UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
mysticahime™
© 2011
.
.
.
Semuanya telah diatur semenjak manusia diciptakan...
.
.
.
Sepanjang mata kuliah fotografi hari ini, Haruno Sakura
tidak dapat mencurahkan konsentrasinya sedikit pun. Bagaimana tidak? Universitas
yang mengadakan lomba desain yang akan ia ikuti bersama Sai dan Shino adalah
universitas tempat Uchiha Sasuke menuntut ilmu! Sakura menggeleng-gelengkan
kepalanya, membuat rambut cotton candy-nya
yang disatukan dalam sebuah ponytail
melambai-lambai sesuai dengan gesturnya. Oh Tuhan, Sakura. Apa yang kau
pikirkan saat ini?
Gadis itu kembali menggerak-gerakkan fokus kamera
SLR-nya, mencari objek yang bagus untuk diabadikan dalam lensa kameranya. Saat
ini Sakura tengah berada di sebuah taman—yang merupakan area khusus bagi
anak-anak DKV untuk berburu model. Untuk kesekian kalinya ia mencari sesuatu
yang tampak unik dan artistik untuk dijadikan figur tugasnya, namun ia tak
kunjung menemukan apa yang dicarinya. Kesal, gadis bermata emerald itu menutup lensa kameranya.
“Piggy!” Sakura
menemukan sahabatnya itu di balik semak-semak dan menyerukan namanya. Yamanaka
Ino—gadis berambut pirang panjang yang dikeriting itu—mendongak dari kameranya.
Tampaknya ia sedang mengambil gambar kumbang yang menempel di dekat akar pohon ginko biloba yang terletak di belakang
semak belukar.
“Hei.” Gadis itu nyengir, memamerkan sederetan giginya
yang putih dan rapi, kemudian kembali ke balik kameranya. “Ada apa, Forehead? Sudah menemukan objek untuk tugas?”
Sakura menggeleng pelan. “Entah kenapa aku sama sekali
tidak berminat memotret apapun.”
Jpret!
Ino bangkit dari posisi setengah berjongkoknya, tangan
kanannya mencekal kamera hitam berharga ratusan ribu yen itu, menatap
sahabatnya dengan kedua mata aquamarine-nya
yang berkilauan. Keningnya berkernyit. “Biasanya fotografi merupakan mata
kuliah favoritmu, kan?”
Kedua bahu Sakura terangkat. “Aku sendiri tidak mengerti.
Tidak biasanya aku seperti ini—cemas...”
“Hei, Forehead~”
Gadis berambut pirang panjang itu mengguncang bahu Sakura. “Tumben sekali! Hei,
apakah ini masalah cowok?”
Cowok.
Serta-merta pikiran Sakura teralih dari dunia nyata. Ia
mengingat dengan jelas setiap pertemuannya dengan seorang Uchiha Sasuke
beberapa minggu yang lalu. Bagaimana kekakuan yang terbentuk saat pertama kali
mereka makan bersama—tepatnya ia makan dan Sasuke menyesap secangkir macchiato panas. Bagaimana mereka
berkenalan. Bagaimana pemuda itu menatapnya. Bagaimana ia mengingat setiap
lekuk wajah Sasuke, kedua matanya yang tajam dan memesona, bentuk bibirnya
yang—
“—entahlah.” Akhirnya Sakura memutuskan untuk menjawab
pertanyaan Ino dengan kata itu. Gadis berambut pink itu melangkahkan kakinya yang terbungkus celana jeans dan menghempaskan dirinya pada
bangku kayu yang terletak tak jauh dari pohon raksasa tempat Ino memotret
kumbang. Ino berlari-lari kecil menyusulnya.
“Apa yang ada di dalam kepalamu, Sakura?” tanya Ino
ketika ia sudah duduk di sisi Sakura.
Sakura tidak menjawab, ia hanya terdiam dan menatap nanar
pada permukaan tanah yang tertutup oleh rumput dan bebatuan.
Kami-sama, inikah
yang dinamakan permainan takdir?
.
.
.
Uchiha Sasuke menggerutu sembari menumpuk berkas-berkas
yang baru saja selesai ia bubuhi cap dan tanda tangannya. Pemuda berambut hitam
itu sama sekali tidak menyangka bahwa pekerjaan sebagai ketua senat akan
sedemikian merepotkan. Jika tahu begitu, ia tidak akan mau menerima posisi
kepala itu ketika Itachi lulus.
“Berhentilah mendengus, Sasuke.”
Sasuke melirik Hyuuga Neji dengan tatapan sebal.
Terkadang wakil ketuanya yang sedikit perfeksionis agak mengganggunya. Neji
seringkali mencela Sasuke, dengan kata-kata yang singkat-padat-dan jelas, tentu
saja. Dan hal ini membuat Sasuke menjadi lebih keki lagi.
“Aku tidak mendengus.” Pandangan Sasuke kembali beralih
pada peralatan ‘pengesahan’ berkas-berkas mengenai pertandingan persahabatan
itu.
“Aa, terserah sajalah.” Neji yang tengah bersedekap
menatap ke udara luar, menyapukan pandangan dari sepasang mata lavender-nya ke sapuan gradasi warna biru
di atas sana.
“Hn.”
Hening.
Sasuke berusaha menenggelamkan dirinya ke dalam lingkup
lembaran-lembaran HVS berisi undangan resmi perlombaan yang akan dilaksanakan satu
minggu lagi, namun pikirannya sama sekali tidak mau berkompromi dengan sang
empunya. Alam bawah sadarnya berkali-kali memutarkan rekaman kejadian makan
malam mereka berdua beberapa minggu yang lalu. Tsk, ternyata seorang Uchiha
Sasuke tidak bisa melupakan gadis menyebalkan itu.
“Bisakah kau fokus pada pekerjaanmu sedikit saja, Tuan Muda
Uchiha?” Lagi-lagi terdengar nada mengejek dalam suara Neji. Sepasang onyx milik Sasuke segera meluncurkan
tatapan sinis—pertanda ia tidak menyukai ucapan Neji. Pasangan ketua dan wakil
ketua senat itu seringkali bersitegang hanya karena masalah sepele.
“Urus tugasmu sendiri,” balas Sasuke sengit. Neji balas
mendengus—sepasang mata lavender itu
kembali menatap lembaran-lembaran HVS yang akan diserahkannya ke dosen
pembimbing guna meminta persetujuan.
Suasana di ruangan itu bertambah keruh, membuat hari yang
muram ini semakin keruh. Tidak ada suara lagi yang menggaung di dalamnya,
sesekali hanya terdengar bunyi gesekan kertas, juga hembusan nafas.
“Ada yang ingin makan siang?”
Pertanyaan Gaara berhasil memecah keheningan
itu—setidaknya sedikit mencairkan suasana kaku yang terpeta di sana.
“Tidak,” jawab Neji tanpa mengangkat kepalanya. “Ada
beberapa bagian dari lembar persetujuan ini yang harus... direvisi.” Pemuda
berambut walnut panjang sepunggung
itu bangkit berdiri dari tempat duduknya dan menuju meja komputer yang berada
di sudut ruangan. Dinyalakannya CPU,
kemudian ia menghidupkan monitor.
Gaara melirik Sasuke. Pemuda berambut raven itu tampak berusaha keras menekuni
pekerjaannya.
“Sepertinya hari ini aku akan makan sendirian,” gumamnya
pelan sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
Suna University of Arts, jam makan siang
Suasana kafeteria hari ini cukup lengang ketika Sakura
melangkahkan kakinya ke dalam ruangan besar yang dispesifikasikan menjadi ruang
makan bersama itu. Tentu saja, hari ini banyak mahasiswa Suna yang memutuskan
untuk melewatkan jam makan siang mereka dan mengurung diri di masing-masing
studio—mempersiapkan karya terbaik mereka untuk diikutkan lomba desain yang
diadakan oleh Konoha International University satu minggu lagi. Oleh karena
itu, para peserta mencurahkan segenap jiwa seni mereka ke dalam karya tersebut,
menghablurkan diri mereka ke dalam poster yang akan dilombakan itu.
Tidak halnya dengan Sakura. Sampai detik ini, gadis
bermata emerald itu sama sekali belum
menemui orang-orang yang akan menjadi rekan sekelompoknya. Tentu saja tidak
mungkin ia mencari Sai dan Shino sendiri. Mereka berdua adalah senior, dan ada
peraturan tak tertera bahwa mahasiswa tingkat awal tidak boleh memasuki
teritorial mahasiswa tingkat dua ke atas terkecuali mendapatkan izin.
Dan jadilah Sakura terdampar di kafeteria seorang diri.
Gadis itu sama sekali tak ambil pusing. Setelah
meletakkan tas selempangnya di atas meja favoritnya—di sebelah jendela, tentu
saja—gadis itu segera menyerbu counter
yang menyajikan aneka makanan. Absennya Ino di jam makan siang sama sekali
tidak mengganggu Sakura. Malah, ia senang sekali bisa mengganyang setiap
makanan yang diinginkannya sesuka hati, tanpa perlu merasa kesal akan ceramah
dari sahabatnya yang gila diet mengenai berapa ratus kalori yang terkandung
dalam sepotong cake berlapiskan whipped cream, serpihan cokelat, dan
potongan cherry untuk dessert.
Belasan jenis penganan yang bisa digunakan untuk
pengganjal perut terpampang pada etalase counter
kafeteria, ditata sedemikian apiknya. Saliva Sakura terbit ketika kedua bola
mata zamrudnya menangkap makanan-makanan itu. Gadis berambut kuncir itu lalu
mulai menyibukkan dirinya dengan memilih-milih makanan yang akan disantapnya,
menggeser bakinya di sepanjang rel berjalan yang diletakkan di depan etalase.
Saat tengah asyik menimbang-nimbang pilihan makanan penutup yang akan
dinikmatinya, sebuah tepukan mendarat di pundak Sakura.
“Ada ap—Shimura-senpai?”
Gadis itu terkejut sekali ketika mengetahui bahwa pemilik tangan yang menyentuh
bahunya adalah milik Shimura Sai, mahasiswa tingkat dua divisi seni
lukis—sekaligus orang yang akan menjadi rekan setimnya dalam lomba poster yang
diadakan oleh KIU.
Sakura sedikit antusias—mengingat sebenarnya sangat sulit
menemui Sai dan Shino karena mereka berbeda angkatan dan dibatasi oleh
peraturan-tak-kasat-mata itu. Setidaknya, kali ini ia tidak harus terkena
tatapan mata mencela dari para senior karena ia berani memasuki ‘daerah
kekuasaan’ mahasiswa tingkat lanjutan.
“Hai, Haruno-san,”
sapa Sai dengan ramah. Pemuda berkulit pucat itu tersenyum pada Sakura yang
canggung. “Kudengar kau akan mengikuti lomba poster tim bersamaku dan Shino,
ya?”
“Ku-kurasa begitu, eh, Shimura-senpai...” Entah mengapa, mendadak Sakura merasa gugup, terutama
setelah menatap sepasang iris onyx
milik Sai. Matanya sangat mirip dengan
Sasuke! pikir Sakura.
“Jangan memanggilku dengan sebutan senpai,” jawab Sai—masih dengan senyuman manisnya. “Kita hanya
berbeda satu tahun, sebutan senpai
hanya membuatku merasa tua.”
“Baiklah, Shimura-kun.”
Sakura mengalihkan pandangannya pada aneka dessert
yang berjajar di balik lembaran kaca transparan. “Sebenarnya aku ingin kita
mulai berdiskusi soal pembuatan poster, namun—kau tahu—ada larangan tak
tertulis yang menyatakan bahwa—”
“—mahasiswa tingkat awal tidak boleh masuk ke wilayah
mahasiswa yang berada di tingkat yang lebih atas?” Sai menyela kata-kata
Sakura, membuat pemilik mata jade itu
terperangah. “Karena itulah aku berada di sini. Tidak ada aturan bahwa
mahasiswa dengan tingkat yang lebih tinggi tidak boleh mengunjungi mahasiswa
tingkat awal, kan?”
Gadis itu menggeleng—kemudian memutuskan untuk mengambil
puding buah persik sebagai hidangan penutup makan siangnya.
“Ah,” Sai seolah tersadar sesuatu. “Kau akan makan siang,
ya? Bagaimana bila aku makan siang bersamamu? Mungkin kita bisa membahas banyak
mengenai poster itu.”
Sakura yang baru saja akan beranjak dari antrian makan
siang mengalihkan pandangannya ke langit-langit sesaat—berpikir—kemudian tersenyum
manis. “Tentu saja.”
Dan beberapa menit selanjutnya, kedua insan itu tampak
tengah duduk di dekat jendela, berhadap-hadapan. Dua nampan terletak di depan
mereka—milik Sai: spageti neapolitan,
buah apel, dan jus jeruk; milik Sakura: kentang goreng, taco, garlic bread,
beberapa potong chicken nugget,
sekotak nacchos, soda kalengan, dan
puding buah persik.
“Jadi...” Sai mengeluarkan garpu plastiknya dari lilitan
kertas tisu, “.... poster seperti apa yang akan kita buat?”
“Mmm...” —crrttt—
Sakura menyobek kemasan saus tomat dan menuangkannya di atas garlic bread, kemudian mulai menggigit
roti kuning bertabur wijen itu. “Kurasa tema anti narkoba atau sejenisnya sudah
sangat umum.”
“Hn.” Satu suapan besar spageti mampir di rongga mulut
Sai. Pemuda itu mengunyah-ngunyah makan siangnya, sesekali lidahnya menjilati
bibirnya yang belepotan saus. “Memang
umum.”
“Aku lebih suka sesuatu yang agak umum, namun kita
tampilkan dengan cara yang agak berbeda,” kata gadis itu seraya menatap mata
Sai. “Sesuatu yang... orisinil. Bagaimana menurutmu, Shimura-kun?”
Suapan spageti lagi. “Setuju.”
“Masalahnya” —Sakura menggaruk-garuk rambut merah jambu
kuncirnya yang tidak terasa gatal— “itu
apa?”
Sai mengamati gadis di hadapannya—yang sedang bergulat
dengan kentang goreng dan chicken nugget
dengan ganas. “Bukankah seharusnya kau yang memiliki berjuta ide untuk poster?
Kurasa, membuat poster adalah ‘makanan sehari-hari’ bagi mahasiswa desain
komunikasi visual sepertimu.”
“Yeah,” Sakura
mengunyah sepotong kentang goreng, “mahasiswa
DKV tingkat dua ke atas.” Seorang Shimura Sai ternyata sama sekali tidak
membantu.
Pemuda berambut hitam cepak itu menggaruk pipinya dan
memasang senyum manis tanpa dosa. “Aku lupa... Entah mengapa aku merasa kau
seangkatan denganku—banyak gadis jelek sepertimu di angkatanku.”
Dan mendadak Sakura ingin melemparkan seluruh isi
nampannya pada pemuda yang duduk di hadapannya—kalau saja ia tidak segera sadar
bahwa ia masih sangat kelaparan.
“Jangan berwajah seram begitu,” ia berusaha menenangkan
Sakura. “Kau tambah jelek bila memasang wajah mengerikan seperti itu. Damai,
damai...”
Sakura yang semula memelototi seniornya itu mendadak
tersentak.
Damai?
Bagaikan kilat menyambar, ilham datang begitu saja. Wajah
Sakura langsung berubah sumringah saat mengatakannya. “Peace.”
Kening pucat di hadapannya berkerut samar. “Peace?”
“Ya.” Gadis itu mengangguk antusias—kentara sekali ia
sangar menyukai idenya sendiri.
“Bagaimana bila tema poster kita adalah peace?
Menurutku, kedamaian adalah sesuatu yang cukup umum untuk diangkat sebagai
objek poster, namun sampai sekarang, rasanya sulit menemukan poster mengenai
ajakan menyebarkan kedamaian yang cukup menarik perhatian...”
Tidak ada reaksi dari Sai—setidaknya untuk beberapa saat.
Sakura sendiri gugup, takut idenya tidak diterima, atau malah dianggap kacangan
oleh seniornya itu. Ia menyesap sedikit minuman sodanya untuk menghilangkan
kegugupan.
Detik demi detik berlalu hingga akhirnya Sai angkat
bicara.
“Aku menyukai idemu, namun aku harus menanyakannya pada Shino,”
ia menyebutkan nama anggota tim mereka yang satu lagi—Aburame Shino dari
jurusan desain interior tingkat dua. “Nanti akan kukirimkan SMS padamu bila
Shino memberikan jawaban. Berapa nomormu?”
Harusnya aku juga menanyakan hal yang sama pada Sasuke waktu itu! batin Sakura setengah menyesal. Dengan lemah, gadis itu mengeluarkan
ponsel lipatnya dari kantong celananya, kemudian memberitahukan nomornya pada
Sai dan menyimpan nomor Sai di telepon genggamnya.
Ah, Sakura, kau memang dipermainkan oleh takdir...
.
.
.
Uchiha Itachi mendongak dari televisi layar datar yang
tengah ditontonnya selama satu jam terakhir. Wajah pria berambut panjang yang
diikat itu sontak berubah ketika melihat sosok Uchiha Sasuke berjalan melewati
ambang pintu dan langsung menuju ke tangga—sama sekali tidak menyapa Itachi.
Kening Itachi mengernyit.
“Sasuke? Tumben sekali kau tidak menyapaku.”
Kata-kata Itachi membuat Sasuke berhenti menaiki tangga.
Pemuda bermata onyx itu menoleh
menatap aniki-nya yang memasang wajah
datar—sama seperti dirinya.
“Tidak perlu.” Pemuda itu kemudian kembali menaiki tangga
dan sesaat kemudian menghilang di balik pintu kamarnya setelah terdengar bunyi BLAM cukup keras.
“Sasuke kenapa, ya? Kurasa ia sedang badmood.” Itachi
menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal sebelum kembali fokus pada acara
yang sedang ditayangkan di saluran televisi kesayangannya. Bingung dengan
tingkah Sasuke.
Di kamar yang didominasi oleh gradasi warna
biru—kamarnya—Sasuke melampiaskan segala kekesalannya. Dengan asal dilemparnya
tas ransel berukuran sedang itu ke atas lantai—tepat mendarat di bawah meja
belajarnya dengan suara brugh.
Selanjutnya giliran jaket parasut berwarna hitam, pemuda berambut emo itu melemparkannya ke atas lemari,
membuat beberapa bagian jaket itu—seperti sebelah lengan dan bagian bawah
jaketnya—menjuntai dari tepian lemari. Kamar yang biasanya rapi itu kini mulai
tampak sedikit berantakan—terutama setelah Sasuke mengacak-acak tempat tidurnya
sendiri.
Laki-laki itu sedang merasa kesal.
Jujur, ia tak pernah menyangka bahwa menjadi ketua senat
di KIU akan semenyebalkan ini. Rasanya, ketika Itachi yang menjadi ketua, semua
lancar-lancar saja. Dalam hati, diam-diam Sasuke mengagumi kakaknya yang satu
itu. Walaupun terkenal playboy dan
suka berhura-hura, namun Itachi selalu dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.
Selain itu, seluruh anggota senat sepertinya loyal pada mantan ketua yang satu
itu. Tidak seperti masa jabatan Sasuke sekarang. Anggota senat cewek kebanyakan
memutuskan bergabung untuk ‘cuci mata’ melihat para KGB, bukannya untuk bekerja
seperti saat Itachi berkuasa dulu.
Dan, KGB?
Sasuke merentangkan kedua lengan dan kakinya di atas
tempat tidur, meregangkan otot-otot anggota geraknya yang serasa akan putus
saking lelahnya.
—Kami-sama,
Itachi sudah lulus musim semi yang lalu, tetapi entah mengapa semua orang masih
menyebutnya, Neji, Gaara, dan Sasuke sendiri sebagai KGB? Dan juga mengapa
rektor mereka ngotot untuk tetap menjadikan sisa anggota KGB sebagai pengurus
senat? Hanya Kami-sama yang tahu.
Hari ini benar-benar naas bagi Sasuke. Wakil ketua senat
saat ini—Hyuuga Neji yang merupakan mahasiswa tingkat tiga—sering sekali
mencela Sasuke, yang sebenarnya membuat Sasuke keki, karena menurutnya ia sama
sekali tidak bersalah.
Hari ini Neji sering sekali menegur Sasuke, entah untuk
alasan apa. Neji bilang, Sasuke banyak mendengus dan sama sekali tidak mau
berkonsentrasi pada pekerjaan senat saat ini—pertandingan persahabatan antar
universitas di Tokyo. Entah apa yang membuat Neji menjadi sentimen pada Sasuke,
padahal sebelum-sebelumnya tidak seperti itu.
“PMS kali?” duga Naruto ketika Sasuke sempat menceritakan hal itu ketika
mereka berjalan ke stasiun bersama-sama. Jawaban yang
membuat Sasuke memutar bola matanya. Tentu saja perkiraan Naruto itu salah
total. Neji kan masih seratus persen laki-laki normal! (Tak bisa dipungkiri,
Sasuke sendiri tahu bahwa Neji pernah sempat menyukai Temari—walau tidak
bertahan lama.)
Pemuda berambut raven
itu tahu pasti alasan mengapa hari ini ia—bila memang benar—banyak mendengus
dan tidak terlalu bisa mencurahkan konsentrasinya pada proyek senat: ia terlalu
memikirkan, apakah seorang Haruno Sakura akan mengikuti lomba desain itu?
Kedua mata Sasuke kini terpejam, menyembunyikan sepasang onyx di balik kelopaknya.
Hhhh... benar-benar hari yang melelahkan...
.
.
.
Tinggal sendirian di kota asing mempunyai tuntutan
tersendiri, salah satunya adalah mengurus diri sendiri tanpa bergantung pada
orang lain. Mengurus kamar sewaan, membayar tagihan, mencuci pakaian dan
perabotan, bahkan memasak! Singkat kata, menjadi ibu bagi diri sendiri.
Setelah hampir satu semester tinggal di Tokyo, Haruno
Sakura menjadi terbiasa hidup mandiri. Bisa dibilang, mengurus keperluan
tinggalnya sudah seperti bernafas—karena sudah terlalu terbiasa. Hanya saja,
ada satu hal yang belum membuatnya terbiasa: memasak sendiri.
Semua orang di Suna University of Arts tahu bahwa Sakura
bukan tipe gadis yang dapat diandalkan untuk memasak. Pernah suatu ketika, saat
masa orientasi yang mewajibkan semua peserta untuk mengikuti acara camping di dekat hutan, gadis berambut sugarplum itu kebagian jatah untuk
memasak makan malam. Dan hasilnya? Tentu saja dapat ditebak: ASIN.
Sejak saat itulah nama Haruno Sakura dihindari bila
universitas akan mengadakan acara memasak.
Namun, meskipun rasa masakannya cenderung abstrak, Sakura
memilih untuk makan penganan buatannya sendiri setiap kali jam makan
(terkecuali waktu di kampus). Mungkin sesekali ia makan di café, tetapi ia lebih sering mencerna masakannya sendiri untuk makan
malam—meskipun setelahnya gadis itu harus minum satu liter air mineral untuk
menghindarkannya dari hipertensi.
Saat ini pun, pemilik iris zamrud itu tengah berada di
dalam salah satu toko swalayan, memilih-milih bahan makanan yang akan diolahnya
menjadi hidangan yang akan mengganjal perutnya sampai pagi. Sakura sedang
menimbang-nimbang apakah ia akan membeli tiga potong daging tuna seharga 870
yen untuk malam ini atau membeli satu paket bahan-bahan sup miso siap pakai seharga
450 yen ketika ponselnya berdering nyaring.
Gadis itu dengan asal meletakkan daging tuna dan paket
sup miso pada rak dan buru-buru menyambar ponsel lipatnya yang rewel itu. Pada
layarnya tertulis nama Sai.
“Konbanwa...”
Sakura mengepit ponsel itu pada sisi kanan dagu dan pundaknya, kembali
memilih-milih antara daging tuna dan paket sup. “Apa apa, Shimura-san?”
“Halo, Haruno. Apa
aku mengganggu?” Terdengar suara Sai di seberang sana.
Sakura menggeleng—walau tidak terlihat oleh Sai. “Tidak.
Aku hanya sedang—mmm... berbelanja.” Gadis itu mencari potongan daging tuna
yang lain, potongan yang lebih besar. “Ada apa?”
“Ini mengenai rancangan poster kita...” Sai terdengar
seolah menarik nafas sejenak. “Shino
menerima usulmu. Kita akan membuat poster dengan tema ‘peace’.”
“Oke...” Dimasukkannya potongan daging tuna terbesar yang
ada di rak, kemudian ia berjalan ke seksi lainnya: toiletries. “Jadi, kapan kita mulai mengerjakan poster itu?”
“Hah? Apa kau tidak tahu?” —Sakura menggeleng,
tentu saja Sai tak bisa melihat gerakan gadis itu— “Untuk kategori kelompok, poster dibuat di tempat lomba. Mungkin untuk
menilai...” Sai diam sejenak, berusaha mencari kata-kata yang tepat, “... kerjasama kelompok?”
“Jadi... kita hanya mempersiapkan konsepnya saja?” tanya
Sakura—kini mengurangi konsentrasinya untuk mendengarkan Sai. Ia memilih-milih
sampo yang biasa dipakainya.
“Tepat. Kalau begitu, sampai jumpa di technical
meeting, ya, Haruno!”
Dan saat itu juga, Sakura kaget. Otaknya kembali terfokus
pada telepon dari pemuda berkulit pucat itu. “Ada technical meeting?”
“Tentu saja. Mana mungkin ada lomba tanpa technical meeting? Nah, sampai ketemu
hari Jumat nanti!”
Lalu sambungan telepon itu diputuskan.
Beberapa detik setelah percakapan itu selesai, Sakura tak
kunjung bergerak dari posisinya. Ia membatu.
Hari Jumat? Ke KIU?
Dan tiba-tiba, entah mengapa, jantungnya berdebar sangat
kencang.
.
.
.
Hari Jumat tiba juga.
Hari ini, matahari bersinar dengan cerah—seolah-olah
melupakan bahwa bulan ini masih dikuasai oleh musim rontok. Cuaca yang sangat mendukung
untuk diadakannya pertemuan teknis bagi para peserta lomba desain poster
kategori kelompok.
Konoha International University tampak disesaki oleh
puluhan mahasiswa yang berduyun-duyun menuju gedung serba guna yang menjadi
lokasi technical meeting itu.
Pertemuan akan dimulai sepuluh menit lagi. Di antara kerumunan itu terdapat
Sakura, Sai, dan Shino.
“Aku tidak menyangka pesertanya sebanyak ini,” cetus
Sakura seraya memandang ke sekelilingnya.
Sai tertawa menanggapi kata-kata Sakura. “Seharusnya kau
lihat waktu Suna mengadakan perlombaan seni—bahkan mahasiswa-mahasiswi Suna pun
hampir tidak dapat memasuki area lomba. Penuh sekali.”
Gadis berambut pink
itu mengerucutkan bibirnya. “Aku masih mahasiswa baru.”
Mereka bertiga berjuang keras menembus kerumunan yang
berjejal di pintu masuk gedung serba guna. Banyak sekali mahasiswa KIU yang
tidak berpartisipasi dalam pertandingan persahabatan ini, namun mereka ingin
mengikuti jalannya technical meeting.
Membuat jalan menjadi sempit! gerutu
Sakura dalam hati.
Dua menit kemudian, tim dari Suna University of Arts
berhasil mendapatkan tempat duduk di bagian tengah. Bulir-bulir keringat
menghiasi wajah Sakura yang tampak merah. Gadis itu menggunakan selembar tisu
untuk mengelap peluhnya. Ia menawarkan tisu pada Sai dan Shino—yang segera
menolaknya dengan halus.
Satu jam telah berlalu. Sepanjang jalannya technical meeting yang membosankan itu,
Sakura banyak menghabiskan waktunya untuk mengamati rekan setimnya—Aburame
Shino. Pemuda berkacamata hitam itu bukan tipe orang yang banyak bicara.
Cenderung pendiam malah. Selain itu, wajahnya tampak datar—seolah-olah waktu
kecil ia tidak pernah menangis atau tertawa. Dalam hati Sakura bertanya-tanya
mengapa ada orang seperti Shino di jurusan seni. Seniman biasanya bergaya
nyentrik dan sedikit heboh. Mendadak Sakura merasa kurang yakin dapat
berkolaborasi dengan baik dengan Shino.
Bosan mengamati Shino, akhirnya Sakura memutuskan untuk
memusatkan perhatiannya pada perwakilan panitia lomba yang sedang menjelaskan
segala tetek-bengek lomba. Perwakilan itu adalah laki-laki, berambut coklat
panjang yang digerai di punggungnya. Kulitnya putih dan matanya berwarna lavender. Ia cukup tinggi, namun
terkesan arogan.
“... lomba akan dimulai pukul delapan pagi. Setiap
kelompok harus membawa barang-barang yang sudah saya sebutkan tadi...”
Selebihnya Sakura mengabaikan ucapan pemuda gondrong itu. pikirannya
mengawang-awang, memikirkan seorang Uchiha Sasuke yang juga mengenyam
pendidikan di KIU.
“.... Selanjutnya, kata penutup dari ketua senat KIU,
Uchiha Sasuke...”
Kepala berambut merah muda itu langsung mendongak
tinggi—reaksi spontan saat mendengar nama yang baru saja dipikirkannya itu.
Di depan sana, sesosok pemuda bertubuh proporsional
dengan rambut raven-nya yang khas
berjalan mendekati podium tempat si rambut panjang berada. Kedua mata emerald Sakura sama sekali tidak bisa
berkedip saat mengikuti setiap gerakan Sasuke.
Dalam sekejap, pikirannya kosong.
.
.
.
“Membosankan sekali.”
Sai duluan melangkah keluar dari gedung serba guna,
mendahului Shino dan Sakura yang berjalan di belakangnya. Para peserta lomba
tampak berada di sekitar mereka, berkerumun sambil berbisik-bisik. Beberapa
gadis yang juga merupakan partisipan tampat sibuk cekikikan membahas betapa
tampannya ketua senat KIU, membuat Sakura geram.
Ya. Ternyata seorang Uchiha Sasuke adalah ketua senat di
Konoha International University—ketua termuda dalam sejarah dunia persenatan
KIU.
Gadis berambut sebahu itu menghela nafas panjang. Ia
merasa bodoh karena terus-menerus memikirkan seorang Uchiha Sasuke—yang
kemungkinan besar sudah melupakannya. Tentu saja, mana mungkin seseorang yang
begitu populer seperti Sasuke masih mengingat Sakura—yang memberikan kesan
buruk pada pertemuan pertama mereka?
Langkah-langkah bersepatu lars milik gadis itu kian melambat hingga pada akhirnya berhenti
sama sekali.
Mengapa hatinya terasa sesak begini?
Sakura menunduk, sebelah tangannya mencengkeram bagian
depan bajunya—tepat di dada sebelah kiri. Andai saja ia tahu mengapa ia bisa
merasa sedemikian sesak...
Suatu kebetulan yang klise,
bagaikan cuplikan di film-film romansa.
Gadis bermata jade
itu mengangkat wajahnya, dan... there he
is!
Terpaut jarak sekitar satu dekameter dari tempatnya
berada, Uchiha Sasuke berdiri di tengah kerumunan—tanpa disadari oleh kerumunan
itu sendiri. Kedua mata obsidiannya menatap Sakura—bertemu dengan sepasang mata
giok yang juga balas menatapnya.
Sekeliling mereka tampak kosong, seolah-olah dirinya dan
Sasuke tersedot ke dalam dimensi lain. Hanya ada mereka berdua. Bertatapan.
Tanpa kata-kata. Tanpa gestur.
“Haruno!”
Dan dimensi itu pun menghilang bersamaan dengan suara Sai
yang memanggil Sakura, menyeret gadis itu kembali ke kenyataan.
Sakura tersentak dan menoleh kepada Sai yang sudah
beberapa meter dari hadapannya. Sesaat, ia kembali menoleh pada pemuda yang
tadi bertatapan dengannya.
Namun sekonyong-konyong, kumpulan mahasiswa yang berada
di sekitar mereka menyebar—menciptakan arus tak kasat mata yang memisahkan
keduanya. Sakura dan Sasuke tidak bisa melihat satu sama lain, masing-masing
terseret pola pergerakan lautan manusia itu.
Takdir masih mempermainkan mereka. Masih.
TBC








0 komentar:
Posting Komentar