RSS

[Chapter 6] Ugly Girl Under The Raindrops




UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto

mysticahime™
© 2011
.
.
.
Tiga puluh menit lebih telah berlalu semenjak dering bel pertanda lomba dimulai berbunyi. Puluhan peserta pertandingan persahabatan yang diadakan Konoha International Univesity kini tampak memenuhi permukaan lantai aula, masing-masing sibuk dengan pencurahan kreativitas kelompok. Mencorengkan lusinan warna cat, menggradasikan komposisi warna yang ada, menggoreskan sketsa dengan cekatan—apapun, agar kreasi poster itu terwujudkan.

Di antara kumpulan seniman-seniman itu, tampaklah tiga sosok perwakilan Suna University of Arts—satu-satunya universitas yang memiliki kualitas pendidikan seni yang mampu menyaingin KIU. Aburame Shino, Shimura Sai, dan Haruno Sakura. Ketiganya tampak serius mengerjakan poster yang merupakan hasil brainstorming mereka Jumat malam kemarin. Saking seriusnya, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa bagian-bagian tubuh mereka sudah ternodai oleh warna-warni cat minyak.

“Umm,” Sakura sedikit menjauhkan diri, mengernyitkan hidung karena bau tiner yang menguar di udara. “Warna cyan itu terlalu tua, Aburame-senpai. Agak mirip tosca, kurasa.”

Sang pemuda berkacamata hitam—Shino—mengamati warna yang baru ia oleskan pada tepian kanvas. Ia menggigit bibirnya sejenak sebelum mencampurkan warna putih pada palet cat yang hampir penuh itu.

Sai yang sedari tadi asyik melukis poin utama poster melirik kedua rekannya. Shino seperti biasa, tampak prima dan dengan piawai mengatur komposisi warna cat minyak. Mengingat Shino menggeluti bidang desain interior, sudah jelas ia memiliki sense warna tersendiri.

Tatapan Sai beralih pada Sakura.

Gadis itu tengah sibuk memulas tepian poster agar terlihat alami—tidak dengan kuas, ia malah mengkomposisikan warna dengan jari-jemarinya. Dan hasilnya luar biasa.

Pemuda itu tersenyum.

Kali ini, ia tidak akan berjuang sendiri. Ia punya dua rekan yang hebat.

.
.
.
.

WHOAAAAAAAA!!

Priiiiittt...

Peluit berbunyi nyaring pertanda babak penentuan pertandingan voli dalam rangka pertandingan persahabatan yang diadakan oleh Konoha International University telah selesai. Pertandingan sengit itu berakhir dengan 2 – 1 untuk Oto Daigaku—menang tipis dengan skor 21 – 20 dari Institut Kirigakure—setelah lima kali melakukan deuce. Pemain kedua tim bersalaman satu sama lain sebelum kembali ke bangku masing-masing, bercucuran keringat namun tetap menjunjung tinggi sportivitas antar regu.

Uchiha Sasuke mengusap peluh yang menempel di keningnya dengan punggung tangan. Berada di bawah terik matahari selama hampir satu jam demi melihat jalannya pertandingan voli bukanlah cara terbaik untuk menghabiskan waktu, karena—tentu saja—ia lebih memilih berada di dalam aula untuk melihat jalannya lomba desain. Tidak panas dan berdebu. Selain itu, ia bisa duduk di kursi khusus panitia. Enak, bukan? Kalau saja bukan karena ingin menghindari ceramah Hyuuga Neji mengenai betapa Ketua Senat hanya ingin bersantai-santai saja, ia sudah melakukan hal itu dari tadi.

Neji bisa bersikap sangat menyebalkan bila perlu.

Sayangnya, Sasuke sedang tidak memerlukan sikap menyebalkan itu.

“Ketua.” Seseorang memanggil namanya, membuat Sasuke menolehkan kepalanya.

“Hn?” Ditatapnya calon lawan bicaranya. Seorang gadis, entah siapa. Ingatan Sasuke memang payah dalam hal mengingat orang—terlebih lagi orang-orang tidak penting yang hanya sekilas lewat dalam kehidupannya.

“Wakil Ketua Hyuuga bilang, sekarang waktunya Ketua mengawasi pertandingan lain.” Rupanya gadis itu pembawa pesan dari Neji.

Ctek.

Empat tanda siku muncul di kepala Sasuke—seandainya saja ini anime atau manga. Kenyataannya, tidak benar-benar muncul.

Sasuke mendengus sebal, tidak terlalu kentara. Sebenarnya, yang ketua itu ia atau Neji? Mengapa yang memberi perintah selalu saja Neji?

Hubungan keduanya tak pernah membaik.

“Hn.” Tanpa banyak bicara, pemuda itu melangkah pergi. Meninggalkan lapangan yang dipenuhi pancaran sinar matahari. Meninggalkan si pembawa pesan yang terbengong-bengong.

.
.
.
.

Satu jam lebih telah berlalu.

Sakura meregangkan tubuhnya yang mulai kaku karena lama tidak berubah posisi. Diamatinya poster yang sudah mulai jadi itu dengan kedua matanya.

Hmm? Rasanya ada yang aneh.

“Shimura-senpai,” bisiknya pelan. Sai yang sedari tadi sibuk mewarnai objek utama poster mengangkat sedikit wajahnya—tidak benar-benar melihat wajah gadis itu.

“Apa?”

“Ini,” —gadis itu mengacungkan telunjuknya, sedikit menyentuh permukaan kanvas yang sudah setengah diwarnai dengan warna cyan— “entah mengapa aku merasa ada yang ganjil pada bagian ini.”

Selama beberapa detik, Sai mengamati bagian yang ditunjuk Sakura. Pemuda itu menggigit bibirnya, menimbang-nimbang.

“Kurang cocok, ternyata,” putusnya kemudian, membuat Shino mendongak dari pekerjaannya.

“Apa yang kurang cocok, Shimura?” tanyanya, tanpa nada—seperti biasa.

“Ini.” Sai ikut menunjuk bagian yang tadi ditunjuk Sakura. “Rasanya... warna cyan tidak cocok dengan image hujan.”

“Oh,” jawab Shino. “Lalu, apa yang akan kita lakukan? Kurasa, tidak akan ada cukup waktu untuk membuat ulang poster ini,” —ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya— “satu setengah jam lagi waktunya habis.”

Ketiganya diam sesaat, berpikir keras. Membuat sketsa saja sudah menghabiskan waktu hampir satu jam. Bila mereka mengulang poster itu, sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan didiskualifikasi karena tidak bisa menyelesaikan poster sebelum waktu yang ditentukan habis.

—sebenarnya tidak juga.

Ada cara lain untuk menanggulangi masalah itu, dan Sakura mendapatkan jawabannya.

Ano, senpaitachi,” gumam gadis itu ragu-ragu. Ia memilin-milin ujung rambutnya dengan gugup.

“Ya?”

“Rasanya aku... punya ide.”

Dengan jari-jarinya, ia memberi kode kepada Shino dan Sai untuk mendekat, kemudian baru ia menjelaskan rencananya, dengan suara rendah—tentu saja. Kening Sai mengernyit. Shino mengangguk-angguk mengerti.

“Bagus,” puji Shino, lagi-lagi dengan nada datar.

“Ayo.” Sai mengajak kedua rekannya untuk kembali mengerjakan poster itu.

Ketiganya kembali memusatkan konsentrasi pada pekerjaan mereka. Hanya saja, kali ini Sakura-lah yang menggarap bagian latar belakang. Shino beralih membantu Sai, menebalkan warna-warna yang ada sehingga tampak lebih hidup.

Saat sedang serius memulas warna untuk melapisi warna cyan pada permukaan kanvas, Sakura merasakan sesuatu yang agak janggal di udara. Mengernyitkan kening, ia mengangkat wajah, berusaha mencari tahu penyebab rasa aneh itu.

Dan kedua mata emerald-nya bertabrakan dengan sepasang obsidian milik Uchiha Sasuke—yang juga sedang menatapnya.

.
.
.
.

Seorang ketua lebih berkuasa daripada wakil ketua, kan?

Kata-kata itu terus menari-nari dalam benak Uchiha Sasuke selama ia berjalan dari lapangan menuju lokasi pertandingan selanjutnya.

Ya, benar. Ketua memang lebih berkuasa, tetapi dalam kasusnya ini, sang wakil ketua lebih tua dari dirinya. Dan bukankah seorang junior harus patuh terhadap seniornya?

Dilema.

Kedua kakinya melangkah tanpa arah, dan saat tersadar, Sasuke menemukan dirinya tengah berdiri di depan pintu aula tempat diadakannya lomba desain.

Satu kali, dua kali. Ia mengerjapkan matanya dengan bingung.

Hei, mengapa kedua kakinya membawa dirinya ke sini? Memang ia belum melihat keadaan lomba desain, tapi ia juga belum menilik keadaan lapangan futsal.

—apa salahnya?

Sasuke membulatkan tekad untuk mendorong pintu itu dan masuk ke dalam. Melihat pertandingan futsal sih bisa nanti, toh pertandingannya masih ada beberapa untuk hari ini. Sedangkan lomba desain? Mm, pertandingannya hanya hari ini saja, itu pun akan berakhir kurang dari dua jam lagi.

Jadi, ia masuk.

Udara sejuk menyapu permukaan kulitnya tatkala ia melewati pintu aula. Tentu saja, ruangan besar itu dilengkapi dengan fasilitas air conditioner untuk menjaga suhu udara agar tetap dingin dan nyaman. Berbeda sekali dengan lapangan voli yang menggunakan teknologi udara alami.

Puluhan mahasiswa tampak serius mengerjakan karya mereka, membentuk kubu-kubu tersendiri yang terdiri dari tiga orang. Namun itu bukanlah hal yang sulit bagi Sasuke untuk menemukan orang yang sedari tadi dipikirkannya.

Gadis itu tampak mencolok, walaupun ia tidak duduk di bagian tengah. Warna rambutnya yang seperti permen kapas membuat dirinya mudah dikenali. Haruno Sakura terlihat serius dengan kuas dan palet cat di tangannya, menggoreskan warna-warna putih yang tergradasi di atas kanvas.

—tanpa sadar pemuda itu tersenyum.

Pandangan matanya tidak bisa beralih dari sosok gadis itu. Sama sekali.

Bahkan ketika gadis itu mengangkat wajahnya dan balas menatapnya.

.
.
.
.

—teeettt.

Bel pertanda berakhirnya waktu pelaksanaan lomba desain telah berbunyi. Suasana tenang yang semula bercokol dalam atmosfir aula luntur, tergantikan oleh kasak-kusuk semua peserta. Ada yang masih sibuk melakukan finishing. Ada yang bangkit dari posisi duduk dan melakukan peregangan. Ada yang membereskan peralatan. Bermacam-macam.

“Selesai,” gumam Sai dengan nada puas. Diamatinya hasil karya mereka bertiga dengan senyum mengembang. Kemudian ia menyerahkan kanvas besar itu ke tangan panitia.

Setelah membereskan alat-alat dan bahan yang mereka gunakan selama melukis, ketiganya beranjak dari tempat mereka dan keluar dari aula, berniat menuju kafeteria KIU—di mana tersedia konsumsi bagi peserta lomba. Break time—dan mereka bertiga memerlukan asupan energi untuk mensubtitusi energi mereka yang terkuras selama lomba tadi.

“Kuharap mereka menyediakan kopi,” kata Sai ketika mereka bertiga berada dalam antrian yang mengarah ke meja konsumsi. Antrian panjang itu tampak didominasi oleh anak-anak KIU sendiri.

“Harus.” Shino menguap dan merentangkan kedua lengannya ke udara. “Minuman terbaik setelah melukis adalah kopi.”

Memandang ke arah kerumunan padat itu, Sai mencibir. “Sebaiknya aku yang mengantri, kalian berdua mencari tempat di mana kita bertiga bisa bersantai-santai sambil menunggu pengumuman lomba nanti. Kalian mau minum apa?”

“Kopi,” jawab Shino singkat, menahan kantuknya.

“Teh saja,” kata Sakura. Pandangan matanya tertuju pada satu titik. “Ano, aku ada urusan sebentar. Permisi.”

Gadis itu cepat-cepat menyingkir, menembus barisan demi barisan dan kemudian menghilang di balik tubuh orang-orang. Sai dan Shino mengangkat bahu.

—sebenarnya tidak seperti itu.

Sakura bukannya sengaja menghilang tanpa sebab. Tadi, saat berbicara dengan Sai dan Shino, ia menangkap sosok Sasuke di antara puluhan entitas yang berada dalam area kafeteria itu. Dan ia memutuskan untuk mendekatinya.

“Hai,” sapa Sakura sambil tersenyum.

Pemuda itu mendongak, kedua mata onyx-nya beradu dengan emerald Sakura. “Hai.”

“Aku tidak menyangka kau mengawasi lomba desain juga.” Sakura mencoba bersikap santai, namun jantungnya sama sekali tidak mau berkompromi. Seolah ada karnaval di dalam rongga dadanya. Berdentum-dentum.

Sasuke meneguk minumannya—segelas air putih. “Kebetulan.”

“Benar, kebetulan.” Ia setuju dengan kata-kata Sasuke. Saat keduanya terdiam, ia berusaha mencari topik pembicaraan yang lain. “Oh ya, terima kasih.”

Sebelah alis Sasuke terangkat. “Untuk?”

“Yang kemarin.” Gadis itu menumpukan beban tubuhnya ke kaki kanan. “Berkat kau, aku mendapatkan ide yang luar biasa untuk poster kami.”

“Oh,” hanya itu respon Sasuke.

“Kuharap, Suna menjadi salah satu pemenang dalam lomba ini—” Gadis itu menutup mulutnya ketika tersadar siapa yang sedang berbicara dengannya. Ketua senat KIU. “—oh, bukan maksudku memintamu untuk memenangkan Suna—eh, maksudku—”

Senyum kecil terulas di bibir Sasuke. “Hei, bagaimana kalau kita bertaruh?”

“Bertaruh apa?” Kedua mata Sakura membulat.

“Bagaimana kalau kita bertaruh soal kemenanganmu?” usulnya dengan nada ringan. “Bila timmu menjadi salah satu pemenang dalam lomba desain, maka kau menang taruhan. Bila tidak—sebaliknya.”

“Setuju.” Sakura menjawab tantangan itu dengan mantap. “Lihat saja nanti, kami akan memenangkan lomba itu. Memangnya kau sudah melihat poster dari Suna?”

“Belum,” jawaban yang di luar dugaan Sakura. “Aku bukan juri.”

Gadis itu mencibir. “Kalau aku benar-benar menang, kau harus menuruti permintaanku.”

“Hn,” jawab Sasuke, memandang ke arah arlojinya. “Masih ada dua jam lebih sebelum pengumuman lomba desain, kau mau berjalan-jalan di KIU?”

Satu kali. Anggukan yang mengiyakan jawaban dari pertanyaan Sasuke.

.
.
.
.

Enam puluh orang berkumpul di dalam aula dengan wajah tegang. Bagaimana mungkin tidak tegang? Kurang dari lima menit lagi, sederet pernyataan yang akan disebutkan oleh pemuda berambut coklat panjang—perwakilan panitia—akan menentukan berhasil-tidaknya mereka merebut gelar jawara, dan sampai sekarang, si pemuda sama sekali tidak mengucapkan apa-apa, hanya menatap wajah-wajah para peserta lomba dengan tatapan datar.

Lama sekali.

Sasuke dapat merasakan bahwa gadis di sebelahnya agak gugup. Atau antusias. Entahlah, yang jelas, tubuh gadis itu sedikit gemetar.

—dan sejujurnya, ia juga penasaran dengan hasil lomba itu. Lebih tepatnya penasaran apakah ia yang akan menang taruhan, atau gadis itu.

Lama, baru Neji mulai berbicara.

“Baiklah, saya tahu kalian semua sudah penasaran dengan hasil lomba desain,” kata pemuda itu, tatapannya tampak berwibawa.

Sasuke mencibir mendengar kata-kata Neji. Yang membuat peserta penasaran kan dia yang diam lama di atas podium.

“Langsung saja, posisi ketiga diraih oleh—”

Tubuh gadis berambut sugarplum di sisinya menegang.

“—Iwa University.”

Sebuah kanvas berukuran 90 x 60 yang diletakkan dalam posisi lanskap menampilkan wajah manusia yang di-blur, dengan alat injeksi sebagai fokus utamanya. Warna-warna monokrom menguasai permukaan kanvas, digradasikan dengan warna abu-abu yang serasi. Tema ‘Say No to Drugs’ lagi-lagi mencuri perhatian juri.

“Bagus sekali,” gumam gadis itu tiba-tiba, membuat Sasuke menoleh. Wajah Sakura tampak serius mengamati poster yang menjadi peringkat ketiga itu, ia menggigit bibirnya.

Sebelah alis Sasuke terangkat. Well, ia tidak terlalu mengerti di mana letak sisi ‘bagus’ yang dikomentari Sakura tadi.

Tangan gadis itu tiba-tiba bertaut, tampak agak gemetar. Sasuke semakin bingung karenanya.

“Ada apa?” tanya Sasuke heran. Tentu saja ia bingung mengapa tiba-tiba kedua tangan Sakura gemetar, terlebih lagi karena gadis itu mendadak bungkam. Ada apa sebenarnya?

“...” Gadis itu semakin mencengkram tangannya sendiri erat-erat. “... Entah mengapa, aku merasa takut. Karya itu—” ia menunjuk poster pemenang ketiga, “—memiliki komposisi yang luar biasa.” Kening Sasuke mengernyit, bingung. “Bagaimana jika Suna benar-benar kalah?” Ia menggigit bibirnya lagi. “Tadi aku memberikan ide aneh pada Shimura-senpai dan Aburame-senpai, dan aku bilang ‘serahkan saja padaku’. Bagaimana kalau—”

“—kita belum tahu, kan?” Sasuke memotong kata-kata Sakura, membuat gadis itu mendongak kaget. “Dan lagi,” ia menambahkan, “bila Suna kalah, kau yang harus mengikuti permintaanku.”

Gadis itu memamerkan cengirannya, kelihatannya agak lebih antusias. “Kalau begitu, Suna pasti menang.”

Entah dari mana kepercayaan diri itu, yang jelas, kini Sakura merasa sedikit lebih optimis untuk menunggu hasil lomba. Masih ada kesempatan di antara pemenang kedua dan juara pertama, bukankah begitu?

“Pemenang kedua,” Neji melanjutkan, “adalah dari—”

Sakura menahan napas, jantungnya berdebar-debar kencang. Semoga Suna. Semoga Suna. Semoga Suna...

Seorang gadis berambut pirang yang dikuncir empat masuk ke area panggung sambil membawa sebuah kanvas yang ditutupi oleh selubung kain putih, berdiri di tengah-tengah. Perlahan-lahan, gadis itu menarik selubung kain tersebut, mepertunjukkan lukisan di baliknya.

Slow motion.

Sakura menahan napas.

Kanvas portrait itu menampilkan seorang anak kecil dan seorang wanita muda bergandengan tangan sambil memakai payung putih, dengan angle dari sebelah belakang. Anak kecil itu sedikit mengangkat kepalanya, memandang sang ibu, dan sang ibu membalas dengan senyuman. Latar belakang hasil gradasi abu-abu muda dan putih yang membentuk suasana hujan membuat atmosfir poster tersebut menjadi lebih terasa. Pada bagian sebelah kiri atas tertulis, ‘Start the Peace from Your Family’.

Sakura menelan ludah.

“—Suna University of Arts!”

Gadis itu langsung menjerit kencang, entah dalam bahasa apa. Kedua rekan satu timmnya ikutan melonjak-lonjak—bayangkan saja seorang Aburame Shino kegirangan; OOC.

Pemenang kedua... Suna University of Arts. Benar kan?

Tiba-tiba Sakura menoleh ke arah Sasuke yang diam saja melihat ketiga mahasiswa Suna itu kegirangan. “Sasuke-kun?”

“Hn?”

“Suna menang—aku menang.” Mata emerald-nya mengerling jenaka, seolah memiliki maksud tersembunyi.

Oh. Taruhan itu.

Sasuke menghela napas pelan. “Jadi, kau mau apa?”

“Hmm...” Gadis itu tampak berpikir. Ibu jarinya menempel di dagu. “Bagaimana bila kau pergi denganku besok?”

.
.
.
.

From: Uchiha Sasuke
Baiklah, aku bisa setelah pukul 2 siang
.
.
To: Uchiha Sasuke
Masih mengawas pertandingan, eh?
.
.
From: Uchiha Sasuke
Hn.
.
.
To: Uchiha Sasuke
Maaf mengganggumu, kalau begitu.
Apa sebaiknya lain kali saja?
.
.
From: Uchiha Sasuke
Tidak apa-apa. Sampai besok.
.
.
.
.
Gadis itu meraih boneka teddy bear besarnya, kemudian memeluknya erat-erat pada abdomennya. Besok ia akan pergi berkencan dengan Uchiha Sasuke—ia tidak bilang berkencan, baiklah, pergi bersama Uchiha Sasuke.

Dan ia sangat bahagia.

.
.
.
.
.

Hei, takdir, sudah lelahkah engkau mempermainkan kami?

.
.
.
.

tbc

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2009 mysticahime™. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy
Presented by Blogger Templates with sponsorship from Poems