UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
mysticahime™
© 2011
.
.
.
Tiga puluh menit lebih telah berlalu semenjak dering bel
pertanda lomba dimulai berbunyi. Puluhan peserta pertandingan persahabatan yang
diadakan Konoha International Univesity kini tampak memenuhi permukaan lantai
aula, masing-masing sibuk dengan pencurahan kreativitas kelompok. Mencorengkan lusinan
warna cat, menggradasikan komposisi warna yang ada, menggoreskan sketsa dengan
cekatan—apapun, agar kreasi poster itu terwujudkan.
Di antara kumpulan seniman-seniman itu, tampaklah tiga
sosok perwakilan Suna University of Arts—satu-satunya universitas yang memiliki
kualitas pendidikan seni yang mampu menyaingin KIU. Aburame Shino, Shimura Sai,
dan Haruno Sakura. Ketiganya tampak serius mengerjakan poster yang merupakan
hasil brainstorming mereka Jumat
malam kemarin. Saking seriusnya, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa
bagian-bagian tubuh mereka sudah ternodai oleh warna-warni cat minyak.
“Umm,” Sakura sedikit menjauhkan diri, mengernyitkan
hidung karena bau tiner yang menguar di udara. “Warna cyan itu terlalu tua, Aburame-senpai.
Agak mirip tosca, kurasa.”
Sang pemuda berkacamata hitam—Shino—mengamati warna yang
baru ia oleskan pada tepian kanvas. Ia menggigit bibirnya sejenak sebelum
mencampurkan warna putih pada palet cat yang hampir penuh itu.
Sai yang sedari tadi asyik melukis poin utama poster
melirik kedua rekannya. Shino seperti biasa, tampak prima dan dengan piawai
mengatur komposisi warna cat minyak. Mengingat Shino menggeluti bidang desain
interior, sudah jelas ia memiliki sense
warna tersendiri.
Tatapan Sai beralih pada Sakura.
Gadis itu tengah sibuk memulas tepian poster agar
terlihat alami—tidak dengan kuas, ia malah mengkomposisikan warna dengan
jari-jemarinya. Dan hasilnya luar biasa.
Pemuda itu tersenyum.
Kali ini, ia tidak akan berjuang sendiri. Ia punya dua
rekan yang hebat.
.
.
.
.
“WHOAAAAAAAA!!”
Priiiiittt...
Peluit berbunyi nyaring pertanda babak penentuan
pertandingan voli dalam rangka pertandingan persahabatan yang diadakan oleh
Konoha International University telah selesai. Pertandingan sengit itu berakhir
dengan 2 – 1 untuk Oto Daigaku—menang tipis dengan skor 21 – 20 dari Institut
Kirigakure—setelah lima kali melakukan deuce.
Pemain kedua tim bersalaman satu sama lain sebelum kembali ke bangku
masing-masing, bercucuran keringat namun tetap menjunjung tinggi sportivitas
antar regu.
Uchiha Sasuke mengusap peluh yang menempel di keningnya dengan
punggung tangan. Berada di bawah terik matahari selama hampir satu jam demi
melihat jalannya pertandingan voli bukanlah cara terbaik untuk menghabiskan
waktu, karena—tentu saja—ia lebih memilih berada di dalam aula untuk melihat
jalannya lomba desain. Tidak panas dan berdebu. Selain itu, ia bisa duduk di
kursi khusus panitia. Enak, bukan? Kalau saja bukan karena ingin menghindari
ceramah Hyuuga Neji mengenai betapa Ketua Senat hanya ingin bersantai-santai
saja, ia sudah melakukan hal itu dari tadi.
Neji bisa bersikap sangat menyebalkan bila perlu.
Sayangnya, Sasuke sedang tidak memerlukan sikap
menyebalkan itu.
“Ketua.” Seseorang memanggil namanya, membuat Sasuke
menolehkan kepalanya.
“Hn?” Ditatapnya calon lawan bicaranya. Seorang gadis,
entah siapa. Ingatan Sasuke memang payah dalam hal mengingat orang—terlebih
lagi orang-orang tidak penting yang hanya sekilas lewat dalam kehidupannya.
“Wakil Ketua Hyuuga bilang, sekarang waktunya Ketua
mengawasi pertandingan lain.” Rupanya gadis itu pembawa pesan dari Neji.
Ctek.
Empat tanda siku muncul di kepala Sasuke—seandainya saja
ini anime atau manga. Kenyataannya, tidak benar-benar muncul.
Sasuke mendengus sebal, tidak terlalu kentara.
Sebenarnya, yang ketua itu ia atau Neji? Mengapa yang memberi perintah selalu
saja Neji?
Hubungan keduanya tak pernah membaik.
“Hn.” Tanpa banyak bicara, pemuda itu melangkah pergi.
Meninggalkan lapangan yang dipenuhi pancaran sinar matahari. Meninggalkan si
pembawa pesan yang terbengong-bengong.
.
.
.
.
Satu jam lebih telah berlalu.
Sakura meregangkan tubuhnya yang mulai kaku karena lama
tidak berubah posisi. Diamatinya poster yang sudah mulai jadi itu dengan kedua
matanya.
Hmm? Rasanya ada yang aneh.
“Shimura-senpai,”
bisiknya pelan. Sai yang sedari tadi sibuk mewarnai objek utama poster
mengangkat sedikit wajahnya—tidak benar-benar melihat wajah gadis itu.
“Apa?”
“Ini,” —gadis itu mengacungkan telunjuknya, sedikit
menyentuh permukaan kanvas yang sudah setengah diwarnai dengan warna cyan— “entah mengapa aku merasa ada yang
ganjil pada bagian ini.”
Selama beberapa detik, Sai mengamati bagian yang ditunjuk
Sakura. Pemuda itu menggigit bibirnya, menimbang-nimbang.
“Kurang cocok, ternyata,” putusnya kemudian, membuat
Shino mendongak dari pekerjaannya.
“Apa yang kurang cocok, Shimura?” tanyanya, tanpa
nada—seperti biasa.
“Ini.” Sai ikut menunjuk bagian yang tadi ditunjuk
Sakura. “Rasanya... warna cyan tidak
cocok dengan image hujan.”
“Oh,” jawab Shino. “Lalu, apa yang akan kita lakukan?
Kurasa, tidak akan ada cukup waktu untuk membuat ulang poster ini,” —ia melirik
arloji yang melingkar di pergelangan tangannya— “satu setengah jam lagi
waktunya habis.”
Ketiganya diam sesaat, berpikir keras. Membuat sketsa
saja sudah menghabiskan waktu hampir satu jam. Bila mereka mengulang poster
itu, sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan didiskualifikasi karena tidak
bisa menyelesaikan poster sebelum waktu yang ditentukan habis.
—sebenarnya tidak juga.
Ada cara lain untuk menanggulangi masalah itu, dan Sakura
mendapatkan jawabannya.
“Ano, senpaitachi,” gumam gadis itu ragu-ragu.
Ia memilin-milin ujung rambutnya dengan gugup.
“Ya?”
“Rasanya aku... punya ide.”
Dengan jari-jarinya, ia memberi kode kepada Shino dan Sai
untuk mendekat, kemudian baru ia menjelaskan rencananya, dengan suara
rendah—tentu saja. Kening Sai mengernyit. Shino mengangguk-angguk mengerti.
“Bagus,” puji Shino, lagi-lagi dengan nada datar.
“Ayo.” Sai mengajak kedua rekannya untuk kembali
mengerjakan poster itu.
Ketiganya kembali memusatkan konsentrasi pada pekerjaan
mereka. Hanya saja, kali ini Sakura-lah yang menggarap bagian latar belakang.
Shino beralih membantu Sai, menebalkan warna-warna yang ada sehingga tampak
lebih hidup.
Saat sedang serius memulas warna untuk melapisi warna cyan pada permukaan kanvas, Sakura
merasakan sesuatu yang agak janggal di udara. Mengernyitkan kening, ia
mengangkat wajah, berusaha mencari tahu penyebab rasa aneh itu.
Dan kedua mata emerald-nya
bertabrakan dengan sepasang obsidian milik Uchiha Sasuke—yang juga sedang
menatapnya.
.
.
.
.
Seorang ketua lebih berkuasa daripada wakil ketua, kan?
Kata-kata itu terus menari-nari dalam benak Uchiha Sasuke
selama ia berjalan dari lapangan menuju lokasi pertandingan selanjutnya.
Ya, benar. Ketua memang
lebih berkuasa, tetapi dalam kasusnya ini, sang wakil ketua lebih tua dari dirinya. Dan bukankah
seorang junior harus patuh terhadap seniornya?
Dilema.
Kedua kakinya melangkah tanpa arah, dan saat tersadar,
Sasuke menemukan dirinya tengah berdiri di depan pintu aula tempat diadakannya
lomba desain.
Satu kali, dua kali. Ia mengerjapkan matanya dengan
bingung.
Hei, mengapa kedua kakinya membawa dirinya ke sini?
Memang ia belum melihat keadaan lomba desain, tapi ia juga belum menilik
keadaan lapangan futsal.
—apa salahnya?
Sasuke membulatkan tekad untuk mendorong pintu itu dan
masuk ke dalam. Melihat pertandingan futsal sih bisa nanti, toh pertandingannya
masih ada beberapa untuk hari ini. Sedangkan lomba desain? Mm, pertandingannya
hanya hari ini saja, itu pun akan berakhir kurang dari dua jam lagi.
Jadi, ia masuk.
Udara sejuk menyapu permukaan kulitnya tatkala ia
melewati pintu aula. Tentu saja, ruangan besar itu dilengkapi dengan fasilitas air conditioner untuk menjaga suhu udara
agar tetap dingin dan nyaman. Berbeda sekali dengan lapangan voli yang
menggunakan teknologi udara alami.
Puluhan mahasiswa tampak serius mengerjakan karya mereka,
membentuk kubu-kubu tersendiri yang terdiri dari tiga orang. Namun itu bukanlah
hal yang sulit bagi Sasuke untuk menemukan orang yang sedari tadi
dipikirkannya.
Gadis itu tampak mencolok, walaupun ia tidak duduk di
bagian tengah. Warna rambutnya yang seperti permen kapas membuat dirinya mudah
dikenali. Haruno Sakura terlihat serius dengan kuas dan palet cat di tangannya,
menggoreskan warna-warna putih yang tergradasi di atas kanvas.
—tanpa sadar pemuda itu tersenyum.
Pandangan matanya tidak bisa beralih dari sosok gadis
itu. Sama sekali.
Bahkan ketika gadis itu mengangkat wajahnya dan balas
menatapnya.
.
.
.
.
—teeettt.
Bel pertanda berakhirnya waktu pelaksanaan lomba desain
telah berbunyi. Suasana tenang yang semula bercokol dalam atmosfir aula luntur,
tergantikan oleh kasak-kusuk semua peserta. Ada yang masih sibuk melakukan finishing. Ada yang bangkit dari posisi
duduk dan melakukan peregangan. Ada yang membereskan peralatan. Bermacam-macam.
“Selesai,” gumam Sai dengan nada puas. Diamatinya hasil
karya mereka bertiga dengan senyum mengembang. Kemudian ia menyerahkan kanvas
besar itu ke tangan panitia.
Setelah membereskan alat-alat dan bahan yang mereka
gunakan selama melukis, ketiganya beranjak dari tempat mereka dan keluar dari
aula, berniat menuju kafeteria KIU—di mana tersedia konsumsi bagi peserta
lomba. Break time—dan mereka bertiga
memerlukan asupan energi untuk mensubtitusi energi mereka yang terkuras selama
lomba tadi.
“Kuharap mereka menyediakan kopi,” kata Sai ketika mereka
bertiga berada dalam antrian yang mengarah ke meja konsumsi. Antrian panjang
itu tampak didominasi oleh anak-anak KIU sendiri.
“Harus.” Shino menguap dan merentangkan kedua lengannya
ke udara. “Minuman terbaik setelah melukis adalah kopi.”
Memandang ke arah kerumunan padat itu, Sai mencibir.
“Sebaiknya aku yang mengantri, kalian berdua mencari tempat di mana kita
bertiga bisa bersantai-santai sambil menunggu pengumuman lomba nanti. Kalian
mau minum apa?”
“Kopi,” jawab Shino singkat, menahan kantuknya.
“Teh saja,” kata Sakura. Pandangan matanya tertuju pada
satu titik. “Ano, aku ada urusan
sebentar. Permisi.”
Gadis itu cepat-cepat menyingkir, menembus barisan demi
barisan dan kemudian menghilang di balik tubuh orang-orang. Sai dan Shino
mengangkat bahu.
—sebenarnya tidak seperti itu.
Sakura bukannya sengaja menghilang tanpa sebab. Tadi,
saat berbicara dengan Sai dan Shino, ia menangkap sosok Sasuke di antara
puluhan entitas yang berada dalam area kafeteria itu. Dan ia memutuskan untuk
mendekatinya.
“Hai,” sapa Sakura sambil tersenyum.
Pemuda itu mendongak, kedua mata onyx-nya beradu dengan emerald
Sakura. “Hai.”
“Aku tidak menyangka kau mengawasi lomba desain juga.”
Sakura mencoba bersikap santai, namun jantungnya sama sekali tidak mau
berkompromi. Seolah ada karnaval di dalam rongga dadanya. Berdentum-dentum.
Sasuke meneguk minumannya—segelas air putih. “Kebetulan.”
“Benar, kebetulan.” Ia setuju dengan kata-kata Sasuke.
Saat keduanya terdiam, ia berusaha mencari topik pembicaraan yang lain. “Oh ya,
terima kasih.”
Sebelah alis Sasuke terangkat. “Untuk?”
“Yang kemarin.” Gadis itu menumpukan beban tubuhnya ke
kaki kanan. “Berkat kau, aku mendapatkan ide yang luar biasa untuk poster kami.”
“Oh,” hanya itu respon Sasuke.
“Kuharap, Suna menjadi salah satu pemenang dalam lomba
ini—” Gadis itu menutup mulutnya ketika tersadar siapa yang sedang berbicara
dengannya. Ketua senat KIU. “—oh, bukan maksudku memintamu untuk memenangkan
Suna—eh, maksudku—”
Senyum kecil terulas di bibir Sasuke. “Hei, bagaimana
kalau kita bertaruh?”
“Bertaruh apa?” Kedua mata Sakura membulat.
“Bagaimana kalau kita bertaruh soal kemenanganmu?”
usulnya dengan nada ringan. “Bila timmu menjadi salah satu pemenang dalam lomba
desain, maka kau menang taruhan. Bila tidak—sebaliknya.”
“Setuju.” Sakura menjawab tantangan itu dengan mantap.
“Lihat saja nanti, kami akan memenangkan lomba itu. Memangnya kau sudah melihat
poster dari Suna?”
“Belum,” jawaban yang di luar dugaan Sakura. “Aku bukan
juri.”
Gadis itu mencibir. “Kalau aku benar-benar menang, kau
harus menuruti permintaanku.”
“Hn,” jawab Sasuke, memandang ke arah arlojinya. “Masih
ada dua jam lebih sebelum pengumuman lomba desain, kau mau berjalan-jalan di
KIU?”
Satu kali. Anggukan yang mengiyakan jawaban dari
pertanyaan Sasuke.
.
.
.
.
Enam puluh orang berkumpul di dalam aula dengan wajah
tegang. Bagaimana mungkin tidak tegang? Kurang dari lima menit lagi, sederet
pernyataan yang akan disebutkan oleh pemuda berambut coklat panjang—perwakilan
panitia—akan menentukan berhasil-tidaknya mereka merebut gelar jawara, dan
sampai sekarang, si pemuda sama sekali tidak mengucapkan apa-apa, hanya menatap
wajah-wajah para peserta lomba dengan tatapan datar.
Lama sekali.
Sasuke dapat merasakan bahwa gadis di sebelahnya agak
gugup. Atau antusias. Entahlah, yang jelas, tubuh gadis itu sedikit gemetar.
—dan sejujurnya, ia juga penasaran dengan hasil lomba
itu. Lebih tepatnya penasaran apakah ia yang akan menang taruhan, atau gadis
itu.
Lama, baru Neji mulai berbicara.
“Baiklah, saya tahu kalian semua sudah penasaran dengan
hasil lomba desain,” kata pemuda itu, tatapannya tampak berwibawa.
Sasuke mencibir mendengar kata-kata Neji. Yang membuat
peserta penasaran kan dia yang diam
lama di atas podium.
“Langsung saja, posisi ketiga diraih oleh—”
Tubuh gadis berambut sugarplum
di sisinya menegang.
“—Iwa University.”
Sebuah kanvas berukuran 90 x 60 yang diletakkan dalam
posisi lanskap menampilkan wajah manusia yang di-blur, dengan alat injeksi sebagai fokus utamanya. Warna-warna
monokrom menguasai permukaan kanvas, digradasikan dengan warna abu-abu yang
serasi. Tema ‘Say No to Drugs’ lagi-lagi mencuri perhatian juri.
“Bagus sekali,” gumam gadis itu tiba-tiba, membuat Sasuke
menoleh. Wajah Sakura tampak serius mengamati poster yang menjadi peringkat
ketiga itu, ia menggigit bibirnya.
Sebelah alis Sasuke terangkat. Well, ia tidak terlalu mengerti di mana letak sisi ‘bagus’ yang
dikomentari Sakura tadi.
Tangan gadis itu tiba-tiba bertaut, tampak agak gemetar.
Sasuke semakin bingung karenanya.
“Ada apa?” tanya Sasuke heran. Tentu saja ia bingung
mengapa tiba-tiba kedua tangan Sakura gemetar, terlebih lagi karena gadis itu
mendadak bungkam. Ada apa sebenarnya?
“...” Gadis itu semakin mencengkram tangannya sendiri
erat-erat. “... Entah mengapa, aku merasa takut. Karya itu—” ia menunjuk poster
pemenang ketiga, “—memiliki komposisi yang luar biasa.” Kening Sasuke
mengernyit, bingung. “Bagaimana jika Suna benar-benar kalah?” Ia menggigit
bibirnya lagi. “Tadi aku memberikan ide aneh pada Shimura-senpai dan Aburame-senpai,
dan aku bilang ‘serahkan saja padaku’. Bagaimana kalau—”
“—kita belum tahu, kan?” Sasuke memotong kata-kata
Sakura, membuat gadis itu mendongak kaget. “Dan lagi,” ia menambahkan, “bila
Suna kalah, kau yang harus mengikuti
permintaanku.”
Gadis itu memamerkan cengirannya, kelihatannya agak lebih
antusias. “Kalau begitu, Suna pasti menang.”
Entah dari mana kepercayaan diri itu, yang jelas, kini
Sakura merasa sedikit lebih optimis untuk menunggu hasil lomba. Masih ada
kesempatan di antara pemenang kedua dan juara pertama, bukankah begitu?
“Pemenang kedua,” Neji melanjutkan, “adalah dari—”
Sakura menahan napas, jantungnya berdebar-debar kencang. Semoga Suna. Semoga Suna. Semoga Suna...
Seorang gadis berambut pirang yang dikuncir empat masuk
ke area panggung sambil membawa sebuah kanvas yang ditutupi oleh selubung kain
putih, berdiri di tengah-tengah. Perlahan-lahan, gadis itu menarik selubung
kain tersebut, mepertunjukkan lukisan di baliknya.
Slow motion.
Sakura menahan napas.
Kanvas portrait
itu menampilkan seorang anak kecil dan seorang wanita muda bergandengan tangan
sambil memakai payung putih, dengan angle
dari sebelah belakang. Anak kecil itu sedikit mengangkat kepalanya, memandang
sang ibu, dan sang ibu membalas dengan senyuman. Latar belakang hasil gradasi
abu-abu muda dan putih yang membentuk suasana hujan membuat atmosfir poster
tersebut menjadi lebih terasa. Pada bagian sebelah kiri atas tertulis, ‘Start
the Peace from Your Family’.
Sakura menelan ludah.
“—Suna University of Arts!”
Gadis itu langsung menjerit kencang, entah dalam bahasa
apa. Kedua rekan satu timmnya ikutan melonjak-lonjak—bayangkan saja seorang
Aburame Shino kegirangan; OOC.
Pemenang kedua... Suna University of Arts. Benar kan?
Tiba-tiba Sakura menoleh ke arah Sasuke yang diam saja
melihat ketiga mahasiswa Suna itu kegirangan. “Sasuke-kun?”
“Hn?”
“Suna menang—aku
menang.” Mata emerald-nya
mengerling jenaka, seolah memiliki maksud tersembunyi.
Oh. Taruhan itu.
Sasuke menghela napas pelan. “Jadi, kau mau apa?”
“Hmm...” Gadis itu tampak berpikir. Ibu jarinya menempel
di dagu. “Bagaimana bila kau pergi denganku besok?”
.
.
.
.
From: Uchiha Sasuke
Baiklah, aku bisa setelah pukul 2 siang
.
.
To: Uchiha Sasuke
Masih mengawas pertandingan, eh?
.
.
From: Uchiha Sasuke
Hn.
.
.
To: Uchiha Sasuke
Maaf mengganggumu, kalau begitu.
Apa sebaiknya lain kali saja?
.
.
From: Uchiha Sasuke
Tidak apa-apa. Sampai besok.
.
.
.
.
Gadis itu meraih boneka teddy bear besarnya, kemudian memeluknya erat-erat pada abdomennya.
Besok ia akan pergi berkencan dengan Uchiha Sasuke—ia tidak bilang berkencan,
baiklah, pergi bersama Uchiha Sasuke.
Dan ia sangat bahagia.
.
.
.
.
.
Hei, takdir, sudah lelahkah engkau mempermainkan kami?
.
.
.
.
tbc








0 komentar:
Posting Komentar