarna natur berbaur dalam keramaian kota, menciptakan lautan warna
alami yang bergerak teratur.
Ia menyibakkan helai-helai rambutnya dengan jemari,
berjalan menembus kerumunan semi padat di trotoar, berusaha memacu langkahnya
agar lebih cepat. Haruno Sakura menyipitkan matanya agar mendapatkan
visualisasi yang lebih baik, memandang jauh ke suatu titik tak kasat mata di
garis horizon. Sepasang kaki bersepatu boots-nya
bergantian bergesekan dengan permukaan trotoar yang berarah menjauh dari
apartemennya, membawa sang empunya ke tempat tujuannya. Tidak terburu-buru,
namun tidak rileks juga.
Setengah jam yang lalu, sebuah panggilan yang masuk ke ponselnya
membuat keningnya mengernyit. Shimura Sai menelepon dan mengatakan bahwa tugas
Sakura dalam lomba desain ini adalah membuat background poster. Ketiganya—Sai, Shino, dan Sakura sendiri—telah
memeras otak kemarin malam, saling melemparkan ide satu sama lain, menyatukan
setiap percikan inspirasi yang bertandang ke benak mereka; berhasil membuat
sketsa tampilan utama untuk poster yang akan mereka buat pada hari Minggu
besok.
Dan sekarang, mau tak mau Sakura harus mencari ide untuk
latar belakang poster itu.
—yang sebenarnya akan sangat mudah bila ia tidak sedang
mati ide, seperti saat ini.
Jenuh, gadis bermata emerald
itu memutuskan untuk keluar dari apartemennya. Mungkin sedikit udara segar bisa
membantunya berpikir, dan—kalau bisa—memberikan sedikit pencerahan untuk background poster itu.
Entah mengapa, kini kedua kakinya yang bersepatu boots membawanya ke sebuah taman kecil yang
tak jauh dari apartemen sewaannya yang terletak di Minami Dori.
Shinjuku Central Park, sebuah taman dengan layout sederhana yang diapit oleh gedung
Tocho 1 dan 2, Hyatt Regency Tokyo, dan sejumlah gedung tinggi lainnya.
Pepohonan rimbun menjadi tajuk taman itu, melengkapi lanskap yang diselimuti hamparan
rumput hijau. Bangku-bangku taman tertata dengan apik di sisi jalan setapak,
mengizinkan siapa saja yang ingin mengistirahatkan diri untuk duduk di atasnya.
Ke taman itulah Sakura pergi, berusaha melepas penat yang
mengganjal di otaknya. Gadis itu berharap, nyamannya atmosfir pada lokasi hijau
itu dapat membantunya mencari sejumput inspirasi untuk dituangkan ke atas
kanvas poster.
Dan ke sanalah, takdir menyeretnya.
.
.
.
Riuh rendah kebisingan sore hari di Shinjuku Eki sama sekali tidak menghibur bagi
dirinya. Alih-alih membuyarkan pikirannya, intensitas suara yang memenuhi udara
membuat pemuda itu semakin jengkel.
Entah sudah berapa lama, Uchiha Sasuke berdiri di peron
kedatangan, sama sekali tidak tampak berniat untuk keluar dari stasiun itu.
Penjaga stasiun yang berdiri di dekat pintu otomatis terus-menerus memandang ke
arahnya—pandangan yang menyangsikan apakah pemuda itu gelandangan karena sudah
cukup lama berdiam pada posisinya.
Hari beranjak petang—kira-kira sudah pukul empat sore.
Sabtu adalah hari di mana Konoha International University tidak mengadakan mata
kuliah apapun, hanya saja, Sasuke terpaksa datang ke universitas itu untuk
menghadiri rapat—lebih tepatnya pemberian pengarahan pada seluruh anggota senat
(dan juga panitia) yang akan bertugas pada perlombaan besok. Sangat
menyebalkan, tentu saja, apalagi bila mengingat perdebatan sengit via tatapan mata dengan Hyuuga Neji
tadi.
Cih.
Sasuke perlu tempat untuk menenangkan dirinya, paling
tidak sebelum ia pulang ke rumah dan melampiaskannya pada Itachi. Dan tempat
yang paling mudah dijangkau dari Shinjuku Eki
adalah...
—tanpa sadar, kedua kaki Sasuke telah melangkah, membawa
sang empunya pergi. Membawanya pada sang takdir.
.
.
.
Jalanan setapak dari bebatuan berwarna coklat menjadi
salah satu bagian dari latar belakang Central Park sore itu, menyapukan nuansa yang
berbeda pada lanskap hijau itu. Pergerakan lambat angin yang sepoi-sepoi basah
menambah temperatur dingin sore itu.
Uchiha Sasuke melangkahkan kakinya menyusuri jalan
setapak, masuk ke dalam pelataran Central Park yang tidak terlalu ramai sore
itu. Tentu saja, cuaca lembab dan mendung seperti saat ini bukanlah saat yang
tepat untuk menghabiskan waktu di luar rumah. Kebanyakan orang akan dengan
senang hati mengurung dirinya di rumah dan meneguk secangkir minuman
hangat—apapun selain berada di luar dan diselubungi hawa yang bisa menyebabkan
flu dalam sekejap.
Didudukkannya dirinya di atas salah satu bangku taman
yang peliturnya sudah pudar, Sasuke memandang ke tajuk-tajuk hijau kecoklatan
yang mengudara di sekitarnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menghirup
berjuta-juta partikel oksigen yang tersebar di udara—berharap hal itu dapat
mengalihkan pikirannya yang semrawut.
Pertandingan persahabatan yang diadakan Konoha
International University akan diadakan besok—mengakibatkan dirinya tenggelam
dalam tumpukan berkas kepengurusan yang diakibatkan oleh jabatannya sebagai
Ketua Senat. Adanya wakil ketua seperti Neji bukannya membuat segala sesuatunya
lebih mudah, malahan membuat semuanya menjadi lebih rumit. Neji dan mulut
pedasnya—benar-benar neraka.
Uap putih berhembus dari celah bibir Sasuke ketika pemuda
itu mengembuskan napas dengan berat. Ia menyapukan sebelah tangan ke rambut
hitamnya, meremasnya sehingga helaian-helaian yang membentuk model raven itu sedikit berantakan.
Mengesalkan.
Banyak hal yang menjadi ganjalan di hati Sasuke saat ini.
Dimulai dari kegiatan organisasinya yang menyebalkan hingga kehidupan cintanya
yang mendekati zona kritis.
—tunggu.
“Siapa yang punya kehidupan cinta?” Sasuke bertanya pada
dirinya sendiri—pertanyaan yang bahkan ia sendiri pun tak tahu jawabannya.
Kembali ia mengacak-acak rambutnya, gemas sendiri.
Kini pikiran Sasuke beralih pada sesosok gadis berambut
merah muda yang bertatapan dengannya dalam keriuhan KIU. Saat memandang lurus
ke bola mata emerald itu, Sasuke
yakin, ia merasakan sesuatu—getaran aneh yang tidak pernah dirasakan
sebelumnya, bahkan ketika masih menjalin hubungan dengan Karin. Dalam hati,
Sasuke selalu bertanya-tanya apa yang terjadi pada dirinya.
Mengapa takdir seolah terus berusaha memisahkannya dan
gadis itu?
Mempertanyakan takdir, ternyata takdir berusaha
mempermainkannya. Untuk kesekian kalinya.
.
.
.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama Sakura menginjakkan
kaki di Central Park. Sebelumnya, ia sudah beberapa kali mengunjungi taman
kecil itu—hanya sekadar melepas penat maupun menjadikan taman itu sebagai objek
karya seninya. Hanya saja, belum pernah ia datang ke sini karena dituntun oleh takdir.
Entah mengapa, sejak melewati gerbang selatan Central
Park, jantungnya bergemuruh begitu keras—seolah-olah sanggup menciptakan badai
hebat bila berada di luar rongga dada gadis itu. Seperti... ada sesuatu di
dalam taman itu.
Sakura melangkahkan kakinya yang bersepatu boots, menembus angin dingin yang terus
berhembus. Karena telah beberapa kali berkunjung ke sini, bukan tidak mungkin
lagi ia mempunyai bangku favorit yang kerap kali didudukinya. Ke sanalah Sakura
bergerak.
Ia menyusuri jalanan berbatu, lewat di belakang
pepohonan, dan... menemukan bangku kesukaannya telah diduduki orang lain!
Seolah-olah tertimpa beban memikirkan background untuk lomba besok belum
cukup, kini tempat yang menjadikannya berlimpah inspirasi untuk menghilangkan
beban itu telah diambil orang lain! Dalam hati, Sakura merutuk siapa pun yang
duduk di sana. Seraya mendekati bangku itu, Sakura memutuskan untuk menegur
orang itu; bila perlu memintanya pergi, walaupun rasanya itu agak kurang sopan.
Baru saja ia akan menegur orang itu, sosok yang duduk di
bangku itu menoleh ke arahnya. Mata hitamnya memancarkan sorot yang tak bisa
ditebak.
Napas Sakura tercekat.
Orang itu...!
.
.
.
“Aku tidak menyangka kau sering datang ke sini.”
Sasuke hanya tersenyum tipis ketika gadis itu menyapanya.
Mau bereaksi apa lagi? Terkadang Sasuke menyesali mengapa ia terlahir di
keluarga Uchiha yang sepertinya kekurangan stok ekspresi.
Getaran aneh itu muncul lagi. Bahkan Sasuke merasa panas
dingin, tanpa sebab yang jelas.
“Hn,” respon itulah yang diberikan Sasuke—perasaan
kesalnya hilang sudah, menguap begitu saja tanpa jejak.
Senyuman bermain-main di bibir Sakura. Gadis itu melirik
Sasuke, “Ngomong-ngomong kau duduk di bangku yang biasa kududuki.”
“Aa?” Sasuke menaikkan sebelah alisnya. “Di sebelah sini
masih cukup untuk memuat satu orang.” Ia mengedikkan bahu ke bagian bangku yang
kosong.
“Baiklah...” Hembusan angin terasa ketika gadis itu duduk
di sebelahnya. “Biasanya aku duduk sendirian di bangku ini—tapi kali ini aku
tidak masalah berbagi dengan orang lain.”
“Tak kusangka kau pelit,” gumam Sasuke, membuat gadis itu
melotot ke arahnya. Entah mengapa, jantung Sasuke berdegup semakin kencang. Ada apa ini?
“Sekarang kau tidak perlu menyangkanya lagi,” tawa gadis
itu. “Sedang apa kau di sini?”
Pertanyaan Sakura mengembalikan gumpalan gelap ke dalam
otak Sasuke, kembali menyeretnya ke dalam rasa kesal—kesal akan Neji, tentu
saja, karena ‘hal yang lain’ sudah mendapatkan kelanjutan alurnya.
“Duduk, menikmati alam.” Ia berusaha berlagak tak acuh,
namun ia tahu, kali ini sikap tak acuhnya tak akan berhasil menipu Sakura.
Kedua mata hijau gadis itu menatapnya dengan intens, seolah-olah berusaha
menyingkap tabir pikiran Sasuke.
“Oke,” Sakura memilih untuk tidak mengorek lebih jauh,
meski dalam hati ia merasa Sasuke sedang banyak pikiran. “Aku sedang... mencari
inspirasi,” katanya tanpa ditanya.
“Inspirasi?”
Gadis itu memain-mainkan helaian rambut yang terjatuh di
sisi wajahnya, melirik Sasuke yang kini bersandar dengan nyaman pada punggung
kursi kayu panjang itu, “Untuk lomba besok, aku diminta untuk membuat... latar
belakang. Sebenarnya bukan merupakan hal yang sulit, hanya saja—” ia
menambahkan dengan malu-malu, “—aku sedang mati ide. Sial sekali.”
“Ah, lomba desain besok, ya...” Kepala Sasuke menengadah,
memandang sapuan warna kelabu di antara gradasi warna hijau pudar dedaunan.
Gumpalan awan menggulung-gulung, disusul oleh hembusan angin yang semakin
menusuk kulit tangannya yang telanjang.
“Aku... gugup sekali,” kata Sakura—ikut memandang langit.
“Kau tahu? Ini adalah lomba desain pertama yang kuikuti.”
Sasuke menoleh dengan sebelah alis terangkat, “Kau
serius?”
“Untuk apa aku berbohong?” Gadis itu mengembuskan napas,
“Kurasa, aku kehabisan ide karena... gugup. Semua orang yang grogi mengalami
hal itu; seolah-olah ada beban tak kasat mata yang menghimpit—yah, seperti
itulah.”
Keduanya terdiam; sunyi. Yang terdengar di sekitar mereka
hanyalah intensitas-intensitas rendah dari ekosistem yang mengelilingi mereka.
Kentara sekali bahwa keduanya sibuk dengan alam pikiran masing-masing.
“Umm...” Sakura mengayun-ayunkan kedua kakinya, menikmati
sensasi dingin yang menjalar di kedua betisnya. “Kau sendiri? Mengapa kau bisa
berada di sini? Sungguh tidak biasa. Apa ada masalah, Sasuke-kun?”
“Tidak ada apa-apa,” hanya itu yang dikatakan oleh
Sasuke, membuat kening Sakura berkerut.
Gadis itu mengamati pemuda di sebelahnya. Meski Sasuke
mengatakan ‘tidak ada apa-apa’, jelas sekali bahwa sebenarnya pemuda berambut
hitam itu berbohong. Entah mengapa, Sakura mengetahuinya.
“Baiklah kalau kau tidak mau bercerita padaku,” gadis itu
menghela napas. “AAAAAAAHHHHH...!” Ia merentangkan kedua lengannya—meninju
udara kosong sekuat-kuatnya.
Uchiha Sasuke mendongak karena kaget dengan teriakan
Sakura yang tiba-tiba itu. Kendati ia tahu bahwa Sakura memang suka bertindak
spontan, ia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu nekat menjerit di
tempat umum. Jelas-jelas si pinkie
itu sama sekali tidak berniat untuk menjaga image.
“Kau sudah gila?” Death
glare berkilat pada sepasang mata onyx
itu.
“Apa?” Sakura menoleh pada Sasuke. “Gila? Tidak. Aku
hanya melepas stres.”
“Stres?”
Tangan Sakura sudah bergerak hendak menoyor kepala
berambut raven Sasuke, namun gerakan
itu diurungkannya. “Aku kan sedang mengalami stres!”
“Kau bilang kau gugup.” Senyuman bermain-main di wajah
Sasuke—menyatakan bahwa ia sedang menggoda Sakura.
“Ya, aku stres karena gugup!” Sakura membela diri. “Demi Kami-sama, mengapa tidak ada ide yang
muncul di otakku?”
Tidak ada respon dari Sasuke. Pemuda itu tengah mengamati
permukaan langit yang semakin gelap. Gumpalan-gumpalan awan semakin banyak bergelayut
di dalamnya, bergulung-gulung dan tampak siap menumpahkan butiran air yang
terkandung di dalamnya kapan saya.
“Kurasa kita harus mencari tempat berteduh—” Pemuda itu
berdiri dari posisinya semula, “—kalau kita masih ingin mengobrol dan tidak mau
kebasahan.”
Kedua mata Sakura mengerjap beberapa kali. Ia baru pernah
mendengar Uchiha Sasuke berbicara sebanyak ini. Dan, kalimat terakhirnya.
Apakah itu... suatu undangan?
Baru saja Sakura akan menjawab kata-kata
Sasuke—setidaknya menjawab dengan pertanyaan untuk memastikan kata-kata pemuda
itu—tetes-tetes pertama jatuh dari langit; salah satu dari butiran air itu
menimpa hidung Sasuke. Pemuda itu memejamkan mata selama sedetik, kemudian
kembali menatap Sakura.
“Ayo,” katanya, dan Sakura menurut. Ia mengikuti
langkah-langkah Sasuke yang agak tergesa, menuju pintu keluar dari Central
Park.
Jalanan berbatu itu kini tampak berwarna kelabu tua,
lapisan air di atasnya beriak ketika dua pasang kaki mereka bergantian
menginjak permukaannya. Hujan yang turun semakin deras, membuat Sakura terpaksa
menggunakan kedua tangannya untuk menutup kepala.
Hujan... Sakura melirik ke arah langit yang seolah tengah
mencurahkan tangisannya.
Ketenangan ini... rasanya... damai...
Sesuatu melintas dalam pikiran Sakura, membuat gadis itu
berhenti melangkah. Sakura menatap langit yang menjatuhkan puluhan ribu
partikel hidrogen dioksida, sama sekali tidak memedulikan tubuhnya yang basah.
“Hei, kau mau basah kuyup?” Sebuah jaket berwarna coklat
muda—duster, itu sebutannya—menutupi
kepala Sakura, menyisakan wajahnya saja. Gadis itu menatap Sasuke dengan
keheranan.
“Tidak, aku hanya—” mendapatkan
ide. Sakura tidak bisa melanjutkan kata-katanya. “Ah, kau basah kuyup,
Sasuke-kun!”
“Tch, tidak akan terlalu basah bila kau tidak berhenti
berjalan seperti sekarang,” balas Sasuke. “Benar-benar gadis yang mengesalkan.
Ayo.”
Kali ini, Sasuke menarik tangan Sakura, membimbing
langkahnya sementara gadis itu sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya
dari sosok Sasuke yang berjalan di sebelahnya. Tanpa sadar, jantungnya berdetak
sepuluh kali lebih cepat. Dalam sekejap, ia merasakan kedua pipinya memanas.
Mereka berdua masuk ke sebuah café yang terletak di Minami Dori.
Café itu sepi, hanya ada mereka
berdua di dalamnya, juga seorang pelayan. Sasuke menggesek-gesekkan kedua alas
sepatunya pada keset yang sengaja dipasang di sana agar lantai café tidak terkotori oleh air hujan,
kemudian ia melangkah ke sebuah meja yang berada di dekat jendela. Ragu-ragu,
Sakura mengikutinya.
“Apa yang membuatmu berhenti berjalan, eh, pinkie?” Kembali menggunakan sebutannya
yang dulu pada Sakura, Sasuke bertanya ketika gadis itu duduk di hadapannya.
“Um,” Sakura melepaskan jaket panjang Sasuke yang juga
basah, “Aku mendapatkan inspirasi.”
Pemuda itu memutar kedua bola matanya, tampak kesal. “Ya
sudahlah.”
Lalu keduanya kembali terdiam. Beberapa saat kemudian,
Sasuke memanggil pelayan yang berjaga di sana dan memesan dua cangkir cokelat
panas—setidaknya itu bisa menghangatkan tubuh mereka; ia melihat tubuh Sakura
menggigil kedinginan. Tidak ada yang mengatakan apa-apa, bahkan sampai cangkir
berisi larutan cokelat beruap ada di hadapan mereka.
“Ah,” Sakura membuka suara, tampak tidak menyukai
kesunyian di antara mereka berdua. “Kalau boleh... aku ingin meminta nomormu,
Sasuke-kun.”
Sasuke melirik Sakura, sebelah alisnya terangkat. “Untuk
apa?”
“Untuk...” Gadis itu menunduk. Warna merah pudar bersemu
di kedua pipinya. “Untuk... menghubungimu seandainya aku tersesat di KIU
besok...”
Dan tawa Sasuke meledak.
Kebingungan, Sakura memberanikan diri menatap pemuda itu,
mencuri-curi kesempatan untuk merekam jelas setiap lekuk wajah seorang Uchiha
Sasuke dalam otaknya.
“Baiklah,” pemuda itu mengambil tissue lipat yang berada dalam kotak di sudut meja yang mereka tempat,
juga sebuah bolpoin dari saku kemejanya. Ia menuliskan sederet angka di atas
permukaan putih tissue itu. “Hubungi
aku kapan saja—tidak perlu membuat alasan seandainya kau tersesat di KIU
segala.” Kemudian ia menyodorkan tissue
itu.
Gemetar, Sakura menerimanya. Dalam hati ia bersorak
kegirangan.
“A-arigatou...”
gumamnya.
Hei, takdir. Apa kau masih akan mempermainkan kami?
.
.
.
Minggu pagi.
Cuaca cerah berhasil menghapus jejak-jejak hujan deras
kemarin sore. Matahari bersemu cerah dari sisi timur bumi, menambah kehangatan
di pagi ini.
“Astaga! Aku terlambat!”
Haruno Sakura melompat keluar dari pintu apartemennya dan
menguncinya dengan tergesa-gesa. Hari ini adalah hari perlombaan desain yang
diadakan oleh Konoha International University dalam rangka pertandingan
persahabatan, dan gadis itu terlambat! Semalam, ia tidak bisa tidur saking
bahagianya mendapatkan nomor ponsel seorang Uchiha Sasuke.
Gadis itu meloncati anak tangga dua-dua dan berlari
menuju stasiun Shinjuku, berharap bahwa kereta yang akan ia naiki belum
bergerak dari stasiun.
Dua puluh menit kemudian, ia berhasil tiba di depan pintu
gerbang Konoha International University. Sai dan Shino sudah menunggunya,
berdiri agak jauh dari gerbang itu.
“Kukira kau akan terlambat,” Sai tersenyum hambar, nada
suaranya terdengar mengejek.
Shino tidak mengatakan apapun, namun Sakura yakin bahwa
pemuda berkacamata itu setuju dengan kata-kata Sai.
“Maafkan aku, Shimura-senpai,
Aburame-senpai.” Gadis itu berusaha
mengatur napasnya yang tersengal-sengal. “Ayo kita masuk.”
Aula tempat lomba desain diadakan sudah dipenuhi oleh
sekitar enam puluh orang—termasuk Sakura, Sai, dan Shino. Mereka semua duduk di
atas lantai yang dilapisi karpet, tampaknya mereka sudah mengambil posisi untuk
mulai mengecat kanvas. Ketiga perwakilan Suna University of Arts berhasil
mendapatkan tempat agak di pojok—satu-satunya tempat kosong yang tersisa.
“Maaf,” bisik Sakura lirih ketika wajah Sai tampak tidak
terima harus duduk di pojok.
Ketiganya menatap ke panggung di depan mereka. Ada
sekitar enam orang di sana, dan semuanya adalah anggota kepanitiaan lomba dari
KIU. Sakura mengenal salah satunya adalah pemuda berambut coklat panjang yang
memandu acara technical meeting
kemarin Jumat. Mungkin ia akan bercuap-cuap di podium sebagai basa-basi
pembukaan lomba. Di manakah Sasuke? Kedua mata emerald gadis itu mencari-cari sosok pemuda berambut raven itu di atas panggung.
Ponsel Sakura mendadak bergetar, menandakan ada pesan
masuk. Gadis itu merogoh saku celananya dan membaca pesan itu.
From: Uchiha Sasuke
Berjuanglah. Maaf, aku berjaga di tempat lain.
Bibir gadis itu menyunggingkan senyum.
Uchiha Sasuke itu... seperti udara, selalu berada di sekitarku. Di taman
itu... mengirimi pesan ketika aku mencarinya...
Bolehkah aku menyebut ini semua takdir?
.
.
.
Takdir mereka terus berlanjut...
.
.
.
tbc








0 komentar:
Posting Komentar